Terpaksa Menikahi Supir Berondongku

Terpaksa Menikahi Supir Berondongku
84.Mau keApartemen ku Mel.


__ADS_3

"Mau ke Apartemenku?",tawar Geo yang membuat Melisa kembali gugup tidak jelas dan otaknya yang semula penuh rencana jahat untuk menaklukkan Geo tiba tiba kosong saat Geo sendiri yang menawarkan dirinya untuk bersama perempuan itu.


"Mel",panggil Geo lagi dengan menyentuh tangan Melisa yang anehnya terasa dingin saat disentuhnya membuat Geo merasa cemas pada perempuan yang belum lebih dari dua jam ditemuinya itu.


"Kau baik baik saja?",tanya Geo cemas yang langsung diangguki oleh Melisa.


"A...aku tidak papa tapi sepertinya aku ingin pulang saja sekarang",ucap dengan tiba tiba bangun dari duduknya dan melepaskan cekalan tangan Geo lalu berjalan pergi meninggalkan pria itu yang langsung ikut berdiri lalu mengejar Melisa yang berjalan semakin cepat karena merasakan Geo sedang mengejarnya saat itu.


"Mel tunggu!",pinta Geo dengan berusaha meraih tangan Melisa tapi segera ditepis Melisa.


Tapi penolakan Melisa tidak membuat Geo menyerah begitu saja karena entah mengapa sikap perempuan itu membuatnya merasa semakin tertarik untuk bisa semakin dekat dengannya bukan hanya kedekatan dengan tujuan tidur bersama tapi lebih dari itu sikap yang ditunjukan Melisa saat ini seolah seperti sebuah magnet yang menariknya untuk semakin mendekat pada perempuan itu.


"Mel!",panggil Geo lagi yang kali ini membuat Melisa berhenti lalu tiba tiba berbalik menghampiri pria itu membuat Geo merasa heran dengan perubahan sikap yang ditunjukan Melisa.


"Mari kita tidur bersama",ajak Melisa tiba tiba dengan mendekat kearah Geo yang membuat Geo terkejut mendengar apa yang dikatakan Perempuan itu.


"Di Apartemenmu atau di Hotel? Kita melakukannya".


Mulut Geo seolah terkunci mendengar perkataan Melisa yang bertolak belakang dengan ekspresinya sekarang membuat Geo merasa iba pada perempuan didepannya ini.Sebuah perasaan yang sering dirasakannya untuk dirinya sendiri yaitu melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya melakukan sesuatu untuk membuat orang bahagia tanpa pernah diperlakukan sebaliknya.


"Cepat putuskan sebelum aku kembali berubah pikiran",pinta Melisa dengan menggenggam kedua tepi gaunnya erat agar dia tidak goyah dan kabur dari hadapan Geo sekarang.

__ADS_1


"Di Apartemenku",jawab Geo tanpa melepaskan tatapannya dari Melisa yang terlihat berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Baik silahkan naik kemobilmu sendiri dan aku akan mengikuti mu dari belakang",ucap Melisa yang diangguki oleh Geo dengan berjalan ke mobilnya dan membiarkan Melisa masuk kedalam mobilnya sendiri serta tidak berharap perempuan itu benar benar akan mengikuti dia ke Apartemennya malam ini.


Geo sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan harapan Melisa akan terus mengikutinya dan kalau tidak dia juga tidak keberatan karena entah mengapa meski ingin bersama perempuan itu malam ini tapi sejujurnya dia lebih ingin mengenal perempuan itu lebih dekat dalam arti sebenarnya.


Geo memarkir mobilnya di garasi Apartemen pribadinya dan terkejut tapi juga senang saat tau kalau ternyata Melisa benar benar mengikutinya sampai keApartemen seperti yang dikatakan perempuan itu tadi.


Geo keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri mobil Melisa dan mengetuk jendelanya yang langsung dibuka turun oleh Melisa.


"Kubantu kau turun", tawarnya yang diangguki oleh Melisa dengan membuka pintu mobilnya agar Geo bisa membukanya dari luar.


"Ayo",ajak Geo dengan meraih tangan Melisa untuk membantunya turun secara sopan.


