
Happy Reading !!
30 menit kemudian
Drt..drt..drtt tanda panggilan masuk kedalam ponsel milik Alex,
"Ya katakan cepat !" Ucapnya di saat dirinya sudah mengangkat panggilan itu.
"'Maaf Tuan besar, Tuan muda pertama saat ini sudah kami bawa keRumah Sakit, tadi dia pingsan di sebuah pemakaman Tuan besar." Lapor para bawahanya.
"Apaa." Pekiknya kaget tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya, dan dia langsung segera berlari mengbil mobilnya dan menuju Rumah Sakit secepatnya.
"Bagaimana keadaan Arnon?" Tanyanya disaat dirinya sudah berada di depan ruangan Icu, tempat Arnon berada.
"Belum tau Tuan besar. Karna sedari tadi Dokter Marcel belum mengabari kami." Jawab pengawal yang paling senior
"Bagaiamana dia bisa pingsan tadi?" Tanyanya lagi yang ingin tau kronologin jelasnya.
"Untuk masalah detailnya kami tidak mengerti Tuan besar, karena tadi kami menemukan Tuan muda pertama pingsan disebelah makam mendiang nona kecil Nara,
"Ternyata dia merindukan Nara." Ucapnya benar-benar khawatir saat ini.
"Tuhan, tolong jangan kamu ambil putraku, dia kebanggan ku. Jangan kou ambil dia dari tanganku ini, karena diri dan tangan ini tidak akan pernah sanggup untuk menguburkan jasad dia nanti, aku ingin kedua tanganyalah yang mengubur jasad ku nanti." Ucapnya memohon kebaikan Tuhan.
15 menit kemudian, Dokter masih tidak kunjung keluar dari ruangan Icu.
__ADS_1
Alex yang berada di luar ruangan sejak tadi sangatlah gelisah menunggu kabar dari Dokter, dia sudah seperti wanita yang menunggu cowoknya yang tak kunjung datang untuk ngapel di malam senin ya bukan malam minggu,
Mondar-mandir. Berdiri dan duduk. Tinggal jungkir balik sama gulung-gulung aja yang belum dia , hust kembali ke topik.
1 jam kemudian, Alex benar-benar sudah kesal karna Dokter masih tak kunjung keluar." Sebenarnya apa yang mereka lakukan didalam ? Kenapa mereka lama sekali ?" Tanya pada para pengawalnya yang sudah jelas juga tidak mengetahui jawabanya,
"Kamu juga tidak tau Tuan besar, kami kan disini bersama dengan anda." Jawab salah satu pengawalnya dengan gugup
"Benar juga kalian, ah sudahlah, kalian semua tidak berguna." Ucapnya sambil mondar-mandir kaya setrikaan.
Ckelekk, suara pintu terbuka terlihat Marcell dan beberapa staff Dokter lainya keluar dari ruangan itu.
Alex langsung segera mengahampiri Marcell yang sejak tadi di nanti-nanti kemunculanya.
"Ada apa Marcell ? Cepat katakan ! Bagaiamana kondisi anak saya ?"Tanyanya dengan nada tegas.
"Tolong hentikan semua permaianan ini Om ! Jika kalian tidak ingin kehilangannya." Ucap Marcell tegas dengan wajah yang menyedihkan
"Apa yang sebenarnya terjadi ?"
"Saya tidak menemukan adanya indikasi obat yang seharusnya rutin dia minum, bahkan tubuhnya tidak mau merespon segala obat-obatan lagi Om, kami sudah memberikannya, namun tidak ada reaksi sama sekali darinya, jika kondisi ini terus dibiarkan, kita bisa kehilangnya Om,"
"Bagaiaman bisa seperti itu ? Dan harusnya kamu sebagai Dokter jantung terbaik di Asia bisa menanganinya,"
"Om saya Dokter bukan Tuhan. Jika kami sebagai Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien tidak ingin merespon dan bahkan menolak, atau dengan bahasa kasarnya. Pasien menyerah untuk berjuang saat ini, maka kami sebagai Dokter juga tidak bisa melakukan apapun selain menyemangatinya Om."
__ADS_1
Bagai tersamaba petir disiang bolong Alex ketika mendapatkan hasil diagnosa putranya, bahkan saat ini dia sudah tidak mampu menopang kedua kakinya untuk berdiri." Kenapa kamu melakukan ini Arnon ?" Lirihnya pelan, dan terlihat sedang mengepalkan tanganya marah dengan mata yang sudah terlihat memerah, menyimpan sebuah amarah yang besar.
"Pasien saat ini kritis Om. Bahkan saya sendiri tidak tau caranya membantu menyemangati pasien untuk bertahan hidup. Maka dari itu saya sebagai Dokter dan sahabat dari Arnon-" ucapnya langsung berlutut di hadapan Alex dengan mengatup kedua tanganya didepan dadanya.
"Tolong hentikan permainan cinta dan takdir ini Om, pernikahaan ini hanya akan merenggut nyawa dan kebahagian Arnon Om, saya tidak sanggup kehilangan sosok sahabat seperti dia, jika bisa hidup saya di tukar denganya saya akan lakukan Om, jika perlu saat ini saya akan bersujud dikakinya O, agar mau memberhentikan semuanya." Ucapnya benar-benar memohon kepada Alex dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi.
Alex begitu kaget mendapatakan perlakuan seperti itu dari Marcell. Demi seorang sahabat dia bahkan rela mengenyampingkan Profesinya demi memohon untuk kebahagian sahabatnya.
"Berdirilah Marcell ! Tanpa kamu berbuat seperti ini, saya sebagai Papah dari Arnon berjanji akan menyatukan dia dengan Stella kembali." Ucapnya bersungguh-sungguh.
"Saya akan membawanya kembali kedalam pelukan Arnon, mungkin saya terkesan sangat egois menyingkirkan Tenry, tapi saya memilih lebih baik menyakiti satu hati wanita, dibandingkan saya harus membiarkan dua hati dan satu nyawa tersakiti dan dipertaruhkan."
"Apa Om yakin bisa membawa Stella kembali? Sedangkan prinsip hidup Stella, meskipun dia mencintai tapi dia tidak akan pernah kembali jika telah dikhianati."
"Arnon hanya terpaksa mengkhianatinya, dan saya yakin rasa cinta dihati Stella jauh lebih besar dibandingkan rasa egoisnya," ucapnya penuh keyakianan.
Namun tiba-tiba dia mengingat jika dia harus melakukan suatu hal yang besar.
"Ehm baik. Saya permisi terlebih dahulu, saya titip Arnon sebentar bersamamu." Pamitnya pada Marcell.
"Iya Om." Jawab Marcell singkat
jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs ku, jangan lupa Vote dan komenya buat Mimin hehe 😘😘
Terima kasih 🙏🏻🙏🏻
__ADS_1