Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#100 Menantang Tiara


__ADS_3

Tiara membuka pintu lalu keduanya masuk ke dalam ruangan. Dari kejauhan mata Tiara langsung tertuju pada Herlin. Tidak seperti sebelumnya Herlin sibuk dengan dokumen tanpa melihat kedatangan Tiara, kali ini ia menyambut Tiara dengan senyum langsung dari tempat duduknya.


"Hai, Tiara." Sapanya penuh hangat ketika Tiara mendekat padanya.


"Hai, bu Herlin." Jawab Tiara yang sama sekali tidak tersenyum.


"Beasiswa kamu sudah dicairkan dan tinggal di transfer saja tapi saya ingin pastikan sekali lagi jika saja kamu masih mau berubah pikiran." Lanjutnya menjelaskan tujuannya memanggil Tiara.


"Saya belum berubah pikiran bu." Jawab Tiara tetap pada konsistensinya.


Mendengar jawaban Tiara, Herlin sedikit terkejut dan menyodorkan padanya selembar map berisikan nama-nama panti asuhan yang sempat Tiara minta padanya.


"Terima kasih bu sudah mau membantu saya." Ucap Tiara puas melihat apa yang di berikan oleh Herlin padanya.


"Sama-sama. Hanya itu saja. Kamu boleh kembali ke kelas dan tunggu uangnya masuk di rekening kamu." Ujar Herlin.


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih."


Tiara juga Luka akhirnya pergi dari sana dan kembali ke kelas mereka.


-----


Kegiatan belajar mengajar berakhir begitu saja setelah dentingan bel sekolah berbunyi. Tiara dan Alda menghampiri Lia di kelas C Lalu menjemput Abie yang berada di kelas D.


Dalam perjalanan pulang mereka, Tiara dan yang lain tidak sengaja bertemu dengan Monica begitu juga kedua sahabatnya yang selalu setia berada disampingnya.


Setiap kali bertatap muka dengan Monica, Tiara selalu bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa ia tidak pernah melihat Stacy ada bersama mereka? Stacy berada dalam satu geng dengan Monica seperti yang dikatakan oleh Michelle padanya, namun Tiara hanya melihat ketiga dari mereka tanpa adanya Stacy. Kecuali Nancy sang ketua yang memang sedang cuti menjalani pemotretan.


"Lihat girls siapa yang kita ketemu." Nada Monica meninggi manakala matanya melihat Tiara.


Melihat kemunculan Monica, Lia dan Alda langsung menunjukkan rasa ketidaksukaan mereka membuat Abie bingung memikirkan ketegangan yang terjadi.


"Enak ya, hanya karena berasal dari keluarga kaya raya, bisa seenak jidat mendapat nilai sempurna. Apa lagi mendapat gelar sebagai the next genius Boulevar." Ucap Lydia. Orang yang selama ini hanya berdiam diri dibelakang Monica akhirnya membuka suara.


Mata Lydia menatap tajam pada Tiara dari balik kaca berlensa yang dikenakannya, seakan mengatakan bahwa perkataannya tersebut memang diperuntukkan bagi Tiara.


Lia, Alda dan Abie pun langsung menyadari jika Lydia sedang menyindir Tiara sahabat mereka. Akan tetapi mereka tidak habis pikir kenapa Lydia masih membahas tentang hal itu mengingat semua murid sudah mengetahui kebenarannya dari pesan berantai yang di kirimkan ke nomor ponsel mereka masing-masing.


"Maksud kakak berbicara seperti itu apa?" Tanya Alda kesal merasa tidak terima Tiara di sindir oleh Lydia.


"Kamu bertanya apa maksud saya? Haha, setelah tahu ada yang bermain curang untuk masuk ke Boulevar, kamu masih bertanya tentang itu?"


"Tiara tidak curang." Sahut Lia dengan cepat setelah mendengar Lydia menuduh Tiara bermain curang.

__ADS_1


"Iya. Kan sudah ada buk,.."


"Hentikan." Tiara menyanggah perkataan Abie.


"Tiara kenapa? Biarkan kami membantumu untuk mengatakan kebenarannya agar mereka semua tahu dan tidak asal bicara tentang kamu." Ujar Alda.


"Iya Alda benar. Lagian mereka menolak untuk menerima kebenaran padahal sudah ada,.."


"Sudah hentikan." Sanggah Tiara lagi pada perkataan Abie.