Melisa menatap bangunan tempat Apartemen Geo berada yang terletak disalah satu kawasan terelit dinegara itu,benar benar sesuai dengan statusnya yang merupakan putra pertama dan wakil CEO diperusahan Maxwell.


"Duduklah aku akan mengambilkan minum untuk kita",pinta Geo setelah mereka sampai diunit Apartemen yang ditempati pria itu.


Melisa duduk dengan menatap sekeliling ruang tamu yang bergaya maskulin minimalis dengan dominasi warna Abu gelap dan putih itu membuat ruangan itu terlihat berkelas sesuai dengan tempat nya. Berbanding terbalik dengan Apartemen yang ditinggalinya selama ini kecil dan sederhana membuat Melisa semakin merasa tidak pantas berada ditempat itu.


Geo membawa sebotol anggur dengan dua gelas ditangannya.

__ADS_1


"Kau tidak keberatan kita minum Wine malam ini bukan?",tanyanya yang dijawab gelengan oleh Melisa.


"Sudah kukatakan aku setuju dengan apa yang akan kau lakukan padaku malam ini jadi mau itu anggur atau wiski bagiku tidak ada bedanya",jawab Melisa dengan menerima gelas berisi wine yang diberikan oleh Geo dan langsung menyesap isinya yang terasa manis pahit di tenggorokan nya.


"Apa kau selalu seperti ini?",tanya Geo tiba tiba yang membuat Melisa menatap intens kearah pria itu.


"Maksudmu?".


"Sangat memaksakan diri",ucap Geo dengan ikut menyesap wine digelasnya sendiri.


"Bukankah sudah kukatakan banyak cara dalam bertahan hidup dan seperti ini salah satunya",balas Melisa.


"Melelahkan bukan",ucapnya dengan menatap kearah Melisa yang diam tidak mengatakan apapun.


Geo menarik nafas dengan kembali menyesap minuman ditangannya.


"Aku juga selalu begitu bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku melakukan sesuatu karena keinginanku sendiri".


"Apa kau merasa kasihan padaku?",tanya Melisa yang dijawab gelengan oleh Geo.


"Aku sudah lupa kapan ada orang yang bersikap tulus padaku tapi kalau boleh jujur bicara seperti ini denganmu membuat perasaan tertekan yang kurasakan selama ini perlahan menghilang karena itu aku tadi menawarimu pergi Apartemenku agar kita bisa ngobrol lebih lama malam ini.Jadi bukan hanya untuk bercinta denganmu saja Mel",terang Geo yang sejujurnya membuat Melisa sangat senang mendengarnya tapi lagi lagi dia tidak boleh berharap lebih meski sekarang pria didepannya ini bicara begitu manis padanya karena hidup adalah sebuah kenyataan bukan mimpi jadi dia memilih jalan yang sudah biasa dilakukannya membujuk mendapatkan lalu pergi untuk dilupakan.

__ADS_1


"Jadi....Apa itu berarti kau sedang menolakku sekarang Geo Maxwell",ucap Melisa dengan mencondongkan tubuhnya kedepan hingga membuat dadanya yang terbungkus pakaian mini itu menyembul keluar sebagian besar yang selalu bisa membuat mata lelaki hidung belang hampir meloncat keluar tak terkecuali Geo sekarang,meski dia berusaha menahan gejolak gairahnya saat melihat hal itu karena seperti ucapannya tadi dia tidak berniat melakukan hubungan satu malam saja dengan perempuan didepannya ini. Tapi godaan yang jelas jelas sedang dilakukan oleh Melisa sangat sulit untuk ditolaknya jadi pertama dalam hidupnya dia berada dalam perang batin antara menerima apa yang diberikan Perempuan ini dengan resiko semua akan berakhir begitu pagi datang atau menahannya untuk membuktikan kesungguhan ucapannya tadi.


Geo masih sibuk dengan perang dibatinnya tanpa menyadari kalau Melisa sudah bangun dari duduknya dan tiba tiba sudah berada tepat disampingnya dan sebelum dia bisa mengatakan apa apa tiba tiba Melisa sudah menariknya mendekat lalu mengambil inisiatif dengan lebih dulu melu*at bibir Geo tanpa bisa ditolak oleh Geo lagi.


__ADS_2