Terpaksa Menikahi Supir Berondongku

Terpaksa Menikahi Supir Berondongku
109. Maafkan Aku Dad.


__ADS_3

"Dad...."


Perlahan Brian membuka matanya, saat mendengar suara Adam memanggilnya, lalu tersenyum lemah pada Adam yang reflek mendekatkan dirinya ke ranjang, dimana Brian berada.


"Maaf Dad," bisik Adam, dengan menggenggam tangan kurus Brian,yang dibalas Brian dengan balik menggenggamkan tangannya.


"Son..." panggil Brian, dengan suara lemah kearah Adam, yang langsung mendongakkan kepalanya menatap kearah wajah pucat Brian.


"Dad, terimakasih sudah bangun lagi dan tidak pergi meninggalkan diriku, sebelum aku bisa meminta maaf padamu," ucap Adam, yang dibalas Brian dengan berusaha mengangkat tangannya kearah wajah Adam,bermaksud untuk menyentuh wajah Adam yang terlihat pucat, meski raut wajahnya terlihat lega, karena Brian sudah sadar dan dokter juga mengatakan dia pulih dengan cepat, sejak sadar tadi malam.


Adam sedikit menundukkan wajahnya, supaya Brian berhasil menyentuhkan jemarinya kewajahnya.


"Aku merindukanmu Son, aku belum bisa pergi sebelum memastikan dirimu benar benar dikelilingi orang orang baik. Meski sekarang aku mulai sedikit lega, karena ada orang yang mencintaimu dengan tulus, seperti apa yang dulu Mommy mu berikan untukku."


Adam tersenyum pada Brian, mendengar apa yang dikatakan pria tua itu, meski dengan suara lemahnya.


"Aku juga sangat merindukanmu Dad, apa kau tau Dad, aku selalu menyesali apa yang dulu sudah kulakukan untuk melawanmu, yang seharusnya tidak perlu aku lakukan."


"Saat itu bukan hanya dirimu yang salah Son, aku juga.Aku terlalu dibutakan oleh pesona dan bujuk rayu Stella sampai lupa segalanya dan setelah semuanya hancur, aku baru menyesalinya,tapi semuanya sudah terlambat," ucap Brian,dengan wajah muram, karena teringat apa yang sudah dilakukan dimasa lalu, sampai membuat keluarga bahagianya menjadi hancur, hanya karena nafsu sesaat.


"Kurasa mulai sekarang kita harus menjadikan itu sebagai pelajaran Dad, mari kita mulai semuanya dari awal lagi."


Adam mengatakannya dengan menatap penuh cinta kearah Brian, membuat Brian tanpa sadar jadi berkaca kaca, karena terharu,karena akhirnya hari dimana dia bisa mendengar putra yang dicintainya memanggilnya ayah, datang lagi.

__ADS_1


"Ya, kau benar Son.Mari kita kita mulai semuanya dari awal lagi, bersama aku, kau, Amera, cucuku juga Geo. Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja, karena meski kau tidak suka, kalian tetap saudara Son," ucap Brian, berharap Adam tidak menolak kenyataan itu, karena impiannya sebelum meninggal sekarang hanya satu, bisa melihat kedua putra yang sangat dicintainya itu hidup secara damai.Tidak ada lagi kemarahan, kebencian, apalagi itu hanya demi hartanya, dia sama sekali tidak menginginkannya.


Mendengar apa yang dikatakan Brian, Adam tersenyum lembut, lalu meletakkan tangannya diatas tangan Brian yang berada diwajahnya.


"Daddy tidak perlu mencemaskan itu, karena itu tidak akan pernah terjadi lagi, Kami memang dulu bersitegang, bahkan Geo sempat memukulku saat Daddy koma waktu itu, tapi...Aku tidak pernah membencinya. Dulu aku hanya marah padanya yang disebabkan cemburu.Tapi sekarang aku tidak merasakan itu lagi Dad, jadi Daddy tenaga saja sekarang hubungan kami sangat baik, baik itu dikantor atau diluar kantor.Kalau Daddy tidak percaya temui dia sekarang dan bicaralah, aku akan memintanya masuk sekarang, karena dia sedang menunggu diluar. Sangat ingin masuk untuk bicara dengan Daddy."


