Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#84 Junior Vs Senior


__ADS_3

Cassan terus saja mengobrak-abrik barang-barang miliknya di dalam lemari dan membuang semuanya ke lantai hanya untuk menumpahkan kekesalannya kepada Tiara.


Cassan sama sekali belum menyadari ada barang lain diatas tempat tidurnya yang di kembalikan oleh Lia. Ketika ia merasa sudah cukup untuk meredakan amarahnya, Cassan akhirnya menghentikan kegilaannya.


Ia lalu menatap pada paper bag yang di simpannya begitu saja di lantai. Seketika wajah Tiara yang sedang mengenakan baju tersebut kembali mengusik pikirannya.


Cassan mengepalkan tangannya sekuat mungkin dan menggigit bibir bawahnya hingga cairan berwarna merah mengucur keluar dari sana. Matanya penuh dengan kebencian seakan ia ingin menghilangkan Tiara saat itu juga dari muka bumi.


"Untuk apa lagi baju ini? Udah gak berguna." Ucap Cassan lalu menginjak-injak paketan tersebut.


Cassan sangat membenci Tiara jadi ia tidak ingin mengenakan baju yang sama dengannya. Mengingat secara garis besar keduanya memiliki perbedaan yang begitu mencolok.


Tiara tanpa enggan mengenakan baju mahal tersebut untuk kesehariannya, sementara Cassan harus berpikir dua bahkan tiga kali lipat sebelum ia benar-benar memutuskan untuk saat tertentu mana yang mengharuskannya mengenakan baju itu.


Selain itu jika ia memaksakan dirinya untuk mengikuti seperti yang Tiara lakukan, orang-orang hanya akan menilainya sebagai imitasi Tiara. Cassan hanya akan menjadi yang kesekian dari Tiara mengingat kecantikan keduanya sangat jauh berbeda.


Cassan akhirnya menerima keadaannya bahwa ia tidak bisa mengenakan baju tersebut dan memutuskan untuk membeli baju yang lain sebagai gantinya.


Ketika ia hendak mencari keberadaan ponselnya, Cassan menemukan barang-barang yang dibelikannya untuk mengelabuhi Lia selama ini tergeletak diatas tempat tidurnya.


Cassan tidak pernah berpikir jika Lia yang seorang anak dari tukang cuci, miskin dan rendahan, mau mengembalikan lagi barang-barang yang sudah di belikan olehnya.


Cassan merasa harga dirinya seperti diinjak-injak. Selain oleh Tiara, oleh Lia juga.


Emosinya pun kembali memuncak melihat itu. "Apa kalian semua mempermainkan aku, hah!? Apa kalian pikir aku hanya pantas menerima barang-barang bekas saja!? Iya begitu?" Ujar Cassan sedikit berteriak sambil menyapukan semua barang-barang tersebut ke lantai dengan kedua tangannya.


Cassan terlihat begitu bebas melakukan apa saja di dalam kamar bernomor 111 tersebut. Berteriak, membuang, menginjak barang-barang bahkan menyumpahi Tiara, Lia dan Alda sesuka hatinya karena ia hanya sendirian saja disana.


Rasa benci Cassan pada ketiga sahabat tersebut semakin tidak terbatas. Ia berjanji bahwa ia harus membalas mereka semua suatu saat nanti.


"Lihat saja nanti pembalasan aku." Ucap Cassan dingin dan menusuk.


-----


Di kantin asrama Tiara, Lia dan Alda terlihat berseri-seri menatap hidangan makanan yang sudah mereka pesankan tanpa mempedulikan Cassan yang mencaci maki mereka diatas sana.


Makanan tersebut merupakan makanan dengan kategori yang sangat mahal dan Tiara-lah yang membelikannya.


Para siswi yang berada di kantin menatap ketiga orang tersebut dengan tatapan 'wah' saat melihat begitu banyak makanan mahal tersajikan diatas meja mereka.


