Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#10 Supir Bus dan Gadis Kecil 1


__ADS_3

Mobil Lamborghini Aventador putih dengan stabil memarkirkan diri di antara mobil-mobil mewah lainnya. Senyum sumringah terkesan membanggakan diri terlihat jelas di wajah Key.


Bagaimana tidak baru seminggu yang lalu ia mendapatkan surat ijin mengemudinya dan sekarang ia dengan sempurna memarkirkan mobil layak seorang pengemudi profesional.


Tak menjelang lama, Mercedes-Benz hitam pun masuk ke dalam garasi dan memarkirkan diri tepat di samping Audi A8.


Sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Mobil-mobil mewah terparkir memenuhi luasnya garasi bawah tanah. Mulai dari Mercedez, Audi, Ferrari, BMW, Aston, McLaren, Porsche, Rolls-Royce bahkan Lamborghini dan lainnya.


Ketika Pulo pertama kali menjadi supir keluarga Alexander, tentunya dia sangat terkejut dengan pemandangan ini. Namun itu dulu. Sekarang semua pemandangan yang ada di depan matanya ini hanyalah sebuah hal lumrah menurutnya.


-----


Krucuk.. krucuk..


Setelah mengatur semua barang-barang bawaannya ke dalam lemari, Tiara akhirnya merasakan lapar.


Ia mencoba mencari ponselnya dari dalam tas untuk mengecek waktu.


Waktu menunjukan pukul 19:27. Pantas saja perutnya sudah keroncong minta dikasih makan.


Tiara akhirnya memutuskan untuk mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum ke kantin untuk memenuhi keinginan perut ratanya.

__ADS_1


Disatu sisi Lia terus menatap Tiara. Dia bukan melakukannya sekarang tetapi sejak dari Tiara mengatur dan merapikan barang-barangnya ke dalam lemari.


Matanya terus saja menatap dan menatap, berpikir bagaimana bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki rupa secantik ini.


Kecantikannya sangat memukau bahkan dirinya saja sampai tersedak saat pertama kali melihat Tiara.


Wajahnya yang mungil, Mata coklatnya yang indah berseri, bulu mata yang lentik, alis yang tumbuh alami dan teratur, hidung tinggi menjulang tidak seperti miliknya yang minimalis dan bibir merah alami tanpa lipstick membentuk satu kesatuan yang sempurna pikir Lia.


'Tuhan pasti membutuhkan waktu yang banyak untuk menciptakannya dibandingkan saat menciptakan kami.' Lia membatin sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Tiara cukup peka jika Lia sedang memperhatikan dirinya namun ia berusaha mengabaikannya.


Diperhatikan sepanjang waktu oleh orang-orang sudah menjadi makanannya sehari-hari. Jadi muda saja bagi Tiara untuk menyadari itu.


-----


Awalnya sih dia merasa biasa saja mendengar supir tersebut bernyanyi ya karena suaranya tidak jelek-jelek amat di kuping. Namun makin lama rasa biasa itu berubah menjadi rasa muak.


Ia terlihat gelisah. Sesekali ia menyalakan layar ponselnya untuk melihat waktu lalu mematikannya lagi.


Lima kali, tujuh kali, tidak mungkin sudah puluhan kali ia melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Matahari sudah tidak terlihat sejak beberapa jam lalu. Sekarang hanya ada beberapa cahaya bintang terpancar dari ketinggian yang tak terhitung. Bulan pun tak memancar terangnya karena tertutup awan.


Malam itu memang sedang mendung. Jika ia tidak salah memprediksi sedikit lagi hujan lebat akan turun.


"Aduh dek.. Santai ajalah yang penting kita selamat sampai tujuan. Benar gak?" Sang supir bus mengatakan pendapatnya.


"Iya sih pak saya juga mau selamat tapi masalahnya saya bisa terlambat masuk asrama. Bagaimana kalau gerbangnya udah dikunci? Gak ada yang bukain gerbangnya. Ya sekalipun di buka bagaimana kalau orang-orang udah pada tidur? Terus pintunya sudah dikunci? Saya tidur dimana dong?" Gadis itu menjawabnya dalam sekali tarikan nafas.


'Aduh dek nafasnya panjang amat.. nanti nikah gak usah calon suaminya yang ijab qobul, adeknya aja. Eh, tapi emang perempuan bisa ijab qobul ya hehe' Supir bus tertawa geli dalam hati.


Setelah dipikir-pikir apa yang dikatakan adik ini ada benarnya juga menurut supir bus. Bagaimanapun dia seorang anak perempuan yang masih kecil. Kalau gerbang asramanya sudah di kunci mau tidur dimana dia.


"Sekarang udah jam berapa dek?" Tanya supir bus pada gadis itu. Ia sudah membuat keputusan untuk mengantar gadis itu ke asrama sebelum gerbang dikunci.


"Jam dua puluh lewat dua." Jawabnya setelah mematikan layar ponselnya.


Gadis itu terlihat memakai jam di tangan kirinya namun saat melihat waktu ia malah memilih untuk melihatnya di ponsel. Itu sudah menjadi sebuah kebiasaan baginya dan jam tangan yang ia kenakan bisa dikatakan hanyalah sebuah hiasan semata.


"Baiklah. Adek duduk yang tenang aja. Biarkan abang menghadapi maut untuk kita." Ucap supir bus percaya diri.


Gadis itu merasa sedikit risih sebenarnya namun apalah dayanya. Didalam bus hanya tersisa dirinya dan sang supir.

__ADS_1


Para penumpang lainnya sebagian sudah turun di terminal kota M, ada juga yang turun tepat di desanya pinggiran kota M dan satu-satunya penumpang dengan tujuan kota H hanya dia seorang.


__ADS_2