
Aku benar-benar geram dengan Prima Causa sialan itu, bahkan jika akhirnya aku dilahirkan kembali ke dunia fantasi, itu membuat pekerjaanku yang sebelumnya jadi terbuang sia-sia, ini sudah yang ketiga kali
Mengutuknya tidaklah berguna, jadi aku akan fokus dengan yang ada disini dulu
Aku dilahirkan sebagai anak perempuan biasa, ya.... lagi-lagi seorang perempuan. Di sebuah suku pedalaman kecil bernama Afiel, namaku sendiri adalah Rune. Saat ini hanya itu yang ku tahu
Kami hidup dengan damai meski teknologi kami masihlah terlampau sangat jauh bahkan dari klan Hojo, mungkin sekitar 1000 tahun kebelakang. Apapun itu aku cukup bahagia dengan masa kecilku yang hidup dibawah atap jerami
Saat aku berada di usia tujuh tahun, aku bertemu teman masa kecilku bernama Lofi, dia Kyouka.... beruntung bagiku karena dia juga dilahirkan di suku Afiel ini
Kami bermain bersama tiap harinya, atau itu yang para warga desa Afiel ketahui. Yang benar adalah kami hanya mengobrol dan mencoba menikmati kedamaian ini selagi masih menjadi anak-anak
"Dan disinilah aku sang kaisar Yamato, hidup sederhana layaknya rakyat biasa," kataku
"Sekarang kita memang hanya rakyat biasa, kejayaan di masa lalu seolah lenyap dalam hitungan detik," Kyouka menambah
"Beberapa detik memang waktu yang cukup bagi Dewa itu untuk menghancurkan dunia, sejak awal dia yang membuatnya sih," aku berbaring diatas rumput hijau diatas bukit ini
Tapi meski begitu, bukankah agak aneh saja? Soalnya aku yang berusaha mati-matian untuk menguasai dunia agar dapat menjadi sepertinya, digagalkan berkali-kali seperti ini
Siapa yang tidak kesal?
Kyouka disebelahku merangkai mahkota dari bunga yang sepanjang jalan dia petik, aku sendiri lebih tertarik dengan tanaman bercahaya ini yang sedang kupengang
Aku tidak pernah melihat ini di dunia sebelumnya maupun sebelumnya lagi, ketika aku membawanya keatas sini dimana cahaya sangat melimpah, itu tidak memancarkan cahayanya lagi, tapi ketika di tempat gelap itu menyala berwarna biru
Hanya dengan tanaman ini saja aku bisa percaya kalau ini benar dunia fantasi seperti dalam mimpiku itu
"Jadi! Ryuu, coba pakai ini,"
"Eh? Kenapa tidak kamu yang pakai? Kan kamu yang buat,"
"Kalau aku yang pakai, aku tidak bisa melihatnya," jawab Kyouka
"B-baiklah,"
Aku memakainya, aku tidak tahu lagi seperti apa wajahku saat ini
"Wah imutnya! Eh? Kenapa wajahmu memerah Ryuu?"
"Tentu saja bukan!? Aku malu memakai hal ini-"
Malu? huh? Bukankah rasa kemanusiaan satu itu sudah hilang ketika kita bereinkarnasi?
Atau jangan-jangan...
"Dewa aku ingin menggunakan kesempatan pertamaku!"
"Eh?" Kyouka sedikit kaget
Suara desiran angin menghilang begitu pula dengan warna dunia ini menyisakan hitam dan putih semata, itu pertanda Dewa muncul
"Aku mendengarkan,"
"Apa kamu mengembalikan sifat kemanusiaan kami?" Tanyaku
"Kamu cukup cermat, tapi sejak awal aku tidak menghapus sifat kemanusiaan kalian," huh? apa coba maksudnya? jelas-jelas aku tidak merasa-
"**Kalian dapat merasakan malu, kasihan, cinta, atau bahkan benci kepada sesama kalian manusia, tapi hanya sebatas kalian yang terkirim saja. Itu karena kalian menganggap manusia di dunia ini sebagai alat, namun kamu menanggap Lofi sebagai teman
Kelak kamu akan merasakan perbedaannya, kelak ketika kamu menganggap seseorang dari dunia ini sebagai teman bukannya alat**,"
Itu mengakhiri penjelasannya, dia menghilang dan semuanya kembali berjalan seperti semula
Aku mengerti apa yang Dewa katakan, tapi aku belum paham betul maksudnya? Apa benar selama ini aku hanya memperlakukan mereka sebagai alat?
