
.
Hohenzollern sekali lagi jatuh kedalam kekacauan, keinginan kuat Friedrich II membuatnya gagal mendengar keinginan dan harapan rakyatnya. Oleh karena itu, satu bangsawan yang mulai memberontak itu kini didukung oleh banyak pihak
Mereka jatuh dalam perang saudara yang memakan korban dari sisi mereka sendiri, Hohenzollern membunuh Hohenzollern.
Namun di masa penuh kekacauan ini, Franca nampaknya tidak tertarik untuk ikut campur, lebih tepatnya Raja mereka yang tidak tertarik. Ia adalah sosok yang mencintai karya seni ketimbang politik dan militer, sifatnya itu ia bawa ke kebijakannya yang menghasilkan netralitas bagi negeri itu.
Meski ia membawa perdamaian, tapi kesempatan yang terlalu bagus ini ia buang begitu saja membuat banyak bangsawan Franca kesal dengan obsesinya, mereka menganggap bahwa kecintaannya terhadap karya seni membuatnya buta
Mungkin benar, tapi tidak mengubah fakta bahwa Franca mendapatkan masa damai yang membuat mereka semakin makmur
.
"Nona, apa yang kamu bicarakan dengan kakek ku semalam?" Tanya Li
Tadi malam ketika aku kembali dari perpustakaan, Li sudah tertidur di kasurnya sendiri, adiknya tidur bersamanya, aku jadi tidak bisa memberitahunya apapun
"Itu soal kedatangan Ruby, yah... Cepat atau lambat Qing akan jatuh ke tangan kami, ku yakin kamu juga sudah tahu itu kan?"
"Iya... Tapi apa hubungannya dengan kakek ku?"
"Dia minta belas kasihan untuk keluarga Xia, untuk hutan dibawah sana serta pegunungan ini. Padahal yah kami tidak akan melakukan apapun kepada seluruh wilayah Qing..." jawabku
"Y-Yah kalau aku diposisinya juga aku khawatir..."
"Hoi! Ruby punya sesuatu yang disebut sebagai aturan perang, isinya seperti tidak boleh membunuh, memutilasi, menyiksa tahanan, lalu juga tidak boleh mengingkari, membantah, dan mencela suatu perjanjian tertulis. Kami bangsa yang terhormat loh!"
"Iya-iya... Ngomong-ngomong kamu sudah mengobrol dengan ayah? Dia adalah orang yang berhasil meningkatkan efek dari pil mana itu, ku kira kamu harus meminta kepadanya,"
"Ayahmu, dimana dia saat ini?"
"Oh! Kamu sudah bangun adik ku yang lucu? Hehe! Ayo kita bermain lagi!" ia lanjut bermain dengan adiknya
Hahh.... Wajar karena dia baru kembali setelah beberapa saat, tapi kan dia yang mengajaku kesini! Harusnya dia menjadi pemandu atau semacamnya kan?
"Hehe! Ah! Ayah biasanya ada di ruangan ujung Timur, dia meneliti disana,"
"Baiklah aku akan langsung kesana,"
"Eh? Kamu tidak mau sarapan dulu Nona Ryuu?"
Benar juga
.
Raja Hohenzollern pertama, Friedrich I yang dijuluki sebagai Friedrich der Große, mengangkat kehormatan takhtanya dengan memenangkan perang melawan invasi Franca pada generasi sebelumnya. Kini paska kegagalan invasi ke pulau Ruby, Friedrich II menghadapi pemberontakan bangsawan Selatan
Pada akhirnya ia berhasil menghabisi pasukan pemberontak dan menghukum mati para bangsawan itu, lalu ia mengganti tempat mereka dengan orang-orang yang loyal, tapi meski begitu pun kehormatan takhta Hohenzollern tidak pernah sebaik sebelumnya lagi.
.
Fiuh... Kenyangnya... Bubur nasi itu memang cocok untuk sarapan
Sekarang coba kulihat, dimana kira-kira ayah Li bekerja meneliti... Dia bilang ruangan ayahnya ada di ujung Timur jadi... Ah! Itu dia! Ruangan paling ujung timur
W-Woah kenapa terkesan suram yah?
