
Ah.... Kenapa tiba-tiba ketiga kakek tua itu meminta untuk pensiun? Kenapa harus di saat seperti ini?!
"Aku sudah menilai kemampuan anda, dan kesimpulan kami adalah anda sangat layak untuk memimpin militer Ruby, dan maka tugas kami sudah selesai," begitu kata Maximilian
Sialan, entah maksudnya baik atau tidak tapi jika memang baik maka tidak seharusnya dia melakukan itu di saat seperti ini
Morale sedang tinggi-tingginya malah dibuat turun lagi karena kepergian mereka para pemimpin lama, dengan kata lain aku harus bekerja lebih keras lagi dan mencari pengganti penyemangat seperti mereka
Setidaknya Percival masih ada bersamaku disini, dia kini sungguh sudah menjadi tangan kanan ku.
Aku mengantar kepergian Kyouka yang akan segera kembali ke ibukota, soalnya ia adalah Ratu dan seorang Ratu punya banyak hal yang harus dipikirkan kecuali perang yang terus berlarut ini. Aku memahaminya karena diriku sendiri pernah ada di posisi itu
"Kalau butuh bantuanku lagi, gunakan sihir komunikasi seperti sebelumnya saja, itu sangatlah praktis seperti telepon," kata Kyouka diatas kudanya
"Ya, akan kukabari sekitar sebulan lagi,"
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa sebulan lagi," katanya sembari melambaikan tangan
Lalu ia pergi bersama seratus penjaga istananya, menuju ke dalam hutan ke ibukota Ruby
Sebulan adalah waktu perkiraanku untuk sampai ke ibukota Ladenvield di ujung Selatan pulau, itu sudah termasuk halangan apa saja yang mungkin terjadi di jalan jadi bisa lebih cepat namun kecil kemungkinannya untuk lebih lambat
Tapi mengepung sebuah kota kah.... baik di game maupun dalam sejarah, pengepungan akan memakan waktu lama dan hanya sedikit taktik yang dapat mengubah itu, jadi pihak bertahan harusnya sangatlah siap karena hanya ada beberapa hal saja yang dapat lawan lakukan
Di game Old World dulu, aku dapat mengakali itu dengan cara memancing keluar pasukan musuh dari dalam kota, caranya sangatlah mudah.... cukup kirimkan pasukan dengan jumlah yang lebih sedikit ketimbang pasukan bertahan lawan
Maka mereka akan keluar dengan sendirinya dan melawanku di lahan terbuka, tanpa keuntungan besar mereka bernama "Dinding Kota" itu
Tapi tentu ada resikonya, soalnya aku memiliki jumlah yang lebih sedikit. Haha.... itu mungkin terdengar seperti kerugian namun setelah melihat pertempuranku barusan, kurasa perbedaan jumlah bukanlah masalah bukan?
"Nona, pasukan sudah siap untuk digerakan,"
"Yosh, langsung saja,"
'Aku tak menyangka bahwa diriku akan bekerja sama dengan orang lain, apalagi ras lain,'
'Bagaimanapun kurasa kita akan jadi tim yang bagus,'
'Mari selesaikan perang kuno ini,'
'Ke dunia lain!'
Sayangnya kebersamaan singkat itu harus segera berakhir
'Awas!'
'Sial, musuh sangatlah kuat, tapi mungkin kalau kita bersama maka-'
Satu persatu rekan ku terbunuh, oleh kekuatan yang terasa sangat asing bagiku meski itu adalah sihir
'Fritz! Gerbangnya kembali terbuka, kita harus segera kembali!'
'Arggh!'
'Selamatkan aku!'
'Tidak!'
__ADS_1
Seruan-seruan itu.... sangatlah menyakitkan hanya untuk didengar
'Fritz! Cepatlah!'
Aku bangun dari tidur panjangku, itu karena mimpi buruk barusan
"Dewi, silahkan membasuh diri anda di kolam spirit,"
Gadis ini.... dia adalah pelayanku, namanya Elisa, seorang Elf dari tingkat kelima. Dia sudah melayaniku sejak konflik dengan Dark Elf di tanah benua baru dimulai, itu sudah cukup lama.
