Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#75 Kerja Sama


__ADS_3

Stacy terlihat begitu khawatir lalu dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dari saku jaket yang di kenakannya.


Ketika jari tangannya hendak membuka layar ponsel yang terkunci, tiba-tiba Stacy teringat akan satu hal. "Apa seseorang sudah mencoba menelfon nomor Lia?" Tanyanya kepada siapa saja yang berada disana.


"Iya benar kenapa kita tidak kepikiran ya untuk menelfon nomor Lia." Rio berkomentar setelah menyadarinya.


Karena sedang berada dalam kepanikan semua orang melupakan hal terpenting yang seharusnya mereka lakukan sedari tadi. Jika sejak awal mereka sudah menghubungi Lia, kemungkinan besar kehebohan seperti sekarang tidak akan pernah terjadi.


"Kita kan gak punya nomor Lia." Sambung seorang siswi yang merupakan anggota kelompok Luka.


"Iya tapi Cassan," Dewi pun akhirnya menyadari jika Lia dan Cassan saling dekat satu sama lain akhir-akhir ini sehingga ada kemungkinan mereka sudah saling bertukaran nomor.


Lagi semua orang memandang pada Cassan yang masih membeku. Wajahnya semakin memucat. Ia sama sekali tidak memiliki ide jika Lia bisa saja membawa serta ponsel bersamanya.


Kalau saja benar adanya bahwa Lia membawa serta ponselnya dan seseorang berhasil menghubungi dia maka semua kebohongan Cassan akan terbongkar pada hari itu juga.


"Aku, aku.." Cassan bergemetar tidak tahu lagi bagaimana harus membela dirinya sendiri.


Tanpa memikirkan apa yang sedang mereka bicarakan, Alda langsung menghubungi nomor Lia. Namun sayang panggilan tersebut tidak kunjung di angkat-angkat oleh Lia.


Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Alda dan Tiara dimana Alda terlihat berulang-ulang kali menggigit ibu jari tangannya sedangkan Tiara mencoba memejamkan matanya memikirkan cara lain untuk mencari keberadaan Lia.


"Panggilannya masuk tapi gak di angkat. Gimana dong." Seru Alda panik.


Wajah tegang Cassan kembali berubah normal setelah mendengar perkataan Alda. Sebelumnya ia begitu panik, takut jika mereka akan segera menemukan Lia.


'Syukurlah Lia gak angkat terlfonnya.' Cassan membatin lega. 'Tapi kira-kira kenapa Lia gak angkat ya? Apa karena dia sudah mati di makan binatang buas? Haha sayang sekali ya kamu Lia. Emang kamu baik sih dan mudah untuk dibodohi tapi jangan salahkan saya. Salahkan kedua sahabatmu ini. Karena kesalahan mereka kamu harus menanggung akibatnya.'


Tiara melirik pada Cassan dan mendapatinya sedang tersenyum kecil di balik air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Rasa amarah semakin membuat Tiara hampir tidak bisa mengontrol dirinya. Apakah selama ini ia terlalu lama mengambil tindakan pada Cassan sehingga Lia menjadi korbannya? Atau semua ini karena ketidak mampuan dirinya untuk menjaga para sahabatnya? Isi pikiran Tiara melayang.


"Sial gimana ini. Manager perusahaan kebun kopinya juga tidak bisa di hubungi." Stacy bersuara setelah berulang kali mencoba menghubungi manager tersebut.


Tujuan Stacy menelfonnya guna untuk mendapatkan bantuan. Namun sayang harapan terakhirnya itu pun sama sekali tidak membantunya.

__ADS_1


"Lebih baik kita semua pergi mencarinya saja." Ucap Varno di tengah kepanikan semua orang. "Jika kita yang banyakan ini turun langsung, gue yakin Lia pasti bisa ditemukan."


"Iya menurut gue juga. Paling Lia masih berada di dalam lingkupan kebun kopi karena tidak bisa menemukan jalan pulang." Timpal seorang anggota OSIS.


Mendengar pendapat Varno, semua murid bersetuju untuk mencari Lia bersama-sama begitu juga para wali kelas. Namun Stacy masih terlihat enggan untuk membuat keputusan. Ia takut jika menurunkan semua orang untuk mencari keberadaan Lia memungkinkan ada murid lain yang ikut menghilang.


Varno memahami kekhawatiran Stacy. Bagaimanapun Stacy harus memikirkan segala sesuatu dengan baik sebelum mengambil keputusan. Karena setiap keputusan yang diambil memiliki beban dan tanggung jawab yang besar.


"Kamu gak usah khawatir. Saya yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi. Karena ini adalah pendapat aku sendiri dan sebagai seorang wakil OSIS saya bisa mempertanggungjawabkannya." Ucap Varno dengan gentle.


Para siswi yang melihat bagaimana Varno sangat gentle dalam membuat keputusan hanya bisa menjerit histeris dalam hati mereka. Ingin sekali mereka memiliki pasangan seperti Varno.


'Berutung banget ya kira-kira cewek yang jadi pacarnya dia' batin mereka semua.


Stacy akhirnya mengangguk setuju setelah mendapat sedikit kekuatan dari kata-kata yang di ucapkan oleh Varno. "Baiklah. Saya Stacy, ketua OSIS Boulevar High School membuat keputusan untuk kita semua turun dan mencari keberadaan Lia."


"IYAAAAAAA." Semua orang berteriak senang setelah mendapat persetujuan dari Stacy dan kebahagiaan datang dari semua wajah mereka.


