
Deg!
reflek Amera langsung mundur kebelakang mendengar perkataan Adam barusan.
"A...apa...ma.. maksud mu....kau... kau....pe...pem..bunuh?",tanya Amera dengan wajah pucat pasi karena syok.
Adam kembali menyugar rambutnya bahkan menyapu wajahnya saat melihat ekspresi Amera sekarang tapi belum menjawab pertanyaan Amera.
"Dam....ja..wab....apa..itu benar?".
"Bisa dikatakan iya",jawab Adam lirih.
"A... apa....".
Amera langsung terhenyak ditempatnya karena merasa sangat terluka mendengar kenyataan itu.
Dunianya seolah hancur dalam arti sebenarnya sekarang dan tanpa sadar dia menyentuh perutnya yang rata karena ingat ada sesosok makhluk hidup kecil yang tumbuh disana yang merupakan anak dari sosok mengerikan didepannya itu.
"Bukan dalam arti membunuh seperti apa yang kau pikirkan Mer tapi karena apa yang aku lakukan dimasalalu membuat sekitar 10 orang meninggal meski tidak dihari yang sama".
Mendengar itu Amera kemudian menatap nyalang kearah Adam.
"Katakan siapa sebenarnya kau dan apa yang kau lakukan kenapa bisa orang orang itu mati karena mu!!!",teriak Amera tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Maksudku aku yang menyebabkan mereka semua mati karena ulah kenakalanku 4 tahun lalu".
"Membunuh orang bagaimana bisa kau sebut sebagai sebuah kenakalan!!!Apa kau seorang psikopat!!!!".
Adam menarik nafasnya sebelum mulai menjawab pertanyaan Amera yang penuh kemarahan sekarang.
"Itu terjadi 4 tahun yang lalu.Aku dan teman temanku sedang melakukan balapan liar seperti biasanya tapi....malam itu kami minum terlalu banyak,tapi tetap nekad melakukan balapan yang sudah kami rencanakan hanya saja karena kegilaan kami, kami memindah sirkuit balap menjadi disebuah jalan tol bebas hambatan yang menurut kami lebih menantang dan penuh sensasi itu yang kami pikirkan saat itu''.
__ADS_1
"Kau gila...".
"Ya aku memang gila,lebih tepatnya kami berlima saat itu sangat gila karena hidup bagi kami adalah untuk bersenang senang dengan hanya minum,mengkonsumsi obat terlarang lalu s*x dan menantang maut,meski aku tidak suka s*x bebas seperti mereka tapi untuk hal yang lain aku mengikutinya tapi tidak yang berhubungan dengan S*x bebas".
Tanpa sadar Amera mengatupkan tangannya didepan mulut dengan tatapan tajam menatap kearah Adam yang menampilkan ekspresi bersalah.
"Dan tragedi naas yang sangat mengerikan malam itu terjadi pada kami semua Mer".
"A..apa?apa dalam pengaruh alkohol kalian membunuh?".
Adam menggeleng.
"Tidak secara langsung tapi bisa dikatakan begitu karena kegilaan kami malam itu mobil yang kukendarai dengan kecepatan sangat tinggi tiba tiba menabrak sebuah truk tangki yang melaju berlawanan Arah dengan mobil kami yang sedang melakukan balapan saat itu hingga membuat truk tangki itu terbakar dan meledak,yang ledakannya membuat semua temanku yang lain meninggal.Selain itu karena ledakan itu beberapa mobil yang berada didekat kami juga ikut terbakar yang menyebabkan banyak orang terluka dan beberapa meninggal ditempat malam itu".
"Lalu bagaimana kau bisa selamat dan baik baik saja didepanku sekarang , sementara semua temanmu meninggal dan kau penyebab kejadian itu?",tanya Amera bingung dengan menatap Adam.
"Entahlah mungkin karena kesalahanku terlalu besar jadi Tuhan menghukumku dengan tidak mengambil nyawaku saat itu supaya aku bisa bertobat".
Amera tersenyum sinis mendengar itu.
"Tapi itu kenyatannya Mer.Saat kejadian tubuh ku terlempar keluar jauh dari mobil sesaat sebelum mobil yang kukendarai menabrak truk tangki didepanku".
