
Semua orang memandang hina pada Cassan yang terlihat berantakan setalah mendapat tamparan di kedua pipinya.
Tidak ada satu pun dari mereka disana yang terlihat menghentikan kemarahan Lia pada Cassan. "Kenapa kamu melakukan semuanya ini? Apa alasan kamu?" Lia bertanya pada Cassan.
"....." Cassan hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya namun air mata terus membasahi kedua pipinya. Ia juga tidak berani menatap wajah Lia, atau pun sekedar melirik orang-orang di sekitarnya karena merasa malu. Apa lagi pada Luka cowok yang disukai olehnya.
"Aku tidak menyangka saja aku bisa mengabaikan peringatan sahabatku, bahkan sampai menamparnya di depan semua orang hanya karena mempercayai rubah licik seperti kamu." Ucap Lia sambil menunjuk-nunjuk dada Cassan dengan jari telunjuknya.
Mendengar Lia menyebut Cassan sebagai rubah licik, para murid yang berada disana ikut mencap Cassan dengan kata yang sama. Termasuk murid-murid yang sempat membelanya sebelumnya karena mendapat tuduhan tanpa bukti dari Alda.
Sekarang mereka sudah merubah pola pikiran mereka mengenai Cassan setelah mengetahui semua keburukan yang dilakukan olehnya. Dan tidak ada lagi satu orang pun dari mereka kini terlihat membelanya meskipun mereka sendiri menyadarinya seperti apa kekuatan keluarga Cassan.
"Haha kamu denger gak, Cassan dibilang rubah licik." Seorang murid berbisik pada temannya.
"Cocok sih menurut aku hehe." Jawab temannya tersebut.
"Jahat banget. Aku gak nyangka loh ada orang kayak dia. Dibaikkin ternyata dianya hanya muna doang." Yang lain ikut berkomentar.
"Rubah licik kayak dia sih mendingan di musnahkan saja."
Cassan tertunduk malu mendengar para murid menggosipkan dirinya . Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini jika memang ada cara baginya untuk melakukan itu.
Cassan berdoa dalam hatinya berharap seseorang datang dan menolongnya. Siapapun itu dan apapun caranya, ia ingin terlepas dari rasa malu yang sudah terlanjur membelenggu semua kesombongannya.
Doa Cassan akhirnya terwujud setelah suara Varno terdengar di tengah-tengah ketegangan yang terjadi. "Sudah, hentikan semuanya ini." Ucapnya tegas lalu berjalan menghampiri Lia dan Cassan.
Semua murid membuka jalan untuk Varno lalui. "Kata siapa kalian boleh saling menghakimi disini? Apa kalian sudah melupakan siapa kami?" Varno memperjelas posisinya dan para anggota OSIS di depan semua murid agar mau menghargai keberadaan mereka.
Mendengar perkataan Varno, Alda hendak ingin menghentikannya karena menurut Alda maksud perkataan Varno itu di tujukan untuk Lia. Varno terlihat seperti membela Cassan sang pelaku dibandingkan dengan Lia, korban dari kejahatan Cassan sendiri. Namun Tiara langsung menghentikannya.
Tiara meminta Alda agar menahan sedikit amarahnya dan membiarkan Varno melakukan apa yang diinginkannya. Mengingat apa yang dikatakan Varno belum bisa dikategorikan sebagai membela Cassan.
Cassan mengangkat wajahnya dan menatap pada sosok cowok tampan yang kini berdiri bersamanya dan Lia di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan, bagaimana bisa ia melupakan tentang keberadaan Varno?
Cassan perlahan mulai tersenyum lega. Doanya sudah didengar oleh Dewa karena menurutnya Varno datang untuk membela dan membantunya terlepas dari rasa malu akibat kemarahan Lia. Cassan yakin semuanya itu tak terlepas dari Varno yang menyukai dirinya.
"Apa kamu yang bernama Lia?" Tanya Varno dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
Lia mengerutkan keningnya sebelum menjawabnya "Iya kak"
"Apa kamu punya bukti, Cassan meninggalkan kamu di tengah hutan?" Tanya Varno lagi. Mengabaikan Cassan dan hanya menatap pada Lia. "Jika kamu memiliki bukti, dimana buktinya?"
Cassan yang mendengar Varno terus melempar pertanyaan pada Lia, membuatnya semakin yakin bahwa kedatangan Varno tentu untuk membela dirinya, cewek yang ia sukai.
Sesaat Lia terdiam. Ia mulai berpikir sejenak kemudian melirik pada Tiara untuk menanyakan langkah apa yang harus ia lakukan. Melihat Lia yang terdiam begitu saja, para murid mulai bertanya-tanya kenapa dia tidak menjawab pertanyaan Varno.
"Kenapa Lia diam saja? Apa dia tidak mempunyai bukti?" Seorang menggiring opini baru diantara para murid.
"Jangan ngomong sembarangan. Lia diam bukan berarti ia tidak memiliki bukti." Jawab seseorang membela Lia.
"Kalau begitu mana buktinya?" Tanya orang tadi.
Orang yang membela Lia tidak menjawabnya dan hanya membuang muka saja. Meskipun ia tidak yakin apakah Lia memiliki bukti atau tidak tetapi ia yakin pada Tiara yang pasti akan membantu sahabatnya itu.
"Apa kakak akan bertindak adil jika buktinya ada?" Tiara memotong untuk membela Lia sahabatnya.
Semua orang memandang kearah datangnya suara indah Tiara. Tiara maju ke tengah dan berdiri disisi Lia dengan kedua tangannya melipat sempurna di perutnya. Tatapan tajam bola matanya membuat ia terlihat seperti seorang ratu yang siap menghakimi siapa saja yang bersalah.
