Terpaksa Menikahi Supir Berondongku

Terpaksa Menikahi Supir Berondongku
66. Bersandarlah Padaku Amera.


__ADS_3

Brak!.


Amera dan Adam reflek menoleh kearah pintu ruang rawat yang baru saja dibuka dengan sangat keras oleh seseorang.


"Elvan!",celetuk Amera terkejut karena melihat Elvan berdiri didepan pintu ruang rawatnya dengan wajah terlihat cemas.


"Mer....bagaimana kondisimu?", tanya Elvan dengan berjalan mendekat ke arah ranjang Amera dan sengaja tidak memperdulikan keberadaan Adam yang ada disana.


"Dari mana kau tau aku berada di Rumah Sakit?",tanya Amera bingung dengan kedatangan tiba tiba pria yang tidak diinginkannya itu.


"Dari pria yang menjadi pengacara Mu",terang Elvan dengan mendekat kearah Amera dan bermaksud meraih tangan Amera sebagai bentuk kekhawatirannya tapi langsung ditepis Adam sebelum Elvan berhasil menyentuhnya.


"Bisa anda menjaga sopan santun anda disini tuan Elvan Sander",ucap Adam dengan ekspresi dingin.


"Kenapa kau begitu over pada Amera yang bukan siapa siapamu",jawab Elvan tak kalah dingin.


"Apa maksud anda aku bukan siapa siapa Amera. Bukankah yang tidak punya hubungan lagi dengannya sekarang adalah anda tuan Sander".


"Dalam hal bisnis mungkin sekarang Iya tapi bukan berarti nanti kami tidak akan menjalin hubungan lagi".


Amera hanya diam dengan mendengarkan perdebatan dua pria itu. Ingin melerai juga percuma karena dia yakin Elvan akan terus sok benar sampai Adam bisa mengalahkannya dan dia yang sebenarnya sudah merasa sangat muak pada Elvan selama ini memang berharap Adam akan berhadapan langsung seperti ini dengan Elvan untuk membelanya.


"Hubungan?Hubungan kalian sudah berakhir baik dalam bisnis ataupun hubungan yang lainnya".


Elvan tersenyum sinis mendengar itu.


"Kau sangat yakin ya Adam... Max..well yang terbuang",tekan Elvan dengan tatapan merendahkan pada Adam.


"Sepertinya kau sudah tau siapa aku sebenarnya ya tuan Sander jadi seharusnya kalau kau tau, kau akan berpikir 2x...bukan sepertinya kau harus berpikir berkali kali lipat sebelum berniat membuat masalah denganku sekarang",balas Adam dengan sengaja menarik Amera mendekat kearahnya untuk menunjukan rasa kepemilikannya dihadapan Elvan yang dibalas dengan cibiran oleh Elvan.


"Kau memang punya nama besar Maxwell tapi kau hanya anak kemarin sore,jadi bisa apa kau melawanku".


Elvan mengatakan itu dengan memberi tatapan menghina pada Adam yang ditanggapi Adam dengan Kedikan bahu.

__ADS_1


"Tidak ada.Karena seperti kau bilang aku hanya anak kemarin sore.Tapi sepertinya kau belum tau siapa aku sebenarnya bukan tuan Sander".


"Apa lagi?Kau berniat menyombongkan dirimu dihadapan Amera karena kau ternyata bukan hanya anak muda biasa dan dia boleh berbangga diri dengan menjadi kekasih seorang Adam Maxwell yang terbuang begitu".


Adam menghela nafas dengan keras sejujurnya kepalanya sangat sakit hari ini karena dari sejak bangun tidur sampai sekarang harus menghadapi orang orang yang sangat memuakkan.


"Sejujurnya sekarang aku sudah tidak ingin lagi berdebat tuan Elvan Sander jadi bisakah kau pergi saja dari ruangan ini dan aku akan dengan baik hati mengganggap apa yang kau katakan ini, tidak pernah aku dengar".


Elvan menggeram mendengar apa yang dikatakan Adam dia merasa sangat terhina karena pemuda kemarin sore itu bisa bisanya mengusirnya dengan kata-kata hinaan seperti itu meski dia seorang Maxwell tapi dia hanya putra kedua Maxwell jadi apa dia pikir dia sangat berkuasa disini dan dihadapannya Amera yang dijenguknya.


"Beraninya kau mengusirku dengan kasar seperti itu Adam!",hardik Elvan dengan tatapan tajam kearah Adam.


