The Sended

The Sended
Chapter (-) : Prima Causa


__ADS_3

Tidak ada yang tahu, sebenarnya manusia adalah ras cerdas pertama yang menghuni Kelfia, dan Daz Robocca atau Machinarum adalah yang kedua


Yang diketahui adalah pada awal penciptaan, Dewa menciptakan Seraphim, Dragon, Elf, dan Dwarf. Keempat ras ini juga yang menjadi kekuatan dominan diatas Kelfia saat ini


Tanpa mereka tahu bahwa jauh sebelum mereka lahir, bahkan hingga saat ini, peradaban yang sangat maju sudah terkubur dibawah tanah mereka. Dan itu semua tidak lain adalah milik manusia, ras yang sekarang hanya segelintir orang saja yang pernah dengar.


Dahulu dahulu sekali, ya ini bahkan lebih jauh dari masa penghapusan muka bumi oleh Dewa, jauh sebelum bumi terbentuk, bahkan jauh sebelum alam semesta terbentuk miliyaran tahun lalu ketika semuanya masih sangat hampa tanpa satupun hal


Kisah ini yang akan menjadi akar dari semuanya yang terjadi hingga masa kini.


Di masa hampa itu, hidup sesosok makhluk yang boleh dikatakan sebagai Dewa, ia adalah sosok yang sempurna karena bisa melakukan apapun


Jadi ia membuat alam semesta beserta seluruh isinya, membentuk bumi sedemikian rupa, serta menciptakan makhluk cerdas pertama yakni manusia. Ia nampak sangat menikmati masa-masa itu


Akan tetapi sejak awal ketika ia menciptakan manusia, ia berjanji tidak akan lagi ikut campur dalam urusan bumi. Semuanya ia serahkan pada manusia, apapun yang terjadi ia akan tetap diam


Karena janji itu ia jadi merasa kesepian, harusnya dia bisa berinteraksi dengan makhluk ciptaannya tapi malah seperti ini


Jadi ia membagi kekuatannya menjadi dua bagian, satu untuknya dan satu ia bagi lagi menjadi dua dan menciptakan "anak" nya dari masing-masing 1/4 pecahan kekuatannya itu


Namun tentu keduanya tidak sempurna seperti dia, bahkan bisa dikatakan cacat dengan logika yang kita punya saat ini


Yang satu penuh dengan emosi, baik itu positif maupun negatif namun kurang dalam perhitungan. Sementara yang satu sangat mahir dalam berpikir namun tidak memiliki emosi


Suatu saat Dewa dengan emosi menciptakan alam semestanya sendiri dengan dunianya sendiri, serupa seperti bumi yang juga dihuni oleh manusia namun ia menambahkan sebuah hal khusus yang bernama sihir. Ia sangat bangga sampai ia memamerkannya pada Dewa pertama


Tidak sampai situ, ia bahkan menantang Dewa pertama untuk melihat siapa diantara dua dunia yang berkembang dan menjadi kuat lebih dulu. Ia sangat percaya diri karena sihir yang ia berikan pada manusia di dunianya akan menjadikan mereka kuat


Namun faktanya malah kebalikannya


Manusia dari bumi dengan cepat berkembang dan menaklukan segala tantangan yang mereka hadapi menggunakan teknologi, menjadi puncak ekosistem dalam waktu singkat jika dibandingkan dengan umur bumi itu sendiri


Sementara manusia milik Dewa dengan emosi malah terus menggunakan sihir tanpa perkembangan dan sibuk memuja namanya, dan begitulah bagaimana ia kalah


Emosi negatifnya begitu tinggi ketika ia menerima kekalahan itu, kebanyakan adalah iri hati terhadap Dewa utama. Ini menjadi tidak terkontrol lagi setelah beberapa saat, lalu membuatnya melakukan sesuatu hal yang sangat hina


Ia membunuh Dewa Pertama yang sedang lengah, membuatnya menghilang untuk selama-lamanya


Kini Dewa dengan penuh perhitungan tidak lagi netral namun bermusuhan dengan saudaranya itu, ia mengambil alih kepemilikan Dewa utama atas alam semestanya akan tetapi kekuatan Dewa Utama telah hilang selamanya saat ia mati


