Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#86 Rahasia Cassan


__ADS_3

Keesokan harinya Tiara, Lia dan Alda kembali bersekolah seperti biasanya. Mereka menikmati sarapan pagi mereka di kantin lalu menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, Tiara dan Alda berpisah dengan Lia di kelas C dan meneruskan langkah mereka menuju kelas A.


Di dalam kelas Luka sudah menunggu kedatangan Tiara. Setelah matanya menangkap sosok Tiara memasuki ruangan, Luka langsung tersenyum manis padanya membuat Alda melotot tidak percaya.


'Sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mereka?' Alda membatin tanya dalam diam.


Sama halnya dengan Luka, Tiara pun mengembalikan senyuman yang diberikan untuknya pada cowok tampan yang sudah berhasil menarik semua perhatian para siswi tertuju hanya padanya itu.


Tiara lalu mengambil ahli tempat duduknya mengikuti Alda yang telah terlebih dahulu mendudukkan dirinya di sana.


Sesaat setelah mata pelajaran pertama berakhir, Varno mendatangi kelas A dan memanggil Cassan untuk mengikutinya ke ruangan kepala sekolah.


Kedatangan Varno saja sudah membuat para murid disana bertanya-tanya apa lagi kedatangannya untuk memanggil Cassan. Mereka yakin jika hal tersebut berhubungan dengan kejadian Cassan yang meninggalkan Lia di hutan.


Tentunya para murid merasa penasaran dengan hukuman yang akan diberikan oleh pihak sekolah atas tindakan yang sudah dilakukan Cassan. Namun mereka harus mengenyampingkan semua rasa penasaran itu sampai Cassan kembali dari ruangan kepala sekolah.


-----


"Silahkan masuk." Perintah Doris dari dalam ruangannya setelah mendengar bunyi ketukan pintu.


Varno membuka handle pintu dan kedua pasang kaki mereka melangkah masuk menuju meja, tempat dimana Doris duduk dengan sejumlah tumpukan berkas-berkas para murid diatasnya.


"Pagi pak." Sapa Varno pada Doris.


"Hm pagi, silahkan duduk." Ujar Doris pada keduanya. "Kasih saya waktu sebentar untuk menyelesaikan berkas ini." Lanjutnya tanpa melepaskan pandangannya dari berkas yang sedang di tanda tangani.


"Baik pak." Jawab Varno.


Varno dan Stacy menduduki sofa kosong yang tersedia di dalam ruangan tersebut dimana langsung membawa posisi mereka menghadap pada Doris.


Beberapa saat kemudian Doris melepaskan kacamatanya dan menatap pada kedua murid yang duduk dengan sopan di hadapannya. Doris langsung mengetahui siapa Cassan setelah matanya menangkap sosoknya.


Di mata Doris, Cassan adalah murid yang membuka pintu aula dengan tidak sopan di hari penyambutan. Doris tidak menyukainya namun pandangannya berubah ketika mendapati Cassan adalah murid yang mendapat nilai 96 di tes masuk.


"Jadi kamu murid yang bernama Cassan?" Suara Doris memecahkan keheningan serta ketegangan yang ada.


Cassan terkejut lalu dengan cepat ia menjawabnya "iya pak."


"Saya sudah mendengar semua laporan dari ketua dan wakil OSIS tentang apa yang sudah kamu lakukan pada murid bernama Lia dari kelas C." Ucap Doris sambil menatap tajam pada Cassan.


Mendengar perkataan Doris, Cassan hanya bisa menundukkan kepala dan mengepal erat tangannya yang memegang ujung rok miliknya.


"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Doris.


"Saya, saya,.." Cassan terbata-bata menjawab pertanyaan Doris. "Saya tidak melakukan semua itu. Saya tidak meninggalkannya sendirian di hutan." Lanjut Cassan menjawab.


Jawaban Cassan tersebut menyurut tanda tanya datang dari Varno maupun Doris sendiri.


"Jelas-jelas sudah ada bukti nyata bahkan kamu sendiri pun sudah mengakuinya jika suara dalam rekaman tersebut adalah milikmu. Kenapa sekarang pernyataan kamu berubah lagi?" Doris bertanya.


Cassan terdiam seribu bahasa dan tidak menjawab.


"Kamu tahu apa hukumannya bagi murid yang melakukan tindakan seperti itu?" Doris bertanya lagi karena Cassan tidak menjawabnya.


Mendengar itu Cassan mengangkat kepalanya dan memandang kearah Doris, pria berkepala botak yang berstatus sebagai kepala sekolah Boulevar High School tersebut.

__ADS_1


"Kamu akan di keluarkan dari Boulevar atas tindakan kriminal dan pastinya tidak ada satupun sekolah di seluruh penjuru negeri ini akan menerima kamu lagi."


