
"Kau! Kemari,"
Aku mendekat ke prajurit itu, lalu ia membebaskanku dari belenggu yang masih ada di leher dan tanganku padahal rantainya sudah diputuskan sebelumnya. Ia membuka kedua belenggu itu dengan satu kunci yang sama
Setelah dilepaskan, kini aku dapat menjelaskan dimana aku berada dengan lebih leluasa
Ghetto, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya dasarnya adalah penjara terbuka bagi kami. Disini semuanya serba terbatas dan selalu diawasi oleh dua menara tinggi di sisi Utara dan Selatan.
Kami diberikan kayu serta peralatan seadanya untuk membangun rumah, selebihnya kami harus cari cara sendiri mulai dari tanah liat hingga paku. Beruntungnya, beberapa warga desa Afiel yang ada disini dapat memanfaatkan material yang ada
Di hari pertama kami sudah bisa bermalam tanpa takut kedinginan, padahal kami masih belum bisa mencerna situasinya. Semuanya benar-benar berjalan terlalu cepat asal tahu saja.
"Semuanya cepat berkumpul!"
Hari kedua, kami dikumpulkan di lahan terbuka didalam Ghetto ini. Semuanya berkumpul sesuai yang diperintahkan, kalau tidak bisa-bisa terjadi hal yang tak diinginkan
Disini juga aku bisa mneyadari bahwa Ghetto ini tidak hanya ditinggali oleh penduduk Afiel, memang kebanyakan berasal dari kami namun ada beberapa wajah yang tidak kukenal
Lantas dengan alasan apa kami kali ini dikumpulkan? Ah! Apa jangan-jangan mau dibunuh secara masal?
"Kalian akan dibagi menjadi dua kelompok! Pengrajin dan Pengumpul, yang tak mempunyai bakat apapun menyingkir dari barisan cepat!"
Kurasa aku termasuk jadi aku menyingkir, Kyouka juga merasa demikian
Setelah sebagian besar dari tahanan menyingkir, prajurit itu mengatakan banyak hal pada para pengrajin. Sepertinya tidak penting bagiku, hanya soal penempaan senjata dan perlengkapan tempur bagi pasukan Ladenvield
"Kita mau disini sampai kapan Ryuu?"
Benar juga, kami harus keluar dari sini. Akan tetapi mungkin kami dapat belajar beberapa hal ketika ada disini? contohnya belajar situasi.
Kami yang bukan pengrajin memiliki tugas sendiri, aku dan Kyouka disuruh mengumpulkan tanaman obat dari dalam hutan Ruby. Ada juga yang disuruh menuntun perjalanan, ada yang menebang pohon, ada yang menambang batu
Dari sana juga kami dapat meningkatkan Ghetto kami dengan syarat tidak ada logam dan senjata yang masuk kedalam Ghetto, ada yang mencoba melakukan itu dan hukumannya eksekusi di tempat
Namun kebanyakan dari kami hanyalah anak yang terlalu kecil atau orang yang terlalu tua, jadi sebenarnya kami hanya berkeinginan untuk melanjutkan hidup
"Hmm... mungkin sampai kita dewasa," jawabku
Sekitar tujuh tahun berlalu dengan keseharian yang sama, rasanya bahagia ketika melihat diriku lewat pantulan air sungai, soalnya aku masih mirip seperti diriku di dunia sebelumnya, sangat cantik
Kyouka juga demikian, dia mengikat rambutnya menjadi mirip dengan Fujiwara Kyouka yang kukenal
__ADS_1
Sekian tahun berlalu lebih banyak bangsa Ruby yang masuk kedalam Ghetto kami, itu benar bahwa kami disebut sebagai orang-orang Ruby oleh para penduduk Ladenvield dan Edelfield. Kami dianggap sebagai suku barbarian penghuni hutan lebat di perbatasan antara Ladenvield dan Edelfield
Tapi apa sebenarnya makna barbarian ini?
