Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#104 Misi Bersama Luka


__ADS_3

Keluar dari washroom Tiara berjalan menghampiri para sahabatnya. Dari kejauhan matanya sudah menangkap sosok Luka, Reno dan Saka bergabung bersama mereka.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi, Tiara akhirnya berkata bohong pada Lia, Alda dan Abie agar ia bisa pergi ke hotel tersebut untuk menjalankan rencananya.


"Guys, maaf ya tapi aku tidak bisa ikut bergabung sama kalian sekarang." Ucap Tiara sembari mengambil tas punggungnya dari atas kursi.


"Lah kenapa Tiara?" Tanya Alda bingung.


"Soalnya aku harus turun ke lantai bawah untuk belanja beberapa pakaian harian." Lanjutnya, menunjukkan ekspresi bersalah di depan mereka.


"Kita bermain wahana dulu di lantai atas, pulangnya baru belanja saja." Alda berpendapat yang kemudian di setujui oleh Lia dan Abie.


"Kalian mau bermain wahana?" Tanya Reno ingin tahu.


"Rencananya sih begitu." Jawab Lia.


"Maaf Al, tapi kalau harus menunggu kita selesai bermain wahana dulu, aku rasa waktunya sudah tidak akan cukup untuk kita bersiap-siap ke acara ulang tahun teman Reno." Tiara beralasan.


"Iya sih, Tiara benar. Sebentar lagi sudah jam tiga sore. Mana kita belum main wahana, mana harus berbelanja lagi, belum pulang dan siap-siap untuk ke acaranya. Waktunya tidak bakalan cukup." Sambung Abie menjelaskan.


Mendengar itu, Alda akhirnya mengalah dan membiarkan Tiara turun untuk melakukan keinginannya.


"Tapi kamu ditemani siapa?" Tanya Alda ditengah kekecewaan dirinya.


"Aku,.."


"Aku yang temani Tiara." Sahut Luka yang menyadari sesuatu setelah matanya menangkap jarum jam menunju pukul tiga sore. Ia teringat akan tujuan Tiara yang ingin mengikuti sosok perempuan kemarin di hotel Kristal.


Sesaat keheningan terjadi diantara mereka manakala mendengar Luka akan menemani Tiara. Namun kemudian suara Tiara memecahkan keheningan tersebut.


"Iya, biar aku dan Luka saja yang pergi. Kalian bisa bermain bersama Reno dan Saka, okay? Bye." Ucap Tiara lalu menarik tangan Luka keluar dari restoran.


Melihat bagaimana tingkah kedua pasangan itu, Alda dan yang lainnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil tertawa lucu.


"Ok, bye.." Jawab mereka bersamaan lalu lanjut menikmati makanan mereka.


-----


Dalam perjalan mereka menuju hotel Kristal, Tiara menjelaskan semua rencananya pada Luka membuat Luka berdecak kagum padanya.


"Kamu serius ingin melakukan itu?" Tanya Luka ditengah keterkejutannya.


"Iya." Angguk Tiara. "Aku tidak ingin melewatkan setiap kesempatan meskipun pada akhirnya semua itu hanyalah kesia-siaan belaka." Lanjutnya.


Lagi untuk kesekian kalinya Luka terkejut melihat sisi lain dari Tiara. Pikirannya terus bertanya-tanya, perempuan seperti yang disukai olehnya itu?


"Sekilas tadi aku melihat seseorang yang mirip dengan perempuan itu di restoran." Ujar Luka, mengingat kembali kemiripan diantara kedua sosok tersebut.


"Itu memang dia. Selesai makan dia akan menemui orang itu." Jawab Tiara meyakinkan Luka jika ia tidak salah melihat orang.


"Oh."

__ADS_1


"Nah kita sampai." Ucap Tiara, mengambil tempat duduk di bangku panjang pinggir jalan lalu mengeluarkan MacBook miliknya dari dalam tas punggung.


"Sesuai rencana yang sudah aku ceritakan ke kamu tadi, pertama aku ingin kamu masuk ke dalam hotel dan menyamar sebagai perempuan itu." Lanjut Tiara mendapat anggukan paham dari Luka.


"Kamu tidak perlu mengganti baju dan menyamar seperti seorang perempuan tapi yang kamu lakukan adalah masuk ke dalam hotel lalu bertemu dengan resepsionis. Tentunya bukan untuk melakukan check-in karena kamu masih dibawah umur. Ketika resepsionis bertanya 'ada yang bisa dibantu?' kamu bilang saja ingin bertemu dengan orang yang berada di kamar 1289. Kalian sudah berjanji untuk bertemu di kamar itu." Jelas Tiara pada Luka.


"Untuk memastikan apa benar orang yang berada di kamar 1289 memiliki janji dengan seseorang, otomatis resepsionis akan menelfon orang yang berada di kamar tersebut." Lanjut Tiara sambil mengotak-atik laptopnya.


"Iya itu benar. Mereka akan menelfon orang itu. Tapi bagaimana kalau orang itu bertanya pada resepsionis ciri-ciri aku? Bisa ketahuan kalau aku bohong tanpa menyamar terlebih dahulu."