Yang tersisa hanya kedua Dewa itu dan mereka berjanji untuk tidak saling membunuh, tapi perkelahian mereka akan ditentukan dengan perang antar dunia mereka kelak. Yang kalah harus menyerahkan kekuatannya pada yang menang lalu menghilang selamanya


Dan ingat? Ketika Dewa berjanji, mereka tidak akan pernah mengingkari janji itu bahkan jika itu menuntun mereka ke penyesalan seperti Dewa pertama yang tidak ikut campur kepada bumi ciptaannya sendiri.


Dewa dengan penuh perhitungan itu memilih bumi sebagai dunia barunya karena dunia lama miliknya hanya terdapat perang tanpa akhir. Jadi seperti itu alasan dibalik bencana hebat yang menghancurkan permukaan bumi, hanya sebuah permainan Dewa


Kalau ada Ras di Kelfia yang mempermainkan ras lain seperti yang Seraphim lakukan, mereka sebenarnya juga hanyalah mainan dari sosok yang tidak pernah bisa mereka bayangkan.


"Tunggu tunggu tunggu Kuro! Apa kamu yakin akan membukanya dengan paksa?!"

__ADS_1


"Iya, lagipula kenapa kamu ikut?"


"Aku.... ehem! Aku kan juga salah satu pemimpin, jadi aku menggunakan hak ku untuk melihatnya,"


Terserah dia....


Rencananya begini, ketika hari sudah malam kami akan menyelinap. Iya sesimpel itu, yang membuatnya rumit adalah para kakek tua yang tidak mengingat usia mereka malah begadang hingga selarut ini di ruang rapat


Mengendap-endap pun tidak akan berhasil, maka harus kami akali bagaimana cara agar mereka tidak sadarkan diri. Ellie memiliki ide yang bagus


Ellie ingin menggunakan racun kepada mereka, aku akan membiarkannya jika racun yang ia gunakan tidak mematikan dan hanya membuat mereka pingsan untuk sementara, dia bisa menyanggupi itu.


Kami berada didepan pintu ruangan rapat saat ini, Rize lah yang paling gugup diantara kami bertiga, tapi bukan berarti aku tidak


Karena besar kemungkinannya jika perpecahan malah semakin terjadi, padahal kami sangat perlu persatuan. Akan tetapi bukankah itu layak dipertaruhkan disaat seperti ini?


"Akan kulakukan," kata Ellie


Ellie menggelindingkan sebuah bola seukuran bola kelereng kedalam dengan membuka pintunya sedikit, lalu ia langsung menutupnya lagi tanpa suara sedikitpun. Karena kami hanya mendengar suara-suara orang tua itu


"Cough! Apa ini?!"


"Tolong! Keluarkan aku dari sini!"


Mereka mengira itu adalah gas beracun, itu memang benar namun tidak mematikan


Kami bertiga menahan pintu itu hingga mereka tak lagi bersuara, itu artinya mereka sudah tidak sadarkan diri. Hanya butuh sekian menit saja, bahkan tidak sampai lima untuk mereka semua pingsan, aku tidak tahu racun macam apa yang Ellie pakai....


Namun yang jelas orang-orang tua itu, yang tidak pernah melakukan ekspedisi sepertiku di dunia luar, pasti memiliki kekebalan racun yang lebih buruk. Apalagi karena ada faktor usia juga, membuat mereka menjadi rentan


"Apa mereka sudah mati, Kuro?" Tanya Rize


"Mereka tidak mati, kan Ellie?" Aku malah melempar pertanyaan Rize ke Ellie


"Itu tergantung kekebalan mereka,"


"Eh??!" aku terkejut


Kalau tergantung kekebalan maka.....


"Apa kamu mengaturnya dengan sistem kekebalanku?"


"Bukan, kekebalan mu jauh melebihi mereka. Aku mengaturnya dengan sistem kekebalan orang tua yang ada dalam database pusat,"


Aku tidak tahu bagaimana informasi sistem kekebalan orang tua yang dimiliki Machinarum, tapi mari berharap saja agar mereka tidak mati atau kehilangan fungsi anggota tubuh mereka....


