The Sended

The Sended
Chapter 2: Desire that made this World on Fire


__ADS_3

Yang semula aku melayang beberapa centimeter di udara, kini aku terjatuh secara perlahan kembali keatas tanah namun di tempat yang berbeda. Selama beberapa saat aku membeku ti tempat, aku masih tidak percaya kalau ini nyata


Sang Dewa memindahkan Archen ke sebuah jalan dinana di samping kanan dan kirinya terdapat lahan pertanian gandum yang sangat luas, jalan ini agak sepi dengan hanya beberapa kereta kuda saja yang berlalu-lalang


Siapa yang tidak bingung pada situasi ini begitulah juga yang dialami Archen, barulah dia mengingat apa yang dirinya pikirkan beberapa saat yang lalu, soal menguasai dunia yang merupakan hobinya dalam game juga


"Ehem, mari kita nikmati dulu dunia fantasi ini,"


Ia berjalan menyusuri jalan ditengah lahan gandum yang luas itu, sembari berpikir atas fantasi yang ada pada mimpinya semalam yang kini menjadi kenyataan


"Ah! Mungkin itu sebuah pengelihatan ya?!" Katanya berbicara sendiri dengan semangat


Sebelumnya, dia bermimpi tentang dirinya yang dikerubungi banyak wanita cantik dari berbagai ras. Archen sangat berharap untuk dapat mewujudkannya disini, jadi dia ingin segera menemukan kota


Akan tetapi semakin lama dia berjalan, semakin luas pula ladang gandum di samping kanan dan kirinya. Dia mulai berjalan tidak beraturan karena sudah kehilangan semangat dan staminanya


"Bukankah seharusnya aku memiliki sebuah status yang kuat?! Apa-apaan stamina seorang neet ini?" dia mengutuk kastanya sendiri


sembari terus mengoceh, Archen melanjutkan jalannya, ia bahkan sudah tidak lagi menatap lurus ke depan karena sinar matahari membuat matanya sakit. dia melihat kearah kakinya, mencegah matanya terkena sinar matahari langsung


Tapi apapun yang dia lakukan saat ini tentu tidaklah cukup untuk menghilangkan panasnya matahari yang menjadi masalah utama bagi Archen. Sudah dua jam dirinya berjalan tanpa melihat objek selain gandum yang selalu menyertainya selama datang ke dunia ini


"Arggh!! Aku sudah muak! Ada apa dengab dunia fantasi ini?!"


ketika berteriak inilah Archen juga pada akhirnya kembali menatap kedepan, dan disana terdapat sebuah pos yang nampak seperti tempat istirahat. Oleh karena itu Archen berlari dan segera berteduh dibawah pos kecil disamping jalan tersebut


Napasnya sangat berat, keringatnya keluar deras dari sekujur tubuhnya, pandangannya menjadi buram akibat terkena sinar matahari terlalu lama. Benar-benar pengalaman pertama dan buruk baginya


Selama beberapa saat Archen duduk diam memikirkan apa yang dirinya rencanakan tadi, ia bahkan tidak sadar sama sekali bahwa ada sebuah kereta kuda yang berhenti didepan pos tersebut


Seorang pria paruh baya turun dari kereta itu, nampaknya dia adalah sendirian ingin mengantar beberapa hasil panen ke kota terdekat


"Anak muda, ini hari yang panas ya...."


Archen sontak terkejut karena sejak tadi dia masih melamun memikirkan masa depannya


"Y-ya...."


Kakek itu tertawa dan mengingat masa mudanya, dia mulai bercerita bahwa pada masa mudanya dulu dirinya sangat senang karena dapat menjadi seorang petanu di negara itu


Cuaca yang hangat membuat negara itu makmur dalam segala bidang. Semua pekerjaan menjadi lebih mudah sehingga banyak juga lowongan pekerjaan yang ada


"Dahulu menjadi petani bukanlah hal yang sulit, tetapi sekarang sudah lain lagi ceritanya,"


Archen terus menatapnya, mendengarkan ceritanya sembari memahami sebenarnya apa yang terjadi pada dunia fantasi ini


