
Happy Reading 👩🏼💻📖
Hari pemakaman.
Hari ini adalah hari pemakan jasad Arnon,
Meskipun Stella menolak mengakui bahwa jasad itu adalah jasad suaminya, namun dia juga tidak bisa membuktikan apapun, karna saat ini jasad itu benar-benar sudah tidak bisa dikenali lagi.
Keluarga juga menolak untuk mengotopsinya karna tidak ingin merasakan sakit atas kehilangan yang lebih dalam lagi.
Selama pemakaman berlangsung, tatapan Stella benar-benar kosong menatap peti yang membawa jasad suaminya di kebumikan.
Air mata yang tak pernah berhenti mengalir tanpa ada suara yang dikeluarkanya.
"Kamu adalah perjalananku, kamu juga adalah tempat tujuan hidupku, kamu adalah malaikatku, kamu adalah obsesiku, dan kamu juga yang selalu aku aku sertakan dalam doa dan air mataku, saat ini kepergianmu benar-benar menguji kewarasanku. Sulit sekali untuk ku menerima dan melalui semua ini tanpamu. Aku sungguh sangat membutuhkanmu untuk menyempurnakan kekuranganku, aku membutuhkanmu untuk mengisi hari-hari ku, aku membutuhkan dekapan hangat tubuhmu, aku membutuhkan belaian lembut tanganmu dirambutku, aku membutuhkan segalanya yang berada didalam dirimu." Ucapnya dalam hati menatap lurus kearah pusaran suaminya tanpa berkedip dengan air mata yang sangat deras mengalir.
"Stella," panggil Angel yang saat ini sedang terisak melihat Stella yang sudah seperti mayat hidup, karna dia sudah tidak mau menanggapi ataupun menyahut pada siapapun yang memanggilnya.
Pandanganya benar-benar kosong saat ini, siapapun yang melihat keadaanya saat ini pasti akan merasakan pilu yang sangat mendalam.
"Stella," Angel mencoba sekali lagi memaanggilnya namun masih tidak ada jawaban atau pergerakan darinya.
Angel yang tak sanggup melihat itu langsung menangis histeris memeluk suaminya."apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku gak sanggup melihatnya seperti itu." Tangisnya pecah dipelukan suaminya.
"Stella sayang, ayo kita pulang Nak, pemakamanya sudah selesai." Ajak Elena dengan lembut yang juga merasakan sakit atas kehilangan putranya dan ditambah keadaan menantunya yang sangat memperihatinkan.
__ADS_1
"Tinggalkan aku sendiri disini!" Perintahnya tegas menatap makam suami yang sangat dia cintai.
Alex langsung memberikan kode kepada semuanya untuk memberikan ruang waktu pada Stella untuk menenangkan dirinya sejenak.
Stella terus menatap lurus ke arah nisan yang bertuliskan nama Cintanya.
"Kenapa kamu jahat? Jiwa,Raga bahkan nafasku ini, semuanya bukanlah lagi menjadi miliku, kamu telah membawa pergi segalanya yang kupunya, kamu memberikan ku sebuah derita yang sangat besar, sebagai hadiah yang harus kuterima darimu. Langitku mencari duniamu, sekarang aku merasakan kesepian disini, aku hanya bisa meneteskan air mataku ini. Aku merindukanmu Arnon," tangisnya pecah memeluk nisan suaminya.
"Tidurlah yang lelap sayang, kamu sudah pergi dariku sekarang, dan gak akan pernah kembali lagi bersamaku dan anak kita, Maafkan aku Arnon, Maafkan aku yang gak berguna, maaf aku yang tidak pernah bisa memberikanmu kebahagian yang sempurna,Jika memang kita tidak bisa bersama di Dunia ini, maka temuilah aku di atas langit sana. Aku akan selalu mencintamu disetiap nafasku, bahkan setelah kematiamu, cintaku ini tidak akan pernah berkurang sedikitpun." Ucapnya berusaha tegar didepan makam Cintanya padahal hatinya benar-benar sudah tidak sanggup menahan sesak didalam dadanya. Dia belum bisa mengikhlaskan kepergian Arnon begitu saja.