Kuketuk pintu ruangan ini sebanyak tiga kali
"Masuk, itu tidak dikunci," kata ayah Li dari dalam
Aku membuka pintu itu perlahan dan melihat tumpukan demi tumpukan buku yang menggunung tanpa dirapikan, bahkan pintunya saja tidak bisa terbuka seutuhnya karena dibelakangnya terdapat tumpukan yang lain
"Permisi," kataku
"Ah Nona Ryuu kah? Kudengar dari ayahanda kamu tertarik soal pil mana," aku bisa dengar suaranya tapi dimana dia?
__ADS_1
Hanya ada satu lilin untuk menerangi satu ruangan, tidak ada jendela dan ventilasi tapi udaranya tersirkulasi dengan baik. Dimana orang itu sih?!
"Saya ada disini, nona," woah! Dia muncul dari balik tumpukan buku itu
"Maaf bila mengganggu Tuan Xia,"
"Tolong panggil saya Hu, ada banyak Xia di kediaman ini kan? Haha..." katanya
"Eh uh... Silahkan duduk, apa anda mau teh?" lanjut tawarnya
"Tidak perlu, Tuan Hu, aku hanya ingin sedikit belajar soal pil mana yang dirimu kembangkan,"
Ia kembali menuju tempatnya di balik tumpukan tinggi buku disisi ruangan
"Tentu-tentu, mohon tunggu sebentar, akan kuambil salah satu pil yang manjur," katanya
"Manjur? Itu artinya ada yang tidak?" Tanyaku
"Benar nona, dan efeknya pun sangat mengerikan,"
"Seperti apa?" Tanyaku lagi
"Yah... Mungkin lebih baik anda tidak tahu nona,"
Soalnya kalau hal mengerikan itu aku sudah banyak menjumpai, sebagai contoh... Menurut kalian bagaimana keadaan medan perang yang kutinggal dibelakangku?
Pemandangan medan paska pertempuran adalah yang terburuk, seakan melihat salah satu tempat dari neraka
Baru seminggu hingga semua jasad dan perlengkapan prajurit dibersihkan dari lahan itu, soal bau darah yang menyengat biar hujan yang bekerja
Ups! Aku sampai terbawa suasana
"Ini adalah salah satu yang manjur, tolong dicoba,"
Lagi-lagi nampak seperti gumpalan tanah liat... Seperti milik Li sebelumnya
Hoo? Rasanya seperti bangun tidur, mana ku seakan meningkat sehabis tidur yang cukup. Meningkatnya juga bukan main-main, ini bisa mengisi hampir separuh dari kapasitas manaku yang mana cukup besar
"Berhasil ya?" Kata dia
"Bagaimana anda tahu?" Tanyaku
"Itu... kamu mengeluarkan aura biru yang tidak kasat mata, aku bisa melihatnya dengan mataku entah bagaimana,"
Sihir unik kah? Itu bakat yang spesial...
Tapi ini terlalu bagus, akan sia-sia jika memberikan pil ini kepada penyihir biasa
Bukan berarti akan terjadi apa-apa, kelebihan mana itu tidak menimbulkan hal buruk bagi orang yang mengalami itu, tidak seperti kehabisan mana. Yang ada hanya mana yang melebihi kapasitas itu akan meluap keluar dari tubuh seperti keringat namun dalam bentuk aura tak terlihat seperti yang Hu katakan
"Akan saya berikan resepnya kepada anda, tapi tolong cari peramu yang profesional nona, kalau tidak maka akan jadi bahaya," katanya
"Apa tidak ada pil yang lebih lemah dari ini?"
"Ada, namun kupikir anda ingin yang terbaik?" jawab Hu
"Jika bahannya lebih mudah ditemukan apalagi dikembangbiakan maka lebih baik,"
Ia berpikir sejenak dan kembali kebalik tumpukan bukunya
Baru saat ini aku mulai melihat sekeliling ruangannya secara seksama, meski kebanyakan hanya tumpukan buku namun ruangan ini juga dihiasi dengan barang antik dan lukisan kuno
Meski semuanya hampir tidak terlihat sih... Cahaya disini sungguh redup...
