
Keesokan paginya Tiara terlihat bangun lebih awal dari semua siswi yang tinggal di asrama Boulevar High School tersebut. Sehabis mencuci wajahnya, ia keluar dari dalam kamar mandi dan menyalakan MacBook miliknya yang di letakan diatas meja belajar.
Sebelum memulai rencananya, Tiara menyanggul sembarang rambut coklat panjangnya lalu mengenakan eyezen untuk melindungi matanya saat berhadapan dengan MacBook.
"Huh, kita mulai." Ucap Tiara setelah menghembuskan nafas panjang.
Kali ini Tiara melakukan Web Hacking. Ia berencana untuk meretas situs web Boulevar High School dan mengambil semua nomor ponsel para murid yang mengunjungi forum chat sekolah. Selain itu Tiara juga meretas situs web milik para guru dan melakukan hal yang sama.
Tentu Tiara sudah mempelajari setiap kelebihan dan kekurangan dari situs tersebut sebelumnya dan menemukan celah untuknya meretas. Termasuk ia bisa mendapatkan nomor para murid disana.
Biasanya pada saat pendaftaran akun baru, para murid di perintahkan untuk memasukan juga nomor ponsel mereka. Otomatis semua data-data yang dimasukkan tersebut akan terekam ke dalam database.
Tiara kemudian menggunakan kesempatan ini untuk melancarkan rencananya.
Jari-jari tangan Tiara secara perlahan bergerak diatas keyboard MacBook. Ia mulai mengetik bahasa pemrograman untuk memberi perintah pada perangkat komputer agar menjalankan apa yang diinginkannya. Setelahnya Tiara terhanyut sesaat dalam dunia yang sudah ia kuasai sejak dirinya masih kecil itu.
Menurut Tiara, situs web atau website yang digunakan di lingkungan pendidikan bukan lagi levelnya untuk meretas. Ia sama sekali tidak menganggapnya sulit untuk diatasi. Hanya dengan memejamkan matanya saja ia sudah bisa menembus sistem keamanannya.
Jika dibandingkan dengan sistem keamanan Boulevar, sistem pelacak milik Key masih jauh lebih tinggi tingkat kesulitannya. Namun demikian Tiara dengan mudah menembusnya apalagi sistem keamanan level rendah seperti yang digunakan di sekolah-sekolah? Lagi-lagi Tiara sama sekali tidak menganggapnya.
"Yap, langkah pertama selesai." Ucap Tiara berhenti sejenak untuk merenggangkan jari-jemarinya.
Setelah berhasil mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, Tiara memulai lagi mengetik bahasa pemrograman yang hanya bisa di mengerti oleh dirinya sendiri. Sedikit berbeda dengan saat dimana ia menembus sistem keamanan, Tiara meng-coding perintah demi perintah berdasarkan syntax untuk memberikan daftar instruksi pada komputer agar mengikuti tujuannya.
Dengan cepat dan lihai jari-jemari Tiara bergerak diatas papan berhuruf itu, lalu beberapa menit kemudian ia mengakhirinya.
"Langkah kedua selesai." Ucap Tiara.
Layar MacBook milik Tiara yang berubah warna menjadi hitam sejak ia memulai membobol sistem ini, terlihat bergerak dengan sendirinya menampil kode-kode aneh dan rumit untuk dipahami oleh kaum biasa. Tiara lalu membiarkan apa yang sudah di kerjakannya itu diterjemahkan dan dimengerti sendiri oleh mesin.
Mesin mulai mengirimkan rekaman percakapan antara Cassan dan Adit ke semua nomor ponsel para murid dan guru sesuai perintah Tiara, namun dari semua nomor tersebut Tiara mengecualikan pengirimannya kepada Cassan, Stacy dan anggota gengnya.
Tiara membiarkan Cassan menuai apa yang sudah ditanamnya sendiri. Karena Cassan sudah mencoba menghancurkan Tiara di depan mata Tiara sendiri maka Tiara akan menghancurkan Cassan dengan cara sebaliknya. Ia menghancurkan Cassan dari belakang tanpa membuat Cassan mengetahuinya.
