
Orang bijak pernah berkata, "Mereka yang putus asa memang akan melarikan diri dari medan perang, namun jangan coba-coba menghentikan mereka dalam melarikan diri ini, karena mereka akan melakukan apapun untuk mencapainya,"
Itu tidaklah salah, itu salah satu alasan mengapa banyak peristiwa dari sejarah dimana sebuah pasukan tidak dihancurkan secara total. Faktanya hanya beberapa pasukan yang tercatat berhasil dihancurkan secara total oleh musuh
Dan beberapa dari mereka datang dari catatan Romawi kuno, namun bukan dari kekuatan militer mereka. Oh tentu bukan, karena pasukan Romawi pada zaman itu bertempur untuk mendapatkan tanah dan menaklukannya, bukan untuk menghancurkan pasukan musuh
Itu artinya mereka tak akan mengejar musuh sejauh mungkin, mereka bahkan sangat jarang membatalkan formasi tempur mereka seperti testudo, itu karena merupakan budaya Romawi yang meniru budaya Helenisme yang sendiri meniru budaya Yunani kuno,
Kira-kira singkatnya mereka berpikir kalau seseorang prajurit yang meninggalkan barisan formasinya adalah prajurit yang memalukan, karena bisa saja tindakannya ini menghancurkan seluruh pasukan dengan manuver musuh
Romawi memahami pemikiran mereka dan menanamkan itu ke tiap-tiap prajurit yang mereka miliki, jadi setiap diri mereka tak ada yang mengincar kejayaan di medan perang layaknya Viking atau yang lain, bangsa Romawi memilih untuk berjaya bersama
Tetapi hal ini membuat musuh mereka dapat lari dengan mudah, mengetahui bahwa taktik Roma sangat jarang disebutkan untuk membuka formasi dan mengejar musuh, kecuali kavaleri mereka tentunya....
Yah kurasa cukup membahas Romawinya, saatnya ke poin utama.
Di catatan Romawi itu disebut bahwa Roma memiliki banyak musuh, bahkan kawan saja bisa berpaling dan menjadi musuhnya. Namun tak sekalipun negeri mereka tunduk, apalagi sebelum tahun masehi saat mereka bangkit menjadi kekuatan dunia
Tetapi ketika negeri mereka masih baru terbentuk dan memiliki wilayah sebesar Italia modern, terdapat sebuah negeri lain yang merupakan rival abadi mereka, Carthage atau Kartago
Carthage atau Qart Hadast dalam bahasa Punisia berarti kota baru, mereka awalnya bermula dari sebuah koloni Punisia kecil yang dipimpin oleh Ratu pertama mereka bernama Dido
Ketika Ratu Dido pertama kali tiba di Afrika Utara, sudah banyak kota koloni Punisia yang berdiri disana, suku pribumi superior disana berkata pada sang Ratu bahwa ia dapat membangun kota namun hanya sebesar satu kulit lembu
Itu adalah sebuah hinaan bagi beliau, namun dapat diputar balikan ketika ia mengiris kulit lembu itu setipis rambut dan meletakannya diatas bukit membentuk sebuah dasar untuk membangun kota
Begitu bagaimana Carthage dibangun, berbeda dari Roma yang di awal saja sudah menumpahkan darah ketika Romulus membunuh Remus, Carthage dibangun dengan kebijaksanaan dari Ratu Dido
Kedua kota ini dari awal saja sudah sangat berbeda, bagaimana mereka tumbuh juga berbeda. Roma menaklukan seluruh Italia dengan kekuatan militer, sementara Carthage lebih memilih dengan kekuatan dagang dan diplomasi.
Mereka bahkan berperang hingga tiga kali yang ketiganya dimenangkan oleh Roma dan menghancurkan Carthage seutuhnya, mengutuk tanah kaya dan subur mereka dengan penaburan garam sehingga tak bisa ditumbuhi apapun
Dengan itu Roma memastikan bahwa Carthage tak pernah lagi dapat bangkit dan melakukan perang keempat.
