
.
Paska kejadian itu, yang perlu kami lakukan hanyalah membersihkan pintu masuk pelabuhan dari kapal-kapal dan mayat-mayat Hohenzollern yang berserakan. Biaya untuk itu juga tidak murah... Yuuna bergumam terus, dia kesal karena banyaknya pengeluaran disini...
"Asal kamu tahu ya kak, industri kita itu belum ada yang jadi! Maka jangan minta banyak hal dulu untuk militer!"
"I-Iya... aku akan menahan diri,"
Ia berencana untuk membangun banyak industri dengan prioritasnya di pulau Ruby, namun rencananya itu baru diserahkan pada Kyouka seminggu yang lalu sebelum kami berteleportasi kemari jadi tentu saja belum ada yang jadi...
Sekarang setelah masalah yang satu terselesaikan, Yuuna bisa melanjutkan rencananya itu dan memulai pertambangan material-material di pulau Ruby. Aku disisi lain akan kembali ke Benua Timur untuk melihat kondisi
Teleportasi.
.
Waktu berlalu begitu cepat, aku disini sudah sebulan atau mungkin lebih, tidak melakukan apapun karena Ming juga tidak melakukan pergerakan
Proposalku untuk mengirim persenjataan ke Joseon dalam rangka membantu mereka membebaskan diri juga ditolak oleh Kyouka, mereka bertiga setuju menolaknya karena banyak sekali hal yang harus dilalui untuk mencapai Joseon
Yuuna berkata dalam segi pengeluaran, Maou dalam segi teknologi transportasi, Kyouka dari segi opini publik.
Tidak biasanya keputusanku ditolak seperti ini sih... namun aku menerimanya saja
Akibat dari itu, Joseon kalah melawan Ming dan para pemberontak, seluruhnya, dibunuh dengan cara mengenaskan. Mereka ditusukan ke tombak panjang yang ditancapkan ketanah, itu semua dilakukan Ming didekat hutan di sisi Utara kota Joseon
Area itu kini dinamakan sebagai Forest of The Impaled, kuyakin pemandangan disana sangatlah mengerikan untuk dilihat.
Dan yah.... mulai sejak itu muncul faksi-faksi bodoh didalam Kerajaan Ruby...
Faksi Industrialis yang mengaku diri mereka dipimpin oleh Yuuna, faksi kaum terpelajar Maou, faksi militer yang tentunya aku, dan faksi netral Kyouka
"Lihat apa yang mereka lakukan terhadap Joseon bukan? Andaikan kita mengirim mereka senjata yang cukup..."
"Kita harus memperbaiki perekonomian kita dulu, bukankah kondisi dalam negeri selalu diprioritaskan?" Kata Yuuna
"Yuuna benar, namun paska melihat outcome atau dampak dari kejadian itu, aku kini setuju dengan Ryuu," kata Maou
"Opini publik juga mulai bergeser kepada pro perang, bagaimana menurutmu Ryuu? Apa kamu mau memimpin pasukan melawan Ming sekarang?" Tanya Kyouka
"Tidak sekarang, saat ini patriotisme di Ming juga sedang sangat tinggi setelah mereka memenangkan perang melawan Joseon, rakyat mereka akan menuntut serangan balik ke Ruby. Jika mereka melakukan itu maka kita akan bergerak, namun jika tidak maka kita akan bergerak nanti,"
"Bagaimana dengan ekonomi, Yuuna? Sekarang bisakah kita menanggung beban peperangan?"
Hingga saat ini uang yang kami keluarkan untuk segala keperluan adalah menggunakan emas dari tambang-tambang Ruby, belum ada yang tahu akan hal itu karena ini merupakan rahasia kerajaan untuk mencegah perang total perebutan pulau itu
Sifat keserakahan manusia adalah dosa pertama yang tertulis dalam buku keagamaan, dan bukankah memang itu ada dalam diri manusia masing-masing? Materi maupun jabatan
"Amerika Serikat, negeri satu-satunya yang pantas menerima gelar adidaya paska runtuhnya USSR, mereka sejauh yang kutahu saat aku berpindah kemari adalah negara besar yang mempengaruhi bumi dengan ekonomi serta ideologi mereka.
