
"Oi! Percival!" Panggilku
"Nona? Ratu?!" Dia sedang memindahkan sebuah kotak
Tunggu.... kenapa Percival memindahkan sebuah kotak? Itu bisa dikerjakan oleh orang lain, dia ini kan ksatria terkuat Ruby
"Aku akan menuju ke desa itu, tidak apa kutinggal sebentar kan?" Seperti yang kuduga, Kyouka memang akan menuju kesana
"Iya, yang penting jangan lama-lama, kita akan segera kembali ke tempat Maou setelah selesai berkemas,"
Kyouka mengangguk dan dengan cepat ia pergi bersama keenam pengawalnya itu dengan kuda mereka
"Anu.... maksud anda berkemas apa, nona?"
"Berkemas ya berkemas, kita akan pergi dari sini, kabari seluruh prajurit untuk menghentikan aktivitas mereka dan segera bersiap untuk pergi,"
"Tapi nona! Pasukan musuh hanya berjarak tiga hari dari sini, apakah anda berniat untuk mundur dari pertempuran?" Tanya Percival
"Mundur bukan berarti kekalahan, aku hanya berniat untuk mencari medan yang lebih menguntungkan dari ini," jawabku
"Tuan Percival?" Seorang prajurit mendatangi dia
"Kamu, sebarkan perintah untuk segera berkemas,"
"B-baik, nona!" Ia langsung pergi dengan berlari
Sementara Percival masih belum bisa mencerna apa yang kukatakan
"Saya masih belum mengerti, bukankah medan ini sama seperti ketika kita pertama kali menghadapi Ladenvield secara langsung? Bukankah anda bisa menggunakan taktik yang sama, nona?" Jadi dia berpikir begitu kah
"Medannya memang mirip, tapi-"
"Lalu apakah karena jumlah mereka?! Apa anda sungguh takut kepada hal itu?" Huh?
"Hei.... Dengarkan aku dulu, pasukan mereka itu memiliki unit kavaleri yang lebih banyak dan lebih baik daripada kita, untuk itu taktik yang kugunakan sebelumnya tidak akan berakhir baik," jelasku
Jika Hannibal tidak unggul pada unit kavalerinya, aku ragu dia akan berhasil mengepung pasukan Roma, yang ada malah pasukannya yang di putari oleh kavaleri musuh...
Terompet dibunyikan, itu tanda agar semua prajurit yang bisa berkumpul untuk berkumpul, selebihnya ada pengumuman untuk mulai berkemas dan maka seisi perkemahan ini menjadi ramai dengan suara-suara barang dan prajurit yang saling mengobrol
"Aku tahu perasaanmu, Percival, soalnya Ratu Lofi juga berpikir demikian sebelumnya. Namun yakinlah bahwa kita akan menang, dan para penduduk desa akan hidup," kataku sembari menepuk pundak Percival
"Dan apakah sang Ratu percaya pada anda?" Tanya dia sembari tersenyum padaku
"Yah, jika dia tidak percaya maka tidak mungkin kukeluarkan perintah ini," jawabku
Ia memejamkan matanya setelah mendengar jawabanku
"Baiklah, anda sudah membawa kami sejauh ini jadi kurasa saya harus mempercayai anda dengan segenap hati," kata dia
Aku senang mendengarnya, setidaknya aku tidak perlu menjelaskan seluruh rencanaku kepadanya....
__ADS_1
"Penyusup!" Huh?
