
"Pasukan Jin! Yang berani menjunjung tinggi bendera dan senjata untuk Jin, negeri kalian! Aku disini menyambut dan menghargai kalian secara penuh karena sudah mau menjawab panggilanku sebagai Jenderal Jin, terimakasih," Kata Shin sambil memberi hormat dan membungkuk
"Disini kita akan menghadang Ming, sebuah penyakit di Benua Timur yang berniat untuk menundukan kita semua! Kudengar jika Raja Ming yang amat jahat itu kini mulai sakit dan waktunya tidak akan lama lagi, tapi apa artinya jika sebelum ia tiada kita sudah hancur lebih dulu?! Kukatakan kita akan bertahan, lebih lama dari kehidupan hina yang ia jalankan! Disini, didepan dinding Jin, kita bersama akan menghentikan laju pasukan Ming sekali dan selamanya!" Lanjut Shin
"Ya!!" Seru seluruh prajurit Jin yang berhasil dikumpulkan
Mereka berjumlah tidak kurang dari 15.000 sesuai yang kuharapkan, jumlah yang sangat cukup untuk menghadang 40.000 prajurit karena kami memiliki keuntungan dinding dan beberapa keuntungan lainnya
Maksudku adalah seribu prajurit Ruby dan tentunya teknologi senjata yang kami bawa, dan itu tidak lain adalah manjanik dengan jarak dan akurasi super buatan Maou dimana kini sudah bisa dikontruksi tanpa dirinya
Soalnya Maou dan Kyouka sedang mempersiapkan hal lainnya, mereka tidak bisa hadir disini saat ini.
"Apakah ada yang ingin anda katakan, nona Rune?" Tanya Shin
Kulihat seluruh perhatian prajurit Jin tertuju kepadaku, mereka seakan mengharapkan sesuatu untuk keluar dari mulutku. Tapi aku tidak memiliki apapun untuk dikatakan jadi.... kurasa aku akan menjelaskan siapa aku dan senjata apa yang kubawa saja
Aku maju ke posisi Shin sebelumnya, didepan seluruh pasukan Jin yang berbaris dengan rapi menghadapku.
"Aku disini dibawah perintah yang mulia Ratu Lofi dari kerajaan Ruby bertugas untuk membantu Tuan Shin memimpin kalian semua melawan pasukan Ming. Satu hal yang perlu kalian tahu, aku tidak gila hormat, kalian boleh memperlakukanku seperti rekan kalian sendiri saja, namun ketika datang pertempuran maka kuharap kalian bisa menerima perintahku dengan baik,"
Kulanjutkan dengan berjalan ke salah satu manjanik didepan untuk mendemonstrasikan senjata itu kepada mereka
"Ini adalah salah satu karya ilmuan terbaik Ruby, Tuan Diablo. Benda ini bisa melontarkan batu seukuran yang ada didepan ini sejauh satu kilometer, itu adalah dari sini hingga lahan pertanian kalian didepan dinding
Selanjutnya!
Crossbow, berbeda dengan panah biasanya, crossbow memiliki jarak dan akurasi yang lebih baik namun karena jumlahnya terbatas jadi sebagian besar pemanah mungkin tidak akan mendapatkannya
Keduanya adalah senjata yang kami gunakan untuk bertempur menyatukan pulau tempat tinggal kami, tapi disini kurasa juga akan efektif. Namun senjata terbesar tentu adalah sosok yang menggunakannya, itu berarti kalian! Kudengar pasukan Ming hanya berjarak satu minggu dari sini, selama itu kalian akan berlatih bersama pasukan Ruby dan mencermati apa saja yang mereka lakukan dan tindakan." Jelasku
"Baik!!"
Pelatihan satu minggu ini dimulai, tugasku disini adalah untuk mengamati dan sesekali terjun bersama Shin untuk melakukan inspeksi
Disaat-saat ini nampaknya Shin mencoba mempelajari banyak hal, sering kali ia juga bertanya kepadaku jika ada hal yang tidak dia ketahui, ia mencatat semua hal yang dirinya lihat dan dengar
"Lalu nona, soal peluru manjaniknya..."