Negara bangkit dan hancur seperti halnya kastil pasir di tepi pantai. Setiap kali sebuah kekuatan berjaya, yang lain melihatnya dengan penuh iri dan menginginkan kejayaan ini untuk diri mereka sendiri

__ADS_1


Peperangan berkobar di seluruh dunia guna merampas kejayaan dan kemakmuran tersebut, yang menjadi target utama tentu adalah negara dengan tingkat kemakmuran tinggi seperti negara tempat Archen berada sekarang


Akibatnya perang sudah berlangsung selama 17 tahun lamanya dan akan terus ada hingga entah kapan, hingga manusia terakhir dikerahkan mungkin. Banyak sekali sumber daya yang terkuras untuk perang ini, memaksa para petani dan pekerjaan serupa untuk bekerja lebih keras dengan hasil yang jauh dari normal


"Tanpa mempertimbangkan kalau perang membuat udara menjadi terlalu panas untuk menanam sesuatu, banyak tumbuhan yang mengalami gagal panen dan mereka masih menuntut harga murah untuknya,"


Kakek itu bercerita sambil mengipasi dirinya sendiri menggunakan topi jerami yang ia pakai


"Meskipun pemerintah terus mengeluarkan surat kabar perihal kemenangan di banyak pertempuran, tapi semua orang tahu bahwa perang ini tidak dapat kami menangkan,"


Dan sepertinya apa yang kakek ini ceritakan memang benar adanya. Karena kemakmuran negara ini, ada 4 negara di 3 front yang berbeda ingin merebut kemakmuran itu


Negara ini membagi tiga pasukannya ke masing-masing front yang berbeda dan meski begitu mereka dapat bertahan selama 17 tahun ini


saat mendengar cerita itu, Archen punya ide


"Kek, biarkan aku membantumu,"


Archen hanya ingin menumpang untuk dapat pergi ke kota tanpa berjalan lagi, tapi dia tidak mau meminta bantuan begitu saja


"Baiklah anak muda, naiklah ke belakang,"


Mereka melanjutkan perjalanan ke tujuan yang sama dimana Archen tidak tahu sama sekali, tapi yang pasti adalah mereka sedang menuju kota


Perjalanan ke kota tujuan rupanya memakan banyak waktu menggunakan kereta kuda ini, sekitar 5 jam untuk sampai ke gerbang kota. Archen yang memang sangat kelelahan itu pun tertidur diatas jerami dibelakang kereta kuda, jadi sang kakek membangunkannya


"Hwahh....!"


Archen menguap dan dengan mata yang setengah terturup itu dia melihat ke depan. Nampak sebuah kota yang cukup besar sedang mereka tuju, ini adalah tujuan akhir kakek tersebut


"Baiklah anak muda, saatnya bekerja,"


"Ah sial....."


Pekerjaan yang menggunakan kekuatan sangat tidak cocok untuk Archen. Karena kemampuannya sama seperti pada dunia sebelumnya, dia tidak dapat melakukan pekerjaan berat. Mulutnya hanya asal berbicara untuk dapat tumpangan kesana


Namun apa yang dia tabur harus dia tuai, dengan susah payah dirinya mengangkat karung demi karung hasil panen kakek tersebut


"ah..... ini sangat berat...." kata Archen setelah hanya menurunkan dua karung


Sang kakek hanya tertawa, dia juga menjelaskan bahwa inilah perbedaannya masa muda dulu dengan Archen. Kakek itu bersikap sangat baik pada Archen seperti pada cucunya sendiri


Bahkan setelah selesai melakukan sedikit pekerjaan di kota, ia membayar Archen dengan beberapa lembar kertas bertuliskan angka 2 sebanyak lima lembar. Padahal bantuan Archen tidak berarti apapun


Setelah berterimakasih, Archen meminta pertolongan terakhir kepada sang kakek


"Tolong jelaskan mengenai kota ini," sebelum dia pergi

__ADS_1


Sang kakek tentunya cukup terkejut, karena rupanya jalan sebelumnya adalah jalan untuk menuju kota ini, jadi dia menyadari kalau Archen berjalan tanpa tujuan saat itu


Kakek itu berusaha menjelaskan sedetail mungkin


Kota ini bernama Riga, salah satu kota pesisir di Utara yang memiluki ekonomi cukup baik. Kakek itu sering menjual hasil panennya di kota ini karena disinilah harga terbaik yang dapat ia terima dari seluruh negeri


Archen dapat memahami perkataan kakek itu dengan mudah, dirinya segera berterimakasih untuk yang kedua kalinya sebelum bertanya lagi yang membuat sang kakek kali ini sangat terkejut mendengar pertantaannya


"Eto.... apa nama negara ini?