"Itu tidak akan terjadi, aku yakin. Orang itu telah membuat janji dengan perempuan ini di jam 3, kita hanya sedikit lebih awal saja darinya. Yang pasti dengan kamu yang masih mengenakan seragam sekolah ini, sang resepsionis hanya akan melapor padanya bahwa kamu seorang pelajar. Dengan begitu orang itu tidak akan bertanya lagi karena perempuan ini pun seorang pelajar." Tiara memberikan pengertian pada Luka.


"Nah, ini adalah earpiece. Pakai di telinga kamu untuk komunikasi kita berdua." Tiara memberikan benda berwarna hitam yang terlihat seperti sebuah headset pada Luka.


Setelah Luka memasangkannya di telinganya, Tiara mulai mencoba barang tersebut apakah berfungsi dengan baik atau tidak.


"Bagaimana, kamu bisa dengar?" Tanya Tiara yang kemudian di angguk oleh Luka.


"Bagus. Ini adalah alat pelacak milikku yang sudah diaktifkan. Kamera di alat ini akan merekam semua yang ada di depan kamu dan akan terhubung ke MacBook milikku."


Luka kemudian mengambil alat pelacak tersebut dari tangan Tiara dan memasangkannya di saku seragamnya.


"Gimana, kamu bisa lihat rekamannya di MacBook kamu?" Tanya Luka pada Tiara yang terlihat sedang fokus menggerakkan jari tangannya di atas keyboard.


"Iya sudah. Berikutnya dan yang terpenting adalah kamera ini." Tiara mengeluarkan sebuah kamera dari dalam tasnya untuk di berikan pada Luka.


"Sudah? Atau masih ada lagi?" Tanya Luka pada kekasihnya itu.


Luka kemudian menyeberang dari mall dan memasuki kawasan hotel. Satpam tidak bertanya apapun padanya sehingga ia lewat begitu saja dari gerbang. Namun sebelum itu Tiara sudah meng-hack CCTV yang berada di sekitar gerbang dan mematikannya agar wajah Luka tidak terekam oleh kamera.


Beberapa jam jauh sebelumnya, Tiara sudah menggerakkan salah seorang suruhannya untuk melakukan check-in di hotel tersebut. Tujuannya adalah untuk menghitung jumlah CCTV yang terpasang di luar hingga lobi bahkan di koridor hotel dan melaporkannya pada Tiara. Oleh sebab itu Tiara sudah mengetahui semua letak dari CCTV sebelum ia menyadap dan mematikannya dari jarak jauh.


"Kamu jalan seperti biasa saja. Tidak perlu memikirkan CCTV. Aku sudah mengurusnya." Ujar Tiara.


Luka terkejut mendengar perkataan Tiara dari balik earpiece yang dikenakannya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Tiara sudah merencanakan semuanya dengan matang.


"Baiklah aku percayakan padamu." Jawab Luka.


Beberapa meter jauh sebelum CCTV depan hotel merekam keberadaan Luka, Tiara langsung mematikannya. Begitu juga dengan CCTV yang berada di dalam lobi. Ia mematikannya sebelum Luka tiba disana.


Orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan merasa terpanah melihat Tiara dengan cepat menggerakkan jari-jemarinya diatas keyboard. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin menganggu gadis itu. Mereka berpikir Tiara sedang menumpang WiFi untuk mengerjakan tugas sekolahnya karena ia mengenakan seragam sekolah.


Di dalam lobi seperti dugaan Tiara sebelumnya, resepsionis hanya melapor pada orang yang berada di kamar 1289 bahwa seorang pelajar ingin bertemu dengannya dan tanpa bertanya lagi Luka pun diberitahu untuk menaiki lift menuju lantai empat bangunan. Sang Resepsionis juga memberitahunya dimana letak pastinya kamar tersebut agar memudahkan Luka menemukannya.


Salah satu tujuan Tiara menyuruh Luka menyamar dan bertemu resepsionis adalah untuk mengetahui di lantai berapa kamar bernomor 1289 itu berada. Karena selain mereka tidak mengetahui siapa nama orang tersebut, mereka pun tidak bisa menanyakannya pada resepsionis karena data pengunjung merupakan hal privasi yang harus di jaga betul oleh pihak hotel.


Tiara bersyukur karena ia bisa mendengar perempuan itu menyebutkan nomor kamar yang akan ia datangi sehingga memudahkannya dalam melakukan misinya. Namun jika tidak maka rencana Tiara akan lebih susah dan sulit lagi dari pada yang sekarang ia dan Luka lakukan.


Sebelum Luka menaiki lift, ia memberitahu Tiara lift mana yang akan di naikki olehnya dengan begitu Tiara bisa mematikan CCTV yang berada di dalamnya.


Setelah memastikan semuanya aman Luka kemudian masuk ke dalam lift dan memencet tombol menuju basement sesuai rencana mereka. Tidak butuh waktu lama ia sampai di ruang bawah tanah itu dimana tempat para pengunjung memarkirkan kendaraan mereka.