Jiwanya benar-benar hilang ikut pergi bersama dengan cintanya. Saat ini yang tersisa hanyalah kepedihan, dan kekecewaan yang mendalam pada dirinya sendiri.
Dengan perlahan dia berbaring memeluk makam suaminya, dia masih berharap Tuhan memberikan keajaiban untuk mengembalikan suaminya.
Dari Jauh Alex,Elena dan yang kainya benar-benar tidak sanggup melihat sikap depersi yang diperlihatkan Stella.
Dengan segera Alex langsung membawa Stella untuk beristirahat dikamarnya, untuk menjaga kondisi janin yang ada diperutnya.
Namun sebelum melangkahkan kakinya keluar, lagi-lagi Alex menangis melihat Stella yang hanya duduk dan menangis tanpa memperdulikan siapapun disekelilingnya.
Karna sudah tidak kuat melihat Stella, Alex langsung menutup pintu kamar itu, dan melangkahkan kakinya kebawah menemui istrinya yang juga sama rapuhnya saat ini.
"Aahhhaahhh hikss,,hikss Pah Arnon Pah, dia udah pergi,." Tangis Elena pecah dipelukan suaminya.
Sedari tadi dia berusaha menahanya karna tak mau membuat menantunya itu bertambah depresi melihat kesakitanya.
__ADS_1
"Kita harus ikhlas Mah, mungkin ini udah takdirnya." Sahut Alex menenangkan Istrinya, padahal saat ini dia juga sedang menangis melepaskan kepergian anak pertamanya yang menjadi kebanggaan keluarga.
Namun disaat mereka sedang menagis tiba-tiba dari luar datang seseorang yang memperlihatkan wajah murkanya saat ini.
Dengan raut wajah menahan amarah, dia langsung berjalan menuju kamar adiknya Stella.
Arvan datang setelah mendapatkan kabar buruk itu, dari Italia dia langsung menggunakan pesawat tempur tercepatnya agar segera bisa melihat kondisi adik kesayanganya.
Dengan cepat dia berlari membuka pintu kamar adiknya, dan betapa teritris hatinya melihat adiknya yang selalu ceria, menampilkan senyum kebahgiaanya, adiknya yang selalu menggodanya, kini sudah seperti manusia yang tak bernyawa, raganya disini namun jiwanya ikut terbang bersama dengan cintanya.
"Shea." Panggilnya pelan, dan langsung memeluk adiknya yang tengah duduk dengan tatapan kosong yang lurus kedepan.
"Kamu yang tenang sayang, tolong jangan begini, Maafin kakak yang tidak bisa menepatkan janji untuk menjaga kalian berdua. Maafkan kakak Shea. Maaf." Tangisnya memeluk adik satu-satunya.
Dan dia semakin histeris karna tidak mendapatkan respon apapun dari Stella. Hanya ada tetesan demi tetesan air mata yang membasahi pipi mulusnya, tanpa ada suara maupun gerakan sama sekali darinya.
"Tuhan apa yang harus kulakukan saat ini, mengapa kamu selalu mengambil orang yang dicintainya." Gumamnya dalam hati sambil memeluk dan mencium puncak kepala adiknya. Memberika ketenangan dalam jiwa adiknya.
Dengan perlahan Arvan membaringkan tubuh Stella, dan membelai rambut itu perlahan, agar Stella bisa tidur sejenak untuk melupakan sesaat rasa sakitnya.
"Aku akan membalas dan memberikan penderitaan pada hidupmu, karna berani mengganggu ketenangan adikku, akan ku pastikan kamu yang akan memohon dan meminta kematian itu sendiri." Janjinya penuh amarah.
Lalu dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang." Hallo, Robert, lakukan semuanya, cari dia sampai dapat! Aku yakin kamu bisa dan bisa mendapakan dia dalam keadaan apapun itu.!" Arvan memberikan perintah kepada Asistennya yang selama ini tidak pernah diketahui oleh Dunia kekuatanya.
Setelah dia memberikan perintah pada Robert, dia langsung mematikan panggilan ponsel itu, lalu mencari nomor yang lainya." Hallo, segera bawa Lucas kehadapan ku SEKARANG!" Perintahnya penuh emosi.
__ADS_1
To be continue