The Sended

The Sended
Chapter 92: In a Moment of Weakness We Stumbled, But Will Not Falter


__ADS_3

.


Makanan yang disajikan, sesuai dugaanku memiliki lebih banyak rasa dan tekstur ketimbang sup di kota sebelumnya, tapi kebanyakan hanya sayuran dengan sedikit daging didalamnya, juga ada satu ikan besar yang katanya ditangkap disungai yang mengarah ke air terjun langsung.


Meski begitu, ini masih jauh lebih daripada sup hambar itu kan?


"Terimakasih karena sudah bergabung bersama kami Nona Ryuu, perlu anda ketahui bahwa Keluarga Xia menyambut anda sepenuh hati," kata kakek Li


Aku mengangguk sambil tersenyum kepadanya


Di meja ini duduk tujuh orang termasuk aku, Li, dan kakek Li sang kepala keluarga yang duduk ditengah. Selain kami bertiga, ada ayah Li, paman Li, istri paman Li, serta saudara Li yang juga putra dari paman Li itu


Mereka semua nampak ramah kecuali kakek Li, tapi menurut Li ia memang sudah tidak bisa menunjukan keramahannya dengan wajahnya itu. Yah kalau melihat bahasanya memang dia cukup ramah...


"Nona Ryuu, apa benar anda berasal dari Ruby?"


"Iya, aku lahir dan besar di Ruby," jawabku kepada pertanyaan pamannya itu


"Wah! Bagaimana rasanya hidup di Benua Barat? Li pernah cerita tapi itu hanya berasal dari bukunya semata, aku tertarik untuk mendengarnya langsung dari penduduk aslinya," kata sepupu Li bersemangat


Mereka semua juga memberiku tatapan bercahaya yang sama, bahkan Li di sebelahku


"Hei sudah-sudah, Nona Ryuu dan Li pastinya kelelahan karena berjalan dari Qing hingga kemari, mengapa tidak kita biarkan mereka beristirahat dulu? Ya kan, ayahanda?" Kata ayah Li


"Benar,"


"Bukan masalah kok, akan kuceritakan sedikit,"


.


Lagi-lagi aku mengurung diri didalam perpustakaan, yang berbeda hanyalah ini perpustakaan milik Keluarga Xia yang didalamnya terdapat banyak buku soal pembuatan pil


Aku sampai lupa waktu, kurasa hari sudah malam karena disini gelap, hanya lentera yang menjadi penerangku.


Meski sudah membaca beberapa buku, aku masih tidak mengerti cara menciptakan pil mana itu... Bahan yang dipakai tertulis berbeda tiap bukunya, tidak ada yang bisa mengukur tingkat efektifnya membuatku bingung


Tapi karena aku sudah ada disini itu artinya jawaban sudah dekat, aku hanya perlu bersabar


Tidak semudah itu kah...?


"Nona Ryuu,"


Woah!


Muncul dari balik kegelapan, kakek Li sang kepala keluarga Xia itu datang


"Ini sudah larut, mengapa kamu masih berkeliaran di perpustakaan?" Tanya dia

__ADS_1


"I-Itu... Hobiku adalah membaca buku jadi aku sampai lupa waktu, maaf soal itu tuan besar Xia,"


"Kamu boleh memanggilku Feng karena disini ada banyak Xia," itu sebuah candaan bukan...? Kenapa dia bahkan tidak menyeringai?


Dia menuju ke meja didepan perpustakaan dan menyeduh teh dalam teko diatasnya kedalam gelas yang terbuat dari keramik, itu adalah salah satu produk yang dihasilkan di Benua Timur ini


"Duduklah dan minumlah bersama orang tua ini," katanya


Karena takut diusir jadi aku mau saja...


.


Kekalahan di perairan Ruby bukan hanya membawa kekacauan kedalam militer dan politik, tapi sekaligus mendatangkan malapetaka bagi Kerajaanku ini. Banyak bangsawan yang membisikan kata peningkatan autonomi hingga perpisahan wilayah


"Di momen-momen terendah kita tersandung, tapi kita tak akan goyah!"