__ADS_1


Tiara sudah memastikan CCTV berada dalam keadaan mati sebelum Luka sampai disana dan tidak lupa juga ia kembali menyalakan lagi CCTV di dalam lift, lobi yang sebelumnya sudah ia matikan agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Aku harus ke arah mana untuk menemukan alarm itu?" Tanya Luka pada Tiara.


"Dari situ kamu belok ke kiri dan lurus saja. Diujung sana ada alarm kebakaran. Tarik pelatuknya agar alarm berbunyi." Tiara memberi aba-aba sambil melihat blueprint hotel yang sudah ia copy tadi malam dengan cara meretas sistem keamanan hotel.


Luka memantau daerah sekitarnya sebelum ia melakukan perintah Tiara.


Dalam sekeja alarm kebakaran pun langsung berbunyi dan semua pengunjung yang berada di dalamnya menjadi panik dan berlarian keluar hotel termasuk para staf-staf hotel.


Pada kesempatan ini, Tiara meminta Luka untuk berlari menaiki anak tangga menuju lantai empat bangunan. Luka tidak mungkin menaiki lift karena ia harus menghindari keramaian yang ada. Meskipun di tangga ia juga menemukan beberapa pengunjung yang berlari turun dari lantai atas, Luka terus berlari menaikinya tanpa mempedulikan peringatan orang-orang disana.


Tiara terus memberi aba-aba kemana dan dimana Luka harus berhenti atau berbelok meskipun ia sudah mendengar nafas sepotong-sepotong milik Luka. Jauh di dalam hatinya, Tiara merasa sedih dan bersalah pada Luka tapi apa boleh dikata hanya cara ini yang bisa ia pikirkan.


"Stop. Kamu sudah sampai di lantai empat." Seru Tiara yang kembali terdengar di earpiece Luka.


"Huh huh hah,.. se sekarang aku harus kemana?" Tanya Luka terengah-engah.


"Sekarang kamu belok ke kanan dan kamar tersebut berada di sebelah kiri kamu. Tepatnya kamar ketiga dari ujung." Ucapnya lalu mematikan CCTV yang berada di lantai empat.


Luka kemudian berjalan sesuai aba-aba Tiara dan menemukan kamar bernomor 1289 yang dimaksud.


"Huh huh,.. Aku menemukannya." Ucap Luka dengan kerongkongan yang sudah mengering.


Sesuai rencana, semua orang dalam bangunan sudah di evakuasi keluar hotel. Tidak terlihat satu orang pun disana sehingga Luka dengan bebas masuk ke dalam kamar itu.


"Sekarang kamu masuk ke dalamnya." Perintah Tiara.


"Terus coba kamu arahkan alat pelacaknya ke sekeliling ruangan agar aku bisa melihat spot yang tepat." Perintah Tiara lagi setelah Luka masuk ke kamar.


"Berhenti. Simpan kamera itu di vas dekat jendela itu. Selipkan kameranya diantara bunga-bunga agar tidak kelihatan dan pastikan kamu sudah menyalakannya."


"Oke." Jawab Luka lalu melakukannya sesuai perintah.


Setelah semuanya berjalan sesuai rencana, Luka Keluar dari dalam hotel melalui tangga yang tadi ia lalui. Setibanya ia di bawah, pihak hotel memberi pengumuman kepada para pengunjung dan staf bahwa tidak terjadi kebakaran seperti yang dipikirkan.


"Mohon maaf semuanya. Saya adalah manager hotel Kristal. Tidak ada kebakaran yang terjadi di dalam hotel. Seseorang dengan sengaja telah menarik alarm kebakaran hotel sehingga semua kepanikan ini terjadi. Kami berjanji akan menemukan pelaku tersebut secepatnya setelah mengecek rekaman CCTV hotel. Terima kasih."


Dari kejauhan mata Tiara menangkap Luka yang terlihat lemas dan hampir kehabisan nafas. Ia kemudian mengeluarkan botol minuman miliknya dan memberikannya Luka.


"Terima kasih." Ucap Tiara merasa tidak enak hati setelah melihat kondisi Luka.


"Dasar bodoh. Aku kan sudah bilang kamu hanya boleh minta tolong sama aku. Jadi apapun itu akan aku lakukan meskipun lebih gila dari yang tadi." Luka berkata sambil mengelus-elus rambut Tiara.


"Sekali lagi terima kasih yah. Kamu memang pacar yang paling luar biasa di dunia. Idaman semua perempuan di luar sana. Dan aku rasa aku adalah orang yang paling beruntung karena memiliki kamu."


"Haha,.. kamu gombal lagi ya." Luka menertawakan Tiara yang terlihat imut saat mengutarakan perasaannya.


"Gombal? Aku serius tahu,.."


Sebelum Tiara menyelesaikan perkataannya sebuah ciuman hangat mendarat di keningnya membuat ia membeku seribu bahasa.

__ADS_1


"Lain kali lakukan itu jika kamu ingin berterima kasih pada pacar mu ini."


__ADS_2