Namun di sisi lain hal berbeda datang dari Cassan. Lagi-lagi wajah Cassan berubah pucat. Seluruh badannya kini terasa lemas dan keringat dingin besar kecil mulai bercucuran keluar dari setiap pori-pori kulitnya.


Ketakutan tentu saja semakin menghantui dirinya kala mendengar semua orang berencana untuk mencari keberadaan Lia. 'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' Cassan membatin dalam ketakutan.


Akhirnya ketika semua diskusi mereka selesai, Stacy dan Varno kembali mengambil ahli semua perhatian para siswa.


"Dengar semuanya. Kita akan di bagi menjadi beberapa kelompok, dimana setiap kelompok beranggotakan lima orang dan di pandu oleh seorang pemandu. Masing-masing dari anggota OSIS dan wali kelas kita." Stacy mengatakan hasil diskusi mereka.


"Dan berikutnya untuk menghindari resiko kita tidak bisa menemukan jalan pulang saya harap semua ponsel kalian di aktifkan perangkat GPS-nya dan juga manfaatkan google map." Sambung Varno.


Ketika mendengar kata GPS, mata Tiara langsung terbuka lebar. "Betul, GPS!"


Alda yang pada saat melihat Tiara tiba-tiba seperti mengingat sesuatu pun langsung bertanya, "Tiara ada apa?"


"Aku melupakan sesuatu. Kita bisa menemukan Lia tanpa harus menurunkan semua murid untuk mencarinya." Jawab Tiara dengan semangat. Ia merasa telah menemukan sedikit titik terang.


"Apa maksud kamu? Emangnya bisa?" Tanya Alda lagi. Rasa bingung dan penasaran bercampur aduk menjadi satu.

__ADS_1


"Bisa. Aku yakin, jika Lia pergi dengan memakai topi milikku."


Alda teringat akan topi yang diberikan oleh Tiara pada Lia sebelum keberangkatan mereka. Topi tersebut berharga fantastis karena berasal dari brand ternama Lavida.


'Tapi apa hubungannya menemukan Lia dengan topi mahal itu?' Alda bertanya dalam hatinya. 'Apa karena merasa syok pikiran Tiara menjadi kacau?'


"Dewi, apa tadi kamu melihat Lia memakai sebuah topi?" Tanya Tiara mengabaikan Alda yang kebingungan. Ia tidak perlu menjelaskannya pada Alda karena dengan sendirinya dia akan menyadarinya nanti.


Luka yang berdiri di dekat situ pun bertanya-tanya kenapa Tiara menanyakan tentang hal tersebut. Ia langsung memikirkan Lia yang subu tadi terlihat mengenakan topi di kepalanya.


Luka tahu bahwa topi tersebut cukup mahal dan berasal dari brand ternama tapi ia terlihat tidak begitu mempedulikannya. Baginya apapun yang di kenakan oleh orang lain bukanlah urusannya.


"Iya dia memakai sebuah topi di kepalanya." Luka memotong Dewi untuk menjawab pertanyaan Tiara.


Sesaat jantung Tiara mulai berdenyut keras. Awalnya ia ingin bertanya langsung pada Luka karena Luka sudah pasti memiliki ingatan yang bagus. Namun karena tidak ingin hubungan keduanya terekspos, Tiara akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Dewi yang juga satu kelompok dengannya.


Siapa sangka ternyata yang menjawab pertanyaannya adalah Luka sendiri. Ini adalah pertama kalinya Luka berbicara dengannya di hadapan semua orang. Biasanya mereka hanya akan berbicara secara sembunyi-sembunyi.


Dewi langsung menyadarinya jika Tiara kaget Luka menjawab pertanyaannya. Entah kenapa ia juga ingin membantu Tiara untuk dekat dengan Luka jadi ia terpaksa berbohong pada Tiara bahwa ia tidak memperhatikannya.


"Maaf Tiara aku gak begitu memperhatikannya tadi tapi kalau Luka udah bilang Lia pake topinya artinya benar. Kamu bisa tanya di Luka saja." Jawab Dewi.


Luka memandang Tiara dengan tatapan penuh harap. Harap-harap cemas jika Tiara tidak ingin berbicara dengannya di khalayak umum.


Tiara menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lagi guna untuk menghilangkan rasa gugup dan menormalkan kembali detak jantungnya.


"Aku rasa aku bisa menemukan Lia." Tiara mengatakannya pada Luka.


Luka tersenyum senang dalam hatinya karena Tiara akhirnya memilih untuk berbicara dengannya. "Gimana caranya?" Tanya Luka sedikit grogi.


"Tapi kita harus terlebih dahulu menghentikan ketua dan wakil OSIS sebelum mereka menggerakkan semua murid disini." Ucap Tiara sambil melihat kearah Varno dan Stacy yang menggebu-gebu.


Luka tidak tahu cara apa yang akan digunakan oleh Tiara untuk menemukan sahabatnya, namun ia memilih untuk mempercayai kekasih hatinya tersebut.


"Aku bisa membantumu menghentikan mereka." Luka menjawabnya.

__ADS_1


Tiara melebarkan kedua bola mata indahnya pada Luka membuatnya terlihat semakin cantik di mata Luka. "Percaya saja padaku." Ucap Luka penuh dengan kelembutan.


Tiara hanya bisa tersenyum dan mengangguk setuju pada Luka. Dewi dan Alda yang melihat kedua orang tersebut saling berkerja sama memberi mereka kesan pasangan yang sempurna.


__ADS_2