
"Silahkan duduk Nona Amera Jasmine",perintah seorang pria yang berpenampilan rapi layaknya pengawal pada Amera begitu dia masuk kedalam restoran Jepang yang langsung diarahkannya kedalam sebuah ruang VVIP.
Amera mengangguk lalu duduk.Merasa sedikit gugup sekarang meski diawal tadi dia begitu yakin kalau dia akan biasa saja saat bertemu dengan Brian Maxwell yang ternyata belum ada diruangan itu saat dia datang.
"Tuan Brian sedang ada pertemuan dengan klien beliau diruangan yang lain sekitar 20 menit lagi beliau selesai dan beliau berpesan kalau anda tiba lebih cepat dari itu.Saya diperintahkan membawa anda keruangan ini",terang pria itu yang kembali diangguki oleh Amera dengan berusaha duduk dengan tenang meski gugup.
"Apa anda ingin pesan sesuatu lebih dulu nona Amera Jasmine? Kalau iya biar saya panggilkan pelayannya untuk anda",saran pria itu karena melihat Amera yang terlihat gelisah meski sudah berusaha menutupinya.
Amera menggeleng"Saya akan menunggu tuan Brian saja nanti",jawabnya yang diangguki oleh pengawal itu lalu keluar dari ruangan Amera meninggalkan Amera sendiri didalam ruangan itu meski dia yakin pria itu hanya keluar ruangan dan sekarang sedang berdiri didepan pintu ruang VVIP itu.
Pria pengawal itu bilang Brian Maxwell hanya tinggal sekitar 20 menit lagi bertemu kliennya tapi Amera merasa itu waktu terlama yang pernah digunakannya untuk menunggu seseorang meski ini bukan pertama kalinya dia disuruh menunggu sendirian seperti ini.
Greek!!!
Reflek Amera menoleh kearah pintu ruang VVIP yang terdengar terbuka menandakan ada yang masuk kedalam ruangan itu.
Amera pikir saat bertatapan dengan Brian pria itu akan menatapnya dengan dingin dan penuh kebencian tapi ternyata dia salah meski tidak tersenyum lebar tapi Amera bisa melihat tatapan tulus yang diberikan pria itu saat mata mereka bertemu dan pria paruh baya itu tersenyum tipis dengan lembut padanya.Membuat perasaan Amera yang semula sangat gugup dan cemas perlahan lega.
"Maaf membuatmu lama menunggu nona Amera Jasmine",ucap pria itu setelah duduk dihadapan Amera.
__ADS_1
"Mungkin saya yang datangnya terlalu cepat tuan Brian Maxwell",balas Amera sopan.
"Sebenarnya tidak,tapi klien yang kutemui kali ini sedikit keras kepala karena itu pembicaraan kami yang seharusnya selesai dari 30 menit yang lalu akhirnya harus mundur sampai beberapa menit yang lalu.Dan itu pasti membuat mu kesal padaku".
Amera buru buru menggeleng untuk menjawab ucapan pria paruh baya itu.
"Tidak tuan Brian karena menunggu 30 menit bagi saya yang mantan artis itu bukan hal yang baru .Saya bahkan pernah menunggu semalam penuh agar peran difilm yang saya bawakan bisa mendapat timing yang pas",terang Amera dengan tersenyum sopan pada pria itu yang hanya ditanggapi Brian dengan celetukan.
"Rupanya anda termasuk orang yang gigih",puji Brian terdengar tulis ditelinga Amera yang langsung mengucapkan terimakasihnya.
"Jadi kenapa anda belum pesan sesuatu.Bukankah aku tadi sudah berpesan pada pengawal ku untuk menyuruhnya memanggil pelayan kalau sampai anda datang lebih dulu sementara rapat ku belum selesai".
"Tapi ini sudah cukup siang untuk jadwal makan siang.Apalagi bagi wanita hamil seperti anda",ucap Brian yang membuat Amera terkejut.
