The Sended

The Sended
Chapter 14: The Demon for Us All


__ADS_3

《Kringgg!!!》


Suara bel berbunyi menandakan jam makan siang akan dimulai, aku merenggangkan tubuhku dengan mengangkat tanganku keatas. Lalu aku mendengar suara selain bel.


《Brak!》


Suara itu datang dari samping kiriku, gadis bernama Ryuu yang tadinya duduk tegap sambil memejamkan mata sekarang kepalanya terbaring di meja sehingga menimbulkan suara yang cukup keras


Padahal aku sudah agak khawatir, siapa sangka dia hanya tertidur...


Karena ini juga, Ryuu terbangun dan mengusap matanya, dia melihat kearahku dan bertanya


"Sudah pulang ya..?" katanya


"Belum!! Ini hanya jam istirahat!!" kataku kesal


Eh.. tunggu sebentar... dia memulai percakapan denganku? Jadi sebelumnya dia cuman mengantuk saja?


"Kyouka!" panggil Sayaka dan teman-temannya dari luar yang mengajaku makan siang


"Ya," jawabku


Aku sebenarnya juga ingin mengajak Ryuu, tetapi saat kembali menghadapnya dia sudah tidur lagi dengan kepalanya terbaring di meja


Ya sudahlah, aku pergi saja, mungkin dia juga masih mengantuk


Kami bersama berjalan melewati lorong yang dipenuhi kelompok-kelompok besar milik peringkat tertinggi, pada hari pertama memang aku merasa tidak nyaman dengan kelompok-kelompok ini, tetapi sekarang sudah terbiasa


Kami tiba di taman untuk makan siang, duduk kami melingkar agar bisa dengan mudah bertatapan ke semuanya.


"Kyouka, sialnya kamu karena duduk disebelah gadis tadi pagi ya...," kata Sayaka


"Eh? Tidak apa kok, lagipula selama pelajaran dia hanya tidur," jawabku


"Dia itu Ace yang selamat dari Utara kan? Apa dia tidak apa...," kata temanku khawatir


"Tenang saja, sepertinya dia tidak lagi memperdulikannya," jawabku kembali


Selagi bercanda bersama teman-temanku, aku melihat Ryuu berjalan sendirian di lorong lantai dua. Banyak kelompok disana yang menatapinya dengan pandangan yang merendahkan


Namun Ryuu terlihat santai bahkan tidak peduli dengan mereka dan berjalan seperti biasa


Keesokan harinya saat aku, Sayaka, dan teman-teman lainnya sedang menikmati makan siang kami, Ryuu berjalan kembali di lorong lantai dua. Namun kali ini ada yang berbeda dari perlakuan salah satu kelompok disana.


Seorang dari kelompok besar menghentikan jalan Ryuu dan terlihat seperti menantangnya, dengan santainya Ryuu terlihat mengangguk menyetujuinya. Meskipun aku tidak dapat mendengar percakapan mereka sih....


Ryuu berjalan didepan diikuti puluhan kelompok si peringkat ketiga itu. Ya, yang menantang Ryuu adalah peringkat ketiga


Dia adalah seorang lelaki remaja yang memiliki sebuah kelompok besar, dia juga merupakan orang terkuat selain kedua Ace lainnya yang menduduki peringkat satu dan dua


"Maaf Sayaka, semuanya, aku harus pergi ke toilet", kataku tiba-tiba setelah melihat Ryuu


Aku khawatir dengannya karena bisa saja si peringkat tiga beserta kelompoknya melakukan hal aneh-aneh kepada Ryuu, padahal kami berdua sudah memulai percakapan sebelumnya.