Tiara bukannya tidak ingin ketiga sahabatnya itu membantunya, hanya saja Tiara tidak mengatakan kebenarannya pada mereka jika ia mengecualikan Stacy dan anggota gengnya dalam pengiriman pesan berantai tersebut, selain Cassan tentunya.


Tiara secara sengaja melakukannya agar melihat respon mereka namun ia juga sempat menaruh rasa curiga bahwa ada kemungkinan besar Stacy dan anggota gengnya akan mengetahui kebenaran yang ada dari murid-murid lainnya mengingat kehebohan yang terjadi saat itu. Akan tetapi siapa menyangka jika sampai saat ini, ketiga dari mereka sama sekali belum mengetahuinya.


"Kenapa? Apa sekarang kamu mengakui kalau kamu sudah bermain curang?" Tanya Lydia pada Tiara yang tidak menyanggah perkataannya.


"Kalau saya bermain curang, apa yang akan kakak lakukan pada saya?" Tiara bertanya.


Lantaran karena pertanyaan Tiara tersebut, semua dari mereka memandang terkejut padanya. Lia, Alda dan Abie menjadi bingung kenapa Tiara berkata seperti itu tapi tidak dengan Lydia dan kedua sahabatnya. Mereka terlihat senang dan menikmati.


"Oh jadi sekarang kamu mengaku jika kamu bermain curang?" Tanya Lydia mengumpan.


"Kapan saya mengaku? Apa kalimat saya sebelumnya mengatakan bahwa saya bermain curang? Seingat saya tidak." Jawab Tiara sambil berjalan mendekati Lydia.


"Yang saya katakan; KALAU saya bermain curang, apa yang akan kakak lakukan pada saya." Lanjutnya dengan dingin sambil menatap tajam pada Lydia yang kini memaku menyadari keteledoran dirinya.


BANGGGG


Bagaikan di sengat arus listrik bertegangan tinggi, Lydia membeku tidak percaya jika Tiara mengetahui apa yang sedang dilakukan olehnya.


Selama percakapan mereka berlangsung tadi, Lydia sedang merekam perkataan Tiara menggunakan ponselnya. Ia berpikir jika dirinya terus mengumpan Tiara dengan pertanyaan memojokkan dan Tiara mengakui perbuatannya maka sudah bisa dipastikan bahwa rekaman tersebut akan menjadi akhir dari hidup Tiara di Boulevar. Namun siapa yang menyangka jika pada akhirnya rencana tersebut gagal total.


Kembali tersadar dari keterkejutannya, Lydia menatap Tiara dengan rasa malu. Ia menganggap kepintarannya adalah segalanya. Saat menyadari Tiara mengetahui rencananya, ia merasa Tiara sedang mempermalukan dirinya.


"Bagaimana kakak senior, apa aku salah?" Tanya Tiara yang terkesan meledek kala di dengar oleh kuping Lydia.


"Terserah apa kata kamu, yang pasti di mata semua orang kamu itu bermain curang." Jawab Lydia kesal.


"Mm, tidak semua orang tuh. Hanya kakak dan anggota kakak saja yang menganggap saya bermain curang. Jika tidak kenapa para murid bahkan guru-guru terlihat tenang-tenang saja?"


"Iya, mereka tenang-tenang saja karena orang tuamu sudah membayar mereka dengan uang kan?" Lydia termakan emosi dengan perkataan Tiara. Ia tidak tahu kenapa pihak sekolah belum juga mengambil tindakan terhadap Tiara mengenai kecurangan yang dilakukan olehnya, namun yang pasti dirinya percaya bahwa orang tua Tiara sudah ikut andil di dalamnya.


"Hahaha.." Seketika Lia, Alda dan Abie tertawa lucu pada Lydia. Mereka tidak menyangka pemikiran Lydia begitu sempit.

__ADS_1


"Uang? Coba kakak bertanya pada semua orang disini, apa mereka pernah menerima uang dari Tiara atau dari kedua orang tuanya? Silahkan bertanya. Jika ada yang mengaku iya maka dia akan berurusan dengan kami." Jawab Alda.


"Kami akan menyelesaikannya secara hukum." Sambung Abie.


"Betul itu dan paling nasibnya akan sama dengan Cassan, tidak di terima di sekolah manapun di negeri ini." Tambah Lia.


