The Sended

The Sended
Chapter 80: Ich Hab Die Nacht Geträumet


__ADS_3

.


"Baguslah kamu sudah kembali Ryuu, aku punya berita penting untukmu," Kyouka sudah tidak terkejut lagi kah...


Disisi lain Yuuna tampak kaget karena sebelumnya dia tidak merasakan kehadiranku disini, entahlah mungkin dia sedang memberi laporan pada Kyouka atau semacamnya


"Aku juga ada, sepertinya Ming tidak akan bergerak melawan kita untuk beberapa waktu, mereka ingin mengakhiri pemberontakan di Joseon dulu,"


"Itu membuatmu bisa pergi ke front lainnya bukan?" Huh?


"A-Apa maksud Kak Kyouka?" Tanya Yuuna


Itu juga yang mau kutanyakan


"Dua bulan lalu ketika kita sampai ke benua ini, Raja Hohenzollern meninggal. Kita baru mengetahuinya sekarang karena kita tidak memiliki orang di negeri itu... Kebijakan pertama yang Raja baru mereka ambil adalah invasi ke pulau Ruby,"


"Wah-wah, sepertinya aku mulai melihat polanya akan bergerak kemana," aku duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk menerima tamu


"Iya, kamu harus kembali ke Ruby untuk melindungi pulau itu dan seluruh aset kerajaan," maksudnya rakyat Ruby...


Rakyat Ruby adalah aset paling penting kerajaan ini, mereka adalah jantung, tulang, otot, darah, dan segala hal yang membuat tubuh tetap hidup, sementara pemerintah hanyalah otak yang tidak kalah pentingnya juga... ada alasan mengapa orang yang ditembak dikepalanya langsung mati bukan?


"Bukan itu maksudku, aku sedang berpikir bahwa arah tujuan sang Raja Hohenzollern itu akan membawa negerinya ke ambang kehancuran,"


Kembali ke Tsar Nicholas II, Kaisar terakhir Rusia itu. Alasan ia berperang melawan Jepang adalah kemungkinan besarnya untuk pengalihan publik yang mana kala itu sedang kacau balau


Sedikit yang ia tahu bahwa Jepang pada masa itu, berbanding terbalik dengan Rusia mereka sedang berada di masa menuju kejayaannya. Jepang melakukan militerisasi besar-besaran sehingga mereka bisa menghadapi Rusia yang kala itu memiliki jumlah personil terbanyak di dunia


Terbanyak sih terbanyak, tapi Rusia tidak memiliki metode untuk menggerakan pasukannya dengan cepat


Seperti yang kita tahu bahwa Jepang mengalahkan Rusia di perang ini dan untuk pertama kalinya sejak Ottoman Turki, bangsa Asia memenangkan perang melawan Eropa


"Baiklah, kalau begitu aku akan menuju kembali ke pulau Ruby, hmm.... bagaimana kalau kamu ikut, Yuuna?"


"Eh? Kenapa aku harus ikut?"


"Menteri macam apa yang belum pernah ke ibukota, kamu akan menambah semangat orang-orang disana hanya dengan kehadiranmu,"


"Eh..."


.


"Demam patriotisme telah menyebar ke seluruh negeri, tuanku, dalam beberapa hari kedepan anda akan mendapat pasukan terbanyak di seluruh benua,"


"Hahaha... lama tidak berjumpa, Hans von Habsburg,"


"Yang mulia..."


Kami berjabat tangan dan berpelukan layaknya sahabat, itu karena kami memang adalah sahabat sejak kecil.


Habsburg adalah keluarga pertama yang melayani Kerajaan Brandenburg sebelum kini menjadi Hohenzollern, oleh sebab itu aku mengenal Hans dengan baik. Dia kini merupakan kepala keluarga Habsburg yang menjadikannya Jenderal dari pasukan Hohenzollern


"Saya hanya bertanya, mengapa kita memilih untuk menyerang Ruby? Dengan pasukan ini kita bisa melakukan ekspansi ke Utara dengan mudah," tanya dia


Yah... selama ini dia kutugasi untuk memimpin pasukan menjaga perbatasan di Utara jadi mungkin dia ingin memajukan posnya atau semacam itu?


"Tidak, baik Russky maupun Franca keadaan internal keduanya masih terbilang baik-baik saja dibandingkan dengan kerajaan di pulau itu."