Kami adalah bangsa Elf, sosok paling suci dan dicintai Kelfia karena kebijaksanaan dan tradisi kami. Atau begitu setidaknya yang kami percaya dan ajarkan kepada generasi muda
Faktanya Elf adalah bangsa sombong yang berani merusak perjanjian hanya karena suatu saat setelahnya kami menilai bangsa lain itu tidak layak, sebuah alasan yang sangat tidak masuk akal
Aku seorang Elf, lahir dari keluarga tingkat kelima dan di awal kehidupanku aku tidak lebih dari sekedar gadis desa yang polos. Tapi sekarang aku dianggap sebagai Dewi bangsa terbesar di Kelfia semenjak jatuhnya Ras Iblis
Bukan melalui karir politik maupun militer, namun karena peristiwa besar hampir seratus tahun yang lalu, peristiwa yang terjadi di mimpi ku.
"Dewi, Raja-Raja dan Ratu-Ratu Elf berdatangan dari seluruh wilayah, mereka ingin membahas soal ekspansi pengaruh bangsa Elf di benua baru," kata Elisa
Saat ini aku sedang berendam di kolam spirit ini yang mana sesuai namanya dibuat oleh roh kuat sebagai hadiah untuk kami bangsa Elf. Mereka mungkin memang kuat, tapi tentu masih ada roh yang lebih kuat lagi
Dan roh tersebut tidak pernah memberi kami hadiah atau semacamnya, karena kurasa mereka tahu sifat asli kami sebenarnya.
Mereka disebut roh agung, dalam buku sejarah dikatakan bahwa roh agung merupakan sosok penjaga suatu area yang sungguh-sungguh mereka cintai, dan tidak satupun dari mereka ada di hutan-hutan besar Elf
Alasannya tidak diketahui, itulah yang membuatku sedikit takut. Karena sebenarnya kami tidak mengetahui apapun soal dunia ini, namun kami tetap sombong dihadapan ras lain
Kami bukanlah bangsa yang mengakhiri perang abadi, tapi kini kami menganggap remeh bangsa yang melakukannya
Andaikan kami tidak pernah berpaling dari Dwarf dulu, mungkin tidak akan pernah ada perang abadi....
Aku berjalan menuju ruangan yang disebut Aula Raja dan Ratu Elves, dimana pintunya saja terbuat dari kayu berwarna keemasan yang diukir gambar sejarah Elf meliputi perang besar, perang abadi, dan tentunya paska perang abadi
Selalu berperang huh? Aku setuju, sejarah kami memang selalu diwarnai dengan merah darah
"Dewi telah sampai!"
Pintu aula sisi ini yang dikhususkan untuk ku akhirnya terbuka, menampilkan kemegahan arsitektur ruangan Elf yang elegan dan juga indah di sisi lain
Ruangan besar ini diisi dengan satu karpet merah halus di tengahnya di bawah meja besar yang terbuat dari kayu pohon raksasa yang tumbuh ratusan tahun sekali di hutan Pyrwood di Timur, kayu itu dibentuk sedemikian rupa lalu dihaluskan sehingga nyaman untuk dijadikan meja
Tidak, kami tidak menebang kayu itu seperti ras lain. Kami dengan sopan meminta pohon raksasa itu untuk memberikan nyawanya agar kami dapat mengambil kayunya. Dalam hitungan jam, pohon itu mati namun tubuhnya tetap bagus
Jadi kalau disingkat, kami mengutuk pohon itu supaya mati dan kami ambil setelahnya....
Jangan katakan ini didepan seorang Elf, dia akan mengutukmu juga
Meja ini memang sangat bagus, tapi mereka bilang bahwa meja terbaik harus digunakan oleh sosok terbaik. Dan sosok-sosok yang duduk disekitaran meja itu adalah para Raja dan Ratu Elf dari seluruh penjuru wilayah
Mereka semua berdiri dan melihat kearahku, meski begitu pun tak satupun dari mereka yang berani memandang rendahku meski dulunya aku adalah tingkat kelima
"Selamat datang di Aula, Raja dan Ratu Elves sekalian. Silahkan duduk dan buat diri kalian senyaman mungkin," kataku dengan sopan
Sekarang acaranya akan dimulai....