Melihat Elvan hampir tidak bisa menahan dirinya dihadapan Adam Amera segera mencoba mencari tombol pemanggil dokter bersiap untuk meminta petugas Rumahsakit datang keruangannya untuk mengusir Elvan.


Melihat hal itu Adam segera berdiri dan mendekat kearah Elvan.


"Keluarlah tuan Sander ingat ini di Rumah sakit.Aku harap kau tidak akan membuat keributan denganku lebih dari ini agar Amera tidak semakin membencimu lagi",ucapnya dengan mencoba mendorong tubuh Elvan keluar dari ruangan itu yang dengan susah payah akhirnya berhasil.


"Hariku hari ini sudah sangat melelahkan kuharap kau tidak membuatku menambahkan mu kedaftar hitamku sekarang Elvan!",balas Adam tak kalah tajamnya menatap pria itu.


Elvan ingin terus melawan Adam tapi terhenti karena mendengar ponselnya berdering.


Dengan segera Elvan mengambil ponsel disakunya dan begitu melihat Ariana yang menghubunginya dia segera mengangkatnya dihadapan Adam.


"Ya Ariana",jawabnya pada perempuan itu dari seberang telpon.


"Aku...mungkin sekitar sore nanti baru pulang ke Apartemenku sekarang sebaiknya kau istirahat saja dulu nanti aku hubungi lagi kalau aku sudah tidak sibuk".


Setelah mengatakan itu Elvan menutup telponnya dihadapan Adam.


"Apa perempuan itu bersamamu?",tanya Adam tanpa basa basi.


"Bukan urusanmu sebaiknya kau urus saja urusanmu sendiri dasar anak manja!",balas Elvan.

__ADS_1


"Sebaiknya kau usir dia dari tempatmu sekarang kalau kau masih sayang dengan hidupmu",saran Adam sinis.


Mendengar itu emosi Elvan kembali muncul dan dengan geram dia mencengkram kerah baju Adam.


"Hey!!Siapa kau berani memberiku nasehat!!".


Adam menepis keras tangan Elvan dari lehernya lalu membalasnya dengan langsung menunjuk wajah pria itu.


"Aku tidak memberimu nasehat karena kau memang tidak pantas menerimanya.Aku melakukannya karena tidak ingin dia menyakiti Amera dengan tanganmu yang kotor itu".


"Brengsek!!mulutmu benar benar..".


"Berhenti sebelum kau hancur Elvan.Jangan ikut masuk dalam pertempuran keluarga Maxwell kalau aku masih ingin memiliki apa yang kau miliki sekarang!".


Setelah mengatakan itu Adam meninggalkan Elvan masuk kedalam ruang rawat Amera yang diiringi dengan teriakan penuh kemarahan dari Elvan dan baru berhenti saat ada suara dokter yang menegur Elvan.


"Kenapa dengan hari ini sebenarnya",celetuk Amera dengan wajah sedih karena dia juga masih bisa mendengar apa yang diteriakkan Elvan tadi pada Adam.


Adam mendekat kearah Amera lalu merengkuh tubuh perempuan itu dengan menepuk nepuk pundaknya berharap dengan apa yang dilakukannya itu perasaan Amera menjadi tenang.


"Jangan dipikirkan sayang dia hanya kesal karena dia merasa kalah telak itu saja".


"Tapi mulutnya benar benar keterlaluan Dam".


"Biarkan saja jangan pedulikan.Bukankah kau yang sering bilang padaku jangan dengarkan apa yang orang katakan tentang kita dan sekarang aku mau kau melakukan itu saat kau mendengar dia mengatakan sumpah serapah tidak berguna itu".


"Aku lelah....",ucap Amera dengan menyerusukkan wajahnya kedada Adam yang dibalas Adam dengan memeluk tubuh perempuan itu semakin erat.


"Kalau kau lelah bersandar lah padaku Bukankah aku selalu menyuruhmu seperti itu".


"Lalu kalau kau lelah kemana kau akan bersandar?",balas Amera dengan menatap wajah Adam yang menatapnya lembut.


"Tentu saja padamu lalu pada siapa lagi.Percayalah semua masalah akan bisa kita hadapi kalau kita saling bersandar dan percaya satu sama lain sayang",ucap Adam yang dibalas Amera dengan mengeratkan pelukannya pada Adam karena saat ini dia merasa itulah yang paling mereka berdua perlukan dibanding apapun.

__ADS_1


__ADS_2