
Jadi ini dimana seluruh kekuatan militer Ruby berada, di sebuah perkemahan yang dibentengi dengan barikade kayu dan batang pohon yang diruncingkan. Yah kalau ini hanya sebatas perkemahan satu malam sih wajar saja.... tapi kan disini adalah markas utama
Tempat dimana semua hal yang mengkaitkan militer dikeluarkan, dan tempat ini hanya dilindungi oleh beberapa papan kayu serta menara rapuh seperti itu?
Haahhh...... Memangnya berapa dana yang Kyouka keluarkan untuk keperluan militernya? Padahal di masa genting seperti ini seharusnya banyak dana yang ia beri kemari
Mari jangan pikir yang aneh-aneh dulu dan temui pemimpin seluruh pasukan Ruby ini, Jenderal Maximilian
"Berhenti!"
Dua penjaga berada di depan gerbang, di sisi kanan dan kiri gerbang bagian dalam juga terdapat menara kayu yang masing-masingnya ada dua prajurit dengan busur silang mereka
"Apa keperluanmu datang ke markas besar?" Tanya salah satu penjaga
Dia juga yang mendekatiku sementara yang satu tetap di belakang didekat gerbang
"Namaku Rune, kuyakin Ratu sudah mengirimkan surat terlebih dahulu kepada sang Jenderal,"
Prajurit itu memastikannya dengan pergi melewati gerbang, aku menunggunya disini....
Yah... aku menunggunya selama lebih dari setengah jam, apa itu wajar? Tidak mungkin bukan.... Itu salah satu trik kotor yang biasa dimainkan orang-orang berkuasa
Untuk menunjukan bahwa kedudukan mereka lebih tinggi sehingga ditunggu oleh yang lain, itu juga sekaligus membuat yang menunggu menjadi sedikit kesal dan lelah sehingga bisa lebih mudah masuk kedalam trik lainnya
"Jenderal memperbolehkan anda masuk,"
Pintu gerbang dibuka dan yah.... entah mengapa aku tak terkejut dengan keadaan didalamnya
Tenda dengan kain yang lusuh, tanah yang masih basah meski hujan terakhir sudah berlalu lama, bau yang tidak enak di hidung, lalu para prajurit yang tidak melakukan apapun
Pemandangan seperti ini dapat terjadi karena manajemen yang buruk, meski aku bukan ahlinya namun bahkan orang biasa sepertiku bisa mengatakannya begitu, yah apa salahnya mengkritik?
Memangnya untuk mengkritik sesuatu dia harus bisa melakukan hal yang sama? Itu salah, yang benar itu adalah dia harus tahu seperti apa hal yang lebih baik
Dasar mengkritik memang adalah berilmu, namun dalam artian mengetahui apa yang benar, bukan ilmu untuk melakukan hal yang benar itu sendiri. Kita boleh berbeda pendapat, namun meski begitu pun ada yang namanya common sense
Seperti kualitas perkemahan ini, apakah tempat seburuk ini layak dijadikan markas utama?
Aku berjalan melewati para prajurit yang hanya duduk-duduk saja didekat tenda mereka, itu karena Ladenvield yang sudah beberapa waktu tidak masuk kedalam hutan ini
Mendengar itu saja sudah mencurigakan, membuatku berpikir bahwa mereka mempersiapkan serangan yang lebih besar dari biasanya, tapi bisa saja mereka mulai kekurangan prajurit karena Maximilian melakukan tugasnya dengan baik disamping hal buruk yang terjadi disini
Kusampai di tenda yang ukurannya lebih besar dari tenda lainnya dan dijaga enam prajurit, harusnya ini tenda dimana Maximilian dan petinggi pasukan lainnya ada
Jadi aku masuk begitu saja, penjaganya juga membiarkanku jadi sepertinya memang ini tendanya
Tidak habis pikir setelah aku melewati gerbang tadi tidak ada yang menuntunku kemari, aku mencari jalannya sendiri bukankah itu keterlaluan?
