Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#107 Pesta Ulang Tahun 2


__ADS_3

Ketika acara pemotongan kue selesai, Gerald dan Ria mulai menjamu para tamu undangan. Akan tetapi jauh sebelum itu Tiara sedang serius memperhatikan sesosok perempuan yang belum lama ini ia kenal namun sudah menarik perhatiannya bahkan sampai membuatnya harus membuang waktu hanya untuk mencari informasi tentang dia.


Perempuan itu dikenal semua orang karena pembawaannya yang lugu, ceria, baik hati, lemah dan lembut juga polos. Karena kepribadian miliknya itulah semua orang yang mengenal dia, menaruh rasa suka padanya.


Banyak kaum lelaki yang menginginkan dirinya begitu juga kaum perempuan yang lebih suka memilih berteman dengannya dibandingkan sahabatnya yang memiliki kepribadian 180° berbeda darinya.


Tiara memperhatikan perempuan itu lantaran karena dia tiada hentinya menatap lelaki yang berdiri diatas panggung sambil menggandeng tangan perempuan lain disampingnya. Sebuah tatapan dan juga ekspresi yang membuat Tiara langsung menyadari jika sesuatu telah terjadi diantara mereka.


Tidak lama kemudian lelaki tersebut turun dari atas panggung bersama sang perempuan gandengannya dan menghampiri perempuan itu yang kini sudah mengalihkan pandangan darinya dengan ekspresi kembali berubah seperti biasa.


-----


Setelah menjamu para tamu undangan yang lain, Gerald menghampiri Reno yang pada saat itu tengah asik berbincang dengan Tiara, Luka dan yang lainnya, sementara Ria menghilang entah kemana.


"Hai Ren." Sapa Gerald sambil mengulurkan tangan kanannya yang kemudian diterima oleh Reno dan keduanya saling berangkulan.


"Hai bro, happy sweet seventeen." Ucap Reno.


"Terima kasih." Jawabnya.


Mata Gerald kemudian tertuju pada Luka dan Saka. Ada sebuah senyuman tersendiri yang ia tunjukan untuk kedua orang sahabat itu sebelum akhirnya ia menyapa mereka.


"Hai Luka, Saka." Sapanya sok akrab dan hendak melakukan hal yang sama namun sayang uluran tangannya tidak di gubris oleh kedua sahabat itu.


Merasa di permalukan di hari bahagianya sendiri, Gerald membatin kesal pada Luka dan Saka. 'Cih, belagu banget jadi orang. Kalau bukan karena lo berdua lebih kaya dari gue, gak sudi gue kek begini.'


Keluarga Gerald adalah salah satu keluarga kaya di kota C namun kekayaan mereka belum bisa di setara kan dengan dua keluarga teratas yaitu Wangsa dan Marapati.


Saat tahu bahwa Reno yang pernah menolong adik perempuannya adalah sahabat baik dari Luka dan Saka, Gerald mencoba akrab dengannya agar bisa menjadi bagian dari mereka. Akan tetapi dalam beberapa kali pertemuan mereka, baik Luka maupun Saka sama-sama tidak menggubris dirinya.


Melihat bagaimana wajah tampan Gerald berubah jelek saat di abaikan Luka dan Saka, Tiara dan ketiga sahabatnya menahan tawa dalam hati mereka tak terkecuali Reno yang sudah berulang-ulang kali melihat penolakan tersebut.


Mencoba untuk melupakan kelucuan yang dirasakan olehnya, Reno kemudian memperkenalkan Tiara dan ketiga sahabat Tiara pada Gerald sebagai temannya.


Gerald bergeming saat mendengar nama Tiara terucap dari mulut Reno lalu tanpa memikirkan yang lain, ia langsung menatap Tiara dengan tatapan yang susah ditebak dan sebuah seringai pun terlihat jelas di sela-sela bibirnya.


'Hm jadi dia yang namanya Tiara? Berani sekali mengenakan gaun hitam di hari bahagia gue. Tapi sudahlah toh warna gaunnya akan cocok sekali dengan nasibnya sebentar.' Batin Gerald.


Gerald tentunya sudah mengenal siapa Tiara karena kepopuleran dan kecantikannya menggema hingga ke telinga para murid dari program kejuruan Boulevar. Namun saat dilihat secara langsung, kecantikan Tiara benar-benar melampaui ekspetasinya sampai-sampai membuat dua orang kekasihnya itu merasa iri.


