
Tubuh Fengxian jatuh tergeletak di tanah subur milik Kerajaan Jin, menandakan akhir dari sang pejuang tiada akhir
Percival, meski menang, dia nampak sangat kelelahan. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu sejak.... sejak aku bertarung melawannya tentunya
"Tidak!! Bagaimana mungkin.... tidak.... duel ini tidak sah!! Kami tak mungkin kalah dari bangsa seperti kalian, barbarian!!"
Zhongyin yang tak puas dengan hasil dari duel ini, menghunuskan pedangnya dan menerjang maju kearah Percival menggunakan kudanya
Ugh! Selalu saja seperti ini, tidakah mereka bisa menghormati rekan mereka yang telah gugur secara terhormat? Apa yang dilakukan Zhongyin hanya akan mencoreng kehormatan Fengxian yang dirinya junjung tinggi-tinggi
"Boleh kupinjam ini?" Tanyaku sembari menarik pedang Shin dari sarungnya
"Eh? Nona, apa yang harus kita lakukan? Nampaknya Tuan Percival sudah sangat kelelahan disana," kata Shin
Ia benar, Percival sudah sangat kelelahan, tetapi kurasa untuk membunuh sosok pembual besar seperti Zhongyin, dia masih memiliki tenaga yang cukup
"Tenang saja, hari ini musuh kehilangan pejuang tiada tanding mereka bersama dengan satu Jenderal besar," kataku
Aku enggan menggunakan ini tapi.... kalau itu bisa sangat menguntungkan maka kenapa tidak?
|Akselerasi|
Aku mempercepat diriku hingga belasan kali lebih cepat daripada kuda yang Zhongyin tunggangi, meski terdengar sangat cepat namun pergerakanku masih bisa dilihat secara kasat mata kok
Kutebas secara vertikal perut sebelah kanannya, ketika aku sudah melewatinya aku segera berputar untuk mengincar punggungnya, kali ini ayunan miring dari atas. Hanya ketika serangan kedua ini, aku baru menghentikan skill Akselerasi ku
Zhongyin dengan tubuh besarnya itu, melemas dan terjatuh dari kuda yang ia tunggangi, tak sadarkan diri dengan dua luka tebasan yang sangat dalam.
Itu sudah biasa bagi ku untuk memberikan luka yang sangat dalam, karena akselerasi ini bisa menembus hampir semua hal jika tentu saja senjata yang ku gunakan juga cukup kokoh atau setidaknya setara dengan hal yang ingin kupotong
Dalam kasus ini, kurasa pedang milik Shin ini adalah pedang yang bagus, kulihat bahwa pedang ini bahkan tidak retak sedikitpun padahal sudah menembus zirah seorang Jenderal Besar
Hmm? Ah benar, apa yang harus kulakukan dengan prajurit Ming dibelakang sana?
"Jenderal dan pejuang terkuat kalian telah gugur, apa kalian ingin menjadi yang selanjutnya?" Tanyaku
Mereka tanpa menunggu lama lagi langsung lari bersama kuda mereka, menuju ke perkemahan pasukan Ming di Utara. Harusnya dengan ini maka seluruh pasukan dimundurkan dan invasi tertunda hingga Jenderal besar yang lain sampai kemari
Jadi sebelum itu tiba....
"Nona Rune, tidak kah kita seharusnya mengejar pasukan mereka, kita harus memastikan bahwa mereka benar-benar sudah pergi dari tanah kami," kata Shin
"Iya, kita memang akan mengejar mereka, tapi aku tidak berharap banyak. Karena pasukan yang kabur dengan putus asa biasanya berlari lebih cepat dari pasukan yang terorganisir,"
Namun bukan berarti aku tidak memiliki rencana, jika aku tahu mereka lari lebih cepat maka bukankah tidak ada alasan kami mengejar mereka? Kalau untuk tahu apa mereka benar-benar sudah pergi, kami bisa mengirim beberapa orang saja itu sudah cukup
__ADS_1
Kami akan mengejar mereka sampai ke Guangdong, kota mereka.