Kita tahu bahwa Edelfield, negeri yang mengimpor banyak senjata itu sudah hancur, itu artinya pulau itu sedang menyembuhkan dirinya dari dampak peperangan, sebuah mangsa yang mudah


"Baiklah jika itu yang anda katakan, perang adalah perang, aku tetap akan senang melakukannya dimanapun itu berada,"


200 kapal, masing-masing 150 prajurit dan 50 awak untuk menjalankannya, total aku membawa 40.000 orang menuju ke pulau itu. Sebuah armada terbesar yang pernah manusia bentuk, dan sebuah pasukan terbesar di Benua Barat saat ini


Semua hal tadi hanya untuk menaklukan sebuah pulau tanpa sumber daya apapun? Tidak, itu salah


Hal ini kulakukan demi membangkitkan nama Hohenzollern yang kian mulai dilupakan sejak ayahku sakit-sakitan, kami akan mencapai tempat di matahari!

__ADS_1


.


Badai mendatangi kami dan kehancuran pun tak terelakan


"Tahan talinya kuat-kuat! Tiangnya bisa putus jika layar itu terus tertiup angin kencang! Seseorang naiklah dan jadilah pahlawan dengan menutup layar itu!" Perintahku


Ya, kami masih belum berpengalaman di bidang kelautan, faktanya tidak ada satupun kerajaan manusia yang menguasai perang di laut


"Jangan lepaskan meski kau ikut melayang!"


"Tarik!"


Aku melihat ombak besar yang kian menerjang armada kami, menenggelamkan entah berapa kapal Hohenzollern bersama seluruh awaknya


Kami menyelamatkan yang bisa meraih tangan kami, karena bahkan diri kami sendiripun aku ragu bisa kami selamatkan


"Raja! Tiangnya sudah tidak kuat menahan angin!"


"Berpegangan pada sesuatu!"


Tiang itu roboh dan membuat kapalku terbawa ombak, menabrak kapal lainnya dan hancur bersama dengannya


Kami semua kini terombang-ambing oleh ombak laut yang bukannya makin tenang malah kian membesar dan menjadi lebih liar lagi


Entahlah tapi kehilangan Raja sekali lagi pasti akan membuat semua yang kubangun selama ini sia-sia, negeri tetangga dipastikan akan segera menyerang kami, Hohenzollern akan runtuh bila aku mati disini


"Raih tanganku!"


"B-Baginda?"


"Raih tanganku dan raih tangan rekanmu yang lain, lalu suruh ia untuk melakukan hal yang sama denganmu! Dengan begitu kita bisa melawan ombak ini bersama!"


Meski begitu mari pikirkan situasi kita saat ini dulu saja, aku harus bisa menyelamatkan diri dan menyelamatkan prajuritku yang masih mampu diselamatkan


"Baginda!" Sebuah keajaiban muncul


Kami menaiki tangga tali yang mereka turunkan, kami bisa hidup untuk sehari lagi...


Tapi tidak semuanya seberuntung diriku dan awak kapalku, di badai ini aku kehilangan seratus kapal dan 17.000 prajurit begitu saja. Sial, separuh pasukanku mati bukan di medan tempur, sungguh memalukan


Tidak kusangka kami akan kehilangan begitu banyak hanya dalam satu kecelakaan


Sialan....


Aku.... Sial.... Aku....


"Jangan melamun terus Fred, sup mu dingin,"


Ah...


Aku sedang duduk diatas lantai didalam kabin milik Hans, dengan selimut tebal untuk menghangatkan badanku yang dingin karena basah kuyup sebelumnya. Aku juga sedang memegang cangkir besi berisikan sup yang encer ini


Hans duduk disebelahku setelah menyadarkanku tadi, dia juga sedang menyantap sup hangat yang tidak enak sama sekali itu


"Enak atau tidak pastinya ini memberimu sedikit energi dan yang penting adalah menghangatkanmu, terutama karena badai tadi," katanya


Dia benar, badai itu sudah berlalu untuk beberapa saat sekarang, namun itu tidak membuatku berhenti menyalahkan diriku karena tidak mempersiapkan semua hal dengan matang sebelumnya


Anggap saja kapal kami lebih berkualitas, mungkim bencana semacam tadi bisa berkurang korbannya


"Apa kamu masih menyalahkan dirimu karena badai tadi? Ayolah kawan, bencana alam tidak bisa kendalikan," hibur dia


"Tapi setidaknya aku bisa mengantisipasi itu dan membangun kapal yang lebih baik,"


"Yah jika gelombang setinggi belasan meter menerjang maka tidak ada kapal yang bisa menahannya juga," hibur dia lagi


Dia memang benar.... tapi...