Rize membuka pintu dan satu tubuh langsung terjatuh kearah kami karena menumpu pada pintu itu ketika ia pingsan, Aku meraihnya dan membawanya masuk agar tidak dilihat oleh orang lain


Aku juga membaringkan mereka berjejer disana, Ellie ingin membantu namun,

__ADS_1


"Sebaiknya kamu cepat membuka pintu itu saja,"


Aku ingin ia cepat-cepat bisa membuka pintu baja itu dan mendapat apa yang dia dan rasnya inginkan, aku sangat mengharapkan itu


Disini aku dibantu Rize terus menggotong tubuh-tubuh orang tua yang cukup ringan ke posisi berjejeran didekat meja rapat, totalnya ada enam orang dari mereka yang ada didalam sini


Sementara total ada sepuluh orang, pimpinan mereka dan kakek penghina yang mengenakan tongkat untuk berjalan itu tidak ada diantara mereka bersama dua orang lainnya


"Fiuh...." Rize menghela napasnya


Kuakui aku cukup penasaran, sangat penasaran..... tentang apa yang ada dibalik pintu itu. Aku melihat kearah Rize yang juga nampaknya penasaran sepertiku karena ia terus melihat kearah Ellie


Jadi aku mengajaknya untuk melihat Ellie ketika pekerjaan kami sudah selesai


Yang terakhir tinggal menahan pintu masuk ruangan ini dengan balok kayu dan kami pun dapat menghampiri Ellie.


Ellie, dia rupanya bisa menyerah juga, buktinya ia menyerah menggunakan cara normal yakni memecahkan kode yang hanya para orang tua itu tahu, ia menggunakan senjatanya untuk memotong pintu itu


Tapi karena sangat keras, ia juga perlu waktu


"Bagaimana bisa kamu memotong benda yang berbahan lebih kuat dari tubuhmu?" tanya Rize


"Sejak awal memang itu fungsi senjata, kalian manusia juga dulunya memiliki banyak sekali alat dan senjata mematikan yang bisa mengakhiri dunia ini ataupun dunia lainnya kapanpun kalian mau. Memotong pintu ini bukanlah sebuah masalah,"


Setelah itu Rize tanya-tanya kepada Ellie, kebanyakan yang tidak penting menurutku namun mungkin penting baginya. Aku sendiri memilih duduk di pinggir ruangan dan merenungkan apakah yang kulakukan ini benar?


Kuingat kembali di awal ekspedisiku, pemimpin ekspedisi dan tiga anggota kelompok ku lainnya terbunuh oleh semburan gas beracun di kawah Barat dari sini. Saat kami meneliti kapal aneh milik Dwarf lainnya


Itu adalah saat-saat yang mengerikan, tapi hanya akan menjadi lebih buruk


"Hei Kuro?" lagi-lagi Rize menyelamatkanku dari pikiran itu


"Ya? Apa Ellie sudah selesai memotong pintu itu dengan lasernya?"


"Sudah sih tapi...."


Tapi?


Segera saja aku dan Rize menuju pintu baja yang sudah berlubang cukup besar hingga kami dapat masuk kedalam ruangan rahasia itu, dan biar kuberitahu.... Itu mirip seperti kamarku....


Berantakan namun penuh, dibanding kamar malah seperti gudang.... ya, begitulah ruangan ini


Aku melihat ada beberapa benda yang kurang familiar, namun ada juga yang kutahu. Yang lebih mengejutkan adalah ada beberapa yang kutahu dari buku namun belum pernah kulihat sebelumnya di dunia nyata


Contohnya benda ini, kalau tidak salah benda ini bernama dumbbell. Ada sebuah kisah yang menyebutkan tentang ini, yakni kisah seseorang yang berlatih keras untuk menjadi pahlawan, alat ini adalah salah satu yang membantunya berlatih


"Tidak ditemukan kode dimanapun," eh?


"Maaf Kuro, namun sepertinya semua bukti yang kukumpulkan belum cukup kuat,"

__ADS_1


__ADS_2