Mendengar semua itu, Lydia akhirnya angkat bicara untuk mempertahankan harga dirinya. "Bagaimana kalau kita taruhan. Aku tantang kamu untuk berkompetisi mengerjakan soal-soal terbaru Boulevar." Ucapnya dengan tegas.


Perkataan Lydia sontak membuat semua orang menjadi terkejut namun tidak dengan Tiara. Ini yang sudah ditunggu-tunggu olehnya sejak tadi. Dibandingkan dengan Monica, Tiara lebih suka bermain dengan Lydia yang seorang kutu buku.


Hanya dengan melihat penampilan Lydia saja, Tiara sudah bisa menebak jika Lydia tidak suka dengan orang yang bermain curang dalam pelajaran. Oleh karena itu dengan beredarnya video yang diunggah Cassan ditambah dengan pesan berantai yang sengaja tidak ia diteruskan pada mereka tentu saja menimbulkan hal ini terjadi.


"Oke saya setuju." Jawab Tiara tanpa berpikir panjang.


"Apa? Tunggu tunggu tunggu." Alda menyela. "Tiara, kamu serius? Ini tidak adil buat kamu. Bagaimanapun juga dia sudah tua."


Mendengar dirinya disebut tua, Lydia langsung menghunuskan tatapan tajam pada Alda.


"Maaf maaf. Maksud aku dia adalah senior dan kamu hanyalah seorang murid baru. Pengetahuan kalian tentang pelajaran di Boulevar sudah pasti berbeda jauh. Jadi ini tidak adil buat kamu." Lanjut Alda.


"Sudahlah Al, aku tidak masalah dengan itu. Percaya padaku." Ucap Tiara berbisik. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Lydia, "kita akan berkompetisi pada pelajaran kelas dua, sebagai gantinya saya diberikan waktu satu minggu dari sekarang untuk mempelajari semua mata pelajarannya."


Keterkejutan semua orang kembali hadir. Bagaimana tidak, Tiara meminta untuk berkompetisi bukan pada pelajaran kelas satu atau umum lainnya melainkan pelajaran kelas dua, dimana dirinya sendiri masih belum mempelajarinya.


"Kamu serius?" Tanya Lydia memastikan kembali pendengarannya.


"Iya, saya serius." Jawab Tiara.


'Haha.. Tiara ini bodoh atau bagaimana? Dia pikir semua pelajaran kelas dua bisa dia mengerti hanya dalam satu minggu saja?' Batin Lydia mengejek Tiara.


"Setuju." Jawab Lydia dengan angkuh. Ia merasa kemenangan sudah ada di tangannya karena bagaimanapun juga perkataan Tiara itu merupakan sebuah keuntungan baginya mengingat pelajaran kelas dua baru saja ia lewati.


Tiara langsung tersenyum senang mendengar persetujuan datang dari Lydia. Ia sengaja menjadikan pelajaran kelas dua sebagai bahan kompetisi mereka karena ia memiliki alasan tersendiri.


Yang pertama, jika ia berhasil mendapatkan nilai lebih tinggi dari Lydia maka hal itu akan menguntungkan dirinya. Selain orang percaya bahwa dia berhak untuk mendapat nilai sempurna, ia juga bisa mempermalukan Lydia di depan semua orang.


Yang kedua, jika Lydia mendapat nilai lebih tinggi darinya maka hal itupun tetap tidak merugikan maupun mempermalukan dirinya. Karena apa? Karena semua orang tahu bahwa Tiara hanya mempelajari semua itu dalam satu minggu saja. Berbeda halnya dengan Lydia yang sudah melewati masa satu tahunnya disana.


Sayang Lydia tidak berpikir sampai disana. Ia justru terbawa emosinya dan menyetujui perkataan Tiara tanpa berpikir panjang.


"Tapi ini adalah sebuah taruhan seperti yang kakak sebutkan tadi. Artinya harus ada yang di korbankan." Ucap Tiara dingin membuat Lydia tercengang.


Dia akhirnya memikirkan apa yang harus di korbankan oleh dirinya namun ketika matanya melihat Tiara bersikap sok pintar dihadapannya, ia akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan Tiara dari Boulevar.

__ADS_1


"Bagi yang kalah akan mengundurkan diri dengan suka rela dari Boulevar." Ucap Lydia percaya diri akan menyingkirkan Tiara dari sekolah.


"Good. Setuju." Jawab Tiara.


__ADS_2