Ketika waktu sudah menunjukkan jam bangunnya para siswi, Tiara sudah menyelesaikan rencananya dengan sempurna. Ia tinggal menunggu bagaimana reaksi para murid atas kejutan yang sudah diberikan olehnya.
"Pagi Tiara." Ucap Lia yang langsung terbangun setelah mendengar dentingan lonceng asrama berbunyi.
"Pagi." Jawab Tiara menutup kembali MacBook.
"Kamu udah bangun dari tadi ya?" Sambung Alda setelah membuka mata dan melihat Tiara duduk di meja belajarnya.
"Iya. Aku hanya terbangun lebih awal saja jadi kupikir sebaiknya aku belajar karena semalam aku sama sekali tidak membuka buku." Jawab Tiara membohongi sahabatnya.
"Oh, kenapa tidak bangunkan kami juga untuk belajar. Padahal semalam pun aku sama sekali tidak membuka buku." Ucap Alda.
"Iya aku juga." Sahut Lia dari ujung sana.
"Sudahlah lagian aku hanya bangun lebih awal setengah jam dari kalian." Ucap Tiara.
"Ya udah yuk, mandi." Alda mengajak.
Mengabaikan Cassan yang masih tertidur lelap, ketiga sahabat itu bergegas ke kamar mandi dan melakukan aktivitas pagi mereka seperti biasanya.
-----
"Hei ada apa? Kamu tidak mau mandi?" Tanya seorang siswi pada temannya yang terlihat fokus mendengarkan sesuatu di ponselnya.
Tidak mendapat jawaban, siswi tersebut menjadi penasaran dan bertanya kembali, "ada apa sih serius amat?"
"Gila gila gila. Aku mendapat rekaman suara dari nomor yang tidak di kenal." Jawabnya dengan heboh.
"Maksud?" Tanya siswi itu dengan bingung.
__ADS_1
"Coba kamu buka hp kamu dan lihat, siapa tahu kamu juga mendapat pesannya." Ucap temannya.
Siswi itu kemudian mengambil ponselnya dan membuka. Awalnya ia juga terkejut melihat ada pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal seperti yang dikatakan temannya itu namun kemudian ia menepisnya.
"Bagaimana, ada tidak pesannya?" Tanya temannya lagi.
"Ada sih pesan masuk dari nomor tidak dikenal, paling dari operator, tidak penting juga." Jawab siswi itu dengan malas dan meletakan kembali ponselnya diatas tempat tidur.
"Ih buka dulu dan dengar. Kamu pasti terkejut setelahnya." Ujar temannya memaksa.
Sambil menghela nafas panjang tidak berdaya, siswi tersebut kembali membuka pesan yang dimaksud dan mendengarkan isi rekaman percakapan antara Cassan dan Adit.
Mimik wajah keterkejutannya terlihat sangat jelas kala mendengar rekaman tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar semua kebenaran di balik artikel dan video yang menjadi tranding topik semalam.
"Jadi video yang diunggah ke forum chat itu bohongan?" Tanya siswi tersebut masih dibaluti rasa penasaran dan kaget.
"Iya kamu dengar sendiri kan bagaimana percakapannya." Jawab temannya.
"Sumpah, hanya karena ingin menjatuhkan Tiara, orang ini sampai melakukan hal seperti ini?"
"Iya tega sekali." Jawab temannya lagi. "Tapi ngomong-ngomong, kira-kira siapa ya orang yang kirim rekaman ini ke kita?" Tanyanya, tiba-tiba saja merasa penasaran.
"Iya, siapa ya? Tunggu! Jangan-jangan pesannya di kirim ke semua murid Boulevar lagi?" Tebak siswi itu sambil melotot lebar.
"Apa!? Tidak mungkin. Emangnya dia operator Telkomsel?" Bantah temannya tidak percaya.
Bagaimana tidak, mengingat banyaknya murid Boulevar yang hanya bisa dihitung dengan sistem komputer, orang kaya mana yang mau menghabis uangnya untuk membeli pulsa dan mengirim rekaman tersebut kepada semua murid melalui pesan singkat?