"Tiara, seriusan ini semua kamu yang traktir? Kita gak salahkan? Ini udah kayak satu perjamuan makan malam mewah." Tanya Alda masih belum percaya pada penglihatannya.


"Iya Tiara. Satu porsi saja sudah cukup kok, tidak perlu sebanyak ini." Komentar Lia malu-malu.

__ADS_1


Tiara hanya tersenyum hangat pada kedua sahabatnya itu, "tidak ada yang salah kok." Jawabnya sederhana. "Selama malam keakraban berlangsung kita hanya makan seadanya saja jadi anggap saja ini semua sebagai gantinya."


Mendengar Tiara mengatakan itu, Lia maupun Alda semakin bersemangat untuk menyantapnya.


"Kya.. Makasih ya Tiara kamu baik banget." Ucap Lia ingin memeluk Tiara namun dirinya terhalangi oleh meja dan makanan super lezat tersebut.


"Makasih ya. Aku akan makan yang banyak, jangan khawatir." Ucap Alda sambil mengambil bagiannya.


Namun setelah sesendok nasi masuk kedalam mulutnya, Alda tiba-tiba saja bertanya, "Tiara jangan bilang kamu anak orang kaya?" Ia menjudge Tiara saat itu juga akan tetapi Alda sama sekali tidak memiliki motif lain.


Alda hanya berpikir Tiara pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli semua makanan tersebut.


Perkataan Alda langsung saja membuat Tiara tersendat karena kaget lalu dengan cepat Lia menyodorkan segelas minuman pada Tiara untuk melonggarkan kembali tenggorokannya.


Setelah memastikan ia bisa berbicara lagi, Tiara dengan lihai memainkan ekspresi di wajahnya. Ia tertawa seolah-olah sedang mendengar lelucon dari mulut Alda.


"Haha aku harap begitu." Tiara menjawabnya dengan ekspresi datar.


Jawaban Tiara membuat Alda dan Lia beranggapan bahwa Tiara hanyalah seseorang anak dengan status sosial kelas menengah seperti mereka, karena Tiara menggunakan kata 'Aku harap' untuk menjelaskan dirinya.


Kedua sahabat tersebut akhirnya lanjut menyantap makanan mereka tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun pada Tiara.


Diam-diam Tiara menatap Lia dan Alda lalu menghela nafas panjangnya. Sekali lagi ia membohongi kedua sahabat baiknya itu. Ada rasa bersalah dalam dirinya namun apa mau dikata, ia harus merahasiakan jati dirinya.


"Gila kenyang banget aku." Ucap Lia meluruskan kedua kakinya kedepan atau berselonjoran sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit.


Hal yang sama pun dilakukan oleh Alda karena kedua dari mereka yang terlihat paling banyak menghabiskan makan lezat tadi. "Aku rasa kita kayak gini dulu aja. Aku udah gak bisa jalan saking kenyangnya."


Tiara hanya bisa tertawa lebar melihat kedua sahabatnya itu. Lia yang tadi mengatakan satu porsi saja cukup justru paling banyak menghabiskan makanannya.


Tak menjelang lama sebuah suara terdengar, mengganggu ketenangan Tiara, Lia dan Alda. "Wow siapa nih?" Ucap gadis bermake up tebal diikuti kedua temannya dari belakang.


Melihat kearah datangnya suara, ketiga pasang mata sahabat tersebut terkejut mendapati Monica, Susi dan Lidya berdiri dengan tangan melipat di perut, menatap rendah pada mereka.


Tiara menghela nafas panjangnya lagi karena malas berurusan dengan ketiga serangkaian itu terutama Monica. Begitu juga dengan Lia dan Alda yang sudah pernah berpapasan dengan mereka.


"Haha dengar-dengar katanya teman kamu menghilang ya di hutan?" Ucap Monica sombong pada Tiara. "Sayang ya, harusnya sih menghilang saja jangan ditemukan lagi."


"Maksudnya kakak ngomong kayak gitu apa?" Alda langsung naik pitam kala mendengar ucapan Monica. Ketika matanya melirik pada Lia, Lia terlihat syok mendapat ucapan tidak terduga tersebut.