"Lalu apa kau bilang kau baik baik saja setelah musibah itu meski kau bilang tubuhmu terlempar jauh?".
Adam menggeleng.
"Aku koma selama 3 bulan karena mengalami benturan hebat dibagian kepalaku dan saat sadar aku sangat terkejut saat tau apa yang terjadi karena perbuatanku malam itu".
"Dasar berandal!",maki Amera dengan menatap Adam penuh kemarahan.
"Ya,kau benar aku memang berandal bukan hanya berandal aku juga pembunuh dan banyak lagi sebutan yang dilontarkan semua orang padaku karena kejadian itu hingga membuat ayahku mengusirku dari rumah karena marah dan malu dengan apa yang sudah kulakukan".
__ADS_1
"Hah!kau diusir dari rumah?".
"Iya dan aku tidak menyalahkan Ayahku sepenuhnya karena melakukan itu meski aku marah padanya".
"Seharusnya kau tidak berhak marah.Kau tau berapa banyak kerugian yang kau akibatkan dari hal gila yang kau lakukan itu?Banyak Dam dan seharusnya sekarang kau berada dipenjara bukan bebas berkeliaran seperti ini karena kau orang yang sangat berbahaya!".
Adam menghela nafas dengan keras mendengar apa yang dikatakan Amera.
"Meski tidak dipenjara hidupku juga tidak mudah setelah itu Mer.Hubunganku dan keluargaku menjadi buruk karena ayahku selalu saja menyalahkanku yang membuat kami menjadi sering bertengkar dan bertengkar tidak ada habisnya lalu puncaknya dia mengusirku dari rumah begitu saja lebih dari setahun yang lalu".
"Jadi...apa kau merasa tidak bersalah dengan apa yang kau lakukan karena itu kau diusirnya?".
Adam menggeleng.
"Masalah kami lebih rumit dari itu dan kadang aku berpikir mungkin seharusnya aku dipenjara saja untuk menebus dosa yang kulakukan itu dari pada bebas tapi merasa lebih dari berada dipenjara".
"Itu tidak mungkin Dam",ucap Amera tidak percaya dan masih belum mengerti apa yang dialami Adam dengan keluarga pria itu.
"Aku tidak memintamu percaya dengan apa yang kukatakan Mer tapi yang pasti sejak hari aku kembali membuka mataku hidupku berubah kearah yang sulit dalam arti sebenarnya bahkan karena pengusiran itu aku pernah harus tidur sebagai gelandangan selama beberapa bulan sebelum akhirnya aku mendapatkan pekerjaan pertamaku dari seseorang".
Amera mengatupkan kedua tangannya kewajahnya tidak tau bagaimana harus bereaksi menghadapi apa yang baru saja Adam ceritakan.
Kecewa marah kesal muak semua rasa itu bercampur jadi satu. Cukup lama dia dalam posisi itu dan baru mengangkat wajahnya setelah bisa mengendalikan emosinya.
"Pasti kau semakin memandangku rendah setelah mendengar hal itu bukan Mer.Tidak masalah karena aku juga tidak berharap orang akan mengerti bagaimana perasaanku sekarang.Tapi meski kau marah atau membenciku aku tetap tidak akan pergi dari dekatmu".
"Aku yang akan pergi kau pikir aku mau tetap meneruskan pernikahan ini setelah tau ternyata kau bukan pria yang pantas menjadi suami dan ayah calon anakku nanti".
"Sudah kukatakan apa yang terjadi padaku dimasalalu sudah merubah jalan hidupku Mer".
"Aku tidak percaya dan kau tau penilaian ku padamu sekarang.Ternyata kau lebih jahat dari Elvan mantan tunanganku itu!",bentak Amera marah.
__ADS_1
Mendengar itu tiba tiba Adam mendekat kearah Amera dan mencekal tangan perempuan itu meski tidak keras tapi emosi kemarahannya terlihat jelas dari tatapan tajam Adam pada Amera.
"Kami berbeda dan jangan pernah menyamakan kami camkan itu Mer!".