"Baiklah, jangan lama-lama ya.. kalau tidak bekalmu kuhabiskan " kata Sayaka


"Iya," kataku lagi sembari berdiri dan meninggalkan teman-temanku


Aku berlari melewati taman dan lorong panjang yang dipenuhi kelompok-kelompok disepanjang jalan. Sampai akhirnya aku tiba di lapangan belakang dimana biasanya digunakan untuk latihan menembak


Meskipun dinamai lapangan, tetapi tempat ini sangat luas bahkan berkali-kali lipat daripada gedung akademi ini sendiri

__ADS_1


Itu wajar karena praktek lapangan memang lebih baik ketimbang materi didalam ruangan bukan? Apalagi ini sekolah yang ditujukan untuk kemiliteran


Disana sudah ada puluhan siswa akademi yang berada di pinggiran lapangan, sementara didalam lapangan hanya ada dua orang yaitu Ryuu dan si peringkat ketiga


Mereka berdua memegang senapan yang biasanya digunakan untuk latihan, sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang akan mereka lakukan


Kedua orang ini berjalan ke pojok lapangan yang berlawanan, di dua posisi ini sudah terpasang target yang masing-masing dari mereka harus menembak target dibelakang lawan mereka


Ryuu harus menembak target yang berada di sisi peringkat ketiga sementara si peringkat ketiga harus menembak target dibelakang Ryuu


Namun jarak kedua ini sangat jauh, sangat mustahil menembak target dari posisi awal


Jadi mereka berdua bertanding dalam hal kecepatan, karena siapapun yang lebih cepat bergerak pastinya lebih cepat menembak dan mengenai target terlebih dahulu


Pertandingan dimulai ketika koin yang dilempar si peringkat tiga itu menyentuh tanah


Dia langsung menerjang kearah depan mendekati Ryuu untuk mencari jarak yang dapat digunakan untuk menembak targetnya


Berbeda dengannya, Ryuu tetap diam disana, perlahan dia mengangkat senapannya dengan satu tangan, dan menembakannya


Semua orang terkejut melihatnya, mereka berpikir bahwa Ryuu sangat bodoh karena mencoba menembak dari jarak sejauh itu


Aku juga berpikir seperti itu sampai melihat target yang berada di sisi peringkat tiga, target itu tertembak tepat di tengah-tengahnya


"Apa sudah selesai?" kata Ryuu pelan namun aku bisa mendengarnya


"Ya, aku mengaku kalah," jawab peringkat tiga sambil tersenyum puas


Ternyata kekuatan seorang Ace memang tidak bisa diremehkan, bahkan Ryuu sekalipun. Meski sifatnya begitu, dia berhasil selamat dari perang di Utara kan?


Tetapi tidak sampai disana hal yang membuatku terkejut, kata-kata Ryuu selanjutnya membuatku lebih terkejut lagi


"Selanjutnya, kurasa akan meminta sesuatu yang lebih berguna pada Dewa itu...." katanya lirih


Dia berkata tentang Dewa dan kemampuan yang diberikan olehnya, apa dia sama sepertiku?


Aku berlari kearahnya di pinggir lapangan, dia sedang menaruh senapannya kembali di pinggiran lapangan


"Ryuu!!", teriaku


"Fujiwara.... Kyouka ya? Ada perlu apa?" tanya Ryuu


"Ini hal yang penting, apa kamu... jangan-jangan juga dipanggil ke dunia ini?" tanyaku


Ekspresi wajahnya sudah menjawab pertanyaanku, dirinya terkejut ketika mendengar pertanyaan ini. Mata merahnya melebar dan mulutnya terbuka sedikit


Namun semua itu hanya bertahan sebentar, dia lalu tersenyum dan mendekat kearahku. Senyumannya itu cukup mengerikan juga, aku sampai merinding melihatnya


"Jadi begitu ya? Kamu dikirim kesini juga," kata Ryuu


"Y-ya, Dewa mengirimku beberapa waktu yang lalu," jawabku


"Mari kita nikmati masa sekolah kita, Ryuu," sambungku


"Ahahaha", dia tertawa


Benar juga, aku baru pernah lihat Ryuu begitu senang seperti ini. Aku jadi ikut senang karenanya, tapi dia tertawa untuk apa ya?


"Sayang sekali, Kyouka. Nampaknya aku memiliki sebuah rencana lain dalam lima kesempatan kita ini," katanya


"Apa kamu punya tujuan?" tanyaku

__ADS_1


"Ya, tujuan itu tidak lain adalah menjadi seperti orang yang mengirimu kedunia ini," kata Ryuu yang membuatku kaget


"Kamu ingin menjadi..... Dewa...?", tanyaku


"Ya benar, pasti menyenangkan bukan? Menjadi Dewa itu," jawabnya lagi


Apa dia sudah gila? Dia ingin menantang Dewa? Lagipula untuk apa?