Pertemuan ini diadakan secara khusus untuk membahas soal ekspansi pengaruh Elf di Kelfia sesuai yang Elisa katakan, namun terdapat beberapa jalan yang dapat kami ambil
__ADS_1
Yang paling populer tentu bukan diplomasi, melainkan ekspansi militer
Elf memiliki kekuatan tempur setara dengan Dragon maupun Seraphim, itu karena ilmu pengetahuan sihir kami lebih maju dari seluruh ras diatas Kelfia. Tapi kalau soal kapasitas mana, masih ada Dragon dan Seraphim didepan kami
Kalau soal teknologi sihir, Dwarf lah pemimpinnya. Mereka juga adalah bangsa yang setara dengan kami baik soal kekuatan maupun pengaruh, namun tentu tidak seorang Elf pun mengakui hal itu
"Kita harus mengusir Dark Elf dari benua baru, hanya dengan begitu maka pengaruh kita disana dapat tersebar lebih cepat,"
"Anda adalah Raja wilayah Selatan, alasan anda menggagaskan hal itu adalah atas dasar keuntungan anda sendiri,"
"Benar! Di Barat, Dwarf mulai menimbun pasukan kembali untuk menggempur wilayah kita,"
Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika seorang Raja bijak Elf di perbatasan Dwarf meninggal, anaknya menggantikan beliau menjadi Raja selanjutnya. Dia tidak sebijak ayahnya yang membiarkan pedagang Dwarf memasuki wilayahnya
Ia membantai seluruh pedagang Dwarf yang ada di hari pengangkatannya menjadi Raja, membuat opini mereka menurun drastis.
Tapi tak sampai situ saja, dia juga mengumpulkan pasukan Elf dari negerinya dan negeri Elf tetangganya, lalu menyerang kerajaan Dwarf di perbatasan
Namun karena penyerangan ini dilakukan oleh sepihak dan tanpa persetujuan Aula Raja dan Ratu Elves ini, hal itu hanya dianggap sebagai "ekspedisi" oleh kami, sama halnya dengan ekspedisi ke benua baru
Oleh bangsa Dwarf juga hal ini dinamai sebagai "konflik perbatasan" dan pada akhirnya tidak menyulut perang besar-besaran seperti dahulu
Raja muda Elf itu mati beserta seluruh pasukannya di tanah Dwarf, tubuhnya dikirimkan kembali ke wilayahnya sebagai tanda bahwa Dwarf bukan yang menginginkan perang
Tapi sejak saat itu malah lebih sering terjadi pertempuran kecil di perbatasan yang tidak pernah diakui kebenarannya karena mereka memiliki alasan-alasan sendiri
Kedua ras pun tidak pernah membawa masalah ini ke perbincangan di pertemuan para pemimpin mereka
Sepertinya kami masih sama-sama tahu bahwa masih ada kekuatan besar yang bisa sewaktu-waktu menghancurkan kami, dan itu datang dari ras manusia
"Mereka yang merayap diatas tanah kematian, memiliki kekuatan yang melampaui mereka yang terbang di langit kebebasan,"
Setelah perang abadi, kalimat ini keluar dari mulut Elf dan Dwarf sebagai pengingat untuk tidak pernah lagi mengganggu manusia
Tapi setelah dua ribu tahun lamanya, nampak seperti makna kalimat itu mulai pudar....
"Bagaimana dengan para manusia?"
"Apa yang ingin anda katakan, Ratu Orlesy?"
"Kupikir anda mengetahuinya, Raja Ultheas. Manusia sudah menguasai empat benua, meski mereka berumur pendek namun mereka berhasil menaklukan hampir keempatnya secara total layaknya parasit,"
"Anda ingin berkata bahwa kita perlu membendung ekspansi mereka?" Tanya Ratu Yuderia
Ratu Orlesy mengangguk menanggapi pertanyaan Ratu Yuderia
"Apa anda lupa bahwa mereka yang menghentikan perang abadi dulu? Mereka mereset ulang cara menggunakan sihir sehingga seluruh kemampuan kita dan mesin perang Dwarf saat itu tidak bisa digunakan,"
"Benar, perlu setidaknya ratusan tahun bagi kita untuk mempelajari cara mengeluarkan mana, dan hingga saat ini pun kekuatan kita belum sebanding dengan dulu,"
Beberapa Raja dan Ratu lainnya mulai menolak keinginan Ratu Orlesy, tapi ada juga yang setuju
"Jika mereka lah yang menghentikan perang, maka seharusnya mereka memiliki kemampuan untuk sebanding dengan ras lainnya, nyatanya mereka adalah bangsa terbelakang dan saling berperang akan sesamanya,"
Kalau disuruh memilih, aku sebenarnya tidak menginginkan perang terutama dengan manusia, karena aku memiliki seorang teman lama disana. Entah dia masih hidup atau tidak aku tak mengetahuinya
Akan tetapi kehadiranku disini bukanlah untuk berpendapat seperti yang lain, melainkan hanya sebatas pengamat dan tuan rumah
__ADS_1
Jadi mari kita dengarkan saja apa yang akan dilakukan para Raja dan Ratu Elf ini.