Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#63 Mengganti Tiara


__ADS_3

Perlahan sedikit demi sedikit para murid mulai berkumpul di tengah-tengah lahan luas yang sudah diarahkan oleh pemandu mereka masing-masing. Disana juga ada begitu banyak tenda yang sudah didirikan untuk mereka tempati.


Stacy dan para anggota OSIS lainnya beserta wali kelas berdiri berjejer menghadap para murid. Stacy kemudian mengambil ahli sebagai seorang ketua OSIS untuk memberikan arahan selanjutnya kepada mereka.


"Selamat siang semuanya." Sapa Stacy dengan menebarkan senyum manisnya. Ia terlihat bersemangat, sama sekali tidak merasa kelelahan seperti kebanyakan murid lainnya yang melakukan perjalanan begitu jauh.


"Selamat siang." Jawab para murid kompak meskipun kebanyakan dari mereka tidak bersemangat.


Melihat ketidak semangatan para murid menjawabnya, Stacy merasa kecewa karena senyum yang di tebarkan olehnya tidak mampu membuat para siswa tergoda untuk bersemangat kembali.


"Kami tahu bahwa kalian semua capek karena perjalanan jauh kita. Oleh sebab itu kami sudah menyiapkan tenda yang akan kalian tempati."


Semua murid merasa lega. Mereka tidak perlu lagi bercape lelah untuk membangun tenda. Yang hanya mereka lakukan adalah tinggal menempati tenda yang sudah di sediakan.


"Akan tetapi sebelum itu kita harus membagi tenda terlebih dahulu. Satu tenda hanya boleh di tempati oleh enam orang." Lanjut Stacy.


Pembagian pun dilakukan bahkan berjalan dengan baik. Bagaikan pasangan yang saling ditakdirkan untuk bersama, Alda kembali bertemu dengan Cassan dalam satu tenda. Meskipun mereka sama-sama tidak menginginkan berada dalam satu atap, Alda maupun Cassan memutuskan untuk tidak berdebat.


Sementara itu Tiara berada di tenda yang berbeda dimana Dewi, teman sebangku Cassan pun ada disana. Sedangkan ke empat orang teman lainnya berasal dari kelas yang berbeda.


Ketika pembagian tenda telah selesai, Cassan membuka tas miliknya dan mengambil perlengkapan mandi juga potongan baju untuknya berganti. Ia lalu lekas berjalan ke toilet umum wanita yang letaknya sedikit jauh dari tenda mereka.


Saat dalam perjalanan, Cassan tidak sengaja bertabrakan dengan seorang cowok yang menurutnya cukup tampan meskipun ketampanannya tidak sebanding dengan Luka.


Cowok tersebut menatap tajam pada Cassan dan tertarik padanya. Namun berbeda dengannya, Cassan justru lebih tertarik pada buku yang di jatuhkan oleh cowok bernama Varno itu.


Di atas kertas putih bertintakan hitam itu, Cassan melihat beberapa nama yang ia tidak asing lagi tertulis jelas disana. Ia lalu menatap pada Varno dan mendapatinya sedang memegang pulpen di tangan kanannya.

__ADS_1


Cassan berpikir Varno mungkin sedang menulis saat itu. Ia kemudian membungkukkan badannya dan mengambil buku tersebut dari tanah.


Menyadari Cassan membantunya mengambilkan buku, dengan cepat Varno merampasnya dari tangan Cassan. "Maaf" ucapnya sambil membersihkan kotoran yang masih tertempel disana.


Cassan tersenyum padanya, "iya gak apa-apa kok" lalu melangkah pergi. Namun sebelum langkah kaki keduanya menginjak tanah, tangan Varno berhasil menggapai lengannya.


"Tunggu.."


Sesaat Cassan terkejut dengan apa yang dilakukan Varno. Ia tidak memiliki ide kenapa Varno menghentikannya. Mata Cassan memandang kemana tangan Varno memegangnya dan bagaimana rona wajah Varno terpancar jelas di kedua pipinya. Cassan pun tersenyum tipis.


Varno kemudian melepaskan tangannya dari Cassan. "Maaf lagi." Ucapnya dengan gugup dan tersipu malu.


"Iya gak apa-apa. Kakak anggota OSIS kan?" Tanya Cassan. Ia langsung bertanya pada intinya karena melihat tulisan yang ada di buku tadi.


