Terpaksa Mengkhianati

Terpaksa Mengkhianati
Chapter 120


__ADS_3

Happy Reading πŸ“–πŸ‘©πŸ»β€πŸ’»


"Kamu benar, setiap orang pasti akan berubah. Namun itu tidak berlaku pada diri Arnon, karna dia masih sama seperti Arnon yang dulu." Ucapnya penuh dengan keyakinan, membuat wajah Austin yang tadinya tersenyum kini berubah datar.


"Kamu begitu mengenal dirinya dengan baik." Balasnya dan langsung menghentikan langkah kakinya. Namun Stella masih terus berjalan melewatinya.


"Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah kamu pernah melihatku didalam hatimu?" Tanyanya serius membuat Stella langsung menghentikan langkahnya, dan manarik nafasnya dalam-dalam. Dan langsung membalikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Austin. Lalu tersnyum tipis.


"Kamu adalah sebuah udara, aku ingin kamu untuk hidup, dan kamu selalu ada disampingku sebagai temanku." Jawabnya serius.


"Bukankah angin dan udara itu berasaal dari situasi yang sama." Lirihnya melangkahkan kakinya kembali menggengam jemari Stella dan menariknya dengan berlari menuju air mancur yang berada disekitaran situ.

__ADS_1


Dan tepat berada didepan air mancur,Austin langsung membelai lembut wajah Stella dan membuat mata indah itu menatapnya,"aku bukanlah hanya sekadar udara, tapi aku bisa menjadi angin untuk kamu. Aku akan selalu ada disekelilingmu. Dari awal dan akhirku hanya ada nama kamu Stella, hanya kamu. Bahkan semua rencana kehidupankua hanya ada nama kamu La." ucapnya penuh keyakinan menatap bola mata Stella yang saat ini juga sedang menatapnya.


Austin langsung tersenyum melepaskan wajah Stella dari belaian lembut tanganya,lalu dia berlari menaiki tangga agar posisinya lebih tinggi lagi.


Lalu dia berteriak dengan sekencang mungkin ." AURISTELLA, AKU MENCINTAIMU. MENIKAHLAH DENGANKU.!" Teriaknya sekencang mungkin mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.


Dan seketika wajah Stella langsung menunduk dan bersedih. Seketika dia mengingat masa lalunya kemesraanya bersama dengan Arnon, bagaimana caranya mereka bertemu hingga ungkapan cinta dari suaminya langsung terngiang dikepala dan telinganya.


Dia langsung menatap Austin dengan senyuman, namun air matanya perlahan mulai jatuh membasahi pipinya.


Namun dengan cepat Stella langsung melepaskan tanganya dari gengaman Austin." Tidak, kamu bahkan tau dengan jelas, jika aku masih begitu mencintainya." Tolaknya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"La, dia udah pergi La, udah lima tahun ini dan apa lagi yang kamu harapkan saat ini ? Aku tidak melarangmu untuk mencintainya atau aku tidak memintamu berhenti mencintainya. Aku hanya ingin kamu membagi sedikt aja rasa kamu itu untuk menerima ku dan belajar mencintaiku."


"Maaf aku gak bisa Austin,Aku permisi." Pamitnya dengan buru-buru.


"Stella dia sudah lama mati! Apakah kamu akan selamanya mencintai dia yang sudah mati!" Pekiknya yang langsung menghentikan langkah kaki Stella dan kembali membalikan tubuhnya melangkah mendekat ke arah Austin.


"Kamu memang benar, dia memang sudah mati! Lalu kenapa? Kenapa aku harus menikah lagi dan mencari penggantinya ? Sedangkan dia mencintaiku hingga di detik nafas terakhirnya. Apakah kamu pernah tau bagaimana rasanya kehilangan sesorang yang sangat kita cintai, tanpa kita bisa memeluk dan mendekap erat tubuhnya lagi, apakah kamu tau selama lima tahun ini aku berusaha menghilangkan setiap kenangan indah bersamanya, hal yang selalu dilakukan setiap hari kini sudah tidak pernah di lalukan lagi. Austin aku memang menyayangimu sebagai teman. Tapi aku gak bisa menerima mu sebagai pasangan, karna hingga kapanpun rasa dihatiku ini hanya ada dia."


"Stella ku mohon, kamu pikirkan anak-anak yang membutuhka figur seorang Ayah untuk mereka. Apa sususahnya sih menaikan sedikit saja rasa sayang itu menjadi rasa cinta. Jika memang syarat hidup bersamamu hanyalah sebuah cinta dan kasih sayang. Aku bisa memberikanya La, bahkan akan jauh lebih besar dari rasa cintanya ke kamu." Ucapnya penuh dengan keyakinan.


Stella yang tak henti-hentinya mendengar jawaban dari Austin. Langsung berjalan meningglakan pria itu sendirian dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


"Maafkan Aku Austin tapi aku mencintainya, dan akan selalu mencintainya." Batin Stella terus melangkah tanpa memperdulikan Austin yang mematung di belkangnya.


To be continue ☺️


__ADS_2