
Diapit oleh Lia dan Alda di sampingnya, Tiara berdiri sambil menatap tajam pada Cassan yang kini berlumuran telur. Tatapan tajam namun terkesan dingin itu membuat Tiara benar-benar terlihat tak tersentuh di mata semua orang terutama Cassan.
Tiara berjalan menghampiri Cassan yang bersimpuh di tanah. Sebelum ia mengatakan keinginannya, Tiara menundukkan kepala dan membiarkan wajah cantiknya itu menatap Cassan dari dekat.
"Rasanya berbeda bukan dihancurkan dari belakang tanpa diketahui?" Bisik Tiara dingin.
Seketika Cassan terkejut mendengar perkataan Tiara dan seluruh tubuhnya bergemetar tak terkendali. "A a apa maksud kamu?" Tanyanya terbata-bata.
"Maksud aku? Haha Cassan, Cassan." Tiara tertawa kecil mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Cassan. Ia sama sekali tidak menyangka jika Cassan masih saja belum mengerti dengan apa yang sedang menimpah dirinya.
"Aku peringatkan kamu sekali lagi; Jangan pernah bermain api jika tidak ingin terbakar." Ucap Tiara, memberi peringatan kesekian kalinya untuk Cassan sambil tersenyum.
Mungkin bagi orang lain senyum Tiara adalah keindahan namun di mata Cassan, senyum itu bagaikan pisau yang meninggalkan luka sayatan.
Cassan akhirnya mengerti maksud perkataan Tiara. Ia yakin Tiara adalah penyebab di balik semua kegagalan rencananya. Namun satu hal yang membuat Cassan bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang sudah dilakukan oleh Tiara dibelakangnya sampai para murid berbalik menyerang dirinya.
Hal itu berakhir menjadi misteri bagi Cassan. Ia tidak tahu darimana harus mencaritahu semua itu karena ia sama sekali tidak memiliki ide atas apa yang sedang terjadi.
"Ayo pergi." Ucap Tiara pada kedua sahabatnya.
"Yuk, tidak penting juga kita ada disini. Yang ada hanya akan ngerusak indra penciuman kita." Sambung Alda sembari memutarkan kedua bola matanya.
"Kasihan Cassan tapi itulah balasannya kalau jadi orang jahat." Lia ikut menyambung. Kali ini ia tidak tanggung-tanggung karena Cassan telah mengkhianati kepercayaannya.
Ketiga sahabat tersebut akhirnya pergi begitu saja dari sana dan meninggalkan Cassan ditengah kerumunan para murid.
Setelah melihat kepergian Tiara, Lia dan Alda, para murid kembali menghakimi Cassan tanpa ampun dan melemparinya dengan sisa-sisa telur yang masih ada di tangan mereka.
"Mati aja lo sana."
"Mending bunuh diri deh lo, biar musnah manusia kayak lo di bumi."
"Makan nih telur busuk biar kenyang."
"Dasar tidak tahu malu. Dia pikir dengan membuat video bohongan seperti itu bisa membuat popularitas Tiara hancur? Jangan mimpi deh kamu."
"Iya. Buang jauh-jauh mimpi kamu. Kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tiara."
"Benar. Keluarga Baskara? Apa yang perlu dibanggakan. Masih banyak orang kaya diluar sana jadi jangan sombong kalau jadi orang."
Para murid akhirnya bubar dan menghentikan aksi mereka paska telur yang tersisa telah habis dilemparkan dan bel sekolah sudah mengiang di telinga mereka.
Cassan mengepal erat tangannya dan hanya bisa tertunduk tak berdaya mendengar para murid mencaci maki dirinya. Ia sama sekali tidak berpikir keadaan akan berbalik padanya hanya dalam semalam.
'Baru saja semalam semua orang menghina Tiara, lalu kenapa pagi ini,.. Harusnya Tiara yang ada disini dan bukan aku. Kenapa kalian melakukan ini padaku?' Cassan membatin sambil bercucuran air mata. Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya, memaki Tiara, karena telah mempermalukan dirinya di depan semua orang. Namun sayang semua itu tidak bisa dilakukannya.