Aku tidak akan membiarkan kerajaan ini pecah begitu saja, aku akan melawan.


.


Uhh... Sesuai dugaanku ini akan jadi canggung...


Kami duduk bersama menghadap ke arah Barat, hanya ada meja kecil yang memisahkan beserta cangkir serta teko diatasnya yang keduanya berisi teh, sudah sepuluh menit sejak dia menuangkan teh kedalam cangkirku dan kami tidak melakukan obrolan apapun.


Tapi melepas semua itu, apa yang kulihat saat ini lagi-lagi membuatku sadar bahwa ini dunia yang sangat indah. Bagaimana tidak? Aku bisa memandang seluruh Qing dari atas sini, mulai hutan dibawah kami bahkan kota mereka jauh disana, meski yah... Terlihat sangat kecil


"Membuatmu merasa bisa mendapatkan segalanya bukan?" Tanya kakek Feng


Aku tidak yakin soal mendapatkan segalanya sih... Tapi memang dari atas sini rasa hasrat berkuasa menjadi semakin tinggi, atau mungkin begitu? Aku sendiri sudah membuang hasrat itu jauh-jauh hari, buktinya aku menjadikan Kyouka pemimpin


Mungkin karena aku telah merasakan hal itu jadi tidak berminat lagi, memangnya apa serunya melihat semua orang dari atas singgasana? Ketika dirimu berdiri namun semua orang membungkuk, ketika dirimu tidak bebas berbuat apapun meski kamu memiliki kuasa paling tinggi? Kusadari itu tidak membuatku puas sama sekali


Jadi yah kuberikan kesempatan itu pada Kyouka saja setelah membuang hasrat kekuasaanku.


Sekarang ketika aku melihat pemandangan ini, tidak seperti yang Kakek Feng katakan, aku benar-benar hanya menikmati keindahannya saja.


"Semua itu boleh engkau bakar dan musnahkan, tapi kumohon biarkan hutan dibawah sana, pegunungan ini, dan kediaman kami terlepas dari hal itu," huh? Apa yang dia katakan?


Apa jangan-jangan dia berpikir kami akan menyerang dan membumihanguskan Qing dan menghancurkan banyak catatan serta talenta berharga terbuang begitu saja? Tidak kah itu terdengar sangat sia-sia?


"Engkau adalah Jenderal Kerajaan Ruby bukan, Nona Ryuu? Kuyakin dengan jabatan setinggi itu dirimu bisa mengabulkan permohonanku dengan mudah, sebagai gantinya silakan tahan diriku saja," lanjutnya


Hah....


"Sepertinya kamu salah paham soal kerajaan kami, Tuan Feng. Ruby memiliki hak yang kami anggap semua manusia memilikinya, kami tidak mungkin melakukan semua hal yang kamu katakan sebelumnya, mungkin Ming akan melakukan itu jika kalian kalah di perang sebelumnya sih.... Melihat apa yang mereka lakukan terhadap pemberontak goryeo... Tapi kami berbeda," jelasku


Dia menatapku tajam, mencari tahu apakah kata-kata yang keluar dari mulutku hanya sekedar omong kosong kebohongan atau aku benar-benar serius.

__ADS_1


"Jika benar begitu maka aku bersyukur, tapi apa yang kalian minta sebagai gantinya? Baik uang maupun jiwa kami kekurangan itu," tanya beliau


"Kenapa tidak dengan keahlian kalian?"


"Maaf?" Ia bingung


"Pertemananku dan Li bukanlah sebuah kebohongan, Tuan Feng. Dia bercerita banyak dan aku tertarik dengan cerita soal pil mana dari keluarga Xia," jawabku


Dia melebarkan matanya sembari menatapku, apa yang kuminta terlalu banyak? Mungkin itu adalah rahasia Keluarga Xia


Setelah ia selesai dengan keterkejutannya, dia menunduk dan tiba-tiba langsung menghabiskan teh di dalam cangkirnya dengan cepat, lalu dia mengisi kembali cangkir itu dengan teh didalam teko


Ada apa ini...?


