The Sended

The Sended
Chapter 45: Death Before Disarmament? Granted.


__ADS_3

Sudah selesai, maksudku pertempuran ini


"Kita menang!"


Seluruh pasukan bersorak sekali lagi diatas tumpukan tubuh prajurit Ladenvield yang sudah tak bernyawa, mereka menyerukan nama Kyouka diatas segalanya karena telah menyelamatkan mereka


Padahal itu taktik ku....


Tapi bukan masalah, selama tujuan kami tercapai maka itu sudah cukup


Aku menghampiri Percival yang masih membeku setelah membunuh pengamat itu, ia kurasa sedang memikirkan hasil pertempuran ini, mungkin ini masih baru untuknya


"Bagaimana rasanya menang seperti ini?" Tanyaku


"Nona? Sebenarnya aku.... tidak tahu,"


Mhmm....


"Ya!!"


Kemenangan pertamaku di dunia ini, kemenangan pertama Ruby diluar hutan mereka, bukan langkah awal yang buruk. Akhirnya aku dapat merasakan rasanya menang dalam bertempur lagi, setelah sekian lama sejak melawan UOMA di Phines ya?


Pembebasan kaum Ruby itu bukan pertempuran, atau setidaknya aku tidak menganggapnya begitu.


"Ryuu!" Panggil Kyouka


"R-Ratu!" Percival mundur dari jalan Kyouka lalu menunduk kepadanya


Kyouka turun dari kudanya itu lalu menyerahkan tali ke salah satu bawahannya untuk menuntun kudanya pergi


"Oh, ada Sir Percival juga rupanya,"


"Ya, Ratu!"


"Ryuu, aku sudah melakukan apa yang kamu minta, apa lagi yang harus kulakukan?" Tanya dia


Uhh.... dia memanggilku Ryuu...


"Maaf Ratu, tapi dengan siapa anda bicara?" Percival pastinya sadar akan hal itu


"Eh? Ah! Maaf, itu adalah panggilan teman, yang kumaksud adalah Jenderal Rune," Kyouka memberi alasan yang buruk


"T-Teman?! Nona Rune adalah teman anda, Ratu?!"


"Itu benar, berulang kali kukatakan bahwa dia adalah otak dibalik bebasnya kaum kita tapi tidak ada yang percaya," kata Kyouka


"Itu tidak penting sekarang, yang pasti kamu sudah tahu kalau sosok itu nyata," kataku kepada Percival


Sekarang kembali ke medan tempur, meski kubilang untuk membunuh semuanya tapi tentu saja masih ada beberapa yang hidup, mereka itu masih lah manusia.... apalagi separuh dari mereka belum berpengalaman


Sebelum terjadi perdebatan diantara mereka, aku dan Kyouka menuju ke tempat para sisa pasukan Ladenvield dikumpulkan, aku punya beberapa pertanyaan untuk dijawab


Bisa kulihat berbagai macam tatapan dan hal yang mereka lakukan saat sudah ditangkap seperti ini, beberapa ada yang takut dan terus menatap ke tanah, beberapa sama seperti si pengamat yang terus menghina bangsa Ruby


Mereka yang terus mengoceh itu adalah yang pertama mati, dibunuh oleh salah satu prajurit berpengalaman yang pastinya lebih tak berperasaan pada musuh


Dari tindakan ini saja bisa dilihat mana prajurit berpengalaman dan yang bukan....


Semua orang pasti ingin menjadi prajurit yang berpengalaman, prajurit yang bagus, tapi seorang prajurit yang bagus tidak memandang musuh mereka sebagai sesama manusia hingga mereka dapat membunuh tanpa gentar sedikitpun


Di momen saat seseorang menganggap musuhnya sebagai sesama manusia, ia bukanlah prajurit yang bagus.


Begitulah arti seorang prajurit yang bagus, tapi sebenarnya aku juga tidak perlu prajurit-prajurit yang semacam itu, yang ku butuhkan saat ini adalah prajurit yang tidak begitu buruk namun dengan jumlah yang besar

__ADS_1


"Jadi.... aku perlu orang yang jujur, adakah dari kalian yang memenuhi kriteriaku?"