"Lagian nih ya dia bisa saja menggunakan forum chat sekolah kan untuk mengunggah rekamannya?" Lanjut teman siswi tersebut.
Namun pemikiran itu langsung berubah kala ia mendengar kedua teman sekamarnya yang lain membicarakan hal yang sama.
"Itu kan kata aku benar." Ucap siswi tersebut.
Sama halnya dengan mereka, di kamar-kamar yang lain bahkan di asrama siswa pun semuanya membahas hal yang sama dan mengejutkan mereka itu. Tak terkecuali para guru-guru yang juga begitu syok mendapatkan pesan singkat tersebut.
Kini Forum chat yang semalam begitu ramai menjadi sepi pengunjung. Komentar hinaan, cacian yang ditujukan pada Tiara pun tidak berdatangan lagi karena para murid sibuk membahas pesan singkat yang di kirim Tiara ke masing-masing ponsel mereka.
Cassan terbangun dari tempat tidurnya setelah bermimpi indah. Jarang-jarang ia terbangun dari tidurnya dengan wajah sumringah. "Hm, hari yang indah." Gumamnya sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Cassan memandang ke sekelilingnya dan mendapati ketiga tempat tidur lainnya sudah rapi dan teratur. Sepasang telinganya kemudian mendengar percikan air dari dalam kamar mandi dan mengetahui bahwa ketiga sahabat tersebut sedang membersihkan tubuh mereka.
"Tiara, hari ini adalah hari kehancuran mu. Apa kamu sudah siap?" Ucap Cassan sambil membayangkan bagaimana orang-orang akan memperlakukan Tiara sebentar.
"Haha.. Hari bahagiaku telah tiba, la la la la.." Cassan bersenandung bahagia sambil merapikan tempat tidurnya. Sesekali ia melompat mengikuti lagu yang di senandungkan.
Ketika Tiara, Lia dan Alda keluar dari kamar mandi secara bersamaan, Cassan dengan cuek tanpa memandang mereka, berjalan masuk ke kamar mandi dengan handuk di pundaknya sambil terus bersenandung lembut.
Lia dan Alda yang melihat tingkah laku aneh Cassan ini hanya bisa saling bertukar tatapan tanpa mengeluarkan suara.
"Lupain saja. Udah gila mungkin dia." Ucap Alda dan berjalan kembali.
"Al,.." Lia bersuara.
"Kenapa? Masih mau belain si rubah betina itu?" Tanya Alda pada Lia yang mencoba mengomentari perkataannya.
"Enggak bukan itu maksudku." Lia membela diri.
"Ya udah, kalau gitu jangan pedulikan dia. Otaknya mungkin udah kepentok tempat tidur makanya dia eror begitu. Jarang-jarang kan baterei nya habis." Ucap Alda yang disambut tawa kecil dari Tiara.
Lia hanya bisa menghela nafas panjang mendengar perkataan kasar Alda. Bagaimanapun juga ia tidak bisa berbuat banyak atas rasa benci Alda terhadap Cassan karena dirinya juga kini begitu benci padanya.
Tanpa disadari dibalik daun pintu kamar mandi, Cassan menguping semua pembicaraan mereka. Dan begitulah bagaimana rasa tak kalah bencinya Cassan pada Alda selain Tiara.
__ADS_1
"Lihat aja sebentar. Kalian yang bakalan gila menghadapi kemarahan para murid pada Tiara, sahabat kalian." Ucap Cassan sinis lalu masuk ke kamar mandinya.
-----
Sejak di kantin asrama hingga perjalanan ke sekolah, Cassan merasa ada yang berbeda dengan sekitarnya. Harapannya untuk melihat orang-orang memperlakukan Tiara dengan buruk tidak sesuai dengan kenyataannya. Justru sebaliknya, orang-orang memandang dirinya dengan tatapan menjijikkan seolah-olah dirinya adalah mahkluk berbeda yang bukan berasal dari bumi.
