
Setelah mematikan panggilan, Tiara kembali masuk ke dalam kamar. Wajahnya masih memerah dan tersipu malu karena kata-kata manis Luka.
Alda yang melihat Tiara masuk pun berjalan menghampirinya. "Tiara, wajah kamu kok memerah ya? Ada apa? Kamu sakit? Atau.." Tanya Alda khawatir sehingga mengundang perhatian Lia dan Cassan tertuju pada keduanya.
Mendengar Alda mengatakan bahwa wajahnya memerah, dengan segara Tiara menggunakan kedua tangannya untuk menyekah pipinya. Benar saja Tiara merasakan kedua pipinya memanas bagai di sengat langsung cahaya matahari.
Karena merasa malu, Tiara memberikan alasan pada Alda. "Aku gak apa-apa kok Al. Mungkin cuaca lagi panas aja." Jawab Tiara.
Alda menatap aneh pada Tiara "Inikan bukan lagi musim panas. Sekalipun musim panas aku rasa kita gak akan kepanasan deh karena disini masih banyak pepohonan yang tinggi dan rimbun." Sambil mengitari Tiara, Alda mengelus perlahan dagunya dengan telunjuk dan ibu jarinya layaknya orang yang sedang mengintrogasi.
"Cepat bilang. Ada apa? Kenapa wajah kamu memerah?" Lanjut Alda mencerca Tiara dengan pertanyaan yang sama.
Tiara tercengang melihat Alda tidak meloloskannya malah seperti orang yang ingin mengintrogasi dirinya. Tiara berpikir untuk memberi alasan lain pada Alda. Namun ketika ia ingin mengatakannya, perkataan Luka kembali terngiang di ingatannya.
'Mulai hari ini juga hanya aku yang boleh bantuin kamu.'
'Aku hanya akan egois kalau itu tentang kamu.'
Blus.. Wajah Tiara semakin memerah dan jantungnya berdetak kencang tak beraturan. Di dalam suasana hening itu bahkan Alda yang berdiri di dekat Tiara pun bisa mendengarnya.
"Tiara jantung kamu berdebar kencang ya terus wajah kamu juga semakin memerah." Ucap Alda.
Tiara menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Alda. Ia tidak menyangka hanya dengan mengingat kembali kata-kata tersebut jantungnya bisa menggila seperti ini.
"Al aku rasa aku..."
"Aku tahu kamu pasti sakit kan?" Alda memotong perkataan Tiara. "Sekarang juga ikut aku, kita ke unit kesehatan asrama. Aku gak mau kamu sampai gak bisa ikut kegiatan besok."
Alda menarik tangan Tiara untuk mengikutinya ke unit kesehatan yang dimaksud. Tiara yang tidak bisa melakukan apa pun itu karena masih dalam bayangan kata-kata Luka hanya bisa mengikuti kemana saja Alda membawanya pergi.
Sesampainya mereka di ruang kesehatan, Alda meminta seorang petugas kesehatan disana untuk memeriksa keadaan Tiara.
Alda menjelaskan kepada petugas tersebut dengan mengatakan bahwa wajah Tiara memerah setelah ia memasuki kamar karena sebelumnya ia berada cukup lama di luar ruangan.
Kemudian Alda juga mengatakan bahwa detak jantung Tiara bahkan terdengar sangat cepat dan tidak beraturan lalu meminta petugas segera memeriksanya.
Mendengar bagaimana Alda menjelaskan tentang keluhan itu padanya, sang petugas kesehatan lalu meminta Tiara untuk berbaring di atas tempat tidur. Ketika ia hendak memeriksanya, Tiara akhirnya tersadar dari lamunan panjangnya.
__ADS_1
"Tunggu, ada apa ini?" Tiara bertanya aneh pada sang petugas. Di samping sang petugas berdiri seorang Alda yang tengah khawatir.
"Apa lagi kalau bukan periksa kesehatan kamu." Alda menyahut pertanyaan Tiara.
"Untuk apa aku di periksa, aku sehat-sehat aja kok." Jawab Tiara lalu bangkit dari tempat tidurnya.
Sang petugas kesehatan hanya terdiam. Entah itu dia bingung dengan keadaan yang sedang terjadi atau apapun itu tidak ada yang mengetahuinya. Karena ekspresi wajahnya terlihat datar-datar saja.
"Tapi jantung kamu gak sehat." Seru Alda perlahan.
Mendengar itu Tiara menghela nafas panjang tak berdaya. Ia kemudian membuka ponselnya dan menunjukan sebuah laporan dari rumah sakit pada Alda.
Alda membuka lebar kedua bola matanya termasuk sang petugas kesehatan untuk membaca tulisan yang masih dalam bentuk file PDF tersebut. Dari file tersebut dikatakan bahwa kondisi jantung Tiara baik-baik saja dan ketika Alda melihat tanggal pemeriksaan, itu dilakukan sehari sebelum kedatangan Tiara ke kota H.