Ceritaku akan mengambil pada masa perang kedua mereka, tepatnya ke seorang Jenderal Carthage bernama Hannibal Barca. Salah satu Jenderal terbaik dalam menggunakan manuver
Aku mengambil dua contoh pertempurannya yang cukup terkenal, yang pertama adalah pertempuran di Danau Trasimene ketika Hannibal melewati jalur sempit untuk menghindari dua pasukan Roma yang menunggunya, di kanannya adalah Danau Trasinene sendiri sementara di sebelah kirinya ada bukit curam
Roma yang akhirnya menyadari hal ini pun melakukan pengejaran dengan salah satu pasukannya, mereka berjumlah lebih sedikit sehingga bisa saja mencapai Hannibal di jalan sempit itu dari belakang
Namun ketika mereka sampai, tak seorang pun ada di jalan sempit itu, yang mana membuat mereka tak percaya karena pasukan Hannibal dapat bergerak sangat cepat. Namun kejutannya tak sampai sana saja....
Rupanya Hannibal mendaki bukit di sebelah kiri jalan itu dan meluncurkan serangan kepada pasukan Romawi yang kebingungan di jalan itu. Memiliki keunggulan medan, kejutan, dan jumlah, pasukan Roma yang harusnya menjadi paling disiplin di dunia pun memutuskan untuk lari
__ADS_1
Akan tetapi mereka akan lari kemana? Karena yang Hannibal sisakan hanyalah Danau Trasimene di sisi kanan jalan
Akhirnya sebagian besar pasukan Roma mati oleh pasukan Carthage Hannibal, sisanya mati tenggelam ke dasar Danau Transmene karena mencoba berenang dengan baju armor mereka.
"Nona, mereka maju dengan serentak," kata Percival
"Hmmm.... kurasa tidak, mereka menambahkan kekuatan di sisi tengah mereka," kataku setelah melihat lebih cermat
"Apa?! Bukankah itu berarti mereka tahu kelemahan barisan kita?"
Sekarang aku yakin kalau musuh memiliki Jenderal yang cukup cerdas, atau mungkin penasehatnya yang cerdas....
"Akan kuberitahu taktik nya sekarang," setelah kupikirkan dengan keras memang rupanya hanya ada satu cara
Aku memberitahu kelima orang itu rencanaku, mereka memang sudah tahu sedikit namun detailnya baru kujelaskan sekarang. Dan seperti yang kuharapkan, mereka sangat meragukan rencana ini
"Itu alasan anda memperlemah sisi tengah? Tapi rencana anda sangat berisiko,"
"Semakin besar risikonya, semakin besar juga hasilnya. Sir Percival akan ikut bersamaku untuk memimpin sisi tengah agar tidak salah paham dan lari, kalian berempat akan menjaga sisi kanan dan kiri untuk tetap bertahan,"
Pasukan sisi tengah merupakan pasukan yang akhirnya dapat ikut berperang karena jasaku, mereka akan mempercayaiku ketimbang separuh pasukan lainnya. Untuk itu aku memilih memimpin mereka, tapi tentu bukan karena satu hal itu saja
Agar rencana ini berhasil, kami memperlukan satu lagi jenis unit yang sialnya kami dan musuh sama-sama tidak memilikinya, akan tetapi aku berhasil mengatasi itu dengan koneksi ku
Tak ada seorang pun yang tidak terkejut ketika melihat ini.
Kini ketika musuh sudah setengah jalan, seluruh ksatria sudah sepakat untuk menjalankan rencanaku. Mereka pergi ke tempat mereka masing-masing, akupun demikian bersama Percival
Jadi mari kujelaskan secara detail, untuk itu akan kusebutkan pertempuran kedua Hannibal yang cukup terkenal, pertempuran Cannae
Setelah kekalahan mereka di Danau Trasimene sebelumnya, Roma sangatlah murka terhadap Hannibal. Mereka memutuskan untuk mengumpulkan pasukan dengan jumlah yang belum pernah ada sepanjang sejarah mereka berdiri
Totalnya terdapat kurang lebih 100.000 prajurit yang ada dalam pasukan ini, untuk menghadapi Hannibal yang jumlah pasukannya hanya 50.000, separuh dari jumlah mereka namun itupun bukan lagi hanya pasukan Carthage melainkan pasukan koalisi dari Carthage dan suku-suku yang membenci Roma
Hannibal melawan mereka di lapangan terbuka, tak ada trik disini. Kecuali jika musuh sungguh gagal menyadari bahwa itu adalah trik.... maka begitulah Hannibal memenangkan pertempuran ini
100.000 prajurit elit Romawi melawan 50.000 prajurit persatuan Carthage dan suku-suku dengan pengalaman minim, Hannibal berhasil memusnahkan keseluruhan pasukan musuh hanya dengan 5.700 korban di sisinya.