"A-anak muda, apa kamu kehilangan ingatanmu? Atau jangan-jangan panas matahari yang menghilangkannya?"


Namun Archen menatap kakek itu serius, dan melihatnya membuat Kakek tidak bertanya lebih jauh dan menjawab pertanyaan Archen


Germanica, sebuah negeri yang berada di tengah berdua dan diapit empat negara besar di segala mata angin, serta beberapa negara kecil lainnya. Lokasinya membuat cuaca disana tidak terlalu dingin, tetapi juga membuat negara sekitarnya iri


Faktanya dari semua tetangga Germanica, hanya satu yang tidak bergabung dalam aliansi untuk melawan Germanica


Pertama ada Francia di Barat, kerajaan tua yang berdiri kokoh selama ratusan tahun. Kedua ada Dacia di Utara, menghantui perbatasan Germanica. Yang ketiga adalah yang paling serius yakni Federasi Nonna di Timur


Mereka memiliki luas wilayah paling besar begitu juga dengan kekuatan militer berdasarkan personir, tapi negara itu belum stabil karena merupakan negara baru yang berdiri dibawah seorang diktator kejam


Satu lagi adalah Kerajaan Britania, meski tidak memiliki perbatasan langsung namun angkatan laut Britania adalah yang terkuat dari semuanya, hal ini membuat Germanica tidak bisa melakukan perdagangan dengan baik dengan dunia luar


"Begitu rupanya.... kalau begitu sekali lagi aku berterimakasih," kata Archen untuk yang ketiga kalinya


Kali ini dia menunduk kepada sang kakek, membuatnya lagi-lagi tertawa dan segera pergi meninggalkan Archen karena urusan mereka telah selesai


Archen melihat kereta kuda sang kakek pergi menjauh dan tak lagi terlihat diantara luasnya lahan gandum


Setelah kepergian sang kakek ini, Archen berjalan-jalan di sekitar kota Riga. Yang ia pikirkan adalah ramainya kota itu bahkan nampak dari setiap sudutnya, meski perang berkobar pun beberapa kota masih dapat memiliki Kemauan hidup yang tinggi di Dunia Dalam Api ini


Setelah berkeliling kesana kemari, ada satu yang Archen pahami


"Sepertinya, ini bukan dunia fantasi yang ada dalam mimpiku,"


Archen mengambil napas dalam-dalam dan melepaskannya yang diiringi nada putus asa, tanpa sadar matahari sudah berada diatas kepalanya lagi. Hari itu tidak jauh berbeda dengan kemarin, hanya ada panas


Karena terik matahari yang sama, Archen kembali berjalan tidak jelas dan hanya bisa menatap kakinya lagi untuk menghindari sinar


Archen tak menyadari adanya suara gelombang yang terpecah akan sebuah benda yang mendekat, dan itu adalah sebuah kapal perang yang akan berlabuh di dermaga tersebut


Saat jarak kapal sudah sangat dekat dengan dirinya, Archen baru melihat ke samping kanan dan berteriak terkejut melihat kapal yang sangat besar didepan matanya. Ia menyangka bahwa kapal itu akan menabraknya padahal kapalnya sudah berhenti


Di samping dermaga, turunlah kru dari kapal tersebut menggunakan sebuah tangga. Mereka mulai mendirikan sebuah tenda di salah satu dermaga, didepan tenda itu mereka pasangi sebuah papan bertuliskan, "Perekrutan Awak Kapal"


"Hah? Memangnya ini tahun berapa??"

__ADS_1


__ADS_2