Namun tidak selalu seperti itu...
__ADS_1
Sebelum perang dunia kedua, US selalu berpegang teguh pada prinsip netralitasnya, itu benar.... meski mereka menangguhkannya sesaat di perang dunia pertama namun paska itu mereka meneguhkannya kembali.
Dan baru setelah perang dunia kedua, mereka mulai sadar bahwa netralitas tidak bisa melindungi diri mereka selamanya, mereka mulai ikut campur dalam politik dunia dan menjadi negara adikuasa.
Kita akan menjadi seperti US, akan membuka diri dan ikut campur politik Kelfia segera. Namun aku tidak ingin ada musuh yang menghancurkan satu pangkalan militer dulu baru kita melakukan hal itu tidak."
.
Ah indahnya dunia ini jika dilihat dari perspektif yang lain, sejak awal ini adalah dunia fantasi sih...
Karena perang yang tak kunjung datang, aku memutuskan untuk melakukan hobiku di dunia ini yakni membaca lagi, namun karena buku perpustakaan di Fuzhou sudah terbaca hampir semuanya jadi aku memutuskan untuk pergi ke Qing
Untuk sampai kemari aku perlu melewati wilayah Ming, musuh kami. Memang tidak mudah karena penjagaannya sangat ketat, namun bisa kuatasi dengan baik menggunakan skill maupun negosiasi yang saling menguntungkan tentunya.
Berkat itu aku bisa melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalananku kemari
Aku melewati sungai berwarna merah yang mana bisa terjadi karena lumpur yang dibawanya, sungai ini tidak bisa digunakan sebagai pengairan karena itu juga, sepertinya lumpur itu bukan sekedar lumpur biasa.... biar Maou yang meneliti itu
Bukit-bukit yang berbeda jauh dari yang ada di Ruby, disini itu menjulang tinggi dan kemiringannya sangat curam, entah bagaimana itu bisa terjadi.
Perdesaan Ming yang jauh berbeda dari kota mereka di Chengdu, tidak terasa hawa nasionalisme atau patriotisme disini, mereka hanya peduli tentang kehidupan mereka di hari ini dan hari itu saja.
Daratan benua ini kebanyakan diisi dengan landskap datar yang luas, padang rumput hijau maupun yang mulai menguning, desa-desa dibangun ditengah padang rumput ini, beberapa didekat sungai tentunya.
Melewati sebuah jembatan dan sungai yang disebut sebagai sungai kehidupan karena di pinggiran sungai inilah salah satu kebutuhan primer manusia terpenuhi, makanan.
Disisi lain sungai, meski dengan pemandangan yang sama yakni ladang padi yang luas, itu sudah bukan lagi wilayah Ming.
Begitulah caraku sampai ke Qing, kerajaan kota yang menjadi inti dari Benua Timur, dengan kota yang bahkan lebih besar dari Jin, apalagi Ruby....
Aku ingin mencoba membaur dengan budaya lokal namun disisi lain aku juga tidak ingin dianggap tinggi karena mengenakan pakaian yang bersih dan rapi, dengan ini juga perhatian terhadapku semakin berkurang.
Mari kita tanya kepada seorang petani yang sedang menepi di pinggir ladangnya itu arah menuju ke kota,
"Selamat siang tuan, saya ingin menanyakan arah menuju ke kota Qing, apa anda tahu dimana itu?"
"Ya, Qing tinggal mengikuti jalan ini, sekitar lima hari jika berjalan kaki," jawabnya
Begitukah? Aku bisa bersabar sih tapi entahlah... waktu liburku tidak menentu soalnya
"Apa kamu dari Ming, gadis muda? Jika iya maka prajurit yang berpatroli tidak akan bersikap mudah denganmu," petani itu memperingatkanku
"Ah, saya bukan dari Ming, saya dari Ruby,"
"Ruby?" Dia tidak tahu apa yang kukatakan
Aku merogoh kantung di rok yang kukenakan, mengambil sekeping koin emas yang dicetak wajah Kyouka diatasnya serta lambang perisai dibawahnya, itu adalah koin emas dengan nilai tertinggi di Ruby
Lantas aku memberikan koin itu kepada sang petani sebagai tanda terimakasih ku
"Emas?!"
