The Sended

The Sended
Chapter 61: Alea Iacta Est


__ADS_3

Ah Kelfia, sungguh dunia yang indah yang berhasil dibuat oleh Dewa tanpa emosi dengan meniru dunia Dewa pertama, yah mungkin akan begitu jika peperangan tidak sedang terjadi dimana-mana


Mulai dari gurun tanpa akhir hingga pegunungan dingin yang berkabut, dari hutan besar tempat kehidupan bermula hingga tempat yang dijuluki sebagai gerbang neraka, kini di saat ini saja sedang berlangsung beberapa pertempuran diatas Kelfia


Lizzardmen melawan Orc, Dark Elf melawan Demi-Human, Elf melawan semua ras selain diri mereka, manusia melawan ras mereka sendiri, tepatnya sedang terjadi sebelas pertempuran diatas Kelfia.


Yang Ryuu hadiri hanyalah salah satu yang terkecil, tapi jangan salah paham, sudah lama tidak terjadi pertempuran besar habis-habisan. Jadi mari kita lihat lebih jauh apa yang akan dirinya lakukan untuk mengatasi hal itu


Aku menusuk satu lagi prajurit Edelfield untuk menyelamatkan prajuritku yang terjatuh


"Bangkitlah, kamu masih diperlukan hidup-hidup," kataku sembari menawarkan tangan untuk bangun


Aku sangat membenci ketika angin pertempuran berubah menjadi kearah yang seperti ini, ketika tidak satupun unit yang bisa kugerakan untuk bermanuver karena semuanya sudah terjebak dalam pertempuran mereka masing-masing


Jika sudah seperti ini maka selanjutnya aku hanya bisa menunggu sebuah kesalahan yang mungkin musuh buat, dan memanfaatkan hal itu sebaik mungkin


Memang kami masih punya seribu prajurit lain didalam hutan bersama Percival, tapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan karena tidak ada pengirim pesan yang kukirimkan. Aku tidak sempat mengirim seseorang karena langsung bergegas kemari ingat?


Mari harapkan saja supaya Percival sadar bila ada yang salah karena tidak seorangpun datang kepada dia untuk memberikan perintah lanjutan, lalu ia mengambil inisiatif untuk membawa seluruh prajuritnya menuju kemari


Ah sial, aku ingin sekali menggunakan sihir untuk menghancurkan pasukan musuh dan mengakhiri pertempuran kacau ini secepatnya, tapi tidak kah itu berarti aku mengakui kekalahanku? Haha, aku tidak akan terjebak pada pemikiranku sendiri


"Hei! Jangan maju terlalu jauh! Pastikan ada seseorang untuk menjaga punggungmu!" Perintahku pada prajuritku


"Crossbow terus tembakan panah pada mereka, prioritaskan yang berarmor tebal!" Perintahku yang lain


"Jatuhkan mereka dari kuda mereka, lalu jangan biarkan mereka bangkit!" Perintahku lagi


Lelah.... Aku sangat kelelahan, stamina terkutuk ini, baru saja aku memiliki niat untuk mengembangkannya malah sudah terpakai sebelum itu


Ugh! Sudah tiga jam lebih aku mondar-mandir kesana kemari untuk menjaga kohesi pasukanku, apa tidak ada cara agar pertempuran ini selesai lebih cepat?


Aku harus segera mengumpulkan kembali pasukanku dan membentuk barisan seperti semula, soalnya semua ini mulai bergerak kearah yang lebih kacau


Tapi sebelum aku memberikan perintah, seseorang mendatangiku


Dan ketika ia dan dua pengawalnya bergerak perlahan menggunakan kuda ditengah pertempuran, semua pertarungan menjadi berhenti dan melihat kearahnya. Bagaimana tidak? Dia menggunakan pakaian yang sangat mencerminkan pemimpin, dialah Jenderal Edelfield itu.


