Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#70 Pembalasan Cassan


__ADS_3

Semua orang telah melupakan semua kejadian di sore itu. Dan kini tiba saatnya mereka siap menyantap hidangan makan malam yang telah disiapkan oleh anggota OSIS.


Masing-masing tenda mendapatkan menu makan yang sama yaitu semangkuk nasi dengan lauk sepotong ikan juga kerupuk di dalam kotak nasi berukuran kecil.


Namun kenyataan berbeda datang dari tenda Tiara. Billa terlihat mengeluarkan sebuah box dari dalam tasnya membuat kelima orang lainnya menatap kaget pada box tersebut.


Bagaimana tidak, Billa membawa serta bersamanya sebucket kentucky fried chicken dalam tas punggung miliknya. Tidak ada murid yang memiliki ide seperti yang dilakukan oleh cewek aneh tersebut. Jika pun ada mereka hanyalah membawa beberapa makanan ringan saja untuk cemilan mereka selama berada di dalam tenda.


"Ayo makan." Ucap Billa sembari mengambil sepotong ayam goreng dari box tersebut dan mengunyahnya.


Tiara maupun yang lain tidak langsung memakannya. Mereka malah menatap Billa yang terlihat begitu menikmati makannya dengan penuh ketidak percayaan.


"Kenapa? Kalian gak mau makan? Ya udah kalau gitu biar aku makan sendirian aja." Billa mengambil lagi box ayam goreng tersebut dari tengah-tengah mereka.


Fiona terdiam dan memandang pada hidangan makan malam yang sudah di sediakan. Tidak ada yang spesial dari hidangan tersebut. Akan tetapi ketika mengetahui Billa membawa ayam goreng dari kota H bersamanya, jiwa makan Fiona menjadi bergairah.


"Tunggu!" Serunya pada Billa.


"Ada apa?" Tanya Billa dengan sengaja. Ia tahu mereka tidak akan membiarkannya mengambil lagi ayam goreng tersebut.


"Itu mm.." Fiona malu untuk mengatakannya jika ia juga menginginkan ayam goreng tersebut.


"Mm apa?" Goda Billa lagi.


"Mm itu mm.." Fiona masih tidak mampu mengatakannya karena merasa malu pada Billa.


Melihat bagaimana Fiona tidak kunjung mengutarakan keinginannya, Teresia dan Dea merasa putus asa. "Dia mau bilang kalau dia mau ayam gorengnya." Ucap Teresia sebelum Dea mengatakannya terlebih dahulu.


Mendengar perkataan Teresia, Fiona dengan cepat mengelak membohongi keinginan hatinya. "Enggak kata siapa? Aku gak mau ayam gorengnya."


"Ya udah kalau kamu gak mau. Aku juga gak maksa." Jawab Billa sedikit kesal padanya. "Yang mau makan ayam gorengnya silahkan ambil saja."


Billa menaruh kembali box ayam tersebut ke tengah-tengah lingkaran yang diciptakan oleh mereka sendiri. Kemudian Teresia, Dea dan Dewi ikut mengambilnya sepotong-sepotong. Tak terkecuali Tiara.


Melihat semua teman setendanya memakan ayam goreng kecuali dirinya, Fiona merasa seperti terasingkan dari mereka. Namun karena rasa malunya pada Billa membuatnya menahan keinginannya tersebut.


Tiara tidak ingin semuanya menjadi berlarut-larut. Ia juga mengetahuinya jika Fiona pun menginginkan ayam goreng tersebut. Tiara lalu mengambil sepotong lagi dan menaruhnya di dalam kotak nasi milik Fiona.


"Makan yang banyak." Ucap Tiara.

__ADS_1


Fiona terkejut namun merasa terharu secara bersamaan atas aksi Tiara padanya. Ia merasa di perhatikan oleh idolanya tersebut membuat moodnya kembali lagi seperti biasanya.


"Terimakasih. Aku juga pengen ayam gorengnya." Jawabnya dengan malu-malu sehingga mengundang tawa penuh dari Billa, Teresia, Dea dan Dewi.


----


Setelah memastikan semua murid menyelesaikan makan malam mereka, Stacy kembali membuat pengumuman di balik pengeras suara yang sepertinya sudah melekat dengannya itu.


"Selamat malam semuanya." Ucap Stacy memberi salam.


Para murid menghentikan aktivitas mereka masing-masing dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh cewek cantik yang berkedudukan sebagai ketua OSIS Boulevar High School tersebut.


"Saya minta kepada semua murid, tolong dengan segera berkumpul kembali di tengah-tengah lapangan dimana tempat kita biasa berkumpul. Terimakasih." Lanjut Stacy meminta para murid mendatangi lahan luas kosong yang berada di tengah-tengah tenda mereka.


Dibumbui rasa penasaran mengapa Stacy mengumpulkan mereka di malam hari yang begitu dingin, para murid dengan cepat berlari keluar dari tenda mereka masing-masing dengan jaket tebal ditubuh mereka.


Tentunya hal ini disebabkan karena mereka takut akan mendapat hukuman jika terlambat.


Di dalam tenda Alda dan Cassan, teman-teman setenda mereka terlihat begitu terburu-buru setelah mendegar pengumuman dari Stacy. Mereka berdandan cepat untuk menutupi kekurangan wajah mereka lalu berlari keluar dari sana dengan penampilan yang sempurna.


Alda pun berjalan keluar dari tenda setelah memastikan jaket yang kenakan olehnya terpasang dengan baik untuk menghangatkan tubuhnya. Namun sebelum ia hendak menikmati kehangatan jaket tersebut, Cassan berpura-pura tergelincir lalu menumpahkan air dari botol yang diminumnya pada jaket Alda.