__ADS_1
"Iya, gunakanlah sebaik mungkin," kataku
"T-Tapi emas yang kutahu biasanya tidak berbentuk koin," ah mungkin maksudnya sycee atau yuanbao
"Tenang saja tuan, sebentar lagi itu akan berguna,"
Ku lanjutkan perjalananku menuju ke Qing, lagi-lagi melewati pinggir hutan serta desa-desa kecil yang hidup damai diluar permainan politik perkotaan.
Dan sampailah aku di tempat dimana aku sudah bisa melihat Qing dari kejauhan, sungguh melukis dari sini mungkin akan mendapatkan hasil yang terbaik. Sejak aku bukan pelukis, mari lanjutkan saja menuju ke gerbang kota
Qing oh Qing, kota yang dibangun di padang rumput datar yang luas ini menjadi pusat Benua Timur terutama dalam bidang ilmu pengetahuannya
Gerbang masuk kota tidak pernah tertutup, melambangkan bahwa mereka selalu membuka peluang bagi yang mau belajar, namun.... sekarang gerbang bagian Barat ditutup rapat untuk memberitahu pada semuanya bahwa Ming tidak berhak mendapat ilmu dari sini...
Yah... salah Ming juga karena mencoba menaklukan jantung dan otak dari Benua Timur untuk diri mereka sendiri...
Meski Ruby juga akan melakukannya di masa mendatang sih...
Oleh karena itu hanya di gerbang ini juga ditempatkan prajurit-prajurit untuk memeriksa yang ingin masuk kedalam kota, dan hanya disini yang terdapat barisan panjang orang yang mengantre untuk masuk itu
Oh lihatlah, ada orang dari Ming yang mencoba untuk masuk, mereka langsung diusir kembali ke wilayah Ming bahkan dikawal oleh prajurit Qing agar tidak menetap di wilayah Qing selain didalam kota
Seperti yang petani sebelumnya katakan, para prajurit tidak akan memperlakukan orang Ming dengan mudah.
"Kau, buka topi dan singkirkan syalmu!" Perintah prajurit itu
Ku turuti perintahnya dan melakukan kedua hal itu
Tidak hanya prajurit itu, namun semua orang didekatku menjadi terfokus kemari. Ah! Apa mereka terkagum karena kecantikan wajah...ku... tidak mungkin juga... mereka pasti terkejut karena rambut putih dan mata merahku kan?
Sungguh... sebenarnya mengapa diriku yang sangat menawan ini tidak ada yang tertarik? Kutukan, Ini pasti kutukan!
Huft... terserahlah, aku juga tidak punya waktu untuk itu
"Kau tidak berasal dari Ming kan?"
"Saya berasal dari Ruby,"
"R-Ruby?! Apa itu artinya Ming telah runtuh?" Jadi kali ini dia tahu Ruby
"Tidak juga, saya menyelinap untuk sampai kemari," jawabku
"Ah... yah mau bagaimana lagi, Ming adalah negeri yang kuat. Tapi aku mengapresiasi kalian karena berperang melawan mereka, tindakan itu adalah salah satu yang membuat mereka mundur dari ekspedisi kemari,"
Aku diperbolehkan mengenakan topi dan syalku kembali, lalu aku coba bertanya-tanya soal ekspedisi yang ia sebutkan itu
"Kalau tidak salah Ming mengirim dua pasukannya kemari bukan? Bagaimana cara kalian menghadapi itu?"
"Kami bergabung dalam sebuah pakta bersama kerajaan-kerajaan di bagian Selatan benua, yang berkontribusi paling banyak adalah kota Liushu, Caowei, dan Sunwu, mereka seperti kerajaan terbesar di bagian selatan," jawabnya
"Bagaimana dengan daerah Ashikaga?"
__ADS_1
"Mereka? Hah! Mereka hanya bisa mengurung diri mereka dibalik pegunungan,"
Isolasionis, sama seperti Jepang di zaman Muromachi... bahkan nama pimpinannya sama...