Aku menancapkan pedangku keatas tanah, itu artinya saat ini aku tidak berniat untuk bertarung. Dia menyadari itu dan turun dari kudanya lalu mendekat kepadaku tanpa menarik pedangnya dari sarung


Lihat perbedaan kami, mungkin saat ini penampilanku cukup berantakan dan kotor karena darah dan tanah di wajah dan pakaianku, sementara dia masih bersih dan rapi


"Saya yakin ini pertama kalinya kita bertemu, jadi mari perkenalkan diri kita masing-masing. Nama saya adalah Paul Annesley, saya Jenderal yang bertanggung jawab atas seluruh pasukan Edelfield yang ada," katanya

__ADS_1


Jadi dia semacam Jenderal bintang enam modern, yah.... tapi di zaman ini hampir semua Jenderal itu dikatakan Jenderal bintang enam karena mereka semua memiliki kuasa penuh atas angkatan darat negeri mereka


"Nama saya Rune, saya pun yang bertanggung jawab atas seluruh pasukan Ruby, jadi apakah anda ingin memulai negosiasi perdamaian dengan kedatangan anda kemari?" Tanyaku


"Itu akan bagus, namun saya rasa kami bisa akan lebih untung jika saya mengajukan proposal ini," Oh? Aku akan coba mendengarnya lebih lanjut


"Saya menawarkan untuk sebuah duel, dan siapapun pemenangnya maka yang kalah harus mundur dan merelakan lokasi ini, lalu ketika itu selesai maka kita akan berada di status genjatan senjata selama sehari, bagaimana?" Hmm... itu bukanlah hal yang buruk


"Satu nyawa untuk mengakhiri sebuah pertempuran berdarah kah...? Baiklah, saya setuju," jawabku


"Itu bagus, maka saya menunjuk Sir Armstrong, ksatria terkuat Edelfield untuk maju dalam duel,"


Yang ia maksud adalah salah satu pengawalnya, dia langsung turun lalu memberi hormat kepadaku


Dibelakangku yakni pasukan Ruby mulai berbicara satu sama lain, aku tidak bisa mendengar mereka dengan jelas namun ada nama Percival yang mereka sebutkan. Biasanya di saat seperti ini dia yang kusuruh maju sih.... tapi masalahnya dia ada didalam hutan


"Siapa ksatria pilihan anda, Nona Rune?" Ugh... sepertinya tidak ada pilihan lain lagi selain diriku yang maju


"Saya akan-"


"Itu Sir Percival!" Tepat waktu.


Dari arah hutan, seribu prajurit Ruby berbaris menuju kemari, dan didepan mereka tidak lain adalah Percival yang memimpin


Tak sampai disana, Kyouka dan Maou juga menuruni bukit bersama kavaleri Ruby yang merupakan penjaga Kyouka, mereka kini ada sekitar 500 bersama kru artileri Maou untuk menambah jumlah


Awalnya aku memang berpikir untuk mengutus Percival tapi..... mari kita coba itu


"Saya sendiri yang akan maju dalam duel ini,"


"Nona?!" Prajuritku kaget


Yah bukan hanya mereka yang kaget, tapi prajurit musuh dan Jenderal mereka juga terkejut


"Ha...hahaha! Kamu sungguh gadis yang menarik ya?" Ha? Kenapa gaya bicaranya berubah?


"Jika kita berjumpa di keadaan yang berbeda, aku pasti akan menjodohkanmu dengan putraku, meski dia sebenarnya masih terlalu kecil untuk itu. Ups! Maaf atas bahasa saya," U-uhuh...?


Oh! Apa dia menganggapku begitu cantik hingga ingin menjodohkanku dengan putranya? Wah! Meski aku jelas akan menolak hal itu, tapi aku senang karena rupanya ada orang yang menganggapku begitu.


