
"Sayang akhirnya kamu bangun",Adam begitu lega saat melihat Amera akhirnya membuka matanya meski masih terlihat bingung menatap kearahnya.
"Ini...Dimana?",tanyanya dengan mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan bernuansa serba putih yang mendominasi tempat itu.
"Kau ada dirumah sakit sekarang",terang Adam dengan menyentuh wajah Amera dengan niat meyakinkannya kalau dia sudah aman sekarang.
"Oh ..lalu....diCafe...Bagaimana dengan orang yang ada disana?Tuan Brian dan tembakan!Siapa yang sudah menembak dan siapa yang tertembak Dam?",tanyanya dengan menggenggam tangan Adam dengan perasaan yang tiba tiba merasa cemas karena teringat kembali apa yang tadi terjadi di Healty Cafe milik Adam.
"Sayang....Semuanya sudah selesai siAnderson itu sekarang sudah dihukum karena kejahatannya jadi kau sudah aman dan semua orang yang ada disana juga baik baik saja termasuk Daddy",terang Adam menenangkan Amera dengan bicara selembut mungkin pada perempuan itu.
"Daddy?",Amera mengulang ucapan Adam yang langsung memalingkan wajahnya saat Amera mengatakan kata itu karena entah mengapa tiba tiba dia merasa malu untuk alasan tidak jelas saat sadar dia sudah menyebut Brian Daddy lagi tanpa disadarinya kalau dia sudah mengatakan itu dari tadi sejak masih bicara dengan Brian sendiri.
"E...Aku hanya...".
Adam merasa gugup dan bingung bagaimana harus menjelaskan pada Amera kenapa dia memanggil Brian Daddy lagi.
"Aku suka mendengarnya Dam",ucap Amera dengan menggenggam tangan Adam erat sebagai bentuk dukungan agar pria itu tidak merasa tidak nyaman dengan panggilannya pada Brian.
"Ya...Aku rasa aku harus memanggilnya seperti bagaimana pun dia tetap ayahku benar bukan?".
Amera mengangguk sebagai tanda mengiyakan perkataan Adam.
"Itu benar dia adalah Daddymu dan juga calon kakek anak kita jadi kalau tidak dari sekarang kau membiasakan diri lagi memanggilnya dengan Daddy nanti akan terasa Aneh kalau anak kita tau hal itu bukan".
Adam mengangguk meski sebenarnya bukan itu alasan dia kembali memanggil Brian Daddy tapi sepertinya Amera mengatakan hal itu untuk membuatnya tidak merasa malu dan canggung.
"Apa kau sudah merasa tenang sekarang?",tanya Adam saat melihat Amera terlihat sudah baik baik saja dari ekspresi wajahnya tidak cemas seperti beberapa menit tadi.
__ADS_1
"Ya..Aku tadi hanya syok saja dan sekarang sudah baik baik saja kau tidak perlu cemas".
"Syukurlah aku senang mendengarnya sayang".
Amera mengangguk"Tapi bagaimana kau bisa datang keCafe tadi Dam bukankah aku tidak sempat menghubungimu karena pria bernama Anderson lebih dulu mencegah aku melakukan itu?",Amera bertanya karena merasa penasaran bagaimana Adam bisa begitu tepat waktu sampai diCafe tadi.
"Anggap saja insting seorang suami",balas Adam tidak berniat menjelaskan panjang lebar seperti yang dilakukannya tadi pada Brian karena tidak ingin membuat Amera merasa cemas juga ketakutan lagi nanti kalau tau yang sebenarnya.
"Insting?Apa benar seperti itu?",tanya Amera masih tidak percaya dengan penjelasan Adam yang menurutnya sangat mengada ada.
"Itu benar sayang.Instingku semakin tajam padamu dari hari kehari karena itu kau jangan berusaha menyembunyikan apapun dariku mulai sekarang karena aku yakin akan bisa mengetahuinya".
Amera menarik nafas keras mendengar itu dan memilih mengedikkan bahu untuk menjawab perkataan Adam yang terdengar tidak masuk akal ditelinganya tapi tidak dibahasnya lagi.
"Kau tidak kembali keperusahaan? Bukankah sekarang kau sedang sangat sibuk?",tanya Amera yang dijawab gelengan oleh Adam.