Bangsa Romawi menyebut mereka yang bukan Romawi sebagai barbarian, hanya karena berbeda kultur maka kami dianggap demikian begitu? Pemikiran orang zaman ini memang sangat sempit
Sama halnya dengan kata Viet, orang tiongkok pada masa itu menamai orang-orang Selatan dengan nama bangsa Viet berarti jauh atau diluar, dari situ lah nama Vietnam berasal.
Ah ngomong-ngomong aku juga berhasil mendapatkan peta dari pulau ini,
Mungkin hanya sebuah pulau, tapi ini pun sangat besar bagi kami bangsa Ruby yang hidup didalam Ghetto. Aku menantikan masa-masa kejayaan kami kelak
"Apa kamu sudah bisa 20 rapalan Ryuu?"
Kami sedang mengambil air dari sungai untuk keperluan pasukan Ladenvield, seperti yang kubilang kini seiring kami beranjak dewasa akan lebih banyak tugas yang dilimpahkan
"Iya, tapi aku akan kelelahan setelah itu,"
"Hehe, semangatlah," kata orang yang kini kapasitas mananya hampir tidak bisa habis
Selama bekerja kami terus melatih sihir karena kurasa ini akan menjadi senjata bagi kami kedepannya, meski aku sebenarnya lebih kuat jika menggunakan senjata lainnya tapi sebuah senjata baru juga tidak buruk.
Seiring berjalanannya waktu, pasukan Ladenvield yang terus menumpuk disini semakin banyak. Semakin banyak Ghetto juga yang dapat dibangun agar Ladenvield mendapatkan pekerja gratis dari perbudakan Ruby
Padahal kukira strategi mereka akan mirip seperti Jerman di perang dunia kedua, melesat melewati hutan Ardenes dan menaklukan kota Sedan dengan kecepatan kilat. Nyatanya tujuh tahun berlalu dan mereka masih belum menemukan jalan yang tepat
Tapi disisi lain aku juga tidak mendengar kabar soal pergerakan Edelfield, mereka negeri yang lebih makmur dari Ladenvield karena perdagangan dengan kerajaan diluar pulau ini, tidak bisakah mereka menyewa pasukan bayaran jika mereka tak mau menggunakan orang sendiri?
Sungguh kedua kerajaan ini.... apa mereka tidak mau menang?
Hmm? Apa terjadi gempa?
Kurasa tidak, ini.... tanahnya bergetar karena ada ratusan orang yang berlari, kupikir....
Aku melihat ke belakang ke hutan Ruby, dengan kemampuan Akurasi aku dapat melihat ratusan orang yang berlari kemari, mereka semua adalah pejuang Ruby dengan ciri khas perisai berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu
Senjata yang mereka pakai awalnya adalah buatan pengrajin desa masing-masing, tapi dengan invasi Ladenvield kedalam hutan membuat mereka perlu senjata yang lebih baik kualitasnya untuk menembus zirah pasukan Ladenvield. Mereka mengambil tombak dan pedang prajurit yang mereka bunuh
Bahkan beberapa dari mereka mengambil perlengkapan prajurit Ladenvield dan menghiasnya agar membuat perbedaan, meski merupakan hal tabu menggunakan perlengkapan musuh yang sudah mati apalagi di medan tempur
__ADS_1
"Kurasa kita harus lari Kyouka,"
"Hmm? Apa maksud-" Kyouka ikut melihat arah yang kulihat
Akhirnya para pejuang itu merangsek keluar dari hutan dan kini berada di sungai tempat aku dan Kyouka sebelumnya mengambil air
Keempat kendi yang kami bawa tanpa pikir panjang langsung kami jatuhkan dan pecah, sementara kami berlari kembali ke perkemahan dan Ghetto menyelamatkan diri kami sendiri
"Serangan!" Seru penjaga diatas menara kayu
Terompet dibunyikan, kami hanya dapat menepi ketika ratusan prajurit Ladenvield berbaris keluar dari perkemahan mereka, membentuk formasi didepan perkemahan untuk menghentikan terjangan musuh
Pasukan tombak di baris satu, dua, dan tiga, sementara baris empat dan lima diisi oleh pasukan pedang, pemanah menembak dari belakang barisan ini. Dengan begitu mereka dapat menghentikan momentum terjangan pejuang Ruby
"Ryuu! Kenapa tidak masuk?"