BANGGGG


Ucapan Doris diatas bagaikan Dewa yang menurunkan petir untuk menyambar diri Cassan sebagai hukuman atas semua keirian dan dengki-nya. Kesombongan serta segala sifat buruknya.


Di tengah-tengah ketidak percayaannya akan hukuman yang di dapatkannya, Cassan teringat akan Tiara yang pada waktu itu langsung menyetujui perkataan Varno sesaat setelah Varno mengatakan bahwa dirinya akan melapor pada pihak sekolah dan membiarkan Cassan di hukum berdasarkan peraturan Boulevar.


'Jadi Tiara sudah tahu semua ini?' Cassan membatin tidak percaya. 'Tiara tahu kalau aku akan dikeluarkan dari Boulevar dan tidak di terima di sekolah manapun?'


'Tidak mungkin! Tiara aku sangat membenci dirimu.' Lanjut Cassan membatin dengan penuh kebencian.


Di samping Cassan hal yang sama pun terjadi pada Varno. Ia sama sekali tidak tahu jika hukuman dari pihak sekolah untuk Cassan berupa dikeluarkan dan tidak di terima di sekolah manapun.


Varno sedikit merasa kasihan pada Cassan. Jika ia tahu sejak awal bahwa ucapannya pada Tiara akan berakhir seperti ini, mungkin ia bisa memikirkan cara lain untuk mengatasi hal tersebut. Karena bagaimanapun juga Cassan adalah orang yang ia kenal.


Namun di bandingkan dengan semua itu, Varno merasa semakin penasaran dengan Tiara. Tiara selalu saja membuatnya berdecak kagum dengan segala yang ada padanya.


"Saya mohon pak, tolong jangan keluarkan saya dari sini. Saya masih ingin bersekolah di Boulevar." Cassan berlutut di bawah sofa sambil memohon-mohon pada Doris.


Aksi Cassan tersebut membuat Varno dan Doris melotot terkejut padanya.


"Saya tidak bisa berbuat banyak karena semua keputusan bukan datang dari saya. Keputusan datang dari orang yang paling berpengaruh di sekolah ini, yaitu pemilik BHS sendiri." Ucap Doris merasa prihatin.


"Pemilik BHS adalah orang yang sangat taat pada peraturan apa lagi peraturan tersebut sudah ada sejak dari generasi-generasi mereka sebelumnya." Lanjut Doris.


Cassan merasa kesal sekaligus malu. Ia pikir dengan cara berlutut dan memohon kepada Doris bisa membuatnya membatalkan hukuman tersebut. Namun kenyataannya apa yang dilakukannya sama sekali tidak berguna yang ada justru membuat harga dirinya jatuh.


"Kamu masih punya dua sampai tiga hari tersisa di Boulevar sebelum keputusan dari pemilik sekolah dibuat." Ucap Doris lagi. "Manfaatkan waktu tersisa itu untuk bersenang-senang."


Varno dan Cassan akhirnya keluar dari ruangan Doris setelah Doris menyelesaikan semua penyampaiannya.


Keduanya menyusuri koridor sekolah dalam keheningan sebelum akhirnya Varno bersuara.


"Kamu gak kenal siapa aku?" Tanya Varno.


Cassan menghentikan langkah kakinya dan menatap pada pria tampan bersuara husky tersebut. "Maksudnya?"


Sesaat Varno tertegun. Rasa curiga dalam dirinya tentang Cassan semakin membuatnya yakin. Jika Cassan yang berdiri di hadapannya ini adalah Cassan Putriani Baskara yang ia maksud, tidak mungkin tidak mengenali dirinya.


"Oh bukan apa-apa." Ucap Varno. "Aku hanya mau bilang kalau kita berpisah disini. Aku tidak bisa mengantarkan mu sampai ke lantai satu."


Cassan menganggukkan kepalanya dan memasuki lift menuju lantai satu bangunan.


-----


Di dalam kelas Tiara terus memperhatikan ponsel miliknya berharap Cassan memulai aksinya. Karena sejak tadi ia belum menerima sinyal atau tanda-tanda apapun dari aplikasi yang dipasangkan pada ponsel targetnya, Cassan.


Alda yang melihat tingkah aneh Tiara ini pun akhirnya angkat bicara. "Tiara, kamu kenapa sih aneh banget? Dari tadi lihatin hp mulu."


"Enggak, aku lagi tunggu chat dari kakak ku." Jawab Tiara berbohong.


"Masa sih!? Soalnya dari tadi kamu kayak gak tenang gitu. Emangnya kakak kamu kenapa?" Tanya Alda menaruh rasa curiga.


"Kakak aku bilang dia lagi sakit perut jadi wajar kan kalau aku tidak tenang karena panik?" Jawab Tiara berusaha menutupi kebohongannya lagi.