"Ada Geo dan para staf ahli yang menangani masalah itu jadi kurasa ketiadaannya diriku tidak akan membuat masalah itu tidak selesai",terang Adam dengan memilih duduk ditepi tempat tidur menemani Amera.
"Itu benar tapi kurasa kali ini dia tidak berani lagi tidak serius menangani masalah ini karena kalau sampai namanya terlibat dalam kasus penggelapan dana perusahaan dalam jumlah besar aku yakin Daddy akan benar benar mendepaknya dari perusahaan dan kurasa dia tidak mau itu terjadi padanya. Karena itu dia benar benar berusaha serius menyelesaikan masalah ini agar tetap berada diposisinya sekarang",terang Adam yang tanpa sadar membuat Amera menarik nafas lega.
"Syukurlah aku senang mendengarnya dan kurasa masalah kita satu persatu selesai dengan hasil memuaskan benar begitu bukan Dam?".
Adam mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Amera.
"Aku merasa lega dan tenang sekarang",celetuk Amera dengan menyandarkan kepalanya kebahu Adam.
"Aku juga sayang".
__ADS_1
"Daddy Brian pasti sangat senang saat nanti mendengar kau memanggilnya Daddy lagi",celetuk Amera dengan mendongak menatap kearah Adam yang diam tidak menanggapi ucapan Amera itu.
"Lalu bagaimana dengan Stella dan Ariana?",tanya Amera tiba tiba membuat Adam langsung mengerutkan keningnya bingung karena tiba tiba Amera menanyakan dua perempuan yang tidak ingin diingatnya lagi itu.
"Kenapa kau tiba tiba menanyakan mereka ?",tanya Adam tidak suka.
Amera menggeleng"Hanya merasa tiba tiba ingat mereka itu saja",balas Amera dengan ekspresi datar.
"Jangan menanyakan mereka karena aku tidak ingin mendengar tentang mereka terutama itu dari mulutmu".
Perintah Adam dengan nada ketus saat mengatakannya membuat Amera mengangguk dan tidak lagi membahas masalah itu tapi memilih membaringkan kembali tubuhnya keranjang.
"Apa kau merasa lelah atau mengantuk atau mungkin ada bagian tubuhmu yang terasa tidak nyaman?",tanya Adam dengan wajah cemas karena melihat ekspresi Amera tidak seperti sebelumnya yang dijawab Amera dengan gelengan kepala.
"Aku hanya ingin berbaring,Kau juga berbaringlah bersamaku disini Dam.Sudah beberapa hari aku tidak bertemu denganmu".
"Oh..maaf sayang.Apa kau merindukan aku?",tanya Adam dengan ikut merebahkan tubuhnya menyamping disamping Amera karena ranjang yang mereka tempati itu tidak cukup lebar digunakan untuk tidur berdua dengan leluasa, jadi Adam sengaja menyampingkan tubuhnya agar Amera tidak merasa sempit atau tidak nyaman.
"Tentu saja aku merindukanmu.Aku kesepian dan tidak nyaman karena harus tidur tanpa ada dirimu disampingku",balas Amera dengan mengalungkan lengannya keleher Adam dan sengaja menempelkan kepalanya kedada pria itu.
"Maaf sudah membuatmu merasa kesepian beberapa hari ini sayang", ucap Adam dengan mengecup puncak kepala Amera penuh cinta.
"Tapi mulai sekarang kau tidak akan meninggalkan aku lagi bukan?",tanya Amera dengan mendongak kearah Adam yang diangguki oleh Adam.
"Iya sayang",balas Adam.
"Aku mencintai mu Adam",celetuk Amera dengan membenamkan wajahnya kedada pria itu yang selalu membuatnya merasa sangat nyaman.
__ADS_1
"Aku juga sayang",balas Adam dengan berkali kali mengecup puncak kepala Amera penuh cinta.
"Sebaiknya kau beristirahat lagi sekarang agar besok kita bisa pulang",saran Adam yang dibalas anggukan oleh Amera dengan memejamkan matanya yang sebenarnya memang terasa berat mungkin karena pengaruh obat yang diberikan dokter tadi padanya reaksinya belum habis sepenuhnya Karena itu dia kembali mengantuk dan tak lama terlelap.