"Apakah ini adalah akhir hidupku?" Gumam Cassan dengan pilu yang mendalam.
Air mata pun mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya. Cassan yang malang, yang tidak dihiraukan oleh seorangpun disana, yang tidak dikenali lagi dirinya karena dilaburi telur, hanya ingin berteriak menumpahkan semua kekesalannya pada Tiara walaupun dalam hatinya saja.
Cassan mengangkat kepalanya dan memandang ke langit. Ditatapnya langit yang begitu cerah dan burung-burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya. Lagi, hati Cassan semakin pilu.
"Haha, bahkan pagi pun begitu cerah untuk kemenanganmu, Tiara." Ucap Cassan menangis sedih memikirkan mirisnya nasibnya.
-----
Di semua kelas entah dari kelas satu hingga kelas tiga, semua murid ramai membicarakan rekaman suara yang mengungkapkan kebohongan dari video yang diunggah Cassan.
Meskipun dalam rekaman tersebut tidak disebutkan nama Cassan melainkan nama Hera, para murid tetap percaya bahwa gadis yang menyuruh Adit merekam video tersebut adalah Cassan. Hal itu terdengar jelas dari perkataan sang gadis dimana ia menyebutkan bahwa dirinya mendapat nilai 96 di tes tersebut.
"Tiara, ngomong-ngomong siapa sih orang yang kirim pesan berantai ini?" Tanya Alda penasaran.
Mendengar rasa penasaran datang dari Alda, Tiara tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia juga sedang malas memikirkan ide untuk membohongi sahabatnya itu dan terpaksa Tiara menjual nama Luka.
__ADS_1
"Orang yang mengirim pesan itu adalah Luka." Jawab Tiara simpel, berharap dengan begitu Alda tidak bertanya lagi padanya.
"Apa!? Luka yang mengirim pesan berantainya!?" Teriak keras Alda menggemparkan seisi ruangan.
Semua pasang mata para murid seketika tertuju pada Luka yang duduk di bangku paling belakang.
"Jadi Luka yang kirimkan pesan berantainya?" Komentar seorang siswa.
"Wah jadi percakapan Cassan itu direkam sama Luka?" Sambung yang lain.
Melihat apa yang terjadi, Tiara berakhir dengan menepuk jidatnya karena tidak berpikir Alda akan mengeluarkan suara delapan oktaf miliknya.
Tiara kemudian mengarahkan pandangannya kearah yang sama dengan para murid lalu tersenyum kaku pada Luka yang sedari tadi menatap kearahnya dan Alda, paska namanya diteriaki.
Tiara tidak tahu bagaimana Luka akan menilai dirinya karena telah menjual namanya. Namun yang mengejutkan Tiara, Luka justru mengangguk dan tersenyum padanya seolah-olah dia mengerti dengan situasi Tiara.
Rasa bahagia pun langsung mendebarkan jantung Tiara. Garis bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang sempurna, membiarkan wajahnya yang memerah menunjukan bagaimana perasaan sesungguh-Nya.
"Tapi kalau yang mengirim pesannya adalah Luka, kira-kira dari mana ya Luka mendapatkan nomor kita semua?" Celetuk seorang siswi di tengah-tengah keramaian yang ada.
Perkataan siswi tersebut menimbulkan banyak lagi pertanyaan baru yang muncul diantara para murid, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani menanyakannya langsung pada Luka.
"Tapi satu hal yang kalian perlu sadari, kenapa Luka menolong Tiara?" Ucap seorang siswi mengalihkan anggota kelompok gosipnya memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
"Iya juga ya. Luka sampe rela melakukan semua ini hanya untuk membersihkan nama Tiara." Jawab salah seorang.
"Jangan-jangan mereka,.."
"Mm tidak mungkin. Jangan pikirkan yang bukan-bukan." Sanggah seseorang. "Bagaimanapun juga Luka mengetahui kebenarannya jadi tidak mungkin Luka diam saja."
"Masuk akal sih. Ini hanya sebatas rasa empati Luka saja." Sambung yang lain.