Alda merasakan air perlahan-lahan mengalir masuk membasahi tubuhnya melalui sela-sela jaket berbahan wool yang di kenakannya itu. Dan tanpa menunggu lama udara dingin langsung terasa ke seluruh tubuh Alda mengingat kain wool sangat mudah menyerap air.


"Ups sorry gak sengaja." Ucap Cassan dengan suara menyindir lalu melepaskan tubuhnya dari Alda.


Alda terlihat tidak mempedulikan Cassan karena yang ada di dalam pikirnya saat ini adalah ia hanya membawa satu jaket saja bersamanya.


Mengingat cuaca di bawah lereng gunung dimana tempat mereka berada sekarang sangatlah dingin di malam hari, Alda khawatir dirinya tidak mampu menahan rasa dingin tersebut.


Cassan bingung mengapa Alda tidak langsung heboh seperti biasanya. Ia mencoba menebak isi pikiran Alda namun bukan ahli dirinya melakukan hal seperti itu.


"Itu adalah pembalasan dari aku karena kamu udah sengaja muntahin aku di dalam bus." Ucap Cassan lagi.


Kali ini Alda bereaksi. "Benarkah? Kamu sebut ini yang namanya pembalasan?" Alda menatap dingin padanya dengan senyum yang terlihat merendahkan cara Cassan.


Cassan tidak mengerti maksud perkataan Alda namun nyalinya seketika mengendor hanya dengan melihat senyum yang diberikan oleh Alda padanya.


"Haha cara ini kamu sebut pembalasan? Tcih tcih. Cassan, Cassan.. apa ini hasil dari otak kamu yang dapat nilai 96 di ujian masuk Boulevar?" Sindir Alda telak pada Cassan.

__ADS_1


Alda tidak menyangka Cassan melakukan cara itu sebagai pembalasannya. Ia mengira Cassan akan membuat comeback pembalasan yang mengancam mereka namun kenyataannya membuatnya ingin tertawa lebar semalaman.


"Aku jadi ingin mempertanyakan. Apa bener nilai 96 itu kamu dapat dengan usaha sendiri atau membayar orang lain untuk mengerjakan ujian masukmu. Secara keluarga kamu kan orang kaya. Kalau pihak sekolah mengetahui ini kira-kira apa yang akan terjadi ya?" Lanjut Alda dengan sindiran lain.


Kaki dan tangan Cassan menjadi lemas seketika mendengar Alda mempertanyakan hasil ujiannya. Memori ingatannya kembali berputar dimana kala itu ia memerintahkan Leo, asisten kakeknya untuk mencari seseorang dengan latar belakang pendidikan terbaik di kota J untuk mengerjakan soal ujiannya.


Melihat respon Cassan yang sama sekali tidak membantah ucapannya, Alda berpikir bahwa asumsinya itu benar. Ia lalu tertawa lebar dan berjalan keluar tenda meninggalkan Cassan yang berdiri mematung.


Di tengah lapangan semua murid telah berkumpul bersama dengan mengenakan jaket setebal mungkin agar tidak merasa kedinginan.


Mata Reno terus mencari keberadaan Alda. Ia masih saja mengkhawatirkan keadaan cewek yang sudah lama menempati relung hatinya itu. Namun sayang setelah lama mencarinya, ia tidak kunjung menemukannya juga.


Rasa khawatirnya semakin bertambah besar. Ingin sekali ia menanyakannya pada Tiara akan tetapi setelah melihat reaksi Luka, Reno mengurungkan niatnya. Lagian Tiara tidak setenda dengan Alda juga pikir Reno.


Tak lama kemudian Alda berjalan menghampiri Reno dari belakang setelah matanya menangkap sosok yang tak asing lagi selama perjalanan hidupnya.


"Hai." Alda menepuk perlahan bahu Reno.


"Vio kamu disini ternyata? Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Reno khawatir. Ia takut kejadian sore tadi membuat Alda kehilangan semangatnya.


"Aku gak apa-apa. Kamu cariin aku?"


Reno menganggukkan kepalanya. "Iya karena aku khawatir sama kamu. Kamu juga gak jawab pertanyaan aku tadi sore terus pergi gitu aja."


"Hehe sorry." Alda tersenyum padanya dan meminta maaf karena merasa bersalah telah mengabaikan niat baik sahabat kecilnya itu.


"Oke intinya sekarang kamu baik-baik aja." Reno melihat penampilan Alda termasuk jaket yang dikenakannya.


"Tunggu, jaket kamu,.." Reno meraba-raba bagian jaket Alda yang memberinya kesan adanya perbedaan warna. "Kok basah?"


"Kamu gak bisa pakai jaket basah kayak gini di malam hari, kalau kamu sakit gimana?" Ucap Reno sambil membuka jaketnya.


"Buka jaket kamu dan pake punya aku." Ia memerintah Alda untuk melepaskan jaketnya dan menggantinya dengan miliknya.


Alda sama sekali tidak merasakan ada yang berbeda dari sikap Reno, karena menurutnya dari mereka masih kecil perhatian-perhatian seperti ini sering mereka lakukan.


Ia kemudian membuka jaketnya mengikuti perintah Reno dan menggantikannya dengan milik Reno. Kehangatan terasa begitu nyata setelah jaket tebal berwarna coklat tersebut membaluti tubuhnya.


Meskipun terlihat kedodoran di tubuh kecil Alda, Alda merasa sangat senang. Ia juga bisa mencium wangi khas tubuh milik Reno yang menempel pada jaket tersebut sehingga semakin membuatnya nyaman mengenakannya.

__ADS_1


Reno melihat Alda yang dibaluti jaket besar miliknya itu pun tersenyum lucu. Ia tidak menyangka perbandingan tubuh antara keduanya begitu jauh berbeda.


__ADS_2