Bagaimana dia dapat melakukan itu? Ia menggunakan taktik yang sama seperti yang kugunakan sekarang ini, hanya tentu dengan skala yang lebih besar.... kalau dibandingkan maka 1:50
Pertama, mari kita majukan sedikit sisi tengah agar barisanku nampak cembung, ini bertujuan untuk menarik perhatian musuh yang menyerang agar lebih fokus ke tengah. Memang benar kalau sejak awal mereka mengincar tengah, namun hanya pemimpin mereka yang tahu
Dengan posisi ini, prajurit yang berada di sisi kanan dan kiri akan tertarik ke tengah ketika kami perlahan mundur, ups! Aku membocorkan langkah selanjutnya ya...?
__ADS_1
Crossbowman masih kuletakan di paling depan untuk menembak satu atau dua kali, setelah itu kuperintahkan untuk mundur
"Kita siram tanah ini dengan darah mereka!"
Barisan mereka lebih panjang kedalam dua kali lipat dari kami, alasan mereka tidak mencoba untuk memutar barisanku adalah karena ada sungai di belakang yang akan menyulitkan mereka
Seperti kataku, sungai itu memang tidak terlalu dalam sehingga masih bisa dilewati tanpa jembatan, namun tetap saja itu akan menjadi kelemahan bagi pihak yang melintasinya, atau.... keuntungan?
Bentrokan terjadi, kini tak ada lagi cara untuk kembali, semuanya harus berjalan sesuai apa yang kuinginkan agar kami dapat memenangkan pertempuran berat ini
"Mati kau!"
"Sialan!"
Kutukan demi kutukan dilontarkan dalam pertempuran ini, banyak orang mati berjatuhan di garis terdepan barisan. Kutukan orang mati huh? Ini dunia fantasi jadi aku ingin tahu apakah itu benar-benar bekerja
"Jangan ditahan! Kita berikan apa yang mereka mau, mundur perlahan!" seru ku lagi
"Eh? Apa itu artinya kita harus lari lagi kedalam hutan?"
"Ternyata memang sulit untuk melawan musuh di lapangan terbuka,"
Tuh kan, mereka salah paham dengan ini. Alasan Hannibal berada di sisi tengah adalah agar pasukannya tidak salah paham mundur terlalu jauh hingga lari, itu berarti aku juga harus meyakinkan mereka
Aku kekurangan karisma seperti Hannibal jadi.... akan kugunakan caraku sendiri
"Kalau ada dari kalian yang lari dari pertempuran, akan kubunuh dengan tanganku sendiri,"
Y-Yah terdengar seperti aku mengirim mereka ke misi bunuh diri seperti yang Soviet lakukan untuk melawan Nazi Jerman, tapi niatku baik kok.... Uhm, apa benar niatku baik?
Pasukan sisi tengah terus mundur secara perlahan sehingga musuh tidak menyadari itu dan terus mengisi cekungan dalam barisan kami dengan prajurit dari sisi kanan dan kiri mereka, begitu cara Hannibal untuk mengalahkan Roma di Cannae
"Nona! Itu Jenderal musuh, biarkan aku melawannya supaya pertempuran ini cepat selesai," kata Percival
Hmm? Oh! Benar, ada jenderal musuh diantara mereka, tapi tidak mungkin kukirim Percival untuk melawannya saat ini
"Ditolak," jawabku
"K-Kenapa nona?! Itu dapat mengakhiri pertempuran!" ia tidak terima
"Apa kamu tidak bisa lihat kalau sejak tadi dia sudah mengincarmu? Ia berulang kali melihat kearahku dan kearahmu sembari tersenyum, kuyakin sudah ada jebakan disana,"
Itu alasan pertama, alasan kedua adalah jika Percival entah bagaimana bisa membunuh Jenderal musuh, maka pasukan musuh akan lari dan rencana penghancuran total mereka akan gagal
__ADS_1
Tak boleh ada satupun musuh yang lari, untuk itu mereka harus memiliki moral setinggi langit agar terus percaya bahwa kami sangat mudah untuk dikalahkan, dan layaknya seseorang yang terbang terlalu tinggi maka ketika ia jatuh, ia akan jatuh dengan sangat menyakitkan