Sesuai dugaan, tak satupun dari mereka yang membuka mulutnya, tapi itu memang karena ini masih terlalu awal.... aku akan sedikit lebih membujuk


"Kalian tahu kan apa yang akan terjadi jika kalian terus tutup mulut?"


"Anda Ratu Lofi?" Tanya salah satu dari mereka


"Bukan, tapi aku mewakilkannya disini," jawabku


"Jangan bicara pada mereka, bodoh! Para barbarian ini tidak layak untuk diajak bicara," salah satunya masih saja memberontak


Baik-baik, kurasa bujukanku kurang efektif


"Aku tidak memulai perang ini, jika kalian tidak pernah masuk kedalam hutan Ruby maka mungkin kami masih hidup sebagai suku-suku yang terpisah sekarang ini, untuk itu aku berterimakasih banyak,


Namun jangan sebut kami barbarian, dulunya kuyakin kalian juga merupakan suku-suku kecil seperti kami sebelumnya, jadi biarkan kami berubah sedikit demi sedikit,"


Mendengar ini, mereka diam sejenak, lalu orang itu meludah kepadaku yang mana salahku karena berlutut didepannya persis. Ugh.... ini menjijihkan


Aku menggunakan sihir untuk menarik ludah orang itu dari pakaianku, lalu membuangnya ke tanah di sampingku


"Apa barusan itu sihir?" Tanya dia


"Ya, lalu kurasa kesempatanmu sudah habis,"


"Tunggu! Kalian bangsa barbarian pasti tahu bagaimana sejarah kelam pulau ini kan?! Orang ini adalah penyihir, sama seperti yang membawa pulau ini menuju kehancurannya dulu, mengapa kalian bersedia mengikutinya?!"


Dia mencoba hal yang menarik


"Simpan saja saranmu itu jika kamu ingin memecah belah kami, bangsa Ruby itu bisa selamat dari Ghetto kalian juga karena sihir, bodoh...."


Sejarah kelam pulau ini huh? Yang merupakan sejarah kelam itu ketika kalian membantai para penyihir karena disangka demikian, padahal mereka bisa jadi sangat berguna di kerajaan kami


Prajurit itu ditembak menggunakan crossbow tepat di kepalanya, tentu saja dia mati seketika itu


"Sebenarnya perintahku adalah untuk tidak menyisakan satupun untuk hidup, kalian cukup beruntung karena sebagian pasukanku masih amatir, jadi begini saja....


Kalian beritahu kami apa saja yang kalian ketahui, lalu akan kujamin keselamatan kalian hingga perang ini selesai dan kalian kembali ke rumah kalian masing-masing," tawarku


"Maksud anda kami akan dipenjara?" tanya dia


"Ap- Tidak! Kami tidak mau dipenjara!"


"Itu benar! Lebih baik kami mati daripada dilucuti oleh budak, apalagi dipenjara!"


Woah, beberapa mulai menunjukan jati diri mereka yang sebenarnya. Hmm? Sayang sekali hanya ada tiga orang yang tetap diam di situasi ini, yah kurasa mereka tiga orang yang beruntung


Karena sisanya menemui ajal yang sama seperti prajurit sebelumnya.


"Informasi," kataku kali ini sangat singkat


"I-itu...."


"Saat ini Ladenvield tidak memiliki pasukan lagi! Tolong jangan bunuh aku!" salah satu memohon


Tapi informasi itu sudah kuketahui, habisnya jika dipikirkan baik-baik juga pasti akan tahu. Ladenvield selalu mengirim pasukannya kedalam hutan, dan selama ini mereka tidak pernah mengirim lebih dari seribu


Dan ketika akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang dengan jumlah, mereka perlu waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan pasukan


Jika dengan waktu yang sama diperkirakan berapa lama hingga mereka membentuk pasukan lagi, maka angka yang didapat adalah jumlah waktu kami untuk bertindak. Begitu rumusnya, tapi yah.... aku tidak suka matematika....