"Ini pil yang saya buat dengan bahan import dari pesisir, jadi saya pikir Ruby bisa mendapatkannya dengan mudah," kata dia setelah mengambil gumpalan tanah yang lain
"Oh! Terimakasih Tuan Hu,"
__ADS_1
"Tidak masalah, saya juga ingin agar ilmu ini dikembangkan secara luas,"
Baiklah, dengan ini tujuanku disini akan selesai! Tapi tidak mungkin aku langsung pergi begitu saja kan...?
.
Maka dari itu aku ingin jalan-jalan sebentar dan kembali esok hari saja, lagipula sayang jika sudah sampai di surga dan tidak jalan-jalan kan?
Sudah kupikirkan beberapa kali, tapi enaknya mereka yang mati dan masuk ke surga... Kalau aku mati yang ada malah bereinkarnasi lagi... Tapi mungkin juga aku akan berpikiran sama jika bertukar tempat dengan mereka sih
Habisnya Dewa itu terlihat seperti tidak peduli dengan ciptaannya sendiri, apalagi ketika aku bahkan bukan ciptaannya....
Hahh....
"Oh! Nona Ryuu!"
"Eh? Ah, kamu sepupu Li ya?"
"Benar, namaku Yan, salam kenal Nona Ryuu,"
Dia... Pakaiannya tidak mencerminkan seorang penulis maupun peneliti, itu pakaian seorang seniman bela diri
"Saya dengar anda adalah seorang Jenderal, apa anda bisa mengajari saya soal bela diri Nona?"
Bagaimana bisa dia mengaitkan Jenderal dan bela diri...? Mungkin di zaman ini sih ya...
"Yang kutahu itu bagaimana cara membuat strategi... Tapi memang benar jika kutahu beberapa cara bertarung,"
"Ah! Apa anda tidak keberatan jika saya meminta sparing?"
"Eh? Disini?" tanyaku
"Tentu tidak Nona, silahkan ikuti saya,"
Ia mengajak ku ke tempat yang lebih tinggi lagi... Melewati jalan setapak dan ratusan anak tangga hingga sampai ke tempatnya diatas bukit curam didekat kediaman Xia
Disini tempatnya datar dan tidak seperti lapangan yang tak berumput, terdapat juga sebuah pohon besar di pinggir yang kurasa akan sejuk bila aku berbaring didekat sana... Tapi tujuanku dibawa kemari untuk bertarung ya...?
Sepupu Li, Yan, Ia terlihat seperti Li yang selalu bersemangat, hanya saja dengan alasan yang lain
"Apa nona tidak membawa senjata?" tanya dia
"Tidak,"
"Kalau begitu biar saya pinjamkan satu, apa senjata yang nona gunakan?"
"Aku lebih suka pedang, untuk menjaga diriku ketika pertempuran berlangsung," jawabku
Itu benar loh, pedang terutama yang berukuran sedang, biasanya digunakan untuk pertahanan diri. Senjata utama kebanyakan adalah tombak, mesti tidak terkesan keren namun efektifitasnya sangat mematikan
Namun beberapa pedang juga bisa menjadi senjata utama kok, contohnya greatsword yang digunakan Percival dan ksatria pada umumnya, lalu No-Dachi katana, keduanya adalah pedang berukuran besar yang digunakan sebagai senjata utama
Cara penggunaannya pun tidak semudah tombak, perlu latihan hingga seumur hidup untuk dapat menjadi master pedang-pedang itu.
Dan kurasa ada banyak master semacam itu di benua ini, mereka yang mempelajari ilmu beladiri bukan perang pastilah bisa mencapai level tersebut.
Ia memberiku sebuah pedang yang ada di tata rapi di pinggir lapangan terbuka ini, entah kenapa bisa begitu... Tapi kurasa disini tidak ada maling. Maksudku yah... Bagaimana mereka bisa sampai ke tempat setinggi ini?
"Apa kamu juga pengguna pedang, Yan?"
"Eh? Tidak juga, aku tidak suka terpaku pada satu senjata tertentu, jadi maaf karena aku bawa tiga ya Nona..."
Oh! Meski terlihat berlebihan namun itu bisa jadi keuntungannya
Dengan tiga senjata maka akan ada tiga kali lipat jenis serangan yang bisa ia lakukan. Pedang, tombak, dan belati huh? Aku menantikan bagaimana dia menggunakan ketiganya itu
"Apa anda sudah siap nona?"
__ADS_1
"Aku selalu siap kok,"