"Jadi lo yang namanya Tiara? Gue udah dengar banyak tentang lo." Ujar Gerald tanpa basa-basi perkenalan.


Melihat bagaimana reaksi Gerald yang ditunjukan padanya, Tiara menautkan kedua alisnya manakala sepasang telinganya mendengar perkataan tersebut. Namun tentu Tiara tahu betul bahwa semua itu tidak terlepas dari Ria yang telah memberitahu Gerald.


"Saya yakin Ria sudah menceritakan tentang saya dengan baik. Jadi saya rasa, saya tidak perlu memperkenalkan diri saya lagi, bukan?" Ucap Tiara dengan santai dibalik senyum palsunya yang bahkan lebih menakutkan dari pada tatapan tajam dan dingin miliknya.


Seketika seringai milik Gerald menghilang. Saat mendengar cerita Ria, ia berpikir Tiara hanya bersikap sok dingin dan pintar di depan perempuan saja tapi di depan laki-laki dia sama seperti perempuan lainnya. Bertingkah gila bahkan rela untuk menjual diri mereka demi apapun karena pada dasarnya sosok perempuan di mata Gerald adalah mahkluk rendahan, bodoh dan memiliki kodrat untuk selalu dibohongi oleh para lelaki. Namun siapa sangka seorang Tiara berani menjawabnya dengan cara seperti itu.


"Haha menarik, menarik sangat menarik." Tawa Gerald menggelar di seluruh ruangan mengundang semua mata para tamu tertuju padanya dan Tiara.


"Seharusnya gue, ah bukan.. seharusnya saya lebih dulu mengenal anda nona Tiara karena itu akan jauh lebih menarik." Ucap Gerald dengan dingin.


Para tamu undangan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi antara Gerald dan Tiara. Namun yang pasti di balik tawa Gerald, mereka bisa merasakan jika suatu ketegangan sedang terjadi.


"Saya rasa tidak perlu." Balas Tiara lirih lalu mengambil segelas jus diatas meja dan meminumnya dengan elegan seperti sedang menikmati segelas wine.


"Karena anda sendiri sudah tahu jika pertemuan singkat kita hari ini akan menjadi pertemuan yang paling menarik, bahkan meninggalkan banyak kenangan di antara para tamu undangan. Apakah saya benar, tuan Gerald?" Lanjut Tiara dengan dingin lalu mengalihkan pandangan dari gelas jus ditangannya tersebut pada Gerald.


Gerald terkejut mendengar perkataan Tiara. Ia mulai merasa Tiara sudah mengetahui niat mereka yang ingin mempermalukannya di depan semua orang hari ini. Tapi darimana Tiara tahu tentang itu? Mungkinkah rahasianya bocor? Tapi ia sudah memastikan semuanya aman. Pikiran Gerald menjalar kemana-mana.

__ADS_1


Gerald akhirnya menepis pikirannya itu lalu memainkan kembali ekspresi wajahnya untuk membalas perkataan Tiara. Namun sebelum ia sempat melakukannya, suara deringan ponsel miliknya berbunyi membuyarkan semua ketegangan yang ada.


Sesaat Tiara melirik pada layar ponsel Gerald sebelum dia menerima panggilannya namun ia tidak bisa melihatnya dengan jelas nama dari orang yang melakukan panggilan tersebut.


"Baiklah, tunggu aku disitu." Jawab Gerald padanya lalu mematikan panggilan dan pergi dari hadapan Tiara.


Melihat Gerald pergi begitu saja, Tiara memutuskan untuk membuntutinya karena merasa curiga.


"Guys, aku ke toilet dulu sebentar." Ujar Tiara, meletakan kembali jus diatas meja dan berlalu dengan cepat tanpa memberikan kesempatan untuk keenam orang lain bertanya padanya.


Keluar dari aula dengan gaya santai agar tidak menarik perhatian orang-orang apa lagi kedua penjaga pintu, Tiara akhirnya berhasil mengikuti Gerald ke sebuah kamar hotel yang letaknya tidak jauh dari tempat acara.


Gerald memantau ke sekelilingnya sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar membuat Tiara secepat kilat mengumpat dibalik pilar besar hotel.


'Huh, shit! Gila hampir saja ketahuan. Tidak sia-sia ikut belajar mingguan keluarga.' Batin Tiara sambil menghela nafas panjang.