Intinya, kami punya banyak waktu, dan mengapa tidak kumanfaatkan saja hal itu?

__ADS_1


"Aku sudah tahu itu, bisakah kamu beritahu hal yang lain? Apapun, katakan saja apapun yang kamu tahu,"


"Penduduk desa! Penduduk desa tidak menyukai kehadiran kami!" Oh?


"Kami kekurangan persediaan makanan!" hmm....


"Tambang kami dikuasai oleh orang sialan!" Itu menjelaskan soal perlengkapan mereka


"Jenderal kami memperlakukan kami dengan buruk...."


"Bukan hanya desa itu yang membenci kami...."


"Rakyat Ladenvield mulai tidak percaya pada pemerintah..."


"Mereka mulai bermigrasi menuju ke Edelfield...."


"Tugas lain kami adalah untuk menghentikan mereka....."


Hmm.... setelah mendengar informasi yang cukup terpecah itu, aku dapat menyimpulkan bahwa negeri mereka sudah tidak memiliki harapan lagi. Apalagi ketika pasukan besar mereka disini sudah dihancurkan oleh kami


"Baiklah kurasa sudah cukup, adakah yang bisa membawa mereka pergi ke penjara?"


"Baik nona,"


"Nona!"


Prajurit Ladenvield yang termuda itu berteriak saat akan dibawa ke ibukota Ruby, aku jadi menengoknya kembali


"Kumohon, bisakah anda mengampuni rakyat Ladenvield?"


Mengampuni? Aku bahkan tidak akan melakukan apapun pada mereka.... Jika situasinya benar seperti yang kukira, maka mungkin mereka malah dapat membantu ku


Belum sempat kujawab, Kyouka mendahuluiku


"Tenang saja, sebagai Ratu Ruby aku bersumpah tidak akan melukai satupun rakyat Ladenvield,"


Sumpah....? Aku sih tidak janji untuk itu, soalnya kalau ada musuh diantara rakyat mereka maka pasti akan kuberikan hukuman, tapi karena sumpah Kyouka ini semuanya jadi semakin rumit


Kedepannya akan menjadi mudah kecuali saat melakukan pengepungan ke kota Ladenvield, aku belum pernah dengar ada pengepungan yang tidak sulit sih.... itu akan memakan waktu yang paling lama


"Ryuu, sepertinya pasukan ini masih menunggu perintahmu," kata Kyouka


"Eh.... apa tidak bisa kamu saja yang memberi-"


"Tidak bisa, kalau semuanya aku maka apa artinya membagi tugas?" Uhh....


Kuyakin dia memang sudah memiliki banyak pekerjaannya sendiri


"Obati yang terluka, hormati yang meninggal, lalu aku ingin kita mengambil alih desa itu dan berkemah didekat sana malam ini. Kalian boleh merayakan kemenangan tapi jangan sampai larut, besok pagi kita akan kembali bergerak ke Selatan,"


Itu saja perintahku untuk saat ini, aku juga sepertinya perlu istirahat setelah tidak tidur selama beberapa hari


Entah mengapa aku tidak bisa tidur, mungkin karena suasananya kurang cocok untuk ku, tapi jika kupaksa memang akan terlelap juga sih.... sayangnya aku juga memiliki beberapa hal untuk dipikirkan, apalagi di saat-saat seperti ini.


Aku diberi tenda yang paling besar, dari dalam nampak lebih seperti rumah saking besarnya, itu cukup nyaman dan kurasa aku dapat tidur sekarang


Sebelum para ksatria selain Percival mendatangiku....


Jujur saja aku barusan hampir terlelap diatas tempat tidur yang cukup nyaman itu, sebelum mendengar mereka yang mengetok pintu. Jadi sekarang aku menemui mereka dengan mengantuk


"Apa sudah saatnya untuk menilai performa ku?" tanyaku


Berulang kali aku menguap dan ku tutupi dengan tanganku, sial.... aku sudah tidak kuat....

__ADS_1


"Ya, nona. Untuk itu, saya sebagai jenderal akan pensiun bersama dua ksatria tua ini,"


Hah?


__ADS_2