"Anda tau saya hamil?!",tanyanya reflek yang membuat Brian mengerutkan keningnya karena merasa Amera tidak suka dia tau tentang kehamilan perempuan itu.
"Bukan kah itu bukan rahasia umum",ucapnya yang langsung membuat Amera mengangguk.
"Iya..anda benar tapi kadang saya lupa kalau sebenarnya lebih dari separo orang dinegara ini tau tentang kehamilan saya",ucapnya dengan tertunduk.
__ADS_1
"Bagi orang yang tidak punya masalah dalam hal memiliki keturunan mungkin tidak suka kalau semua orang tau tentang kehamilannya itu atau anda berpikir itu adalah hal biasa yang tidak perlu diketahui banyak orang tapi bagi sebagian orang yang butuh usaha dan waktu yang lama untuk bisa merasakan apa yang anda rasakan sekarang, mereka sangat tidak sabar untuk memberitau semua orang saat tau kalau mereka sedang hamil.Karena itu khabar paling membahagiakan bagi mereka",ucap Brian yang membuat Amera lalu menatap kearah pria tua itu yang ternyata saat itu terlihat sendu.
"Maaf...tuan Brian...itu...".
Brian mengedikkan bahunya"Sepertinya aku terlalu terbawa perasaan Masalalu kalau melihat perempuan hamil",terangnya dengan tersenyum lembut kearah Amera.
"Apa istri anda dulu maksud saya mommy Adam punya masalah dalam kehamilan?",tanyanya pelan takut membuat Brian Maxwell tersinggung tapi ternyata pria itu menjawabnya dengan anggukan.
"15 tahun kami menanti kehadiran Adam dan dia hadir disaat kami sudah berada dititik tidak berharap lagi akan bisa menjadi sosok orang tua untuk darah daging kami sendiri. Jadi bisa kau bayangkan betapa bahagianya kami dulu saat mengetahui kalau ternyata Eleora hamil",ucapnya dengan mata berkaca kaca tapi wajah terlihat tersenyum karena sepertinya itu merupakan kenangan yang tidak bisa dilupakannya.
"Sejujurnya saya sangat bahagia saat tau kalau saya hamil meski saat orang tau tentang kehamilan saya ini sempat ada banyak scandal buruk yang mengiringinya tapi ternyata kenyataan tentang akan menjadi orang tua bagi anak saya sendiri membuat saya bisa lebih perduli calon anak saya dibandingkan apa yang orang pikirkan tentang saya",ucap Amera dengan ekspresi penuh keyakinan saat mengatakan hal itu dihadapan Brian.
Brian tersenyum lembut pada perempuan itu.
"Kau tau sejujurnya aku tidak berharap bisa ngobrol seperti ini dengan mu nona Amera Jasmine karena kau pasti tau dari Adam bagaimana hubunganku dengannya bukan?".
Amera mengangguk"Iya tuan Brian saya juga sempat merasa sangat gugup sebelum bertemu dengan anda tadi saya pikir anda akan bersikap sangat dingin pada saya karena saya..".
Brian lagi lagi tersenyum pada Amera.
__ADS_1
"Entah ini hal bagus atau tidak menurut anda tapi sebenarnya aku tipe orang yang tidak mudah menilai orang hanya dari mendengar apa yang orang katakan tentang orang itu meski kurasa itu bukan hal bagus karena sifatku yang seperti itu membuatku pernah mengalami salah langkah fatal dalam hidup",ucapnya dengan menatap Amera lurus yang ditanggapi Amera dengan diam karena tidak tau harus mengatakan apa setelah mendengar apa yang dikatakan pria itu tentang dirinya yang seperti sebuah pembelaan atau bisa juga penggambaran diri seorang Brian Maxwell. Yang pasti Amera merasa pria tua itu sangat mirip dengan Adam meski Adam tidak pernah mau mengakuinya karena rasa marahnya selama ini pada Daddynya itu.