
"Lain kali lakukan itu jika kamu ingin berterima kasih pada pacar mu ini."
"Hei, apa yang kamu lakukan barusan?" Celetuk Tiara.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun. Karena kamu tidak memberiku hadiah atas kerja kerasku barusan makanya aku mengambil sendiri hadiahnya." Dalih Luka sambil tersenyum penuh kemenangan.
Mendengar bagaimana Luka berdalih dengan tidak tahu malu, Tiara hanya bisa memandang takjub tanpa berkata-kata.
"Jangan terlalu menatapku seperti itu. Aku tahu aku tampan apalagi saat berkeringat seperti ini. Aku tidak akan bertanggungjawab kalau kamu semakin jatuh cinta denganku." Seloroh Luka.
"Apa? Ternyata tuan muda kita Luka orangnya percaya diri dan tidak tahu malu sekali ya." Ejek Tiara padanya.
"Haha, aku.."
"Sssttt.." desis Tiara lembut. "Itu dia orangnya." Tiara menghentikan perkataan Luka setelah matanya menangkap keberadaan perempuan itu.
Menyadari ia harus menghentikan tawanya, Luka mengarahkan pandangannya pada sosok yang di maksud oleh Tiara, "apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ia berbisik.
"Kita tinggal menunggu dia masuk ke hotel dan lihat apa yang mereka lakukan dari MacBook." Jawab Tiara.
Wajah Luka seketika memerah, pikirannya mulai nyeleneh memikirkan apa yang akan terjadi di dalam kamar tersebut. Seorang perempuan dan pria matang yang memiliki hubungan rahasia, berduaan saja di kamar, sudah bisa di pastikan apa yang akan terjadi nanti.
Namun setelah melihat ekspresi wajah datar Tiara, Luka menghapus bersih isi pikiran buruknya itu dan bertingkah seolah memiliki pikiran yang masih polos.
-----
Tiara kembali fokus pada MacBook yang diletakkan diatas pahanya. Jari-jemari miliknya bergoyang dengan lihai diatas keyboard dan beberapa saat kemudian sebuah tampilan kamar muncul di balik layar.
Untuk kesekian kalinya Luka berdecak kagum akan kemampuan Tiara. Kamera yang di pasang olehnya tadi kini sudah berhasil mengirim gambar pada laptop Tiara.
Tiara kemudian merogoh headset dari saku blazer lalu memasangkan ke telinganya begitu juga Luka yang mendapat pasangan dari headset tersebut.
"Dimana orang itu?" Tanya Luka penasaran saat tidak melihat seorangpun di dalam kamar tersebut.
"Aku tidak tahu. Mungkin saja dia masih berada diluar bangunan karena kehebohan tadi." Tiara berpikir ringan.
"Oh, jadi kita harus menunggu?"
"Mm."
"Ya sudah kita menunggu saja." Balas Luka pasrah dan menutup percakapan diantara keduanya.
Menit demi menit pun berlalu. Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya berusia sekitar 40 tahun memasuki kamar yang sudah dipasang kamera oleh Luka. Pria itu menaiki tempat tidur dan berselonjoran diatasnya sambil membaca sebuah map yang diperkirakan adalah dokumen.
__ADS_1
Tidak ada gerak-gerik selanjutnya yang datang dari pria paruh baya tersebut, sebelum akhirnya ia menerima panggilan dari seseorang.
"Hallo tuan, seorang pelajar ingin bertemu dengan anda." Lapor sang resepsionis kepadanya yang kemudian di persilahkan oleh pria tersebut.
"Biarkan dia masuk." Titahnya.
Sang resepsionis pun mempersilahkan perempuan itu untuk menemui pengunjungnya. Meski diterpa rasa bingung karena sebelumnya seorang pelajar sudah melakukan hal yang sama, ia memilih untuk menepis jauh karena bukan wewenangnya.
"Silahkan ke lantai 4 di kamar ketiga sebelah kanan anda." Tutur sang resepsionis dengan senyum simpul.
Perempuan tersebut kemudian masuki lift menuju lantai empat sesuai arahan yang ia dapat dan menemukan kamar 1289 yang sudah dijanjikan pria itu padanya. Menarik panjang desahan nafasnya, ia kemudian membuka handle pintu dan masuk ke dalamnya.
Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu seolah-olah ia sudah tahu siapa yang membuka pintu, pria itu langsung menarik tangan sang perempuan ke atas tempat tidur dimana ia berselonjoran tadi.
Ekspresi kaget pun tak bisa dihindarkan. Perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah itu terhempas ke atas tempat tidur dan kecupan demi kecupan memenuhi seluruh wajah mungilnya hingga ke bagian-bagian tertentu dari tubuhnya.
"Haha sabar sayang, okey." Ucap perempuan itu padanya sambil tertawa gelitik. Ia berusaha mendorong tubuh pria tersebut menjauh darinya agar memberi sedikit ruang untuk dirinya bernafas bebas.
"Aku merindukan kamu sayang. Ayo kita lakukan itu." Ujar sang pria yang tidak bisa lagi menahan birahi dalam dirinya.
"Haha aku datang kesini untuk itu tapi alangkah baiknya kita jangan terburu-buru. Biarkan aku mandi terlebih dahulu dan mengganti dalaman yang sudah aku beli." Tutur sang perempuan dengan suara yang menggoda.
Pria paruh baya itu kemudian melepaskan genggamannya dan bangkit dari atas tempat tidur. Ia berusaha untuk menahan kembali segala napsu birahi dalam dirinya dan mengikuti perkataan sang perempuan.
Mendegar pertanyaan tersebut, sang pria beranjak dari tepian tempat tidur dan mengambil sebuah kotak berwarna merah jambu di atas meja yang berada tak jauh dari sana lalu memberikannya padanya.