Telinga Cassan mulai mendengar kata cacian dan hinaan datang dari semua arahnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana keadaan telah berbalik menyerangnya untuk menghancurkan dunia angan dan nyatanya.
'Apa yang terjadi!? Kenapa mereka menatapku seperti itu!? Ada apa!?' Cassan membatin seribu tanya.
Merasa ada sesuatu yang sudah di lewatkan olehnya, Cassan membuka pola ponselnya dan masuk ke forum chat sekolah. Tidak ada artikel baru disana bahkan unggahannya tentang Tiara pun masih bertengger di halaman atas. Namun Cassan merasa semakin aneh ketika matanya melihat kolom komentar. Para murid tidak lagi membahas Tiara dan hampir semua komentar buruk semalam sudah dihapus dari unggahannya.
"Kenapa komentarnya menghilang? Apa forum chat lagi crash karena banyak yang komentarin videonya?" Tanya Cassan penasaran.
"Iya mungkin saja ada komentar yang harus di hapuskan karena terlalu banyak yang berkomentar disana." Ucap Cassan sambil menganggukkan kepalanya mencoba untuk menyakinkan dirinya kembali bahwa tidak ada hal aneh yang terjadi.
"Perasaan aku saja sepertinya." Lanjut Cassan lagi lalu berjalan kembali menuju gerbang sekolah.
Cassan berpikir suasana hatinya sudah kembali membaik tapi kenyataannya jauh di dalam hati kecil Cassan, ia tetap merasakan adanya keanehan. Namun karena hanya ingin memikirkan bahwa Tiara akan hancur sebentar lagi, Cassan menepis rasa itu dan bersenandung lembut untuk menutupi kecemasannya.
Setelah memasuki gerbang sekolah, Cassan langsung di dorong oleh seorang siswi dan terjatuh ketanah. Siswi tersebut langsung berlari ke pinggir dan membiarkan para murid lainnya melempar Cassan dengan telur busuk.
"Rasakan itu, dasar rubah."
"Iya mati saja kamu."
"Menghilang saja dari muka bumi ini bila perlu."
"Jangan menginjakan kaki kotormu di Boulevar lagi."
"Keluar kamu dari Boulevar dasar jala**."
"Lo gak pantas ada disini."
Cassan malang yang tidak mengetahui apapun ini hanya bisa terkejut melihat apa yang terjadi padanya. Kemarahan para murid yang diharapkan olehnya terjadi pada Tiara malah berbalik dan terjadi padanya.
"Ada apa semuanya ini?" Tanya Cassan perlahan namun suaranya terdengar sampai ke telinga salah satu murid.
"Ada apa? Haha kamu kan yang suruh orang untuk bikin video palsu itu dan menjatuhkan Tiara?"
Bagaikan disengat listrik bertegangan tinggi, Cassan terkejut mendengar perkataan murid tersebut.
'Bagaimana mereka tahu?' Cassan membatin bingung namun tetap tidak bisa menghindari telur busuk yang terus berdatangan dari segala arahnya.
'Jangan-jangan semuanya ini,..' Cassan tiba-tiba teringat oleh Tiara. Ia lalu mengepal erat tangannya dan menumbuhkan rasa benci yang semakin mendalam pada Tiara.
Ketika merasa tidak ada lagi lemparan telur datang kearahnya, Cassan yang tertunduk sedari tadi mengangkat wajahnya dan mendapati Tiara, Lia dan Alda sedang menatap rendah padanya.
Tatapan dingin Tiara bagaikan seorang ratu yang tak bisa terkalahkan dan tak tersentuh oleh apapun membuat Cassan bergemetar ketakutan.
-----
Catatan Author :
Syntax adalah aturan penulisan dalam bahasa pemrograman.
Eyezen adalah Product Essilor Indonesia untuk mengatasi mata lelah saat membaca dan melakukan kegiatan di depan layar digital.
***
Yang tersusah dalam menyusun. Selamat membaca semoga terhibur ya♥️.
Jangan lupa untuk Like, Komentar dan Vote karena itu semangatnya author😊.
__ADS_1