"Apa?! Nona Rune, itu sudah kelewatan! Kami tidak bisa melakukan itu, kurasa sudah cukup bagi kita untuk mengusir mereka," kata Shin
"Apa maksudmu? Kalian secara resmi sudah berperang, kalian boleh saja menaklukan Ming dam kalian tidak akan dianggap sebagai pihak yang salah,"
"Me-Menaklukan Ming? Kerajaan sebesar itu?" Kata Shin ragu
"Kerajaan itu, tidak lebih dari sebuah kastil pasir, hanya waktu yang berjalan selamanya,"
Itu juga berlaku kepada Ruby, tapi bahkan kastil pasir sekalipun jika dibangun dengan dasaran dan lokasi yang tepat maka bisa bertahan sangat lama.
.
Guangdong adalah sebuah kota yang rencananya akan dijadikan kota perdagangan untuk menandingi Jin di sebelah selatan mereka, namun rencana itu tidak pernah kesampaian karena Raja mereka yang mulai sakit-sakitan
Lalu kenapa sebenarnya repot-repot membangun kota perdagangan lain jika bisa merebut Jin dengan pasukan besar yang Ming miliki bukan? Jadi rencana itu dibatalkan
Namun sudah terdapat sebuah kastil kokoh di pinggir laut untuk kepentingan penjagaan pembangunan, kini meski tidak jadi membangun namun kastil itu tetap dijaga oleh ratusan prajurit Ming
Hingga.... malam ini tiba.
Malam ini adalah malam yang buruk untuk beberapa alasan, soalnya malam ini terjadi hujan lebat di wilayah itu, membuat penjagaan menjadi hampir mustahil
Yang biasanya terdapat satu prajurit tiap empat meter diatas dinding kastil, kini hanya ada satu prajurit di satu waktu. Sisanya tentu sedang meneduh, menghangatkan diri mereka atau beristirahat
Tapi itu juga sudah rahasia umum, jadi untuk alasan yang sama, Ruby datang di saat-saat ini.
Malam yang gelap, ditambah dengan hujan dan kabut tebal di laut, membuat satu-satunya hal untuk melihat adalah dengan cahaya petir yang menyambar, itupun masih memiliki jarak tertentu
Di pinggir sebuah menara kosong, prajurit Ming yang mendapat giliran jaga itu menguap
Ada empat menara yang membentuk benteng ini menjadi sebuah bentuk mirip persegi meski tidak sama panjangnya, Tentunya dua menara menghadap kelaut karena posisinya di pinggir pantai. Keduanya itu kosong di saat hujan, dan dua sisanya yang tidak menghadap kelautlah yang ditinggali para prajurit Ming untuk beristirahat
Yah.... hari sudah malam, hujan lebat pula, tidak bisa disalahkan jika prajurit yang berjaga itu terkantuk dan tidur sambil berdiri dengan tombaknya sebagai tumpuan. Lagipula siapa yang mau menghukumnya? Seluruh rekan dan atasannya sedang beristirahat jauh di seberang sana
Lalu tidak seperti akan ada sebuah armada perang dengan belasan kapal perang serta puluhan kapal transportasi yang menggempur benteng itu bukan? Sejak benteng itu dibangun, belum pernah sekalipun mereka mendapat serangan.
Prajurit Ming itu terlelap sebentar lalu kembali bangun, namun ia terlelap lagi dan bangun lagi, dan yah... dia menutup matanya sekali lagi untuk beberapa waktu, tetapi ketika ia bangun karena sambaran petir, ia mengusap matanya dan menguap
Lalu ia menampar wajahnya sendiri dan melihat kelautan agar tetap terjaga, dan betapa terkejutnya dia ketika cahaya kilat yang lain tiba, ada sebuah armada yang berlabuh di dekat sana
Ketika dia berbalik, ada ratusan prajurit undead yang sudah berjalan diatas tembok kastil itu, salah satunya langsung menikam prajurit Ming itu hingga mati.