"Kamu tau darimana?" Tanya Varno sedikit terkejut namun setelahnya ia tersadar. "Oh kamu tahu karena lihat pembagian kelompok yang saya tulis?"


"Iya. Saya yang diberi tanggung jawab untuk membagi kalian semua dalam kelompok untuk kegiatan kita kedepan." Jelas Varno pada Cassan.


"Oh gitu ya." Cassan mengangguk mengerti.


"Ngomong-ngomong kamu mau kemana?"


Mendengar pertanyaan Varno, Cassan melihat penampilannya yang berantakan. Masih ada rasa kesal yang mendalam dari dirinya untuk Alda setelah mengingat kembali apa yang sudah di lakukan oleh Alda padanya.


Varno bingung atas apa yang telah menimpah Cassan sehingga penampilannya begitu berantakan. Meskipun ia juga mencium bau tidak sedap dari tubuh Cassan, Varno memilih untuk mengabaikannya. Ia berpikir mungkin saja bau tersebut ada hubungannya dengan penampilan lecek Cassan saat ini.


"Ini kak jadi tadi temen saya sempat muntah di bus dan akhirnya saya yang kena imbasnya deh." Jawab Cassan sambil menunjukan ekspresi seperti mengatakan yang berlalu biarlah berlalu sehingga kesan yang diterima oleh Varno adalah Cassan orang yang sangat baik.

__ADS_1


"Oh iya kak, gimana kalau saya bantuin pekerjaan kakak." Cassan menawarkan diri bukan tanpa alasan. Ia sudah memiliki rencana sendiri dalam benaknya tinggal bagaimana ia menjalani rencana tersebut.


"Boleh." Sahut Varno dengan cepat. Bagaimana mungkin ia menolaknya. Jika Cassan membantunya sudah pasti ia lebih memiliki banyak waktu berduaan dengan Cassan.


Cassan sudah mengetahuinya jawabnya. Ia tidak terkejut lagi karena perasaannya mengatakan bahwa Varno menyukai dirinya. "Baguslah. Gimana kalau saya mandi dulu, setelahnya baru saya bantuin kakak."


Lagi Varno mengangguk setuju dengan cepat secepat kilat pada Cassan. Ia kemudian menunggu Cassan di bawah pohon kopi sampai Cassan selesai bersiap-siap.


Beberapa menit kemudian Cassan kembali dengan penampilan segarnya. Ia berjalan menghampiri Varno yang sedang asik menulis. Ketika mata Varno menangkap keberadaan Cassan berdiri dihadapannya, lagi ia dibuat terkesima.


"Hai kak." Sapa Cassan mengembalikan kesadaran Varno yang memandangnya penuh kagum.


"Ha.. hai.." jawab Varno gugup.


"Coba saya lihat bukunya. Udah sampe mana kakak bagi kelompoknya?" Tanya Cassan sembari mengambil tempat duduk tepat di samping Varno.


Cassan melakukannya dengan sengaja agar Varno tidak mencurigai dirinya. Melihat Varno tidak menjawab pertanyaannya, Cassan mengambil buku tersebut dari tangan Varno lalu mengecek kembali nama yang sudah dilihat sebelumnya.


Itu adalah nama Tiara dan Luka yang berada di dalam satu kelompok. "Kak, menurut saya gimana kalau Tiara di masukin ke kelompok lain." Cassan mencoba mengajukan pendapatnya.


"Kenapa?" Varno bertanya pada Cassan tanpa mengalihkan tatapannya darinya.


Cassan terkejut. Ia lupa untuk menyiapkan alasan kenapa ia memutuskan untuk mengeluarkan Tiara dari kelompok tersebut. Namun dengan tiba-tiba alasan itu pun muncul begitu saja dalam benaknya.


"Saya adalah teman sekamar Tiara, kami juga teman sekelas. Tiara sering cerita sama saya kalau dia tidak cocok dengan Luka. Mereka saling berkompetisi untuk mendapatkan nilai sempurna, jadi kalau kita memasukkan mereka dalam satu kelompok kemungkinan besar mereka akan bertengkar." Jelas Cassan.


"Lalu kamu mau dia diganti oleh siapa?" Tanya Varno.

__ADS_1


"Saya mau dia digantikan dengan saya." Jawab Cassan membuat Dewi yang hendak ke toilet umum pun menghentikan langkahnya sejenak dan mendengar lebih lama lagi pembicaraan mereka.


__ADS_2