
"Maafkan hamba, nona," oh... sepertinya dari kelima ksatria Ruby, Percival lah yang paling cepat meninggalkan kebanggaan seorang ksatrianya huh?
Itu hal yang baik untuk sekarang, aku perlu orang-orang yang dapat mengikuti perintahku, bukan ksatria-ksatria terhormat
"Bagus, mari kita lihat apa ia masih dapat menyeringai nanti,"
Saat ini kami sudah berada ditengah sungai didepan hutan Ruby, menurutku jika kami mundur lebih jauh maka morale pasukan sisi ini akan hancur, beruntungnya karena kami berdiri di sungai
Ya! Itu salah satu kelebihan dari sungai ini, sebenarnya sama dengan kelemahannya yakni memperlambat gerakan, kali ini aku memanfaatkan itu sebagai keuntunganku
Pergerakan pasukanku dan pasukan musuh jadi diperlambat, ini adalah waktu yang tepat untuk kejutannya
"Nona!"
Tiga prajurit musuh mencapaiku, ketiganya menggunakan tombak dan mereka akan menusuk kearahku secara bersamaan. Tapi kenapa Percival begitu histeris?
Aku membunuh ketiganya dengan satu kali tebasan pedangku
Tombak adalah senjata yang paling efektif memang, seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa seorang amatir dapat membunuh master menggunakan tombak sepanjang tiga meter lebih, Baik Nobunaga Oda maupun Alexander agung dapat memahami itu dengan baik
Akan tetapi tentu mereka harus dilapisi lagi dengan taktik dan strategi, kalau satu lawan satu maka tak ada kemungkinan untuk pengguna tombak amatir dapat mengalahkan master pedang
Untuk ku yang pernah menghancurkan satu divisi gabungan, tiga tombak bukanlah masalah
"Apa kamu lupa jika aku pernah mengalahkanmu, Sir Percival?"
"I-Itu... Iya,"
Hahaha! Tapi mereka mencoba hal yang bagus, memotong kepala ular langsung untuk mengakhiri pertempuran. Sayang sekali mereka hanya menggunakan tombak....
Ku mengangkat pedang ku tinggi-tinggi sembari berseru, "Kita menang!"
Prajurit-prajurit musuh tertawa mendengar ini, beberapa dari mereka mati karena itu.... di sisi lain prajurit Ruby ada yang terdiam dengan wajah aneh yang seakan berkata: Wah... apa orang ini serius?
Tapi aku serius.
"Bwahahaha! Tak kusangka Ruby memiliki orang gila yang memimpin pasukan mereka,"
"Tuan, kusarankan anda untuk berhati-hati,"
"Baik-baik, aku akan berhati-hati,"
Setelah kulihat lagi, sepertinya Jenderal musuh bukanlah jenderal yang brilian seperti yang kukira. Namun bawahannya yang ada di sampingnya itulah yang jenius, dari tadi ia melihat ke kanan, kiri, depan, dan belakang, ia memastikan bahwa semuanya beres
Tapi semuanya memang beres kok, seperti yang kubilang tidak ada trik disini kecuali jika kamu melihatnya....
"Kami akan menang, mengapa kalian tidak menyadarinya? Kuyakin mata kalian kurang jeli ya.... Lihat saja! Kalian akan hancur dengan pertempuran ini," lanjut ku
"Hahaha! Bagus sekali semangatmu nona muda, tapi yang kurang jeli sepertinya kamu. Tidak kah kau lihat pasukanmu telah dipukul mundur sampai ke sungai ini? Benar kan, penasehat?" Kata sang Jenderal musuh
"Itu benar, kesempatan menangmu saat ini adalah nol besar, kamu membawa pasukanmu melawan kami di lapangan terbuka tanpa sebuah taktik maupun strategi, aku dapat melihatnya dari bagaimana caramu meletakan barisan,"
Oh? Hmmm.... tapi kalau dia gagal mendapati taktik yang kugunakan maka ia bukanlah orang yang tepat untuk berada di posisi yang sama sepertiku, ia akan lebih berguna untuk jadi seorang pengamat huh?
"Aku sudah lihat semuanya! Kamu tidak memainkan trik apapun, kamu hanyalah orang yang salah di tempat yang salah! Tak seharusnya kamu memimpin pasukan seperti ini! Medan perang bukanlah mainan anak kecil!" bentak pria itu
Wah-wah, sepertinya dia menasehatiku.... atau sedang merendahkanku ya?