"Itu sedang kupikirkan, apa Jin memiliki tambang batu yang bisa menyuplai kita dengan bebatuan?" Tanyaku
"Eh? Tidak, Jin adalah kerajaan kota perdagangan, mungkin kita bisa mengimpor dari kerajaan tetangga tapi...."
"Tapi?"
"Tapi kenapa tidak kita minta ahli sihir elemen batu saja untuk membuat pelurunya?" Eh...?
"Maksudku kurasa mereka setidaknya bisa menciptakan bola batu berukuran seperti ini kan?"
__ADS_1
Uhh.... terkadang aku melupakan bahwa ini adalah dunia sihir....
"Y-ya! Itu boleh saja, memangnya ahli sihir itu ada banyak?" Kali ini giliran aku yang bertanya
"Mereka memang ada banyak, tapi hanya sedikit yang cukup kuat disini.... Harusnya Ming juga membawa beberapa ahli sihir di pasukan mereka,"
Ugh! Itu pasti akan merepotkan
Kacang direbus dan menghasilkan kaldu
Yang masih utuh diperas dan diambil sari-sarinya
Adalah pohon kacang sebagai bahan bakar dibawah tungku
Mereka semua lahir dengan akar yang sama
Sajak ini memiliki arti bahwa kita semua berasal dari silsilah yang sama juga, itu membuat kita harus saling bahu membahu di saat susah seperti contohnya ketika malapetaka datang saat ini, ketika Ming menginvasi kami
Akan tetapi jika dilihat lebih jauh lagi, maka sebenarnya sajak ini hanya menjelaskan bagaimana cara Nona Rune dengan keahlian dan pengetahuannya itu berhasil memukul mundur pasukan Ming
Bagaimana dia menggunakan seluruh hal yang dapat ia gunakan dengan maksimal, layaknya kacang pada sajak tadi.
Mereka datang.
Dari atas sini pemandangannya berbeda ketimbang menjadi sisi penyerang, aku bisa melihat semua musuh yang melaju dan biar kukatakan bahwa itu memang sedikit menakutkan karena jumlah mereka
Pasukan Ladenvield dan Edelfield juga pastinya merasakan hal yang sama ketika kami melakukan pengepungan....
"Manjanik! Tembak!"
Bebatuan dengan belasan jumlahnya dalam sekali gelombang itu melayang dan mendarat secara spektakuler diantara musuh yang merangsek maju melewati lahan pertanian Jin itu, mereka terkejut karena ada bebatuan yang melayang kearah mereka tentunya
Tapi karena artileri seperti manjanik sebenarnya bukan digunakan untuk hal seperti ini, mereka terus maju karena menyadari bahwa hal itu tidak memberikan banyak dampak selain morale
Oh! Dan juga sebenarnya jangan memiliki jalan pemikiran seperti itu, soalnya morale adalah hal terpenting didalam suatu pasukan, itu membentuk kohesi asal kalian tahu... Lakukan apapun demi meninggikan morale pasukan, contohnya memberi rasio makanan yang bervariasi, mengadakan pertandingan persahabatan, maupun mengorganisir sebuah pertunjukan.
Ngomong-ngomong pasukan Ming sudah memasuki jarak crossbow
"Crossbow! Tembak!"
Sekarang coba kulihat pasukan Ming mumpung mereka sudah dekat, sebagian besar dari mereka membawa tombak yang disebut sebagai Ji yang mana bisa digunakan untuk menusuk maupun menebas layaknya halbert, kurasa memang Ji adalah senjata yang ikonis dengan prajurit Tiongkok di zaman ini
Lalu armor mereka, itu terbuat dari ratusan kepingan baja bernama zirah lamela atau lamellar armour, tapi tidak semuanya menggunakan zirah yang sama. Beberapa masih menggunakan zirah kulit
Namun keduanya hampir tidak bisa menahan anak panah dari crossbow, beberapa prajurit tumbang ketika anak panah itu dilepaskan.
"Busur! Tembak!"
