
Stacy kembali menatap Lydia sekali lagi. Ia kemudian berpikir, bagaimana bisa seorang Lydia yang selama ini tenang, suka menganalisa sesuatu terlebih dahulu sebelum bertindak menjadi gegabah dalam sesaat hanya karena terpengaruh oleh Tiara.
Namun terlepas dari semua pemikirannya itu Stacy menaruh harap pada Lydia. Ia yakin Lydia pasti bisa mengalahkan Tiara setelah menyaksikan sendiri bagaimana usaha Lydia selama ini untuk merebut juara umum darinya.
Akan tetapi disatu sisi, Stacy berpikir Tiara adalah seseorang yang susah untuk di tebak. Ia tidak tahu seperti apa persiapan Tiara untuk menghadapi Lydia, oleh karena itu untuk saat ini Stacy hanya bisa memberikan dorongan mental pada Lydia.
"Intinya aku tidak mau tahu. Apapun dan bagaimanapun caranya, kamu harus memenangkan kompetisi tersebut." Ucap Stacy tegas.
Mendengar perkataan itu, Lydia merasa Stacy sedang memberinya peringatan untuk memenangkan kompetisi dan harus memenangkannya dari Tiara, membuat dirinya menjadi berapi-api untuk segera melihat kekalahan di wajah Tiara.
-----
Keesokkan harinya di sekolah, seperti keinginan dari Lydia dan kawan-kawan, Tiara tidak bisa mengabaikan pasangan mata dan bisikan para murid tentang dirinya yang menantang Lydia.
Tidak sedikit dari mereka yang menilai Tiara sombong karena berani membuat taruhan untuk menantang seorang senior dan berharap dirinya kalah. Namun tidak sedikit juga yang memberinya dukungan untuk mengalahkan Lydia.
"Tiara, kamu tidak apa-apa?" Tanya Alda khawatir setelah melihat bagaimana orang-orang membicarakan nama Tiara.
"Mm.." Angguk Tiara datar.
"Kita jangan terpengaruh dengan omongan mereka karena nanti mereka-mereka itu yang akan mendapatkan tamparan di wajah masing-masing karena sudah berani meremehkan Tiara." Ucap Abie dengan santai.
"Haha kamu benar Abie." Sambung Lia.
Keempat sahabat itu akhirnya saling berpisah satu sama lain. Dimulai dari Abie yang duluan sampai di kelas D, kemudian Lia di kelas C dan Tiara juga Alda yang berjalan bersama menuju kelas mereka.
Setelah suara dentingan bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai, sosok Winwin yang seksi muncul dari balik pintu kelas. Suasana yang tadinya sangat ribut menjadi hening seketika itu juga.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Winwin tanpa senyum sambil meletakkan bukunya diatas meja.
"Pagi bu." Sambut mereka dengan kompak.
"Hari ini ibu hanya memberi kalian materi untuk dipelajari sendiri karena ibu sedang memiliki banyak urusan yang harus di selesaikan." Ucapnya memberi tatapan dingin pada Tiara.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Winwin kepada mereka, para murid mendapatkan kebahagiaan hakiki pagi itu. Entah angin pagi apa yang sudah datang menghampiri wanita seksi itu sampai-sampai mereka di beri kebebasan untuk belajar sendiri. Pikir para murid.
"Silahkan kalian pelajari halaman 45-70. Ibu akan kasih kalian ulangan dadakan sekembalinya ibu ke kelas. Paham?" Tanya Winwin setelah memberi mereka materi.
"Paham bu." Jawab mereka dengan kecewa karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan mereka.
"Bagus. Tiara, kamu ikut ibu." Perintah Winwin membuat tatapan para murid seketika berpindah pada Tiara.
__ADS_1
Tidak ada seorangpun murid di dalam kelas A yang berani berkomentar negatif tentang Tiara, karena mereka semua sangat menyukai Tiara yang tidak sombong dan pelit akan ilmu.
Namun ketika mendengar Winwin meminta Tiara untuk mengikutinya, mereka menatap khawatir pada Tiara. Mereka takut Winwin akan memarahi Tiara karena pengumuman yang beredar.
Tiara kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu mengikuti Winwin keluar kelas. Ia sudah bisa menebak jika Winwin ingin membicarakan perihal taruhan antara dirinya dengan Lydia yang beredar ramai.
Tanpa berkata-kata, Tiara terus mengikuti kemana Winwin membawanya pergi. Mereka menaiki lift menuju lantai atas lalu berjalan mengikuti anak tangga ke rooftop sekolah.
Sesaat Tiara begitu terpesona dengan pemandangan yang dilihat olehnya. Rooftop sekolah Boulevar sangatlah luas, jauh dari perkiraan Tiara sendiri. Ditengah rooftop dijadikan sebagai lapangan tenis lalu disekitarnya terdapat track atau lintasan lari.
"Tiara, kamu tahu kan kenapa kamu diminta untuk mengikuti ibu?" Tanya Winwin membuka percakapan diantara mereka.
Mendengar pertanyaan Winwin, Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu menantang Lydia? Apa lagi sampai bertaruh untuk membuatnya keluar dari Boulevar?" Lanjut Winwin bertanya.
"Saya tidak menantangnya bu dan saya juga tidak membuat taruhan itu." Jawab Tiara dengan jujur membuat Winwin menatapnya dengan mata melotot.
"Tapi di pengumuman yang beredar katanya kamu yang menantang Lydia dan kamu juga,.."