"Benar juga Ryuu, aku sebenarnya juga meragukan jawabanmu sebelumnya, ketika aku bersama Sayaka dulu di sekolah Asagi, aku dapat merasa bahagia dan malu,"
"Jadi benar ya.... soalnya sudah lama sejak aku punya teman,"
Kalau diingat lagi memang saat bersama Kaguya maupun Victoria dan kru kapalku sebelumnya aku dapat merasakan hal-hal itu, tapi berarti kalau aku menganggap seseorang sebagai alat maka aku dapat membunuhnya tanpa belas kasihan begitu?
Hah.... tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang
__ADS_1
"Itu mereka!"
"Wah! mereka sungguh berada disini,"
Tiga anak yang seumuran kami dari desa Afiel datang, dua diantaranya laki-laki dan satunya perempuan yang pemalu dan penakut
"Kenapa kalian berdua selalu bermain sendiri? Tidak seperti Emily yang selalu bersama kami,"
"Kami hanya mencoba menikmati hidup dengan damai sejenak," jawab Kyouka
Sementara aku mencoba tidur dengan mahkota bunga masih berada diatas kepalaku
"Woah! Harold, Rune tampak cantik menggunakan mahkota itu,"
"I-iya, aku sadar..."
Hmm? Kenapa dia memalingkan wajahnya? Lalu dia semerah tomat- Eh!? Apa dia suka padaku!?
Tidak-tidak-tidak, tidak boleh! Membayangkannya saja membuatku ngeri
Kyouka mengambil mahkota bunga itu dari kepalaku, dia memakainya untuk dirinya sendiri
"Bagaimana? Apa aku juga terlihat cantik?"
"Ya, kamu cocok memakai mahkota," jawabku
"Itu benar! Berbeda jauh dengan Rune, kamu nampak sangat cocok memakainya," Apakah itu penghinaan?
Dasar bocah tengik
"Emily mau coba juga?" Kyouka melepasnya dan menawarkan pada Emily yang tidak berkata satu katapun
"Eh? Eh? A-aku...." dia benar-benar pemalu
Malam itu ada sebuah acara ibadat di desa kami, nampaknya acara ini untuk menghormati roh agung yang menjaga hutan ini, meminta agar kami terus dilindungi dan mendapat bahan buruan yang cukup
Semuanya harus ikut dalam pemujaan, tanpa terkecuali aku dan anak-anak lainnya
Disini aku mencoba memperhatikan apa yang tetua desa coba lakukan, dia tadi merapal mantra yang kurasa adalah sihir namun sampai sekarang belum selesai juga...
Ngomong-ngomong sambil menunggu, desa Afiel ini rasanya mirip seperti desa di Jerman pada masa Romawi dulu. Hidup sederhana di dalam hutan dan menyatu dengan alam
Apa kami akan bernasib sama itu tidak kuketahui
Lalu tentang Kyouka, dia memiliki wajah mirip seperti kehidupan sebelumnya, entah aku juga begitu atau tidak namun rambut dan kulitku mengatakan iya
Tiba-tiba tetua itu terpental sedikit ke belakang dan hembusan angin kuat sangat terasa untuk kami para warga desa, aku kagum karena Kyouka masih dapat tertidur pulas...
Akan tetapi bukan itu saja, muncul cahaya dari pohon sakral yang kami doakan ini, cahaya itu berupa serpihan-serpihan seperti kelopak bunga yang terbang tertiup angin
Serpihan cahaya itu akhirnya masuk kedalam tubuh Kyouka, kuyakin tidak bermaksud buruk bukan?
Nampaknya hanya aku yang dapat melihat cahaya itu selain tetua, dia sangat kaget dengan hal ini namun memutuskan untuk melanjutkan ritualnya sampai selesai
"Hei Lofi mau sampai kapan kamu tidur?" Aku mencoba membangunkannya setelah ritualnya berakhir
"Hehe.... eh? Ryuu?"
"Panggil aku Rune bodoh, setidaknya ketika ada orang lain,"
Dia mengusap matanya dan menguap, dasar.... lagipula kemana orang tuanya sih?