"Hei, bicara yang sopan. Kamu pikir kami ini siapa? Kami senior disini." Ucap Monica tak mau kalah. Ia paling tidak suka dengan orang yang meninggikan suara di depannya.


"Iya tentu saja saya tahu saya harus menghormati seorang senior, tapi bukannya kakak sudah kelewatan sekali berkata seperti itu pada orang yang mengalami musibah?" Lanjut Alda.

__ADS_1


"Terserah saya dong mau omong apa kek. Mulut mulut saya, kenapa kamu yang repot?" Ucap Monica.


"....." Alda.


"Kalau gitu jangan ngegas kalau dia gak sopan. Mulut mulut dia, kenapa kakak yang repot?" Sambar Tiara sembari bangkit dari tempat duduknya dan menatap dingin pada Monica.


Alda tertawa kecil dalam hatinya mendengar bagaimana savage-nya mulut Tiara.


"Kamu,.." Monica kehabisan kata-kata untuk menjawab Tiara. Ia merasa kesal karena selalu kalah dalam kata-kata melawan Tiara.


"Yuk, ke kasir. Aku harus bayar makanannya." Tiara mengajak Alda dan juga Lia untuk meninggalkan tempat tersebut sekaligus menghindar dari masalah.


"Berhenti! Kata siapa kalian boleh pergi? Gak sopan banget." Monica kembali bersuara. Ia belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya kalah dari Tiara. Hal tersebut sama saja membuat harga dirinya jatuh.


Perdebatan diantara senior dan junior itu pun mendapat perhatian dari semua orang yang berada disana. Mereka menonton sambil menikmati makanan mereka seolah-olah seperti sedang berada dalam pertunjukan live.


"Kakak punyak hak apa untuk ngelarang kami ke kasir?" Tanya Tiara. "Oh, kakak penjual disini? Kalau gitu saya bayar makanannya. Berapa semuanya?" Ucap Tiara sambil mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya untuk Monica.


Perkataan sekaligus tindakan Tiara ini langsung mengundang tawa pecah dari semua orang yang menonton mereka. Tidak hanya para junior, senior lain pun ikut menertawakan Monica.


"Kamu,.." Lagi-lagi Monica tidak bisa berkata-kata. Ia merasa sangat malu karena semua orang menertawakan dirinya.


"Kenapa? Apa aku salah?" Tiara pura-pura bertanya pada Alda karena Monica tidak menerima uang darinya.


Ekspresi yang ditunjukan oleh Tiara pun sangat mendukung aktingnya.


"Tiara, jelas kamu salah. Kasirnya ada di sana. Kita kesana aja yuk." Ucap Alda tak mampu menahan tawa puas dalam hatinya. Ia tidak menyangka Tiara memiliki sisi lain seperti itu, savage dan lihai dalam mempermalukan orang lain.


"Oh gitu, habisnya tadi aku bilang mau ke kasir untuk bayar malah ditahan. Jadi aku pikir kakak ini tukang jualan disini." Ucap Tiara pura-pura polos mengundang semakin banyak orang menertawakan Monica.


Tiga junior yakni Tiara, Lia dan Alda akhirnya pergi dari sana dan meninggalkan tiga senior diantaranya Monica, Susi dan Lidya begitu saja.


"Akhirnya Junior vs Senior dimenangkan oleh Junior." Seorang berkomentar.


Tiara membayar makanan mereka dan kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, keadaan sudah kembali rapih.


Cassan sudah membereskan semua barang-barang miliknya ke dalam lemari sementara barang yang di kembalikan Lia dibuangnya ke tempat sampah.


Tiara dan Alda memandang Lia yang menatap ke arah tempat pembuangan tersebut dan mendapati ekspresinya bercampur aduk.


"Lia, kamu gak apa-apa?" Tanya Alda?


Lia menghela nafasnya lalu menjawab "iya gak apa-apa" dan tersenyum pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2