"Aku tidak peduli intinya Luka tahu nomorku hehe."
Setelah melakukan semuanya, Cassan menatap benda yang menghasilkan pantulan wajahnya dikamar mandi. Cassan mengepal erat tangannya dengan tatapan penuh kebencian yang begitu meluap dari kedua bola matanya.
"Wajah ini,.. Ya, aku tidak hancur sepenuhnya. Aku masih memiliki Baskara Grup. Aku sudah menukar wajahku dengan kekayaan Baskara jadi aku belum hancur sepenuhnya. Aku masih bisa bangkit dan membalaskan dendamku pada Tiara." Ucap Cassan membangkitkan setan terakhir yang tertidur di dalam tubuhnya.
Cassan berjalan keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya dari atas meja belajar. Ia membuka pola ponsel lalu masuk ke dalam forum chat sekolah.
Dengan menggunakan akun yang sama, Cassan mulai mengetik kembali sebuah artikel yang ingin diunggahnya untuk membalaskan dendamnya pada Tiara. Ia ingin menunjukkan kepada Tiara dan semua orang jika dirinya, Cassan Baskara, belum sepenuhnya hancur. Ia masih bisa memutar balikkan keadaan seperti yang di lakukan Tiara padanya.
Dalam artikel tersebut, Cassan memasukan foto Lia. Ia memberi keterangan pada foto tersebut, "Amalia Amora sahabat Tiara adalah seorang anak Tukang Cuci Keliling."
Selain keterangan diatas tak lupa Cassan memasukan semua informasi Lia kedalam artikel tersebut yang ia dapatkan dari Leo dulu.
Cassan tidak menemukan cela untuk menghancurkan Tiara, terpaksa ia menggunakan cara lama yang pernah dilakukannya untuk membalaskan dendamnya saat ini.
Tiara sangat menjaga baik Lia dan Alda karena mereka adalah sahabatnya. Jika Cassan tidak bisa menghancurkan Tiara secara langsung maka ia harus menyerang orang yang paling dijaga Tiara. Dengan begitu terjadilah kehancuran Tiara.
"Sekali melempar batu, mendapat dua ekor burung." Ucap Cassan sambil tersenyum sinis.
Setelah memastikan sudah mengunggah artikelnya, Cassan kembali ke sekolah untuk melihat bagaimana tembok pertahanan Tiara hancur. Setan terakhir dalam dirinya sudah bangkit sehingga Cassan begitu yakin dan percaya diri bahwa keadaan akan berubah dalam beberapa menit yang akan datang.
Sesampainya di kelas, Cassan masuk dan mengambil alih tempat duduknya tanpa memikirkan tatapan sinis orang-orang padanya. Ia merasa semuanya itu adalah sisa-sisa rasa yang mereka miliki untuknya perihal video yang ia sebarkan.
Namun sayang, sekali lagi Cassan yang malang akan menemukan akhir dari hidupnya hari itu. Ia tidak mendapatkan dua burung yang dilemparnya sekali dengan batu melainkan mendapat dua kali kehancuran dalam satu hari.
"Ya ampun, lihat siapa yang datang? Hei, lo masih berani juga datang kesini, hah?" Teriak seorang siswi pada Cassan sesaat setelah melihatnya.
Melihat bagaimana siswi itu memperlakukan dirinya, Cassan mencoba mengabaikannya sambil mengeluarkan buku dari dalam tas.
'Haha hinalah aku sepuasnya karena sebentar lagi orang yang kamu hina adalah Lia dan bukan aku.' Cassan membatin senang. Ia berpikir siswi itu masih belum membaca artikel yang diunggah olehnya.
__ADS_1
"Sumpah gila, ada ya orang yang gak tau malu kayak dia." Yang lain ikut berkomentar kala melihat Cassan mengabaikan situasi yang sedang heboh.
"Pergi kamu dari sini. Kami tidak membutuhkan orang PALSU di Boulevar." Sambung yang lain.
Mendengar kata PALSU, Cassan bagaikan dicabut nyawanya dengan paksa dari hidupnya.