Setelah memastikan Gerald sudah masuk ke dalam kamar, Tiara keluar dari persembunyiannya lalu mengendap-endap menuju kamar tersebut.


Bisa dikatakan keberuntungan selalu datang diantara orang-orang yang berlaku baik itu benar. Hari ini Tiara merupakan salah satu dari orang-orang itu sehingga keberuntungan datang padanya.


Tiara mendapati pintu kamar tidak tertutup sepenuhnya dari dalam. Oleh sebab itu ia menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui dengan siapa Gerald bertemu.


Tiara mendorong sedikit daun pintu kamar dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi apapun lalu mengeluarkan sebuah kamera berukuran kecil dari dalam tasnya dan menempelkan kamera tersebut dari balik pintu.


Ia kemudian membuka pola ponselnya menuju sebuah aplikasi dan tampilan baru pun muncul disana sesaat setelah aplikasi tersebut diklik.


Tiara kembali mengeluarkan headset dari dalam tasnya dan memasangkan ke telinganya untuk mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Namun kamera Tiara tidak bisa menangkap sosok yang sudah berada di dalam kamar tersebut karena terhalangi oleh tubuh Gerald.


Tiara mencoba berbagai cara. Ia masuk ke dalam sistem pengaturan dan mengatur posisi lensa kamera menjadi 360° hanya untuk mendapat wajah orang tersebut namun sayang usahanya itu tetap saja tidak berhasil.


'Sial sial sial!' teriak Tiara dalam hatinya.


"Haha, sejak kapan kamu mulai peduli dengan hal-hal seperti itu?" Sebuah suara perempuan yang tidak asing lagi di telinga Tiara terdengar dari balik headset.


"Dengar sayang aku cemburu lihat kalian berdua berdiri diatas panggung, padahal kan aku juga pacar kamu." Lanjutnya lagi membuat Tiara terkejut.


Percakapan demi percakapan bahkan sampai pada aksi lainpun dilakukan oleh kedua orang itu tanpa menyadari sebuah kamera sedang merekam mereka.


'Haha jadi seperti ini kamu di belakang dia? Ria, Ria.. sepertinya kamu harus banyak belajar untuk menilai seseorang. Sayang sekali, kemenangan sudah ada di tanganku.' Batin Tiara dengan gairah.


Setelah merekam semua apa yang mereka lakukan, Tiara kembali merogoh tangannya kedalam kamar lalu melepaskan kamera miliknya dan kembali ke aula.


"Tiara, kamu kok lama banget ke toiletnya?" Tanya Alda setelah melihat Tiara muncul di tengah keramaian.


"Maaf maaf, toilet yang di dekat sini penuh jadi aku coba cari yang lain." Tiara berdalih.


"Hm pantas saja." Balas Lia.


"Sudahlah mari kita bersenang-senang, menikmati kue yang ada. Mumpung gratisan." Sambung Abie.


"Hehe ayo habiskan. Siapa tahu habis ini tagihan mereka membengkak." Tambah Tiara. Ia ingin bersenang-senang sebelum acara ulang tahunnya menjadi riuh.


Saat sedang asik menikmati sajian yang ada bersama sahabat-sahabatnya, tidak lama kemudian Ria datang dan menghampiri mereka membawa serta seorang pelayan dengan beberapa gelas jus diatas nampan yang dipegang oleh sang pelayan.


"Hai, ketemu lagi ya kita. Gimana, suka sama pestanya?" Tanya Ria dengan sombong pada Tiara dan kawan-kawannya.


Melihat kemunculan Ria di tengah-tengah ketenangan mereka, Lia, Alda dan Abie langsung memasang wajah bengkak.


'Apanya yang suka. Kalau dari awal kami tahu ini pesta kalian, tidak akan tuh kami datang kesini.' Alda membatin kesal sambil mencomot kue dari meja dan menghabiskannya dalam satu kali lahap.

__ADS_1


"Ya ampun, cewek kok makannya begitu sih." Ucap Ria risih melihat tingkah Alda.


"Kenapa, masalah buat kamu? Kalau masalah karena aku makan kuenya, it's okay. Aku muntahin lagi disini, mau?" Sambar Alda setelah menyelesaikan kunyahan nya.