"Wah, gaunnya cantik sekali." Komentar perempuan itu setelah membuka kotak dan mendapati sebuah gaun panjang berwarna biru navy yang indah. Gaun polos tersebut terlihat sederhana namun elegan diwaktu yang bersamaan.
"Terima kasih ya sayang." Ucap sang perempuan lalu memberikan sebuah ciuman di bibir pria itu.
Tidak ingin melepaskan kesempatan yang sudah datang padanya, sang pria langsung mengunci mulut keduanya dan ciuman panas pun terjadi dalam waktu yang lama.
-----
Tiara dan Luka yang sedang melihat aksi ranjang perempuan dan pria paruh baya tersebut langsung memalingkan wajah memerah mereka masing-masing dari laptop. Senyum malu-malu pun terlihat nyata di bibir keduanya manakala suara mengerang terdengar jelas di balik headset yang mereka kenakan.
Tanpa berpikir panjang, Tiara langsung melepaskan benda kecil itu dari telinganya namun tidak dengan Luka. Entah karena gugup dan menjadi lupa atau karena menikmati, Luka sama sekali tidak melepas headsetnya dan membiarkan suara erangan tersebut terus mengiang di telinganya.
Beberapa lama kemudian aktivitas perempuan dan pria itu selesai. Mereka terlihat sama-sama lemah diatas tempat tidur dan engahan nafas mereka saling berlomba satu sama lain.
"Bagaimana keadaan dia?" Tanya pria itu sambil memalingkan wajahnya kesamping dimana perempuan itu berbaring tanpa mengenakan apapun.
"Dia masih seperti biasanya." Jawab sang perempuan dengan tatapan yang tidak bisa di tebak.
__ADS_1
"Anak itu sama seperti ibunya, Sarah. Aku jadi pusing memikirkan dia." Ucap sang pria.
Perempuan berusia 16 tahun itu bergeming kala mendengar pria disampingnya menyebutkan nama sang mantan istri. Ia lalu berpindah tempat dan merebahkan dirinya diatas tubuh pria paruh baya tersebut. Lumatan kembali terasa di bibir sang pria namun sayang ia tidak merespon lagi.
Sesaat rasa kesal pun muncul dalam diri perempuan itu. 'Shit! Dasar pria tua sialan' batinnya. Ia sangat tidak suka jika pria itu masih saja memanjakan anaknya apalagi membawa-bawa nama mantan istrinya yang seorang pecundang lemah.
"Bagaimana kalau anakmu tahu kamu menceraikan ibunya hanya karena melihat kita bersetubuh diatas ranjang?" Seringai perempuan itu menaruh kepalanya diatas dada bidang sang pria.
"Saat itu adalah kesalahan terbesarku karena mengira kamu adalah Sarah." Tutur sang pria dengan tatapan penuh penyesalan.
"Biarkan yang lalu biarlah berlalu. Saat ini hanya aku orang yang bisa memuaskan hasrat seksual mu." Balasnya sambil memainkan jari telunjuknya di kulit tubuh sang pria.
"Mm.." Pria itu mengangguk dan mencium kening perempuan yang terbaring tanpa baju diatas tubuhnya itu.
Percakapan demi percakapan pun dilakukan oleh kedua orang itu hingga pada akhirnya Tiara terkejut mendapat sebuah kebenaran mengenai jati diri dari pria paruh baya tersebut.
Ada rasa kasihan, jijik dan lain sebagainya bercampur aduk menjadi satu manakala semua kebenaran terlontar keluar dari mulut mereka membuat Tiara merinding tidak percaya pada pendengarannya.
"******** macam apa mereka berdua ini?" Hardik Luka kesal.
"Bagaimana bisa mereka melakukan semua ini di belakang orang yang sangat percaya pada mereka?" Lanjutnya lagi.
"Pengkhianatan memang sangat menakutkan." Gumam Tiara belum bisa menghilangkan rasa keterkejutan dirinya.
Luka yang melihat ekspresi Tiara itupun mencoba untuk menenangkannya kembali.
"Kalian berbelanja apa saja?" Pria itu bertanya membuat Tiara dan Luka kembali fokus pada MacBook.
"Yah beberapa pakaian dan lain sebagainya. Hanya saja kami bertemu dengan empat orang yang paling menyebalkan dan cukup membuat suasana hatiku rusak." Cerca perempuan itu.
"Anak bernama Tiara itu sangat cantik. Dia membuatku iri dengan kecantikannya. Rasanya aku ingin mencakar saja wajahnya itu tapi aku tidak bisa melakukannya."
"Kalau anak bernama Alda, dia bla bla bla..." Perempuan itu terus saja mengoceh tanpa henti membicarakan bagaimana rasa iri dan dengki-nya pada Tiara dan sahabat-sahabatnya.
Tiara yang mendengar semuanya itu justru kembali terkejut. Ia tidak menyangka jika perempuan itu menaruh rasa iri dan benci yang teramat dalam bagi dirinya dan para sahabatnya.
"Aku tidak membutuhkan percakapan tidak berguna mereka itu. Intinya aku sudah mendapatkan bukti yang aku inginkan. Bahkan lebih dari yang aku inginkan." Ucap Tiara, mematikan MacBook miliknya dan bangkit dari sana.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Luka padanya.
"Mm, tapi hubungi dulu Alda dan yang lainnya." Kata Tiara.
"Oke deh. Aku coba menghubungi Saka." Balas Luka.
__ADS_1
Setelah menghubungi para sahabat masing-masing, Tiara dan Luka menunggu kedatangan mereka di depan mall dan kembali bersama ke asrama untuk bersiap-siap mendatangi acara ulang tahun Gerald mengingat hari sudah semakin sore.