Orang tuaku ada didekatku tadi, kini kubilang akan membangunkan Kyouka dulu jadi mereka sudah pulang duluan, tapi kurasa dari tadi Kyouka duduk sendirian
"Lofi, ada hal yang perlu kukatakan padamu," Tetua!?
"Tetua? Ada apa?"
"Sepertinya, kamu memiliki bakat sihir yang besar,"
Esok harinya, aku dan Kyouka pergi lagi ke bukit, namun bukit yang berbeda. Kali ini aku hanya ingin bereksperimen saja, soalnya tetua bilang kalau kapasitas mana Kyouka sangat besar
Tidak di bukit sebelumnya karena nanti anak-anak itu bisa datang dan melihat kekuatan kami, aku sih tidak mau hal itu terjadi
__ADS_1
"Coba gunakan sihirmu Kyouka,"
"Aku mau saja, tapi bagaimana caranya menggunakan sihir?" benar juga
Apa perlu kami tanyakan pada Dewa? kurasa itu akan buang-buang kesempatan, toh kami punya banyak waktu hari ini untuk bereksperimen
"Hmm... coba kupikir, kenapa tidak mencoba merapalnya seperti yang ada di film-film saja,"
"E-eh? Seperti gadis sihir?" w-wah, aku bahkan tidak membayangkan itu
"Ya, cobalah!" Tapi menarik untuk dilihat bukan?
Aku memberi jarak dengan Kyouka, siapa tahu dia ingin merapal sihir area. Bersandar di sebuah pohon aku berada, melihat Kyouka yang ada didepan sana sedang terus merapal
"Fire Ball!"
Dari telapak tangannya aku melihat cahaya merah yang kian membesar dengan cepat, lalu muncul bola api yang langsung mengarah kemari. Gawat....
"Woah!" aku beruntung dapat menghindarinya
Bola api itu meledak ketika menyentuh pohon tempat aku bersandar, efeknya juga membakar pohon itu hingga benar-benar hangus. Sangat mengerikan ya sihir ini....
Mengetahui hal itu, aku ingin mencoba sesuatu
Kalau benar maka tidak perlu merapal segala
Tapi apa sebenarnya sihir yang kuinginkan? Aku cukup dengan sebuah sihir yang praktis dan selalu dibutuhkan contohnya jika aku butuh pedang. Namun aku juga ingin sihir seperti fireball milik Kyouka, apa itu terlalu serakah?
Aku memang serakah sih, kalau tidak maka aku tidak akan mau menguasai dunia
Menciptakan kah? Hmm... menciptakan.... penciptaan....
Baiklah coba pertama-tama...
Sihir Penciptaan: Pedang kayu!
Wah! Ada cahaya muncul dari genggaman tanganku!
Itu benar sebuah pedang kayu yang muncul, persis seperti yang kupikirkan. Lantas ini menjawab pertanyaan soal bagaimana cara menggunakan sihir
"Huh? Kenapa kamu tidak merapal?" e-eh....
"I-itu karena-"
"Kamu menipuku kan? Kamu ingin aku menahan rasa malu ketika merapal sihir kan!?"
"Tidak-tidak, aku juga baru mengerti barusan,"
Wajahnya tidak nampak ingin percaya padaku sedikitpun, bagaimana ini?
"Lalu sihir apa itu?" Tanya Kyouka
"Entahlah, aku hanya membuat pedang ini di pikiranku lalu mencoba mewujudkannya di dunia nyata," jawabku sembari mengayunkan pedang itu kesana kemari
Oh benar juga! Aku ingin mencoba hal satunya
Aku menaruh pedang itu diatas tanah dan kembali memfokuskan pikiranku lagi, kali ini aku ingin coba membuat fireball seperti Kyouka
Sihir Penciptaan: Membuat Sihir Api: Fireball-
*cough*
Aku membuka mataku lagi karena kurasa rapalannya gagal didalam kepalaku ketika aku batuk, tapi aku malah dibuat heran dengan tatapan Kyouka padaku
"Ryuu, dari mulutmu.... keluar darah...."
Eh?
Kepalaku sangat pusing, rasanya seperti mau pingsan....
"Ryuu!"
Hal terakhir yang kulihat adalah Kyouka yang berusaha menggapaiku, setelah itu entah ada apa
__ADS_1