__ADS_1
Seorang gadis cantik dan imut berusia 19 tahun ini berjalan sendiri melewati para pria yang sudah tidak melihat wanita selama beberapa saat karena peperangan.... untung mereka masih punya kedisiplinan
Kalau tidak.... yah kalau tidak mereka sudah mati sekarang
"Kamu gadis yang Ratu Lofi katakan didalam surat kah?"
Woah, rasanya seperti aku pernah mengalami hal ini. Ah! Benar juga, ini seperti ketika aku mendaftar pertama kali kedalam angkatan laut Germanica, aku mulai merindukan kapten cantik itu, sayangnya dia mati terlalu cepat
Kalau tidak salah saat itu aku menganggap rekan-rekanku bukan hanya sebatas alat saja, Otto dan Victoria kah....
Tunggu, sekarang bukan waktunya untuk melihat masa lalu
Ruangan ini memiliki penerangan yang cukup, soalnya ada banyak lilin yang dinyalakan. Isi didalam sini ada satu meja besar dan lima kursi serta lima orang yang duduk dimana salah satunya kuyakin adalah Jenderal Maximilian
Empat sisanya mungkin ksatria atau petinggi lain, ditengah meja ada beberapa dokumen dan tentunya peta wilayah sekitar
"Jenderal sedang bertanya padamu, gadis," kata salah satu orang itu
"Rune, namaku Rune,"
"Kata beliau, kamu akan menggantikanku sebagai Jenderal Ruby, namun kamu ingin melakukannya dengan izin dan restu ku,"
Maximilian, dia hanya orang tua dengan rambut yang sudah putih sepenuhnya, dimana Kyouka sebenarnya mendapatkan orang ini dan bagaimana bisa dia menempatkannya di posisi itu?
"Itu benar, jadi aku ingin tahu bagaimana caraku meyakinkanmu,"
"Itu mudah, kau hanya perlu melawanku, ksatria terbaik didalam pasukan Ruby," salah satu pria berdiri dan menghadapku langsung didepanku persis
"Yah kalau memang begitu maka benar katamu," kataku padanya
"Hmm? Soal apa?" Tanya dia balik
"Itu mudah," jawabku
Ia menggertakan giginya, hahaha.... sepertinya dia marah ya? Tapi bukan berarti aku sedang menyombongkan diri, aku tidak berniat melakukan itu, soalnya memang ini akan menjadi mudah.
Kami berenam keluar dari tenda ini, menarik perhatian seluruh prajurit yang berada di sekitar sini
"Kosongkan area ini! Sir Percival akan melakukan duel dengan Nona Rune, calon penggantiku!" seru Jenderal Maximilian dengan keras
Dengan cepat para prajurit menyingkir, membuat sebuah area kosong berbentuk lingkaran dengan diameter lima meter, tapi mereka tidak pergi melainkan melihat kami dari seluruh sisi
"Silahkan memilih senjata kalian,"
Ada sebuah kotak kayu yang isinya berbagai macam senjata dibawakan oleh salah satu ksatria lainnya, yah.... itu saja sudah salah, menyimpan senjata-senjata menjadi satu seperti ini akan menyulitkan distribusi
Apalagi kalau hanya ditumpuk seperti itu, senjata-senjata itu terbuat dari besi loh.... aku yakin senjata yang ada di paling bawah saat ini sudah rapuh dan buruk untuk digunakan
__ADS_1
"Aku akan memilih pedang, senjata ksatria!"
Ksatria huh? Yah itu memang benar bahwa untuk menggunakan pedang diperlukan kemampuan tinggi, oleh karena itu mereka yang mahir biasanya direkrut menjadi ksatria sebuah negeri
Namun sebenarnya tidak ada yang lebih efektif daripada tombak. Faktanya seorang Samurai menggunakan katana mereka hanya ketika mereka sudah tidak memiliki pilihan, namun meski begitu seni berpedang masihlah sangat dihormati
"Aku juga akan menggunakan pedang," aku mengambil pedang secara asal
"Baiklah, karena dua pihak sudah mengambil senjata mereka masing-masing, saatnya duel dimulai,"
Kami berdua mendekat satu sama lain didepan Jenderal, ia akan memberi aba-aba untuk memulai duel
"Mulai!"
