
Happy Reading 📖👩🏻💻
Saat ini Stella dan Aiden beserta Austin tengah duduk dengan tenang menyaksikan pertandingan Airein dalam menguji kemampuan IQ jenius yang diturunkan dari kedua orang tuanya.
Meskipun sifat Airein sama persis seperti Stella terdahulu, namun IQnya menurun dari Arnon, yang membutuhkan pengasahan sebelum dia menjadi tajam dan bekerja.
Berbeda dengan Aiden, yang sifatnya dingin mengikuti Paponya Arnon, akan tetapi IQnya menurun dari Stella dan Arvan unclenya. Yang hanya memerlukan hitungan detik dalam berpikir.
Maka tak heran, jika pihak sekolah meminta pengertian dari Stella sebagai ibunya menerima jika Pihak Sekolah tidak bisa mengikuti Aiden dalam lomba apapun yang berhubungan dengan Kecerdasaan otak, karna dengan mengikuti serta kan Airein saja. Pihak sekolah sebenarnya tidak perlu lagi menghadirkan Juri-Juri karna sudah bisa DI baca hasilnya jika timAirein pasti akan menang.
Dan Stella sebagai ibu Aiden dan Airein sangat mengerti dengan sikap dari pihak sekolah yang menolak Aiden ikut serta dalam kompetisi apapun.
Bahkan diusia mereka yang baru menginjak lima tahun saja, mereka sudah berhasil menduduki bangku kelas Dua di Sekolah Dasar, karna bagi pihak sekolah untuk apa berlama-lama di tingkat taman kanak-kanak ataupun bangku kelas satu, jika mereka berdua saja sudah mengerti materi pembelajaran anak Sekolah Menegah Pertama.
********
Tak membutuhkan waktu lama, pertandinganpun telah selesai digelar dengan hasil yang tak perlu dipertanyakan lagi. Siapa pemenang dari kompetisi ini.
"Yey Bubu, Airein menang." Soraknya bahagia berlari memeluk tubuh Ibunya dan adiknya.
__ADS_1
"Congratulation my Baby." Sahut Stella menyambut putrinya dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
Tak ingin ketinggalan Aiden ikut memeluk tubuh ibu dan Kakak kembarnya itu." Ini sayang menyenangkan," lirih Aiden yang sangat menyayangi Ibu dan kakaknya.
"Anak Bubu memang yang ter the best forever Loh." Seru Stella memberikan ciuman di kening Airein dan Aiden bergantian.
"Yey Bubu foto dulu Bu, biar jadi kenang-kenangan jika Papo kembali nanti dia bisa melihatnya." Tandas Airein yang juga ikut percaya dengan kalimat yang selalu di ucapkan oleh Ibunya, jika Ayah mereka suatu saat pasti kembali namun entah kapan.
Dan beruntungnya Stella di berkati dua malaikat yang sangat-sangat mengerti dengan kondisi hatinya, yang menolak kematian Suaminya Arnon.
Bahkan Stella sampai membuat bingkai foto Arnon yang sangat besar, dan ketika dia ingin berbicara dia akan mengajak foto itu berbicara seprti manusia sungguhan. Dan perbuatan itu akhirnya di ikuti oleh Aiden dan Airein yang setiap hari selalu menyapa dan menceritakan keluh kesah serta kebahagianya pada foto itu.
"Ayo pasang gaya!" Perintah Stella mengarahkan kamera ponselnya kearah putri kecilnya.
Dan dengan patuh Airein langsung mengikuti arahan Ibunya dan menatap ke kamera.
"Okey Satu..duaa.tigga chhirrrss. Ckleeekkk." Suara Stella menghitung mundur dan terdengar bunyi suara kamera yang tengah membidik objeknya.
"Wahhh anak Bubu cantik sekali sayang." Pujinya memeluk tubuh Putrinya sambil memperlihatkan gambar hasil tangkapanya.
__ADS_1
"Yalah kakak aku memang cantik." Sahut Aiden memuji kakaknya dengan senyum menggoda.
"Of course lah, kita kan anak Papo dan Bubu." Sahut Airein dengan senyum kebanggaan.
"Baiklah-baiklah, sekarang ayo kita pergi makan siang dulu, dan setelah itu seperti janji Bubu kita akan kemakam Kakak Nara." Ucap Stella membawa Anak-anaknya melangkah keluar.
"Yeyy, lets go bu." Sahut Airein kegirangan.
"Ayo bu, Aiden juga sudah sangat lapar." Balasnya mengingat bahwa ini memang sudah jamnya makan siang.
Dan akhirnya mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju Mobil Stella dan segera pergi mencari Restoran untuk makan siang mereka.
Sedangkan Austin yang sedari tadi hanya diam melihat intraksi ketiganya yang tidak mengganggap keberadaanya sama sekali, sehingga dia hanya mampu menghembuskan nafasnya kasar melihat kepergian Stella dan anak-anaknya.
"Bahkan ini sudah lima tahun kepergianya Stella. Tapi kamu sama sekali tidak mau membuka hatimu dan melihatku ada untuk kamu. Apakah sesulit itu kamu melupaknya? Lalu selama ini kamu mengganggapku apa? Jika syarat menjadi pendampingmu hanyalah sebuah cinta. Aku juga bisa memberikan mu sebuah cinta dan kasih sayang, bahkan akan jauh lebih besar dari Cinta Arnon untuk kamu. Lihat aku La! Sekali saja liat kearah ku!" Batinya tersenyum kecut melihat dan mendapatkan sikap acuh Stella selama lima tahun ini.
Dan tak lama dia langsung mengendarai mobilnya menuju kantornya, dia ingin segera bekerja untuk mengembalikan moodnya yang buruk saat ini.
__ADS_1
To be continue 😉