"Eh eh eh.. jorok banget sih jadi orang." Ria menghentikan Alda dengan cepat membuat Tiara dan yang lainnya yang sudah mengenal sikap Alda tertawa karenanya.


"Ketawa apa sih kalian? Dasar orang miskin." Celetuk Ria.


"Heh Tiara, kamu kok bisa-bisanya datang pake gaun warna hitam kayak gitu. Memangnya kamu pikir disini itu acara berduka?" Lanjut Ria dengan suara meninggi mengundang Luka menatap dingin padanya.


'Iya sebentar lagi acaranya berubah jadi acara duka' Tiara menjawabnya dalam hati.


"Masih mending punya gaun Tiara dari pada punya kamu. Gaunnya warna merah kayak tante-tante girang diluar sana." Sambar Alda lagi melihat Ria mengenakan gaun sepaha berwarna merah terang tanpa lengan.


"Apa kamu bilang?"


"Sudah sudah sudah hentikan!" Seru Tiara. "Ria, dimana sahabat kamu?" Tanya Tiara tidak melihat Erni bersamanya.


"Kenapa juga kamu tanyain Erni? Erni itu orangnya lembut tidak seperti kamu yang hanya pura-pura saja. Jadi untuk bawa Erni ke sini ketemu kalian takutnya dia kena virus pura-pura kalian lagi." Jawab Ria.


Tiara tersenyum mendengar setiap kata yang keluar dari Ria lalu mencoba untuk mengabaikannya.


"Pacar kamu dimana, kok menghilang?" Tanya Tiara lagi dengan tatapan penuh arti.


"Maksud kamu apa tanyain pacar aku? Suka?"


"Sorry punya aku lebih tampan dan beretika dari pada punya kamu." Celetuk Tiara, tanpa menyadari jika perkataannya itu telah menimbulkan tanda tanya besar diantara para sahabat-sahabatnya.


Ria terkejut mendengar perkataan Tiara. Ia tidak menyangka Tiara menyebut Gerald sebagai orang tidak beretika.


"Maksud kamu pacar aku tidak beretika, gitu?"


"Iya. Buktinya dia meninggalkan acaranya sendiri dan menghilang hanya karena sebuah panggilan masuk dari perempuan." Umpan Tiara pada Ria sambil menyeringai kecil.


"Panggilan dari perempuan? Maksud kamu?" Ria menjadi bingung sendiri dengan perkataan Tiara.


"Betul tuh kata Tiara. Pacar kamu tadi terima telfon dari perempuan terus pergi deh ke kamar sebelah." Lia ikut mengumpan tanpa tahu kebenaran karena berpikir Tiara sedang membuat Ria emosi.


"Aku juga dengar. Tadi dia panggil perempuan itu sayang kan?" Abie melanjut setelah melihat ekspresi kesal datang dari wajah Ria.


"Iya aku juga dengar." Sambung Alda.


"Kami juga." Reno ikut menambah karena berpikir itu adalah hal yang seru.


"Sial. Jangan bohong deh kalian semua, Gerald itu bukan laki-laki hidung belang." Hardik Ria.


"Ya sudah kalau tidak percaya, bodoh amat. Bukan urusan kami juga." Sahut Alda.


"Mm, Tiara kalau begitu kamu yang tunjukkin aku dimana Reno bertemu dengan perempuan itu?" Ria mulai berpikir untuk menjalankan misinya.


"Oke." Jawab Tiara santai membuat para sahabatnya terkejut tak terkecuali Luka, Reno dan Saka yang berpikir bahwa semuanya hanyalah tipuan mereka saja untuk membuat Ria kesal.


"Tiara,.." Alda ingin menghentikannya namun Tiara justru balik menghentikan Alda.


Setelah keluar dari aula, Tiara berencana membawa Ria ke kamar dimana Gerald bertemu perempuan tadi namun sayang sebelum ia berhasil membuktikan kebenaran, seseorang datang dari belakang mereka lalu memukul keras tengkuk tiara mengakibatkan ia terjatuh ke lantai dan pingsan dalam waktu singkat.


"Bawa dia ke kamar yang sudah disiapkan." Perintah Ria pada seorang pria berbadan kekar.


"Baik." Jawabnya.

__ADS_1


"Pastikan para preman-preman itu untuk menyiapkan diri mereka karena hidangan sudah datang." Ucap Ria sambil menyeringai melihat Tiara yang tergeletak tak berdaya di lantai.


__ADS_2