__ADS_1
"Tenanglah penasehat, justru karena itu kita dapat memenangkan pertempuran ini dengan cepat," kata Jenderal Ladenvield si sampingnya itu
"Apa kamu yakin dengan itu, penasehat? Tidak kah rasa percaya diriku tidak didasari oleh apapun menurutmu?" Tanyaku
"Ya, aku kagum dengan itu, aku sempat mengamati medan perang dengan lebih cermat lagi karena itu, tapi hasilnya sama saja. Kamu hanyalah orang dengan keberanian sangat tinggi, sama seperti Ksatria Ruby lainnya,"
"Mungkin kamu tidak tahu, tapi menurutmu bagaimana kata 'trik' ini terbentuk. Apa kalian pikir jika sebuah 'trik' akan menjadi 'trik' jika itu diketahui?
Cobalah melihat lebih cermat lagi, penasehat. Karena aku memang tidak menggunakan trik, sebab kamu gagal melihatnya,"
Mhmm, sepertinya tahap akhirnya mau dimulai
Pengamat itu terlihat menunduk sedikit dan memikirkan semuanya lagi dari awal dikarenakan perkataanku ini, bagaimana barisanku, pergerakan kami, pergerakan mereka, dan lainnya
"Jenderal! Aku telah salah! Kita masuk kedalam perangkap musuh!"
Akhirnya dia menyadari itu kah? Tapi sudah terlalu terlambat, tidak ada cara untuk menyelamatkan pasukan ini lagi
Namun....
Aku melesat maju dan langsung memenggal kepala Jenderal Ladenvield yang masih tidak tahu apa yang penasehatnya itu katakan. Kepalanya terlempar ke udara setinggi tiga meter sebelum akhirnya jatuh dan terbawa arus sungai dan pertempuran
Ngomong-ngomong air sungai ini kini menjadi merah sebab pertumpahan darah yang kami lakukan disana
"Kini kalian tidak bisa mundur,"
Yang ku inginkan adalah kemenangan total seperti Hannibal, tak akan kubiarkan satupun dari mereka lolos dari pedang Ruby
Langkah selanjutnya sebagai penutup pertempuran ini dan penutup bagian yang masih terbuka dari sisi pasukan musuh, aku meminta bantuan khusus dari seseorang yang mana tidak lain adalah Ratu Ruby, Lofi
Seminggu yang lalu ketika aku berunding bersama Kyouka dan Maou tentang cara untuk menaklukan Ladenvield, aku meminta masing-masing satu hal dari mereka berdua. Keduanya mengharapkan kehadiran mereka
Untuk Kyouka, aku ingin seluruh penjaga istana elitnya ia pimpin sebagai unit kavaleri pertama Ruby, lalu mereka akan bergabung dengan pasukanku disini hari ini.
Kunci kemenangan Hannibal di Cannae sebenarnya karena ia menang jumlah di kavaleri, ia memiliki 10.000 prajurit berkuda melawan musuh yang berjumlah sekitar 8.000
Kavaleri Carthage memukul mundur kavaleri Roma lalu mengejar mereka sampai mereka benar-benar kabur dari medan perang dan tak punya kesempatan untuk kembali, baru setelah itu mereka kembali untuk menutup barisan Romawi
Pengepungan total 90.000 prajurit dengan menggunakan 60.000 prajurit, itu terdengar tidak masuk akal bagi pasukan dengan jumlah yang lebih kecil mengepung pasukan dengan jumlah besar bukan?
Yah terkadang ada hal semacam itu yang terjadi.... buktinya disini terjadi lagi
"Untuk Ruby!" seru Kyouka
Pasukanku bersorak karena kehadirannya di medan perang, dalam sekejap morale mereka menjadi sangat tinggi melebihi pasukan musuh, apalagi ketika mereka mengetahui Jenderal mereka sudah tak memiliki kepala
Aku tidak akan membiarkan momentum yang Kyouka berikan sia-sia, jadi langsung saja kuperintahkan seluruh pasukan untuk membentuk barisan tombak panjang dan Crossbow didepan
Pasukan musuh tidak mau maju kepada tombak yang terarah kepada mereka, mereka cenderung akan mencari jalan lainnya layaknya kuda yang tidak mau menerjang barisan yang terlalu rapat
Sayang sekali karena kali ini tidak ada jalan lain, satu-satunya jalan adalah ke belakang dan mencoba melawan 100 unit pengawal kerajaan Ruby yang mana tentunya lebih baik ketimbang 500 prajurit berpengalamanku disini
Bisa dibayangkan, melawan pasukan elitku saja mereka gagal memukul mundur sisi kanan dan kiri kami, apalagi kalau melawan pasukan Kyouka?