"S-sebentar,"
Ini informasi berharga lainnya, mana mungkin kulewatkan begitu saja
Satu demi satu pejuang Ruby gugur didepan tombak panjang pasukan Ladenvield, padahal kuyakin kemampuan individu mereka lebih kuat dari Ladenvield. Semuanya dapat terjadi karena kemampuan taktis
Pasukan terkuat pun dapat takluk dengan inovasi yang disatukan dengan taktik, namun bila kedua hal ini dipisahkan maka hancurlah keuntungan besar itu
Ladenvield kulihat dapat memanfaatkannya dengan baik, hal kecil seperti mengatur posisi adalah kunci kemenangan mereka melawan Ruby. Tapi ini juga bisa menjadi bumerang mematikan, kenapa?
Dahulu sebelum berjaya, Romawi pernah memiliki rival bernama Carthage. Kedua bangsa ini saling berperang sebanyak tiga kali yang mana ketiga-tiganya dimenangkan oleh Romawi sehingga mereka menjadi bangsa terkuat pada masa itu
Perang ini disebut sebagai perang Punisia dan sering kali dianggap sebagai perang dunia kuno
Pada perang punisia kedua terdapat seorang Jenderal Carthage bernama Hannibal Barca, ia seorang jenius militer yang berani mengambil resiko besar dengan hasil yang sangat memuaskan pula
Singkat cerita Hannibal bertemu pasukan Roma, kala itu saat panas-panasnya perang terjadi karena Hannibal berhasil menghancurkan garis depan Roma dan menjarah wilayah-wilayah penting Romawi, membuat senator Roma harus mengambil keputusan
Keputusannya adalah akan dibentuk sebuah pasukan yang berisi 100.000 prajurit elit Roma dimana itu adalah sebuah angka yang belum pernah terpikirkan sebelumnya untuk sebuah pasukan. Hannibal sendiri membawa 60.000 prajurit tapi kurang dari separuhnya berasal dari Carthage langsung
Pasukan besar Roma ini akhirnya bertemu dengan pasukan Carthage Hannibal di Cannae, tempat dimana namanya akan terus dikenang hingga saat ini
Jadi ini intinya, Kala itu legiun Romawi didesain untuk terus maju karena menurut mereka itulah yang terbaik. Menghabisi musuh di sepanjang jalan mereka dan membuat moral musuh terjun bebas
Hannibal memanfaatkannya, mengepung pasukan Romawi dengan gerakan yang jenius, membinasakan lebih banyak prajurit dalam satu hari daripada seluruh tentara Amerika yang meninggal selama perang Vietnam
__ADS_1
Kalau inovasi dan taktik ini tidak terus dikembangkan, kami bisa mengakali itu dan kerap kali terjadi dalam sejarah bukan hanya saat Hannibal. Contoh lain pada perang dunia kedua adalah strategi Blitzkrieg dimana saat itu sekutu masih memiliki doktrin parit yang sangat kuno, atau Wolfpack yang pada awalnya menjadi ancaman di Atlantik lama kelamaan hilang reputasinya seiring berkembangnya radar dan teknologi kelautan lainnya, lalu ada mesin Enigma yang menjadi masalah utama dalam bidang dekripsi pada akhirnya terselesaikan oleh mesin Bombe milik Alan Turing
Kalau ingin mendirikan kerajaan disini, kami harus mengetahui keahlian lawan sejak dini. Dan aku bersyukur pada para pejuang Ruby yang berjatuhan disana, jasa kalian sangat berharga bagi pembangunan kerajaan baru