Dua prajurit Ruby menyeret seseorang kehadapanku dan menundukannya, lalu mereka menodongkan dua tombak ke arahnya
"Nona Rune, dia ini adalah orang Edelfield yang menyusup dan memata-matai kita," kata salah satu dari mereka
Oh? Entah kenapa aku tidak begitu terkejut
"Saya menyarankan anda untuk menyiksanya dan meninggalkannya disini, jadi ketika pasukan Edelfield datang maka mungkin morale mereka akan turun," bisik Percival kepadaku
Eh? Jadi dia sudah bukan seorang ksatria terhormat lagi atau bagaimana? Aku tidak percaya saran itu keluar dari mulutnya
"Hmm.... yah... kita tidak akan melakukannya, memang ada kemungkinan morale mereka akan turun, namun ada juga kemungkinan jika morale mereka akan meningkat tajam,"
Soalnya Edelfield menganggap Ruby sebagai bangsa barbar, dan tindakan seperti itu hanya akan membuktikan jika pemikiran mereka benar. Mereka bukannya ketakutan malah jadi sangat marah, dan terkadang kemarahan bisa menjadi keuntungan yang bagus juga
Untuk apa aku memberi mereka keuntungan seperti itu?
"Kalian orang barbar! Pasukan kami akan datang dan menghabisi kalian, wanita kalian, dan anak-anak kalian! Nantikan saja keputusasaan yang akan datang di neraka, ketika kavaleri kami menyapu bersih pasukan lemah seperti kalian ini!!" Seru mata-mata itu
Seperti yang diharapkan, tentu saja dia dipukul oleh prajurit Ruby yang ada disana... Suatu percobaan yang bagus, aku masih penasaran mengapa mereka semua selalu mengoceh seperti itu ketika tertangkap? Kalau aku di posisinya sepertinya aku akan menjilat supaya tidak disakiti
"Yah itu pemikiranmu," Aku menarik pedang milik Percival disebelahku
Aku maju ke belakang mata-mata Edelfield itu dan memotong tali yang mengikatnya
"Nona?" Prajuritku kebingungan atas tindakanku ini
Mengapa aku bisa seyakin itu? Itu karena jenderal mereka memiliki reputasi yang baik seperti yang kukatakan sebelumnya
Lalu para penduduk di desa perbatasan itu bukan hanya orang-orang Ladenvield dan Ruby saja, tapi ada juga orang Edelfield yang baru beberapa waktu yang lalu pindah kesana, kebanyakan untuk mencari keuntungan atau menghindari perekrutan militer
Aky sangat ragu jika Jenderal Edelfield yang menjunjung tinggi nilai keadilan itu akan membantai seisi desa...
"Pergilah, dan kusarankan untuk cepat, semakin lama pasukan kalian datang maka semakin baik persiapan kami loh,"
Mendengar itu, mata-mata Edelfield tadi langsung bangkit dan berlari menuju ke Utara. Kami juga harus cepat-cepat pindah
"Nona, apa itu tidak masalah?" Tanya Percival
"Semakin baik jika mereka tahu dimana untuk menemukan kita, beruntung sepertinya hanya ada satu arah untuk menuju kesana,"
Puluhan tahun yang lalu, ketika ayahku Raja Friedrich baru naik takhta Kerajaan Brandenburg, Franca datang ke tanah bebas ini sebagai penakluk yang kejam. Mereka adalah bangsa kuat yang memiliki sejarah panjang dibandingkan negeri kami
Namun jika membandingkan dari kemampuan militer, maka Brandenburg yang ukurannya hanya seperti ukuran satu provinsi mereka tidak bisa diremehkan
Garis keturunan keluargaku mulai dari generasi pertama merupakan seorang pemimpin sekaligus ahli militer yang brilian, dengan cara itu kami menjadi Kerajaan paling berpengaruh di wilayah bebas ini
Namun ayahku adalah pengecualian, ia seakan yang paling hebat diantara mereka orang-orang brilian itu.
Ketika Franca mulai bergerak di perbatasan mereka, ayahku menggunakan pengaruh Brandenburg yang sudah dibangun selama beberapa generasi ini, ditambah dengan berita ancaman dari Franca, ia mendapatkan kepercayaan dari seluruh kerajaan di wilayah bebas
__ADS_1
Ia mengangkat bendera disini di ibukota Brandenburg, dan prajurit dari seluruh kerajaan di wilayah bebas menjawab panggilan itu
Kami berhasil mengusir penjajah Franca untuk selamanya, dan yang lebih baik dari itu, ayahku mempersatukan seluruh wilayah bebas dalam satu malam. Dibawahnya, dibawah nama keluarga baru kami, Hohenzollern
Dan jika diingat kembali, saat itu ayahku masihlah seseorang di umurnya yang ke 20-an, ia memiliki banyak waktu untuk mengelola negeri baru ini dan menjadikannya kekuatan besar di Benua Barat dengan cepat.