"Dasar palsu! Kamu pikir dengan melakukan operasi plastik kamu bisa menggantikan orang yang sudah meninggal dunia?"
"Haha, menggunakan identitas orang yang sudah meninggal tetapi tidak tahu mensyukurinya dan malah melonjak."
"Pantas saja dia dibuang sama orang tuanya dan berakhir di panti asuhan."
"Itu karena dia adalah setan. Orang tuanya bahkan tidak ingin menjadikannya sebagai anak mereka."
"Dasar setan. Mati saja lo sana."
Cassan menutup kedua telinganya rapat-rapat tak ingin mendengar semua kata kasar yang terlontar keluar dengan gampang dari mulut para murid. Tatapan matanya berubah kosong dan seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.
Sesaat Cassan merasakan seluruh ruangan berubah menjadi gelap. Ia tidak bisa melihat apapun disana hanya dirinya seorang yang duduk di ruangan tersebut. Suara hinaan dan cacian terus berdatangan dari berbagai arahnya membuat tubuhnya merasakan sakit yang menusuk tembus hingga ke tulang-tulangnya.
"Tidak. Tidak mungkin." Gumam Cassan perlahan, lama-kelamaan menjadi jelas.
"Murid bernama Cassan Putriani Baskara, dipanggil ke ruang kepala sekolah." Ucap seorang senior dari pintu kelas.
Dewi yang sebangku dengan Cassan pun menyadarkan Cassan dari syoknya dan menyuruhnya ke ruangan kepala sekolah.
-----
Doris yang melihat wajah sembab Cassan hanya bisa merasa kasihan padanya. Meskipun ia sendiri sudah mengetahui apa yang terjadi, bagaimanapun juga ia harus menyampaikan kabar buruk dari pimpinannya untuk Cassan.
"Cassan, maaf sekali tapi keputusan dari pimpinan sekolah sudah dibuat lebih cepat dari dugaan saya." Ucap Doris dengan prihatin.
"Kamu dikeluarkan dari Boulevar High School dan dipastikan tidak diterima di sekolah manapun juga di negeri ini." Lanjutnya.
BANGGGG
Pukulan hebat itu membuat Cassan tersesak. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima kenyataan pahit itu dan keluar dari ruangan Doris.
Di koridor, Cassan mengeluarkan ponselnya lalu membuka forum chat sekolah dan dengan begitu ia mengetahui darimana semua hinaan itu berasal.
Unggahan artikel Cassan tentang Lia sudah berubah menjadi unggahan rahasia jati diri Cassan. Cassan mengetahuinya jika semuanya itu adalah perbuatan Tiara.
"AKU MEMBENCIMU TIARA! AKU SANGAT MEMBENCI DIRIMU! AKU INGIN KAMU MATI! AKU INGIN KAMU TIDAK ADA DI DUNIA INI LAGI! AKU SANGAT MEMBENCI DIRIMU.' Teriak batin Cassan.
Ditengah keputusasaannya, Cassan mengeluarkan ponselnya dan menelfon Leo, harapan terakhirnya.
"Hallo." Leo bersuara di balik ponsel Cassan setelah menerima panggilan darinya.
"Hancurkan Tiara. Aku ingin kamu menghancurkannya." Perintah Cassan berderai air mata.
"Maaf saya tidak mengenal kamu. Perjanjian kita sudah berakhir. Saya sudah mempublikasikan kecelakaan maut pewaris Baskara Grup. Dengan begitu, Cassan Putriani Baskara sudah tiada."
BANGGGG
Cassan jatuh tergeletak di lantai dengan tubuh lemah tak berdayanya.
"Berakhir" Ucap Cassan dengan air mata mengering.
----
Catatan Author :
Selamat membaca. Author cukup bergelut dengan episode ini karena tiba-tiba kehilangan fokus kemarin. Dan karena tidak ingin mengecewakan kalian semua, author baru update hari ini.
__ADS_1
Terimakasih! Katakan sesuatu tentang perasaan kalian bagaimana episode berakhirnya Cassan. Komentar dibawah ya!!