
Setelah mendengar tutur kata bi Ami,kemudian Yohan beranjak dari kasur dan duduk dipinggir ranjang lalu melangkah maju menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi,Yohan keluar dengan badan yang sudah dibungkus pakaian sekolahnya dan terlihat sangat cool.Melangkah menuju pintu kamar,saat terbuka menampakkan seorang gadis cantik dengan rambut sebahu yang tengah tersenyum lebar.
Yohan berhenti dan menatap gadis itu,"Ada apa!"Datar Yohan,ya itulah Yohan yang berkata selalu menggunakan tanda seru!.
"Ya ampun kak Yohan cool banget"Gumam Meliya,"Emm... aku boleh berangkat bareng kak Yohan?tadi tante bilang katanya suruh berangkat sama kak Yohan aja"Jelas Meliya yang masih mengembangkan senyumannya.
Yohan menaikkan satu alisnya,kemudian ia melanjutkan langkahnya meninggalkan gadis cantik itu tanpa meninggalkan satu kata pun.Tentu saja Meliya cemberut dan hanya bisa menatap punggung Yohan.
"Buruan,gue tunggu di bawah!"Ucap Yohan tanpa menghentikan langkahnya.
Ekpresi cemberut kini langsung berubah menjadi sangat ceria,tersenyum lalu ia berlari menuruni anak tangga ia sangat takut jika Yohan lama menunggunya.
"Buruan!"Datar Yohan yang sudah sedari tadi duduk di kursi setir.
Meliya menggangguk segera masuk kedalam mobil dengan wajah yang masih menampakkan senyuman,"Lama ya nunggu aku"Ucap Meliya sambil mengenakan sabuk pemgamannya.
"..."Tak ada respon dari Yohan,setelah sabuk pengaman Meliya terpakai Yohan langsung menstater mobilnya dan melenggang pergi dari sana.
Di pintu utama Maryana memperhatikan keduannya,dan terlihat menampakkan senyuman,"Meliya lebih cocok dengan kamu dari pada anak yang bernama Aira itu!"Gumam Maryana kemudian memutar balik tubuhnya masuk kedalam rumah.
****
Di lain tempat Aira yang tengah berangkat sekolah menggunakan taxi,wajahnya yang setiap pagi selalu ceria tapi kini ia menekuk wajahnya.Dan terlihat lingkaran hitam di kantung matanya mungkin karena Aira tidak bisa tidur atau karena hal lainnya.
"Gue harus bertahan"Gumam Aira,ia yakin jika Yohan tidak akan menjauhinya dan memaafkan tentang kejadian kemarin,karena itu hanya kesalahpahaman saja.
Lampu merah menyala yang menandakan harus menghentikan kendaraan.
Aira yang berada di dalam taxi,ia kemudian menyenderkan kepalanya disamping kaca mobil dan mengedarkan matanya melihat sekitar sana yang banyak sekali dipenuhi pengendara angkutan umum maupun pribadi.Tiba-tiba mata bulatnya melebar setelah melihat objek yang membuat Aira tercengang.
__ADS_1
Objek yang membuat Aira sangat tercengang adalah pada saat yang bersamaan tepatnya di samping taxi yang ia naiki melihat sebuah mobil mewah yang membuka kaca mobilnya,ia sangat yakin itu mobil milik Dia.
Tak terasa cairan bening meluncur mulus di pipi Aira dan membentuk sebuah jalan,setelah melihat siapa orang yang berada di dalam mobil itu.
Ternyata yang Aira lihat adalah Yohan dan Meliya yang tengah satu mobil,bahkan terlihat pula kemesraan yang dilontarkan oleh gadis itu.
"Meliya,apaan sih lo itu rangkul-rangkul gue!"Kesal Yohan.
"Ihh gak apa kali kak sekali-kali"Ujar Meliya sambil mengkrucutkan bibirnya,dan tak melepaskan rangkulannya malah semakin erat.