Mendengar itu, wajah pucat Brian terlihat berbinar senang.


"Benarkah?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Adam.


"Aku akan keluar untuk memberitau Geo, kalau Daddy ingin bertemu dengannya sekarang, bagaimana?"


Mendengar itu Brian mengangguk, "Panggilan dia.Aku ingin bicara, sudah lama sekali aku tidak bicara dengannya Dam, aku juga merindukannya."


"Baiklah aku aku panggilan Dad," lalu Adam berjalan keluar dari ruang perawatan Brian, berniat memanggil Geo, yang tadi dilihatnya sedang berdiri diluar ruangan itu.


"Daddy ingin bertemu dirimu, Geo," Geo terdiam mendengar apa yang baru saja disampaikan Adam padanya,masih takut salah dengar sampai Adam mengulangi perkataannya barulah dia berjalan menuju ruang perawatan Brian.


"Bicaralah apa saja dengannya.Karena kau juga putranya, meski kau berniat mengingkari kenyataan itu."


Geo menghentikan tangannya yang sudah hampir membuka pintu ruang perawatan lalu menoleh lagi kearah Adam, yang menatap kearahnya dengan wajah biasa.


"Aku tidak pernah mengingkarinya, bahkan aku selalu berharap, aku ini putra kandungnya sejak dulu,Dam, karena itu aku membencimu yang tidak pernah mensyukuri statusmu.Sementara aku selalu memimpikannya."

__ADS_1


Adam tidak menjawab apa yang dikatakan Geo, karena dia tau pria itu tidak butuh jawabannya, dia hanya ingin menegaskan apa yang dirasakannya pada Brian tidak ada bedanya dengan apa yang dirasakan Adam, sebagai putra kandung Brian Maxwell.


"Masuklah sekarang, bicaralah sebanyak mungkin dengannya," perintah Adam, yang diagguki oleh Geo dengan membuka pintu ruang perawatan Brian, lalu masuk kedalam dan menutupnya.


Setelah Geo menghilang kedalam ruang perawatan Brian, Adam berjalan pergi meninggalkan tempat itu.Tujuan pertamanya adalah ruang perawatan yang ditempatinya tadi malam, karena tadi Amera berjanji akan menunggunya disana dan benar saja begitu dia membuka pintu, dia langsung melihat Amera yang saat itu tampak sedang memainkan ponsel ditangannya.


Adam masuk kedalam dengan suara pintu cukup keras, hingga fokus Amera langsung beralih dari ponselnya kearah pintu, dimana Adam sedang berjalan masuk kedalam.


"Sayang," sapa Adam, dengan berjalan mendekat kearah Amera lalu langsung memeluknya, begitu sampai didekat permainan yang amat sangat dicintainya itu.


"Bagaimana kondisi tuan Brian Dan?" tanya Amera dengan membalas pelukan Adam, lalu berusaha melonggarkannya sampai posisi mereka bisa saling tatap.


"Sudah cukup baik,sekarang dia sedang bicara bersama Geo. Dan aku merasa lega untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun sayang," ucap Adam dengan tersenyum senang kearah Amera,membuat Amera ikut lega saat melihat bagaimana wajah Adam saat itu.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya Dam."


"Jadi ..karena sekarang Daddy sudah sadar dan tidak lama aku yakin dia akan membaik,ada yang ingin aku lakukan lagi dalam waktu dekat ini sayang," ucap Adam dengan wajah serius saat mengatakannya membuat Amera ikut fokus waktu mendengarkannya.


"Apa itu Dam, apakah sangat penting sampai harus dilakukan dalam waktu dekat ini?" tanya Amera, yang dijawab anggukan oleh Adam.


"Iya sayang dan kuharap kau mau melakukannya juga," pinta Adam lirih, menatap lurus kearah Amera saat mengatakannya.


"Apa itu?" tanya Amera penasaran dan berharap itu sesuatu yang bagus.

__ADS_1


"Aku...ingin meresmikan pernikahan kita tidak lama lagi, karena sekarang Daddy sudah sadar dan dia bisa menghadiri pernikahan kita jadi aku berniat melakukannya.Bukan pernikahan megah,hanya mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan,apa kau bersedia?"


Setelah berhari hari maaf baru Up🙏🙏


__ADS_2