"Itu hanyalah pengumuman yang dibuat oleh Lydia dan teman-temannya untuk menutupi kebenaran kalau Lydia yang menantang saya." Sanggah Tiara di tengah-tengah perkataan Winwin.
"Jadi maksud kamu yang menantang dan membuat taruhan itu Lydia bukan kamu, begitu?"
"Kenapa kamu bisa sampai berurusan dengan anak-anak kaya itu sih, Tiara?" Winwin menepuk jidatnya dengan tidak menyangka akan apa yang terjadi pada anak muridnya.
"Ibu tahu kalau mereka adalah anak-anak orang kaya?" Tanya Tiara penasaran.
"Tentu. Semua orang di Boulevar tahu itu sebelum adanya kalian." Jawabnya.
"Hampir setiap minggunya mereka mengirim satu murid keluar dari Boulevar dan itu terjadi selama dua tahun belakangan. Hanya saja akhir-akhir ini mereka menjadi sedikit lebih tenang tidak tahu kenapa?." Lanjut Winwin kembali menatap Tiara.
Tiara paham maksud perkataan Winwin. Dimana murid yang dikirim keluar dari Boulevar adalah murid yang merupakan korban bullian mereka.
"Kenapa mereka melakukan hal seperti itu? Bukankah Boulevar memiliki peraturan yang sangat ketat tentang pembullyan sehingga setiap pekerjaan dari orang tua murid di tutup dengan rapat?" Tanya Tiara heran.
Setahu Tiara, karena Boulevar High School menerima para murid tanpa memandang status sosial mereka maka untuk menghindari terjadinya bullying, pihak sekolah menutup erat data-data pribadi para murid terutama pekerjaan orang tua mereka yang merupakan hal tabu untuk diketahui.
"Boulevar hanya menjamin data-data murid tertutup rapat tapi tidak dengan para murid sendiri. Semuanya tergantung dari mereka. Apakah mereka ingin menutup identitas mereka atau tidak?" Jawab Winwin.
"Lalu bagaimana dengan peraturan sekolah? Hukuman bagi yang melakukan pembulian, perlindungan bagi korban pembulian dan sebagainya." Tiara semakin bergairah dalam bertanya.
__ADS_1
"Semua peraturan itu ada dan tertulis jelas namun para korban tersebut dengan sukarela mengundurkan diri tanpa mengatakan bahwa mereka adalah korban pembulian, jadi pihak sekolah tidak bisa menjatuhkan sangsi bagi mereka yang melakukan pembulian."
Tiara terkejut mendengar perkataan Winwin. Ia yakin jika para korban sudah diancam untuk tidak melaporkan mereka dan pastinya semuanya itu terjadi sejak Stacy memimpin sebagai ketua OSIS.
"Maka dari itu Tiara, ibu mengkhawatirkan kamu. Kalau kamu berurusan dengan mereka jangan sampai nasib kamu sama seperti murid-murid itu." Ucap Winwin.
"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya akan baik-baik saja dan saya janji nasib saya tidak akan sama seperti murid-murid itu dan saya pastikan tidak ada bullying lagi di Boulevar." Ujar Tiara optimis.
"Apa ibu bisa percaya padamu?"
"Tentu ibu bisa percayakan semuanya pada saya. Selagi mereka tidak mengusik hidup saya, saya tidak akan menyerang mereka. Tapi kali ini Lydia sudah melakukannya dan terpaksa aku harus menghadapinya."
Melihat rasa optimisme Tiara yang tinggi, Winwin akhirnya menghela nafas panjang dan percaya pada muridnya itu. Bagaimana tidak, ia sudah mendapat laporan dari setiap guru yang mengajar di kelas A dan rata-rata dari mereka memuji kepintaran Tiara. Selain itu Tiara juga tidak sombong dan serakah akan ilmu.
"Baiklah ibu percaya sama kamu. Tapi bagaimana dengan pelajaran kamu? Satu minggu saja sangatlah singkat, bagaimana kalau ibu yang ajarin kamu?" Saran Winwin membuat Tiara tersenyum padanya.
"Tidak perlu bu, saya sedang mempelajarinya sekarang dan sejauh ini saya belum mendapatkan kesulitan." Jawab Tiara berbohong.
Winwin sedikit terkejut mendengar perkataan Tiara namun dengan kepintaran Tiara ia yakin Tiara bisa mempelajari semuanya sendiri tanpa bantuan.
"Baiklah kalau memang seperti itu. Jika kamu menemukan kesulitan silahkan tanya pada ibu. Jangan memaksakan dirimu, kamu masih kelas satu. Untuk mempelajari pelajaran kelas dua tanpa di ajarkan, sudah merupakan sesuatu prestasi yang luar biasa."
"Iya bu." Jawab Tiara senang mendapat perhatian dari Winwin.
"Kita menikmati saja dulu pemandangan disini, biarkan saja mereka dibawah belajar lebih lama." Ucap Winwin.
"Haha baiklah."
Guru dan murid itu pun akhirnya menikmati pemandangan dari atas rooftop sambil berbincang-bincang hangat. Keduanya menjadi dekat satu sama lain seiring menemukan beberapa kesamaan diantara mereka bahkan saling memanggil dengan nama masing-masing dan berbicara dengan bahasa non formal.
"Kamu dari kota mana?" Tanya Winwin.
"Kota L."
"Dulu kuliah aku punya mantan dari kota L."
"Serius? Pasti dia orangnya ganteng karena kamu cantik terus seksi."
"Haha salah. Dia jauh dari kata ganteng."
"Apa? Jadi jelek maksudnya?"
__ADS_1
"Sangat sangat sangat sangat ganteng."
"Hahaha."