"Perintah anda, nona?"
"Tembak,"
__ADS_1
Karena musuh yang tidak akan maju, maka kami lah yang mengambil langkah duluan. Lagi-lagi kami membunuh banyak dari mereka hanya menggunakan crossbow, senjata itu sangat efektif apalagi saat melawan musuh dengan perlindungan yang minim seperti Ladenvield.
Karena pertempuran ini sudah berjalan kearah yang kuinginkan dan nampaknya tidak ada halangan apapun lagi, jadi mari kita lihat sebenarnya bagaimana pasukan musuh itu
Ladenvield terlihat menggunakan banyak unit tombak ketimbang unit lainnya, mereka tidak memiliki unit kavaleri, lalu perlengkapan mereka juga terbilang lebih buruk dari Ruby meski perbedaannya tidak jauh
Itu artinya mereka memahami bagaimana musuh utama mereka bertarung yakni Edelfield
Ladenvield memakai banyak unit tombak karena Edelfield memiliki kavaleri dalam jumlah besar, itu memang akan sangat efektif saat melawan mereka namun saat melawan kami akan membawa hasil yang jauh berbeda
Tapi soal perlengkapan mereka.... Hmm.... aku tidak dapat memberikan jawaban yang pasti soal itu, meski mereka memiliki banyak tambang logam gunung di wilayah mereka melebihi Edelfield, namun perlengkapan mereka masih seperti itu-itu saja
Kemungkinan besar ada masalah internal, seperti monopoly penguasa tambang, atau mungkin malah Raja mereka yang tamak
Yang pasti-
"Bagaimana.... bagaimana mungkin perhitunganku salah? Jadi Ladenvield akan kalah melawan bangsa budak seperti kalian? Tidak, aku tidak menerima ini, aku tidak menerima ini!"
Orang ini masih hidup rupanya, dan ia memiliki kebencian mendalam kepada kami entah mengapa
Wajahnya yang tadi sangatlah percaya diri bahkan ketika ia berteriak, kini sangatlah kacau karena kegagalan huh?
"Hei bocah, apa kamu mau menyerah dan bergabung dengan kami?" tawarku
Soalnya agak sayang jika bakat pengamatnya dibiarkan. Ruby perlu banyak orang cerdas untuk dapat bersaing dengan bangsa lainnya, termasuk ras lainnya juga
"Dengan kalian? Bangsa budak itu? Jangan membuatku tertawa,"
Hahh.... sayang sekali, tapi aku tidak akan merendahkan diri dengan memohon
"Sir Percival, ia memiliki jiwa ksatria, kuharap kamu dapat mengakhiri hidupnya dengan terhormat juga," kuserahkan yang satu itu untuk Percival
Orang dengan kebanggaan tinggi harus mati dengan orang dengan prinsip yang sama
"Baik, nona,"
Percival meraih pedang dari dasar sungai didekat kami, sementara aku menjauh sedikit. Ia lalu melemparnya yang mana menusuk di atas tanah didepan orang itu yang bahkan tak kutahu namanya, kupanggil dia pengamat saja
Percival bergerak kesana kemari perlahan dengan pedangnya berada di bahu, itu berarti ia waspada dan menghargai duel ini
"Ambil pedang itu, lawan aku, dan raih kehormatanmu," kata Percival
Awalnya ia hanya diam menatap Percival, lalu ia mengulurkan tangannya berniat untuk mengambil pedang itu namun masih ragu-ragu. Lantas ia benar memegang pedangnya, akan tetapi sepertinya pekerjaan terbaiknya memanglah sekedar pengamat....
Ia keberatan bahkan untuk menarik pedang itu dari dalam tanah
Meski pada akhirnya berhasil ditarik, pengamat itu masih lah memegang pedang dengan gemetaran karena berat, itu wajar jika seseorang tidak pernah mengangkat pedang sebelumnya.... apa dia memang sebangga itu dengan kemampuan mengamatinya sehingga tidak belajar hal lain?
"Ku mulai,"
"Cih Maju lah kau dasar budak!"
Percival maju dengan cepat, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan diayunkan lah itu dengan cepat secara vertikal
Si pengamat sudah berusaha menahannya dengan mengangkat pedangnya juga, yah.... tapi seperti yang diharapkan dari ksatria terbaik Ruby, Percival mendorong pertahanannya dengan mudah hingga itu tidak berguna dan memotong si pengamat menjadi dua secara vertikal
Satu serangan kah? Ia benar-benar memberi si pengamat kehormatan tanpa mempermainkannya
__ADS_1