__ADS_1
Karena sudah berada di jarak busur biasa, kami menembakan seluruh yang kami punya. Umm... setidaknya separuh dari persediaan anak panah kami kugunakan di hari pertama ini, itu untuk mengusir Ming sebelum menyentuh dinding
Tentu mereka tidak akan langsung pergi begitu saja, mereka pasti akan mendirikan perkemahan di belakang bukit rendah itu, didekat sungai yang membatasi wilayah Jin dan sebuah kota bernama Guangdu di Utara yang kini menjadi wilayah dibawah Ming.
Kulihat musuh mulai mundur secara perlahan dan hilang sepenuhnya dari lahan pertanian Jin saat matahari mulai terbenam, kami berhasil melewati hari pertama.
Di malam hari, aku mengatur posisi manjanik setelah memperhitungkan kemungkinan tembok bagian mana yang mudah untuk dipanjat, alasannya akan segera diketahui setelah matahari mulai meninggi nanti
Benar saja, ketika hari mulai datang, pemandangan didepan sana itu adalah pasukan Ming yang berbaris rapi dan.... Beberapa menara pengepung.
Seluruh prajurit Jin kebingungan melihat itu, Shin bukanlah pengecualian. Ia bingung dan karena itu dia khawatir karena sepertinya Ming memiliki senjata yang tidak dirinya ketahui
"Hei apa itu?"
"Entahlah tapi ukurannya lebih tinggi dari dinding ini,"
Kata para prajurit Jin didekatku diatas dinding
"Tuan Shin, anda tahu apa itu?" Tanyaku mengujinya
"T-tidak nona, saya baru belum pernah melihat maupun mendengar tentang benda raksasa itu, mungkinkah itu senjata baru Ming?" Hoho? Jadi konsep menara pengepung belum sampai kemari?
"Nona! Apa kita bisa menghentikan itu?" Lanjut tanya dia
"Yah akan kulihat apa yang kubisa lakukan,"
Mereka mulai maju secara perlahan, menyamakan kecepatan mereka dengan menara kepung yang bergerak lambat itu.
Ku tunggu hingga mereka sampai pada jarak dan posisi yang kuinginkan lalu....
"Mulai!" Seru ku
Manjanik-manjanik yang kuposisikan selurus dengan menara pengepung yang musuh bawa, lalu jaraknya juga sudah kuperhitungkan jadi.... Kemungkinan melesetnya sangat kecil
Dari sini, dapat dilihat bahwa satu persatu menara itu tumbang karena sepertinya mereka masih kurang pengalaman dalam membangun itu, hehe... sekarang siapa yang tertawa huh?
"N-Nona?"
"Itu mungkin konsep baru disini, tapi Ruby telah lama menggunakan menara semacam itu untuk memanjat dinding kota atau benteng, kami tahu berbagai kelemahan dan kelebihan benda itu," jelasku pada Shin
Mungkin karena terkejut bahwa senjata rahasia baru mereka bisa dihancurkan semudah itu, Jenderal Ming langsung menarik mundur pasukannya bahkan sebelum masuk jarak tembak crossbow kami
Dan hanya begitu hari kedua selesai...
Hari ketiga dimulai dengan lebih tenang, tapi bukan berarti mereka tidak menyerang loh ya.... Mereka tetap menyerang, namun layaknya pada hari pertama, mereka kini tidak memiliki menara kepung karena kehabisan kayu mungkin
Mereka menggunakan tangga untuk memanjat dinding ini, tapi itupun berhasil kami jatuhkan dengan tongkat panjang. Kami membantai musuh dibawah dinding hanya dengan menembak panah, menyiram minyak dan membakar mereka, dan menjatuhkan bebatuan
__ADS_1
Tak satupun dari prajurit Ming yang berhasil sampai keatas dinding bahkan hingga matahari kembali terbenam, mereka kembali menuju perkemahan mereka karenanya, menandakan berakhirnya hari ketiga pengepungan.
Kini setelah tiga hari berlalu, kupikir sudah seharusnya jumlah korban kami dihitung, soalnya aku ragu jika musuh masih memiliki keberanian untuk menyerang sih ehe....