"Jika kakak bertindak adil, aku akan memberikan buktinya. Namun sebelum itu, tolong beritahu semua orang disini apa hukumannya jika seseorang terbukti bersalah." Ucap Tiara.
Semua orang tercengang mendengar perkataan Tiara tak terkecuali Cassan. Cassan tidak berpikir jika Tiara akan meminta dirinya dihukum atas apa yang telah dilakukan olehnya. Sedangkan di satu sisi Varno justru tersenyum mendengar permintaan Tiara lalu membatin dengan penuh gairah. 'Benar-benar seperti yang diharapkan dari seorang geniusnya Boulevar.'
Varno paham mengapa Tiara memintanya untuk memberitahu kepada semua orang mengenai hukuman yang akan di berikan pada Cassan. Dan tentu Varno juga tahu bahwa Tiara memiliki bukti atas tindakan Cassan.
Ketika nanti bukti tersebut dibeberkan maka tidak ada cara lain lagi bagi Varno untuk membantu Cassan. Mengapa? Ya karena semua orang sudah mengetahui hukuman Cassan yang keluar dari mulutnya sendiri.
Namun Tiara salah kaprah kepada Varno. Varno tentu tahu ia harus bertindak adil karena sesungguhnya kedatanganya bukan untuk membela ataupun menolong Cassan.
"Tentu saja aku akan berpegang pada prinsipku untuk bertindak adil berdasarkan bukti." Jawab Varno memberi Tiara keyakinan.
Mendengar itu wajah Cassan mengecil seketika. 'Apa maksudnya berpegang pada prinsip dan bertindak adil?' Batin kecilnya bertanya. 'Bukankah Varno datang untuk membelaku? Bukankah dia menyukaiku? Atau dia berkata seperti itu karena ia tahu Tiara tidak memiliki bukti?'
Cassan menarik ujung baju Varno dengan jari tangan yang bergemetar, berharap Varno menatap padanya agar ia bisa memastikan apakah Varno berada di pihaknya atau tidak. Sayangnya Varno mengabaikan Cassan.
"Lalu katakan apa hukumannya?" Tiara bertanya lagi.
__ADS_1
Varno terdiam untuk sesaat membuat semua orang menjadi was-was. "Saya akan melaporkan semua perbuatannya kepada pihak sekolah agar dia di proses berdasarkan peraturan yang berlaku di Boulevar High,..." Ucap Varno.
"Setuju." Jawab Tiara langsung memotong perkataan Varno.
Semua orang bertanya-tanya dengan rasa penasaran, apa peraturan dari sekolah tersebut jika seseorang terbukti melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh Cassan.
"Hei kalian tau gak kira-kira hukumannya apa dari sekolah?" Tanya seorang murid.
"Gak tau. Peraturan sekolah sebanyak itu memangnya siapa yang mau hafal."
Tiara langsung menyetujui perkataan Varno karena ia tahu berupa apa hukuman yang akan di berikan oleh pihak sekolah pada Cassan. Cassan akan di keluarkan dari Boulevar High School dan di pastikan untuk tidak di terima di sekolah manapun di negeri ini.
Boulevar High School adalah dewa-nya para sekolah. Jika Boulevar sudah mengeluarkan seorang murid karena tindakan kriminal maka sudah bisa dipastikan sekolah lain mana pun di seluruh penjuru negeri ini tidak akan menerima murid tersebut.
Ini adalah akhir dari hidup Cassan. Jika Cassan terus ingin melanjutkan hidupnya maka ia harus pindah ke luar negeri dan bersekolah disana. Namun jika tidak, Cassan harus berikhlas hati menerima takdir malangnya tersebut.
Tiara membuka ponselnya dan memperdengarkan sebuah rekaman suara antara Lia dan Cassan yang ia dapatkannya dari alat pelacak di topi miliknya yang di kenakan oleh Lia.
Percakapan tersebut di mulai dari Cassan yang mengajak Lia untuk menemaninya membuang air kecil. Setelah itu bunyi langkah kaki mereka juga terdengar cukup jelas ketika sedang berjalan. Orang yang mendengar rekaman tersebut bisa memastikan bahwa Cassan membawa pergi Lia cukup jauh dari lokasi awal mereka.
Selanjutnya percakapan berpindah dimana Cassan meminta Lia untuk menunggunya di suatu tempat dan selang beberapa menit Lia terlihat berteriak memanggil nama Cassan namun Cassan sama sekali tidak menjawabnya.
"Ya ampun jadi benar kalau Cassan meninggalkan Lia sendirian? Jahat banget jadi orang." Seorang berkomentar.
"Iya gak nyangka banget." Sambung yang lain dan masih banyak lagi komentar-komentar lainnya yang terus berdatangan menghina Cassan.
"Bohong! Semuanya itu bohong!" Teriak Cassan dengan keras. "Mereka memalsukan rekamannya dan suaraku juga."
"Apanya yang bohong disini. Sudah jelas-jelas itu suara kamu." Alda menyahuti Cassan dengan emosi meskipun ia sendiri terkejut dari mana Tiara mendapatkan rekaman tersebut.
"Tidak itu tidak benar. Itu bukan suara aku. Kalian sengaja ingin menjebak aku kan?" Cassan terus membantah. Semua percakapan tersebut benar adanya dan suara yang terdengar juga suaranya. Namun Cassan tidak memiliki ide bagaimana itu bisa terekam. Dan satu-satunya orang yang melakukan itu sudah pasti adalah Lia sendiri.
Cassan mengalihkan pandangannya pada Lia dan yang mengejutkannya, Lia justru terlihat seperti tidak tahu menahu dari mana datangnya rekaman tersebut.
-----
NB: Penjelasannya di episode selanjutnya. Tolong dibaca dan komen yang banyak ya!!
__ADS_1