
"Amera kau baik baik saja?"tanya Veronica dengan nada khawatir setelah Amera keluar dari ruang konferensi pers.
"Iya aku tidak papa Vero tapi bisa kau hubungi Adam.Aku ingin langsung pulang saja sekarang untuk sisanya tolong kau yang membereskannya",pinta Amera yang tidak ingin Veronica tau kalau sebenarnya kondisinya sangat tidak baik baik saja setelah keluar dari ruangan itu.
"Iya baiklah kau tenang saja aku akan melakukannya sekarang aku hubungi Adam dulu supaya segera datang kemari untuk mengantarmu pulang".
Amera mengangguk dengan mengikuti Veronica keruang istirahatnya untuk menunggu Adam datang menjemputnya.
"Kau ingin minum Mer?",tawar Veronica dengan menghubungi nomor ponsel Adam pada Amera yang duduk dikursi.
Amera menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin pulang lalu beristirahat dan sedang tidak sanggup kalau kau perintahkan untuk menelan sesuatu sekarang",tolak Amera.
"Baiklah kalau begitu.Adam bilang sedang menuju kemari tunggulah sebentar".
Amera mengangguk dan seperti apa yang dikatakan Veronica dia tidak perlu menunggu berpuluh puluh menit Adam sudah muncul diruangan itu lalu segera menghampiri Amera.
"Bagaimana kondisi anda nona Amera?",tanya Adam dengan menatap kearah Amera yang terlihat pucat.
"Aku baik baik saja Dam.Sekarang ayo antar aku pulang kerumah",pinta Amera dengan berdiri dari duduknya dan berusaha berjalan senormal mungkin agar Veronica dan Adam tidak curiga dengan kondisinya sekarang.
"Baiklah ayo saya antar anda pulang dengan mobil",balas Adam dengan sedikit memapah Amera karena khawatir melihat wajahnya yang semakin pucat.
"Aku baik baik saja Dam percayalah",ucap Amera dengan menyingkirkan tangan Adam dari bahunya dan berusaha berjalan sendiri menuju area parkiran dimana mobilnya berada.
"Aku titip Amera padamu Dam sementara aku harus membereskan dulu masalah disini.kalu sudah sampai ingat untuk menghubungi aku",pesan Veronica dengan meninggalkan mereka berdua.
"Kau yakin baik baik saja Mer?",tanya Adam tidak bisa lagi menyembunyikan wajah cemasnya setelah mereka sudah berada didalam mobil.
"Iya kau jangan khawatir",angguk Amera dengan menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.
"Mau mampir untuk kubelikan sesuatu atau kau ingin kita pergi kesuatu tempat sebelum pulang?",tawar Adam dengan menjalankan mobil Amera meninggalkan Area parkir dengan diiringi tatapan penuh kemarahan dari Elvan yang saat itu juga sedang berjalan kemobil miliknya.
__ADS_1
Amera menggeleng kearah Adam.
"Aku ingin pulang saja sekarang dan merebahkan tubuhku diranjang karena kepalaku terasa sakit Dam",jawab Amera dengan menekan pelipisnya yang terasa berdenyut.
Mendengar itu satu tangan Adam segera menyentuh pelipis Amera dan menekannya perlahan.
"Sandarkan kepalamu dengan nyaman akan kubantu kau menguranginya dengan menekannya pelan".
"Tidak usah sebaiknya kau mengemudi saja dengan benar.Aku masih bisa menahannya ini tidak parah",balas Amera dengan berusaha menyingkirkan tangan Adam dari pelipisnya meski sebenarnya apa yang dilakukan Adam terasa sangat nyaman untuknya tapi sekarang mereka sedang berada dijalan jadi Amera ingin Adam lebih fokus mengemudi supaya mereka bisa cepat sampai di Apartemen Adam yang ditinggalinya sekarang.
"Baiklah aku akan mengemudi dengan benar dan akan membantumu lagi setelah kita dirumah nanti".
Mendengar itu Amera tidak lagi mencoba menolak dan memilih memejamkan matanya untuk mengurangi rasa berdenyut dikepalanya.
Amera tidak tau kalau ternyata dia sempat tertidur waktu dalam perjalanan menuju Apartemen dan sedikit tersentak saat merasa ada yang menyentuh tubuhnya.