"Jika anda sendiri yang berniat maju untuk berduel, maka saya juga harus melakukan hal yang sama,"


"Jenderal?" Siapa namanya tadi? Sir Armstrong kah? Dia terkejut akan kalimat yang atasannya itu katakan

__ADS_1


Namun dadu sudah dilempar, perkataan Paul tidak mungkin dia tarik kembali. Ia lalu menarik pedangnya dan menyuruh seluruh pasukan untuk memberi kami ruang berduel


Baik itu prajurit Edelfield maupun Ruby sama-sama menurutinya dan mundur, membentuk sebuah area kosong untuk kami berdua


"Ini adalah duel sampai mati, jadi kuharap anda siap untuk itu, nona kecil,"


"Saya juga mengharapkan anda untuk bertarung sekuat tenaga melawanku, pak tua,"


Sebuah koin dilempar keudara sebagai tanda bagi kami untuk mulai ketika koin itu jatuh keatas tanah.


Dia adalah sosok yang hebat, aku akui jika dia adalah orang dengan kriteria paling cocok dianggap sebagai jenderal dari semua orang yang pernah kutemui sebelumnya, sayang sekali kami harus bertemu seperti ini


Dan sayang sekali dia harus mati.


Saat koin itu melambung ke udara, aku sempat berpikir bagaimana caraku membunuhnya tanpa penderitaan, jika kutusuk di bagian jantung maka itu tidak akan nampak seperti kematian seorang Jenderal, jika kupenggal maka itu akan jauh lebih buruk


Jadi keputusanku adalah tidak ada jalan lain selain memberinya tebasan dalam, dia harus menanggung penderitaan rasa sakit itu. Layaknya Seppuku atau merobek perut dalam tradisi Jepang, seseorang harus mati dengan rasa sakit semacam itu agar bisa disebut terhormat.


Dia maju ketika koin menyentuh permukaan tanah tak memantul atau berbunyi


Aku ingin melihat kemampuan bertarungnya tapi mengingat sudah hampir empat jam aku berdiri disini, aku juga ingin segera mengakhiri semua hal ini


Di saat dia mengangkat pedang untuk mengayunkannya kepadaku, aku langsung menebasnya secara horizontal. Tujuanku adalah merobek separuh dari perutnya, merusak lambung hingga paru-parunya sehingga ia tidak memiliki peluang untuk hidup


Pedangku menjadi penuh darah, begitu juga dengan armor yang ia kenakan, itu tertembus oleh ayunanku dan kini mulai dari lukanya hingga kebawah terdapat darah yang mengalir.


Paul, dia tidak langsung jatuh melainkan berjalan tiga langkah menjauh dibelakangku, setelah itu baru dirinya jatuh berlutut dengan ditumpu oleh pedang yang ia tancapkan dan pegang


"Apakah aku kalah bertaruh?"


Jadi kata yang ia ambil adalah bertaruh kah? Itu tidak buruk karena memang sebenarnya itu benar.


Ketika ia menawarkan berduel untuk mengakhiri pertempuran, sebenarnya itu sudah sangat bagus bagiku dan dirinya, namun aku malah menawarkan hal yang jauh lebih baik yakni duel untuk mengakhiri peperangan


Aku yakin Paul pastinya paham jika diantara kami berdua ada yang mati, alur peperangan dapat berjalan dengan sangat jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Tapi untuk itu dia harus bertaruh dengan nyawanya


Dan sesuai apa yang ia katakan, kali ini dia kalah dalam taruhan yang mungkin adalah taruhan terbesar dalam hidupnya.


Hanya perlu beberapa detik setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, Paul sang Jenderal Edelfield itu gugur secara terhormat didalam duel sakral ditengah pertempuran. Ia akan dicatat sebagai salah satu karakter penting dalam persatuan pulau ini


"Sir Armstrong, bolehkah saya tahu siapa yang akan menggantikan Jenderal Paul?" Tanyaku mendekat pada Armstrong


"Itu.... Saya lah penggantinya hingga putra beliau cukup umur," jawabnya

__ADS_1


"Itu bagus, maka saya akan menepati perjanjian dari duel barusan, kita akan melakukan gencatan senjata sementara dan kalian lah yang harus meninggalkan bukit ini,"


Ia mengangguk pada pernyataanku ini dan berniat untuk menghormati perjanjian yang telah kubuat dengan Paul sebelumnya, tapi yah rupanya bahkan pasukan Edelfield tidak semuanya disiplin....


__ADS_2