__ADS_1


"Ya ampun sakit perut doang. Kirain ada apa gitu." Ucap Alda.


Tidak menjelang lama ponsel Tiara memberi sinyal padanya lalu dengan cepat ia mengambil headset dari saku blazer dan memasangkannya pada ponsel.


Lagi Alda merasa kaget dengan tingkah Tiara. Namun ia mengabaikannya karena menurutnya mungkin saja Tiara memiliki hubungan yang begitu dekat dengan kakaknya sampai-sampai ia bertingkah seperti itu.


"Hallo." Tiara mendengar suara seorang pria menjawab telfon Cassan.


Ponsel Tiara menunjukan nama 'Budak' dalam panggilan yang dilakukan oleh Cassan, dimana nama tersebut merupakan nama yang disimpan Cassan dalam kontaknya.


"Cari tahukan saya siapa pemilik dari Boulevar High School dan minta dia untuk tidak mengeluarkan saya dari sekolah." Perintah Cassan pada pria bernama kontak 'budak'.


Tiara terkejut mendengar perkataan Cassan. 'Jadi dia berhasil di keluarkan?' seringai Tiara dalam hati.


"Apa maksudmu? Apa yang sudah kamu lakukan sampai kamu dikeluarkan dari sekolah?" Tanya pria itu dengan suara meninggi.


Tiara yakin pria tersebut pasti sangatlah terkejut mengetahui Cassan akan di keluarkan dari Boulevar.


"Bukan urusan kamu. Lakukan saja apa yang saya katakan." Teriak Cassan dari balik ponsel.


"Tidak! Saya tidak mau." Tolak Leo dengan tegas. "Saya sudah peringatkan kamu sebelumnya, jangan pernah menggunakan nama Baskara dengan semena-mena. Apa kamu sudah lupa?"


"Oh, jadi sekarang seorang budak melawan perintah majikannya?" Cassan bersuara.


"Apa kamu bilang? Budak? Siapa yang budak? Jika bukan karena saya, kamu itu bukanlah siapa-siapa. Ingat itu baik-baik."


Sesaat Tiara tidak mendengar respon dari Cassan lagi setelah Leo menyelesaikan perkataannya.


"Sayalah orang yang membantumu disini. Orang yang memberimu hidup dan orang yang memberimu nama Baskara sampai kamu bisa menikmati semuanya ini." Lanjut Leo lagi.


"Saya bisa saja menghancurkan mu kapan saja saya mau jika kamu masih semena-mena menggunakan nama Baskara apa lagi sampai merusaknya."


Perkataan Leo tersebut lantas menimbulkan banyak pertanyaan muncul dalam benak Tiara. Tiara yakin Cassan pasti memiliki sebuah rahasia besar. Dan rahasia tersebut tentu memiliki hubungannya dengan perkataan Reno di kantin kala itu.


Tiara berpikir bagaimanapun juga ia harus mencaritahu tentang siapa pria yang berbicara dengan Cassan di telfon. Karena dengan begitu ia bisa mengetahui rahasia Cassan.


Setelah mengakhiri panggilannya, Cassan yang saat itu berada di dalam toilet siswi terlihat begitu kesal dengan peringatan dari Leo. Ia marah lalu menendang tempat sampah yang berada disana.


Beberapa lama kemudian ponsel Tiara kembali berbunyi. Kali ini bukan datang dari sinyal aplikasi mata-matanya namun berupa notifikasi email.


Tiara membuka email tersebut karena melihat nama Luka tertera disana. Dan sesaat Tiara begitu terkejut melihat isinya. Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya sehingga ponselnya yang terjatuh di atas meja mengundang perhatian dari Alda.


Alda mengambil ponsel Tiara dan membaca email tersebut. Lagi ekspresi terkejut yang sama pun terjadi pada Alda.


"Bagaimana bisa? Cassan jadi dia,.." Ucapan Alda terhenti seketika setelah tangan Tiara menutup mulutnya.


"Sssttt.. Jangan katakan apapun. Ini adalah rahasia sekaligus senjata kita." Ucap Tiara pada Alda.


Alda hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar perintah sahabatnya itu. Ia akhirnya bersikap normal kembali seperti tidak mengetahui apa-apa.


Tiara menoleh ke belakang ke arah Luka berada. Tidak ada yang ia katakan tapi Luka bisa membaca ekspresi wajahnya.


Luka kemudian mengirim pesan pada Tiara, "itu adalah janjiku untuk membantumu♥️" kemudian mengirimnya.


Tiara membuka lagi notifikasi pesan ketika ponselnya kembali berbunyi, begitu juga Alda yang ikut membaca isi pesan tersebut dan keduanya tersenyum bersama.

__ADS_1


__ADS_2