"Di Benua ini, ahli sihir bukanlah ilmu yang paling diminati oleh orang-orang, baik sekarang apalagi dulu mereka hanya menginginkan diri mereka menjadi seniman beladiri atau penyair, pil mana tidak pernah dipergunakan secara masif karenanya,"


Dia berdiri dan berjalan ke pagar didepan kami. Lalu kini bukannya melihat pemandangan di bawah, dia menatap rembulan yang bersinar cukup terang di malam ini


"Akan tetapi pendiri Keluarga Xia selalu percaya bahwa entah kapan pil mana ini akan berguna, ketika kita akhirnya menyadari potensi hal ini. Kami akan dengan senang hati membantu mewujudkannya," eh?


J-Jadi...?


"Keluarga Xia akan mendukung gagasan itu, dan dengannya maka Keluarga Xia juga akan mendukung Ruby dibanding Qing," Ehh...?


"Apa benar hanya itu alasannya?" Tanyaku mencoba untuk tidak menunjukan kesenanganku


"Qing yang terbatas hanya sebagai negara kota pasti tidak bisa dibandingkan dengan Ruby, sejujurnya... Aku hanya ingin mewujudkan impian Li," hmm?


"Pendiri keluarga kami, Xia Fuxi, sebenarnya bukan lahir di Qing, beliau adalah warga dari wilayah Chang'an tepatnya di sisi Utaranya. Warga disana lebih sering melihat petualang Dwarf ketimbang orang lain di seantero benua manusia, dan karena itu juga banyak yang memutuskan untuk mengambil jalan yang sama, Xia Fuxi adalah salah satunya.


Ia menuju ke Selatan dan berakhir di Qing karena menemukan hutan dibawah itu, lantas ia membangun kediaman disini yang awalnya hanya digunakannya sebagai tempat penelitian. Kuyakin itu sebuah penelitian yang penting karena memakan waktu sisa hidupnya...


Dan maka berakhirlah kisah Xia Fuxi, sekaligus berakhirlah kisah petualangan keluarga Xia. Generasi penerusnya tidak memiliki keinginan untuk berpetualang sepertinya, setidaknya hingga si kecil Li lahir.


Li adalah sosok yang selalu penasaran akan sesuatu, meski kebanyakan ketika seusianya dulu memang suka menanyakan banyak hal, tapi kebiasaannya itu terbawa hingga sekarang. Ia ingin mengetahui semua hal, seperti legenda sang Dewa pengetahuan yang mengorbankan hidupnya untuk mengetahui rahasia dibalik penciptaan dunia.


Ku yakin itu alasan ia pergi mempertaruhkan nyawanya untuk sampai ke Fuzhou dan bertemu anda, yang mana menjadi alasan mengapa ia kini lebih semangat untuk berpetualang karena tahu bahwa dunia jauh lebih luas dari yang ada di buku.


Sebagai kakek, sebagai seorang Xia, sudah sewajarnya aku membantu sosok seperti Li untuk menggapai mimpinya, pewaris murni Xia Fuxi, Xia Li, dia adalah Xia sejati, petualang bukan peneliti." Jelas kakek Feng


Hmm... Aku tidak pernah menghentikan seorang petualang untuk melakukan hobinya sih, tapi jika Li berpetualang bukankah itu artinya keluarga Xia akan kehilangan anggotanya? Dengan luasnya dunia ini, dengan begitu banyaknya rahasia yang ada, satu kehidupan tidak akan cukup


Itu alasan Xia Fuxi hanya sampai disini saja bukan?


Tapi sekali lagi, menghentikan impian seseorang bukanlah hobiku.


"Cepat atau lambat Ruby akan membuka dermaganya untuk perdagangan, saat itu maka akses ke Benua Barat akan terbuka melalui kami. Maka sebaiknya Li bersiap-siap dari sekarang, banyak hal yang harus dia lihat di sisi lain Kelfia," kataku

__ADS_1


"Terimakasih Nona Ryuu, keluarga Xia akan melayani anda dan Kerajaan Ruby sepenuh hati,"


"Bersulang untuk hubungan ini?" Tanyaku setelah mengangkat cangkir berisi teh itu


__ADS_2