Namun layaknya semua hal, dia terus bertambah usia, dan kini ia berbaring di tempat tidurnya tidak berdaya
Aku memiliki tiga saudara laki-laki, yang mana ketiganya tidak cocok untuk duduk di takhta Hohenzollern, jadi aku dipilih oleh ayahku untuk memikul beban bangsa ini setelah dirinya wafat. Aku berusaha semaksimal mungkin sejak kecil, belajar tentang cara berperang dan cara berdamai.
Hohenzollern adalah negeri yang terhormat, namun semua rasa hormat itu sebenarnya tertuju kepada ayahku langsung. Negeri ini sendiri jujur saja masih cukup berantakan, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk menjadikannya kerajaan terkuat di Benua Barat
Dengan ayah yang kini sekarat di tempat tidurnya, akan menjadi tugasku untuk mengatur dan melengkapi negeri ini. Pertama adalah perihal kehormatan, aku harus menempatkan rasa hormat mereka kepada kerajaan, bukan Raja nya
Itu bukanlah tugas yang mudah, jika salah langkah nanti bisa saja hanya aku yang mendapat rasa hormat itu, sama seperti ayah...
"Baginda," aku sampai di kamar ayahku
Disana terdapat banyak bangsawan yang sebagian sungguh menghormati dan mengkhawatirkannya, sebagian lain hanya menjilat
Ayahku berbisik pada kepala pelayan kerajaan disebelahnya, lalu beliau menyampaikan apa yang ayahku katakan
"Baginda ingin meminta waktu bersama pangeran mahkota,"
Seluruh orang disana keluar kecuali diriku
Aku melihat ayahku yang pernah menjadi sosok terhebat di keempat benua mungkin, kini terbaring lemas karena usia. Ia berhasil menang melawan Franca dan menyatukan Hohenzollern, namun kalah melawan waktu
Cukup menyedihkan melihat orang yang berjuang terlalu banyak, mencurahkan segalanya demi kepentingkan negeri ini dan terutama keluarga kami, kini gagal menyelesaikan pekerjaannya karena itu. Kelak, aku juga akan berada di posisinya, setelah semua yang akan kuperjuangkan untuk negeri ini
Aku iri kepada ras dengan umur panjang seperti Elf, Raja mereka pasti bisa melakukan banyak hal, bahkan mungkin menyelesaikan pekerjaan seorang Raja dalam satu generasi saja. Karena itu mereka adalah bangsa terkuat diatas dunia ini.
Ayahku memanggilku untuk mendepat kepadanya, aku melakukan sesuai yang ia inginkan
"Ekspresimu menggangguku, putraku," katanya
"Yah.... Kota laut rupanya tidak seindah yang kamu katakan, ayah. Disana penuh dengan kapal pedagang jadi aku tidak bisa meihat keindahan laut yang engkau ceritakan sejak kecil," itu benar, aku baru kembali dari kota pelabuhan di Timur
"Hahaha.... begitukah? Kurasa kita harus membangun satu kota lagi untuk keperluan wisata kan?"
Aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum bercampur rasa sedih
"Tapi kurasa bukan itu yang menggangguku, anak ku. Coba katakan padaku," lanjutnya
Aku diam sesaat menatap matanya
"Engkau sakit...." kataku sedih
"Ah karena itu ya? Tidak perlu dipikirkan, ini memang sudah waktu ku saja, sudah waktu ku.... Tapi itu juga berarti ini saatnya kamu menggantikanku kan? Aku mengharapkan banyak hal darimu, Muckhë,"
Sebuah kerajaan, ribuan prajurit, ratusan ribu penduduk, itu yang akan ayahku tinggalkan untuk ku. Sebuah tanggung jawab
__ADS_1