"Kalau begitu kenapa tadi detak jantung kamu terdengar sampai ke telingaku?" Tanya Alda penasaran ingin mendengar jawaban Tiara.
"Itu mm..." Wajah Tiara kembali merona. Ia melirik pada petugas kesehatan yang masih berdiri tegak disana.
Merasa keberadaannya hanya akan menggangu kedua sahabat tersebut, sang petugas kesehatan akhirnya keluar dari ruangan.
"Katakan ada apa?" Alda bertanya kali ini dengan nada serius.
"Apa kamu bilang?" Alda terkejut mendengarnya.
"Aku bilang aku sedang jatuh cinta." Ulang Tiara sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela dan wajahnya merona lagi seperti buah delima.
Mulut Alda terbuka semakin lebar, tercengang tidak percaya pada pendengarannya.
"Aku baca di internet kalau jantung kita berdebar kencang karena seseorang, entah itu kita berada di dekatnya atau tidak, atau hanya sekedar mengingatnya saja membuat kita rindu dan ingin bertemu artinya kita sedang jatuh cinta. Aku rasa aku sedang jatuh cinta dengan seseorang." Lanjut Tiara mengatakan kenyataan dari perasaannya.
Setelah mengatakannya temperatur tubuh Tiara meningkat dua kali lipat.
Tiara membayangkan wajah Luka sejak pertama kali matanya menangkap keberadaan Luka di aula sekolah. Mungkin itu adalah pertama kalinya jantung Tiara berdebar kencang. Dan mungkin juga itulah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama, pikirnya.
"Dengan siapa? Jawab!" Lagi Alda bertanya. Namun kali ini dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya.
Alda sudah terlanjur mengidolakan Tiara dan Luka untuk bersama bahkan semua penggemar dari kubu Tiara pun sudah menyetujuinya. Termasuk beberapa diantara mereka telah mengedit foto diantara keduanya.
__ADS_1
Jika sampai Tiara jatuh cinta pada orang lain, Alda dan semua penggemar pasti merasa sangat kecewa.
"Mm dengan.." Tiara malu untuk mengatakannya.
"Dengan siapa!?"
"Dengan teman sekelas kita." Jawab Tiara malu-malu kucing sambil memainkan kedua jari telunjuknya.
Sekejap Alda terkejut. Entah itu terkejut karena perkataan Tiara atau terkejut karena melihat tingkah laku Tiara yang benar-benar berbeda dari biasanya, keduanya sama-sama membuat Alda tak percaya.
Alda tidak menyangka Tiara memiliki sisi imut yang menggemaskan saat sedang jatuh cinta. "Teman sekelas siapa? Jawab yang bener! Aku temen sekelas kamu dan si pecundang itu juga temen sekelas kamu. Apa iya kamu jatuh cinta sama kami?" Alda mulai meninggi karena Tiara tak kunjung memberi jawaban yang ia mau.
Tiara mengerti siapa si pecundang yang Alda maksud. Tiara tertawa ketika wajah Cassan terlintas di benaknya.
"Baiklah aku jatuh cinta sama Luka." Tiara berkata dengan cepat dan langsung menyembunyikan wajahnya di balik bantal karena tersipu malu. Ia membiarkan Alda tercengang begitu saja dan memproses sendiri maksud perkataannya.
----
Disisi lain setelah panggilannya dimatikan, Reno dan Saka langsung berlari keluar dari persembunyian mereka menuju Luka.
Mereka menatap aneh padanya karena masih belum percaya apakah Luka yang ada di hadapan mereka saat ini adalah Luka yang mereka kenal selama belasan tahun terakhir.
"Ada apa?" Tanya Luka pada sahabatnya. Ekspresi wajah maupun suaranya kembali berubah dingin.
Reno dan Saka sekali lagi dibuat terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain lalu Reno membuka pertanyaan terlebih dahulu.
"Hei bro, lo masih Naga yang kami kenal selama ini kan?" Tanya Reno mendapat anggukan persetujuan dari Saka. Reno, Saka dan orang terdekat Luka memanggil Luka dengan sebutan Naga.
"Terus tadi gue denger Tiara ada minta nomer telfon gue. Ada apa? Jangan bilang dia suka sama gue." Saka menggoda Luka.
"Mimpi lo. Dia hanya suka sama gue. Dan inget kalau lo gak mau masuk rumah sakit untuk satu bulan lamanya, mending jauhin calon kakak ipar lo." Jawab Luka sedikit mengancam lalu pergi ke kamar mandi.
Lagi Reno dan Saka tak percaya dengan pendengaran mereka. 'calon kakak ipar?' batin Reno dan Saka merinding.
"Ga, Tiara minta tolong apa? Kalau gue bisa bantu, gue bantuin." Teriak Saka kearah kamar mandi.
"Bukan urusan lo. Dan lagi panggil dia kakak ipar." Sahut Luka dari dalam.
__ADS_1
Reno melihat ekspresi wajah Saka yang seperti disengat listrik bertegangan tinggi lalu tertawa lebar padanya.