Tapi tunggu, duel ini bagaimana berakhirnya? Sampai lawan menyerah atau sampai mati?
Percival tanpa pikir panjang langsung maju dan mencoba menebasku dari samping kanan, aku menahannya dengan baik. Serangannya cukup berat karena dia adalah ksatria yang terlatih, dan ia sepertinya akan mulai membabibuta
Mulai dari situ ia terus melakukan tebasan dari segala arah, mencoba mencari titik lemah dari pertahananku. Di sisi lain, sebenarnya aku lebih suka menghindar daripada menangkis, kali ini kulakukan agar tidak dibilang pengecut
Yah, Percival tidak akan menemukan titik lemahku karena aku jauh lebih cepat darinya, tapi beda cerita jika memang aku ingin dia menemukannya....
Aku melemahkan tanganku sedikit ketika ia menyerang dari atas, itu dengan cepat ia sadari dan manfaatkan, seperti yang diharapkan dari seorang ksatria terbaik
"Kalau kamu terus bertahan, maka jangan salahkan aku kalau aku melakukan ini!"
Sekali lagi dia menyerang dari atas, aku menangkisnya sambil melangkah maju lalu mengubah arah serangan pedangnya ke sisi kiri, ketika pedangnya sudah berada di bahu kiri ku maka aku membiarkan itu sendiri, sementara pedangku langsung dengan cepat kuayunkan dan kuletakan tepat didepan lehernya
Kulihat ia melebarkan matanya kaget dan tak percaya, sama seperti orang-orang yang menonton duel ini baik itu prajurit biasa maupun Jenderal dan ksatria lainnya
"Selesaikan!!" dia berteriak
Tentu saja aku tidak mengikuti kemauannya, lagipula memangnya hanya dengan duel ini Maximilian mau menyerahkan kedudukannya? Kalau tidak maka Percival hanya mati sia-sia, soalnya aku belum dengar syarat dari Maximilian
Ya, aku memperhatikan itu, aku mulai mengerti cara bermain mereka dan itu adalah dengan mendengarkan dengan baik, namun perlihatkan pada mereka dirimu yang seperti tidak mendengar, itu akan membuat mereka lengah dan menggunakan kata-kata yang lebih simpel
Itu pelajaran kedua, gunakan kata-kata yang jarang digunakan, kecuali jika lawan bicara menanyakan apa maksud kata itu, kalau tidak maka jangan dijelaskan begitu saja, karena menanyakan arti sebuah kata di dunia ini sama halnya seperti menunjukan betapa rendahnya pendidikan orang itu
Ehem! Kurasa sampai situ saja pelajarannya, sekarang aku dihadapkan pada Percival yang bersikeras ingin kubunuh
"Kalau kamu tak lakukan itu, kehormatanku....." yah ia berbicara panjang lebar sementara Maximilian hanya diam di pinggir
Ketiga ksatria lain mulai membicarakan sesuatu diantara mereka, dan Percival masih terus menjelaskan soal kehormatan seorang ksatria
"Jadi bunuhlah aku-"
"Kamu salah paham akan sesuatu Sir Percival, aku disini bukan untuk menjadi ksatria terkuat Ruby menggantikanmu, biar kamu saja yang memiliki gelar itu. Aku kemari untuk menggantikan Jenderal Maximilian menjadi Jenderal Ruby,"
__ADS_1
"Membunuhmu sepertinya tidak akan mendapatkan izin dan restunya, jadi akan kudengarkan apa sebenarnya yang engkau inginkan, Jenderal Maximilian?"
Setelah keheningan yang bisa menulikan ini, akhirnya dia memberitahu ku syaratnya