__ADS_1


"Hei, bahkan seorang Raja tidak bisa melawan kuasa Dewa, bukankah ayahmu sendiri yang mengatakan itu?"


Lagi-lagi dia benar.


Ayahku adalah sosok yang mempersatukan negeri-negeri yang dijuluki "Perbatasan" oleh Franca dan Russky, dia adalah orang hebat karena dapat melakukan itu, namun dirinya juga tidak sombong layaknya Raja yang lain


Dia selalu berkata bahwa ada hal yang tidak bisa kami manusia capai meski dengan seluruh kemampuan kami, bahkan seorang Raja tidak bisa melawan kehendak Dewa ujarnya


Karena sifat inilah dia dicintai oleh rakyat Hohenzollern, dia meninggalkan sebuah negeri yang stabil untuk ku meski kemakmurannya mulai menurun.


"Ngomong-ngomong soal kehendak Dewa, malam sebelumnya aku bermimpi buruk," kata Hans


"Mimpi seperti apa? Kupikir kamu tidak mempercayai ramalan?"


"Memang aku tidak, tapi karena terlalu sering mendengarnya jadi aku ingat apa arti sebuah mimpi itu," jawab Hans


"Aku bermimpi tentang pohon rosemari yang tumbuh di halaman rumahku," lanjutnya


Rosemari.... tumbuhan itu biasanya tumbuh di area kuburan... itu sungguh mimpi yang buruk


"Jika kehendak Dewa adalah kematianku maka kuharap aku mati dengan layak," kata dia


"Ketika kamu mati, setidaknya bawa ribuan musuh Hohenzollern bersamamu ke neraka,"


"Haha! Siapa juga yang mau ke neraka,"


Aku menyantap sup hambar ini untuk mengisi perut dan menghangatkan tubuhku, perjalanan kami pun berlanjut, menuju ke pulau sialan itu.


Selain karena itu target mudah, kemenangan ini kuperoleh untuk memperlihatkan kepada kerajaan-kerajaan di Benua Barat, Hohenzollern bukanlah negeri satu generasi. Kami akan terus berjaya selama ribuan tahun dengan keturunanku sebagai pemimpin.


Dua hari setelah badai, ketika aku berada di sisi kapal, sebuah seruan menarik perhatian kami semua


"Itu sebuah pulau!"


Dengan segera semua orang di seluruh kapal Hohenzollern yang berlayar menuju ke depan untuk melihatnya, melihat penantian seminggu yang telah kami lalui dengan susah payah dan penuh kehilangan


Aku melihatnya lebih dekat dari siapapun, itu karena aku menggunakan alat yang disebut sebagai teropong ini


"Itu adalah Edelfield," kataku pada Hans disampingku


"Bagaimana kamu tahu?" Tanya dia


"Menara kembar di pintu masuk pelabuhan, sesuai dengan yang dijelaskan oleh para pedagang bukan?" Aku memberinya teropong itu


Dia menggunakannya mengikutiku sebelumnya


"Dua menara itu benar.... tapi alat ini, bukankah ini sebuah inovasi?" Dia malah tertarik dengan itu...


Dasar dia ini....


"Semua naik keatas dek! Pertempuran menanti didepan mata!" Seru ku


Seluruh kapal kami mendadak menjadi sibuk, para prajurit menggunakan armor mereka dan mengambil senjata, layar kapal dibuka untuk kecepatan penuh, semuanya untuk memulai invasi Hohenzollern ke pulau itu


Namun ditengah kesibukan itu, kulihat Hans terus menerus melihat kearah Edelfield dengan teropong yang kupinjamkan tadi


"Hans?"


"Kita sungguh akan mendarat di pelabuhan mereka?" Dia bertanya hal yang wajar untuk ditanyakan


Itu mungkin karena rencana ini terdengar bodoh...


Kami sudah berada di laut selama seminggu, seharusnya kami mendarat di pesisir kosong dan mendirikan perkemahan disana untuk beristirahat, menyerang dengan pasukan yang lelah bukanlah rencana yang bagus


Namun kulakukan ini untuk mendapatkan elemen kejut, soalnya pasukan musuh tidak jauh berbeda dengan kami, mereka masih kelelahan akan perang yang berangsur-angsur di pulau itu sebelumnya


"Persiapkan dirimu, Hans," jawabku padanya

__ADS_1


__ADS_2