Pasrah,ya saat ini Yohan hanya pasrah.Entah kenapa Yohan ingin sekali menengok kesebelah kiri.
Aira yang melihat Yohan menengok ke arahnya,ia secepat mungkin menuduk agar Yohan tak dapat mengenali.
Yohan yang sudah menengok ke sebelah kiri,kemudian menengok kembali setelah melihat seseorang yang mungkin ia kenali.
"Aira"Gumam Yohan.
Yohan yang masih mengamati taxi tersebut hingga lampu merah berubah menjaddi hijau,klakson berbunyi meramaikan jalan dan umpatan pengendara lain,pasalnya Yohan belum saja menjalankan mobilnya.
"Kak Yohan buruan jalanin mobilnya,gak denger tah pengendara yang lain marah!"Kesal Meliya.
Yohan yang tersadar kemudian mrnyalankan mobilnya kembali,tapi ia masih bertanya-tanya apakah benar yang ia lihat itu benar-benar Aira.
Sopir taxi yang melihat penumpangnya menangis melalui spion dalam mobil,ia merasa iba,"Ade menangis?"Tanya pak sopir.
Aira mendongak setelah mendengar tuturan pak sopir,ia segera mungkin menghapus jejak air matanya,"Eh nggak pak,tadi kelilipan"Sangkal Aira.
"Emm... tak kirain nangis,sayang lo dek mukanya cantik gitu dipake nangis"Ucap pak sopir terdengar menghibur.
Lelucon itu seketika membiat Aira tersenyum,tapi tak bertahan lama ia kembali murung.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian sebuah taxi berhenti di depan gerbang sekolah,pintu mobil terbuka menampakkan sosok gadis dengan rambut yang terurai dan berbalut kardigan berwarna hitam.
Ia melangkah maju menyusuri koridor yang terdapat beberapa siswa yang tengah bergosip.Sepagi ini Aira harus mendengar gosipan yang kurang mengenakkna untuk didengar.
"Eh tau gak guys,kakak kelas kita katanya mau tunangan sama murid baru anak kelas X Ips1"
"Masa iya... uuh kasian banget ya,sama tuh cewek yang beberapa bulan dikabarin dekat sama Yohan.Ehh sekarang denger kabar kalau Yohan udah ditunangin!"
Mau tak didengar tetapi terdengar,ya begitulah gosipan mereka yang sengaja menyinggung Aira,sedih sih tapi gimana lagi yang mereka bicarkan memang benar gak Hoak.
Aira menggeleng males dan melanjutkan masuk kedalam kelas.Saat sampai didalam semua tatapan siswa tertuju padanya sampai Aira duduk di kursinya.
Tiga cewek menghampiri Aira dengan niatan membully dirinya,saat ini Aira males berdebat dengan ketiganya dan mendengarkan saja.BRAKK!!suara gebrakan meja yang dilontarkan oleh Amara dimeja belajar milik Aira.
"Gue ngomong sama lo!"Kesal Amara sambil menatap tajam Aira.
"Ya udah ngomong"Datar Aira.
"Eh *******!berani ya lo sama gue!!"Kesal Amara,ia sudah mengangkat tangannya untuk memukul wajah Aira,tetapi dihalangi oleh seseorang dari belakang.
Amara menengok dan Aira pun ikut mendongak menatap siapa yang menghalagi Amara menampar wajahnya.
"Meliya"Kompak keduannya.
Meliya menurunkan tangan Amara,kemudian menatap wajah Aira,"Jangan kotori tangan lo hanya karena cewek gak guna ini!"Ucap Meliya terdengar menusuk tak lupa tersenyum Devil.
Amara makin menyeringai,"Huh dasar gak guna!"Ucap Amara,"Oh ya ini nih cewek yang keganjenan sama Yohan"
Meliya hanya tersenyum smirk dengan tangan yang dilipat didada.
Annisa yang baru saja sampai kelas sudah menyaksikan perilaku mereka yang sering kali melukai hati Aira.
__ADS_1