"Yah, aku hanya tidak suka ada orang yang posisinya diatasku dan memperlakukanku seenaknya, aku hidup menurut keinginanku sendiri. Sementara dia... dia seenaknya menghancurkan kehidupan pertamaku yang terbilang sukses itu,"


Meskipun aku tidak tahu maksudnya, tapi aku tetap mencoba mendengarkannya lebih lanjut


Dia menceritakan tentang kesempatan pertamanya, semua yang dia lalui untuk menguasai dunia dan menjadi Dewa


Sampai pada titik dimana seluruh usahanya sia-sia, seakan ada yang mengacaukannya


"Apa kamu paham Kyouka? Tidak mungkin UOMA menyerang secepat itu, tidak mungkin juga posisiku tiba-tiba diganti secepat itu. Semua ini pasti adalah perbuatannya, dia menghalangiku untuk menguasai dunia karena itu dapat mengusik keberadaannya,"


Begitu ya... dia menyalahkan Dewa atas ketidakberuntungannya, tapi kalau dipikir lagi memang benar kalau hal seperti itu mana mungkin terjadi


Apalagi serangan UOMA, padahal tidak sampai satu hari mereka baru mendeklarasikan perang


Bahkan untuk orang awam sepertiku..... tunggu sebentar....


Jadi Ryuu berpengalaman dalam sebuah perang?


"Kyouka, aku ingin mengajakmu untuk menaklukan dunia ini," katanya serius


"Eh? Ah, tapi.. a-aku..."


Entah kenapa keseriusannya menghalangiku untuk menolak ajakan ini, dan entah kenapa aku malah menyetujuinya


Tapi kenapa dia tiba-tiba jadi semangat seperti itu ya?


"Ryuu, kenapa kamu tidak melakukan hal itu sebelumnya?" tanyaku


"Itu karena aku masih merasa bosan karena kejadian di Utara, lalu aku kembali semangat karena bertemu denganmu," jawabnya


Kejadian di Utara? Apa maksudnya?


"Apa kamu ingin mengetahui kejadian di Utara?" tanya Ryuu


Aku mengangguk


"Heeh.. itu kejadian dimana atasanku tidak kompeten dalam memberi perintah, pasukan garis depan kami entah kenapa malah disuruh mundur disaat Nonna menyerang. Itulah keanehan lainnya sama seperti penyerangan UOMA yang tidak masuk akal,"


Saat Revolusi Nonna menyerang Kekaisaran, Jenderal memerintahkan pasukan untuk meninggalkan garis depan dan wilayah didepan pegunungan. Padahal wilayah itu sangat cocok untuk menahan laju pasukan Revolusi Nonna


Ryuu yang tidak menerima perintah atasan itu malah maju sendirian, dia menghabisi pasukan demi pasukan Nonna yang dia temui dengan senapan atau bahkan dengan tangannya langsung


Dia menghabisi satu divisi musuh dan kembali ke markas utama beberapa hari kemudian, pakaiannya sudah sangat hitam karena bertempur hari demi hari disana. Tubuhnya juga dipenuhi darah dan debu, namun bukan darahnya


Senapannya sangat panas bahkan telapak tangan Ryuu sendiri sampai terluka karena panasnya


Sesampainya dimarkas dia didatangi langsung oleh atasannya, Ryuu akan segera dimarahi olehnya


"Hey, Prajurit Ryuu!!", bentaknya


Namun belum sempat dia melanjutkan ucapannya, Ryuu menjatuhkan senjatanya dan pergi meninggalkan atasannya. Dia berkata kepadanya kalau dirinya akan berhenti dari militer


Dia pergi melewati badai salju malam yang sangat dingin itu, tidak ada diantara teman militernya kemana dan dimana keberadaan Ryuu hingga saat ini

__ADS_1


Oleh karena pembantaian itu dia dijuluki 'Sang Iblis' oleh musuh dan bahkan temannya sendiri


__ADS_2