"Adam!",ucapnya dengan membuka matanya dan langsung bertatapan dengan wajah tampan Adam.
"Seharusnya kau hanya perlu membangunkan aku kenapa malah kau berniat menggendongku kau pikir tubuhku tidak berat",gerutu Amera dengan bermaksud keluar dari mobil tapi tubuhnya langsung oleng saat kakinya menginjak ketanah membuat Adam langsung meraih tubuh Amera sebelum perempuan itu sempat jatuh.
"Sepertinya kondisimu tidak baik Mer, sebaiknya kugendong saja kau keatas",ucap Adam dengan membopong tubuh Amera sebelum perempuan itu sempat mengeluarkan protes penolakannya.
Adam bermaksud menggendong tubuh Amera sampai kedalam kamar dan langsung membaringkannya tapi baru saja sampai didepan pintu Apartemen Amera memaksa Adam untuk menurunkannya.
"Dam turunkan aku sekarang juga",pintanya dengan memegangi mulutnya karena tiba tiba merasa sangat mual.
"Aku akan menurunkan mu didalam kamar supaya....".
Amera langsung menggeleng dan bersikeras untuk turun yang membuat Adam terpaksa menurunkan tubuh Amera.
Setelah Adam menurunkannya Amera segera berlari ke wastafel memuntahkan semua isi perutnya yang tidak bisa ditahannya lagi.
"Huek....Huek.....".
__ADS_1
"Mer kau baik baik saja?",tanya Adam cemas dengan membantu mengurut tengkuk Amera agar dia merasa lebih nyaman.
Amera mengangguk dengan menopang tubuhnya diwastsfel karena merasa tubuhnya sangat lemas setelah muntah.
" Mau kuambilkan sesuatu supaya merasa lebih baik?",tawar Adam dengan membantu merapikan rambut Amera yang berantakan.
"Sepertinya aku ingin berbaring sekarang Dam".
"Baiklah kalau begitu,mau kugendong lagi?",tawar Adam yang dibalas gelengan kepala oleh Amera.
"Tidak perlu , tapi tolong peluk aku hari ini dan jangan tinggalkan aku sendiri seperti kemarin",pinta Amera dengan menatap kearah Adam yang seketika terdiam mendengar permintaan yang baru saja diucapkan Amera.
Melihat reaksi Adam Amera langsung memalingkan wajahnya karena malu dan tidak menyangka kalau dia bisa mengatakan permintaan aneh itu pada Adam.
Meski sekarang mereka sudah menikah tapi tetap saja dia merasa tidak seharusnya dia meminta untuk dipeluk oleh pria itu secara langsung seperti itu yang Amera yakini Adam pasti terkejut mendengarnya.
"E...sepertinya aku baru saja salah bicara jadi lupakan saja",ucap Amera dengan bergegas berjalan kedalam kamar dan berniat langsung menutup pintunya untuk menghilangkan rasa canggung karena apa yang baru dikatakannya tadi. Tapi sebelum Amera sempat menutup pintunya Adam lebih dulu menahan pintu itu dengan tangannya.
"Ayo kupeluk kau diranjang Mer", ucapnya dengan mendekat kearah Amera yang reflek mundur dan membiarkan Adam yang menutup pintu kamar itu sekarang.
Amera menjadi merasa serba salah sekarang setelah mendengar jawaban yang dikatakan Adam karena permintaan beraninya barusan.
"Ayo",ajak Adam dengan meraih tangan Amera dan membawanya keranjang dengan tidak melepaskan tatapannya diwajah Amera yang tidak terlalu pucat lagi karena muncul rona merah disana.
"E...sepertinya aku harus mengganti pakaianku dulu sebelum tidur",balas Amera dengan gugup yang tidak bisa disembunyikannya lagi.
Mendengar itu Adam mengamati penampilan Amera saat itu lalu mengangguk.
"Pakaian formal yang kau kenakan itu pasti tidak nyaman jadi kau ingin berganti pakaian dengan mengenakan apa?piyama atau....".
"Piyama!",jawab Amera cepat karena khawatir Adam mengatakan pilihan lain selain piyama adalah Lingerie dan saat ini Amera tidak siap memakai pakaian jenis itu dihadapan Adam,tapi bukan berarti dia tidak ingin.
Mohon tinggalkan like dan komen kalian supaya autor semangat untuk terus Up reader😊😊.
__ADS_1