
Selama perjalanan berlangsung setelah semua kejadian itu, sesekali Tiara dan Luka terlihat saling menggoda satu sama lain. Mereka juga bebas berbicara apa saja yang mereka inginkan karena tidak ada mata yang sedang memperhatikan mereka.
"Kamu lagi dengerin lagu apa?" Tanya Luka pada Tiara. Ketika melihat Tiara mengeluarkan headset dari dalam saku tasnya.
"Kamu mau dengarin juga?" Tiara bertanya balik padanya sambil menyodorkan sebelah kiri headsetnya pada Luka.
"Boleh." Luka mengangguk menerimanya dari Tiara dan memasangkan headset tersebut ke telinganya.
Mata luka sedikit terbuka lebar setelah mendengar lagu yang diputar oleh Tiara. Ia menatap padanya yang tengah memandang keluar jendela menikmati keindahan alam yang sedang mereka lewati.
Tiara memutar lagu berjudul Mercy yang dinyanyikan oleh Maoli. Meski diawal terdengar slow namun dipertengahan lagu tersebut terdengar seperti musik reggae sehingga membuat Luka merasa nyaman karena sangat cocok untuk perjalanan jauh mereka.
Terakhir Tiara perlahan-lahan mulai memejamkan kedua matanya. Luka melihat Tiara kesusahan dalam tidurnya dengan posisi kepala yang terus tertunduk. Maka dengan hati-hati Luka menyenderkan kepala Tiara di pundak tegak miliknya.
Wangi rambut Tiara pun tercium sampai ke hidung tinggi dan sempurna Luka, membuatnya berdebar-debar tanpa sebab. 'Dia pake shampo apa ya wangi rambutnya enak banget, bikin nyaman.' Batin Luka bertanya.
Disatu sisi Tiara merasa nyaman dalam tidurnya membawanya ke dalam mimpi indah. Ia tidak tahu jika kenyamanan tersebut berasal dari pundak tegak Luka.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya sampailah rombongan mereka di dataran rendah kota H. Luka membangunkan Tiara sebelum murid-murid dalam bus melihat mereka.
__ADS_1
Merasa ada yang mengganggu tidur nyamannya, Tiara membuka mata dan kaget mendapati ia tertidur di pundak Luka. Penuh rasa gugup karena tidak ingin dilihat saat tertidur, Tiara dengan cepat mengangkat kepalanya dari sana namun yang terjadi adalah tidak seperti yang diharapkan.
Kepala Tiara menghantam dagu Luka dengan keras karena posisinya Luka sedang menatap padanya yang tertidur disisi kanannya.
"Aww.." Jerit Luka kesakitan langsung memegang bagian dagunya yang sakit.
"Ma maaf. Aduh maaf yah..." Tiara meminta maaf pada Luka karena merasa bersalah. Seandainya dia tidak gugup mungkin Luka tidak akan kesakitan seperti sekarang. Lagian apa yang perlu takutkan, mereka sudah resmi berpacaran. Wajar saja jika ia tertidur di pundak Luka. Tiara mengutuk dirinya sendiri.
"Kamu gak apa-apa?" Tanyanya khawatir dengan kondisi Luka. Hati Tiara merasa sedikit sakit melihat Luka saat ini. Karena kecerobohannya, ia sudah menyakiti orang yang paling ia sukai.
Luka tersenyum senang melihat ekspresi wajah Tiara yang penuh dengan kekhawatiran. Namun disisi lain Luka juga tidak ingin cewek cantik di sampingnya itu merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri. Akhirnya Luka pun mencoba untuk melupakan rasa sakitnya dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
"Haha apaan sih." Wajah Tiara memerah. Ia melihat tawa di bibir seksi Luka membuatnya berpikir bahwa kondisi Luka sudah baik-baik saja.
Luka tersenyum manis pada Tiara. Ia juga mengelusi rambutnya dengan penuh cinta. "Gak usah khawatir aku gak apa-apa. Kalau hanya segini aja aku kesakitan gimana aku mau ngejagain kamu di hutan yang luas kayak gini."
Merasa di goda lagi oleh Luka, Tiara gemas dengan tingkahnya. Ia kemudian mencubit perut Luka dengan lembut sambil tertawa geli.
Luka menangkap tangan tiara dan menggenggamnya dengan erat untuk beberapa waktu. "Kamu hati-hati ya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau kamu butuh sesuatu langsung kasitau aku."
__ADS_1
Tiara paham Luka khawatir padanya. Mengingat seperti yang sudah di katakan sebelumnya bahwa dataran tersebut merupakan perkebunan kopi terbesar di kota H. Secara otomatis yang tertanam disana hanyalah pepohonan kopi saja sehingga sangat mudah bagi mereka untuk tersesat jika mereka tidak berhati-hati.
Tiara menganggukkan kepalanya di depan Luka seperti anak kecil yang menuruti perkataan kakaknya. Namun bagi Luka tingkah Tiara tersebut membuatnya terlihat sangat imut dan menggemaskan seperti seekor anak anjing.
'Gemesin banget anak anjing aku.' Luka membatin sembari menepuk perlahan kepala Tiara dan tersenyum tipis.
"Kamu senyumin apa?" Tanya Tiara merasa tersinggung dengan senyum Luka.
"Enggak gak ada apa-apa kok. Emang gak boleh senyum?" Luka membuang mukanya menahan tawa membuat Tiara semakin tersinggung.
"Kamu pasti mikir kalau aku mirip anak anjing kan?"
Luka terkejut mendengar perkataan Tiara. Ia tidak menyangka Tiara bisa mengetahui isi pikirannya dengan baik. "Dari mana kamu tau?" Tanyanya penasaran.
Kini giliran Tiara yang tersenyum mengejek padanya. Pikirannya untuk menebak Luka sangatlah tepat. Bukan tanpa sebab. Sebelumnya Key, kakanya dan juga Jonathan ayah mereka sudah sering bertingkah seperti itu pada Tiara.
Mereka menepuk kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya seperti anak anjing yang manis dan menggemaskan. Meskipun Tiara paling tidak menyukainya jika mereka berkata seperti itu padanya, namun kini Tiara tidak mempermasalahkannya karena yang mengatakannya adalah Luka.
"Gak apa-apa kalau kamu anggap aku kayak anak anjing. Aku gak masalah kok." Tiara berkata dengan sipuan malu.
__ADS_1
Setelah itu dalam hatinya, Tiara meledek Key dan ayahnya. Seandainya mereka mendengar bahwa Tiara memperbolehkan orang lain menyebut dirinya seperti anak anjing maka sudah pasti mereka akan sangat cemburu.