Malam itu sangat tenang hingga ketika salah satu undead memasuki menara penuh prajurit Ming yang sedang beristirahat, mereka semua berteriak karena mendapati adanya undead disana. Satu lagi prajurit Ming terbunuh ditengah kepanikan itu, namun sisanya langsung menjatuhkan si undead dengan tangan kosong
__ADS_1
Mereka semua mengambil senjata mereka segera setelah itu dan keluar untuk melihat keadaan kastil mereka, dimana yang mereka lihat adalah hal yang mirip seperti neraka. Sepasukan undead berjalan dimana-mana, mereka semua membawa pedang dan bisa bertarung dengan baik melawan pasukan Ming
Akan tetapi undead adalah undead, mereka memiliki kelemahan tertentu, apalagi undead yang ada disana adalah undead tingkat rendah yakni semacam zombie, kelemahan mereka ada pada kecepatan
"Para Jiangshi itu bergerak lambat!"
"Potong kepala mereka!"
"Sial! Masalahnya ada pada jumlah mereka!"
"Sebenarnya darimana mereka datang?!"
Dentingan pedang yang beradu terdengar bersama dengan sorakan orang-orang serta suara hujan yang sedang terjadi, tapi ada suara lain lagi yang terdengar namun tertutupi oleh ketiga hal tadi. Itu adalah suara langkah kaki prajurit Ruby diatas dinding
"Arahkan!"
Mereka adalah para prajurit crossbowman, mereka sudah mengarahkan crossbow-crossbow mereka kepada prajurit Ming yang sedang bertarung di area kosong didalam benteng
"Tembak!"
Hujan itu bercampur dengan puluhan anak panah yang mengguyur pasukan Ming dibawah sana, dan karena mereka pada dasarnya hanya mengambil senjata untuk bertahan, mereka tidak mengenakan atau membawa perlindungan seperti baju zirah dan perisai
Sekitar seratus prajurit Ming mati didalam benteng itu oleh ayunan pedang undead atau tertancap anak panah crossbow Ruby
Dan yah... armada tadi membawa Kyouka, Maou, dan seluruh pasukan Ruby untuk menginjakan kaki mereka untuk pertama kali di benua Timur. Pertama kali untuk mereka, pertama kali untuk bangsa Barat.
.
Dengan kemampuan Maou, kami mampu membangun dermaga sementara dan sebuah perkemahan pertama kami di Benua Timur, rencananya kami akan mulai membangun dermaga tetap ketika Guangdong sudah kami kuasai
Tapi kami kini sedang dikejar waktu karena Ryuu itu malah memukul mundur pasukan Ming dari wilayah Jin lebih cepat dari yang Maou perkirakan, yah mungkin itu kali pertama Maou salah perhitungan....
"Jadi apa rencanamu Maou?" Tanyaku di tenda miliknya
"Karena perhitunganku salah maka- Woah! Ke-Kenapa kamu ada disini, Kyouka?" Hmm? Dia begitu terkejut melihatku
"Apa tidak boleh?"
"B-Bukan tidak boleh tapi.... uhh.... lupakan itu, yang ingin kukatakan adalah kita harus mempercepat jadwal kita," kata dia
"Yah, itu salahmu karena tidak memberitahu Ryuu tentang rencana ini,"
"Bukan begitu niatku, tapi kukira dia sudah terlalu terbebani dengan menjadi atase di Kerajaan Jin," kata Maou
"Asal kamu tahu saja Maou, Ryuu itu senang melakukan hal yang berbau peperangan. Dia tidak akan merasa terbebani dengan tugasnya itu,"
__ADS_1
"Kamu mengatakannya seperti Ryuu adalah orang jahat saja...." dia memberi tatapan seperti jijik dan tak percaya pada apa yang kukatakan
Tapi itu benar loh! Jika ada pihak yang baik dan pihak yang jahat di dunia ini, maka Ryuu adalah pihak yang jahat itu. Dan karena kami berdua bersekongkol dengannya maka kami juga adalah sosok villain dari dunia ini....