Terpaksa Mengkhianati

Terpaksa Mengkhianati
Chapter 117


__ADS_3

Happy Reading 📖👩🏻‍💻


Disebuah Restoran kepemilikanya. Stella dan kedua anaknya sedang duduk dengan tenang menunggu pesanan makanan mereka datang,


"Bubu, ayo sini Airein fotokan, hari ini Bubu terlihat sangat cantik sekali." Seru Airein yang mulai merasakan kebosanan karna selalu bermain dengan ipad miliknya.


"Wih, anak Bubu sudah pintar menggoda rupanya." Jawab Stella dengan wajah yang nampak tersenyum kaku.


"Bukanya Bubu memang selalu terlihat cantik kak?" Tanya Aiden dengan santai.


"Iya sih, tapi ayolah bu, Airein sedang bosan saat ini." Bujuknya ingin mengambil satu gambar ibunya.


Stella yang melihat wajah memohon putrinya langsung mengeluarkan senyum tipisnya," baiklah-baiklah apapun yang kamu mau sayang." Jawab Stella dengan membelai lembut Pipi gembul putrinya.


"Yeeyyy, ayo sini bu lihat kekamera!" Perintahnya pada ibunya.


Dan membuat Stella langsung mengikuti arahan putrinya, "ya ampun Bubu, kita ini mau ambil gambar, bukan sedang kompetisi. Senyum dikit lah!" Protesnya melihat wajah datar dari sang ibu.


"Kapan sih kamu pernah liat Bubu tersenyum lebar." Ketus Aiden yang sudah terbiasa dengan wajah datar ibunya.


Dan seketika membuat hati Stella teriris mendengar kalimat yang dilontarkan putranya,"tuhan bahkan anak-anak ku saja bisa memahami karakterku ini." Batinya tersenyum kecut kearah putranya.


Sedangkan Aiden yang di tatap dengan lembut oleh Bubunya, hanya acuh dengan fokus kepada Ipadnya.


"Sudah bu jangan dengarin Aiden, sekarang ibu fokus ke kamera ya!" Tandasnya mulai mengarahkan kamera itu pada Bubunya.


Ckellleekkk suara kamera yang berbunyi menagkap bidikanya.

__ADS_1


Seketika membuat Airein langsung melongo tidak percaya, dan berkali-kali mengzoom foto Bubunya itu," Bubu." Pekiknya kegirangan.


Dan sontak membuat Aiden memandang aneh melihat kakak kembarnya itu berteriak." Apaan sih kamu teriak-teriak. Ini bukan Hutan." Ketusnya kesal mendengar suara cempreng kakaknya.


"Kamu lihat ini!" Perintahnya menyerahkan ponselnya ke Aiden.


Dan Aidenpun mengeluarkan ekspresi yang sama persis, terbengong tidak percaya.


"Ini serius Bubu tersenyum dengan lebar." Serunya dengan raut wajah yang bahagia.



Dengan cepat Stella langsung menanggukan kepalanya sebagai jawaban untuk kedua anaknya.


"Oh goodness, demi apa Bubu tersenyum." Aiden masih tidak percaya seumur hidup ini adalah pertama kalinya dia melihat senyum Bubunya selebar itu dan menampilkan wajah bahagianya.


"Teruslah tersenyum Bu! Itu akan membuat wajah Bubu semakin cantik." Sahut Airein menggengam tangan Bubunya. Dan di ikuti pula dengan Aiden yang menggengam tangan Stella.


"Terima kasih ya, sudah menjadi anak-anak yang baik Untuk Bubu, dan selalu mau mengerti hati Bubu." Lirihnya pelan memeluk tubuh kedua anaknya.


"Kami juga merindukan Papo Bu, tapi kita jangan terlalu sedih. Nanti Papo gak mau kembali sama kita kalo Bubu selalu sedih." Ungkapan hati Aiden yang selama dia pendam sendiri.


"Iya, bukankah kita selalu meminta pada Tuhan untuk mengembalikan Papo untuk kita." Sahut Airein dengan tersenyum lebar memberikan kedamaian jiwa untuk Bubunya.


"Iya sayang, Bubu janji jika mulai hari ini Bubu akan berusaha tersenyum untuk kalian." Janjinya dengan bersungguh-sungguh dengan mengecup singkat puncak kepala anak kembarnya.


************

__ADS_1


Disisi lain di Mansion Italia.


"Kak, ayo kita kembali sekarang!" Rengeknya tidak berhenti-henti kepada Arvan sang kakak ipar.


"Cukup Arnon, kita akan kesana beberapa hari lagi! Kasih saya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan saya ini dulu." Jawabnya juga untuk kesekian kalinya.


Arnon tak ada berhenti meminta kembali karna sudah terlalu rindu pada istri dan anaknya.


Ditambah saat ini ada Austin yang masuk kedalam Lingkar peringatan yang mesti ditandai berbahaya olehnya.


"Kak, jika kita terlalu lama makan si Austin kampret itu akan berhasil merebut Stella kak." Rengeknya lagi seperti anak yang meminta jajan pada ayahnya.


Arvan langsung menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya dengan kasar. Sungguh dia sudah tidak tahan dengan rengekan yang selalu Arnon keluarkan, karna itu benar-benar memecahkan konsentrasinya untuk bekerja.


Dan dengan kesal dia langsung memanggil Asisten pribadinya." Robbeeerrtttt." Teriaknya kesal karna Arnon merusak moodnya.


"Saya Lord." Sahut Robert dengan membungkuk Hormat.


"Cepat bawa budak kecil satu ini pulang balik Indonesia sekarang! Aku sudah tidak tahan mendengar tangisanya!" Perintahnya dengan tegas pada asistenya.


"Baik Lord, biar saya siapkan Pesawatnya sekarang." Sahut Robert, dan segera berlari menuju lapangan terbang yang berada di belakang Mansion itu.


"Puas kamu." Bentak Arvan pada Arnon dengan wajah yang sangat marah.


Namun bukanya takut Arnon langsung menyengir bagaikan kuda." Iya." Jawabnya singkat. Membuat Arvan langsung menggelengkan kepalanya pusing.


To be continue 😉💕

__ADS_1


__ADS_2