Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#64 Mengganti Tiara 2


__ADS_3

Sebelumnya Dewi memang hendak ke toilet. Namun sebelum dirinya sampai disana, ia melihat teman sebangkunya yaitu Cassan tengah duduk bersama seorang anggota OSIS.


Merasa penasaran dengan hubungan keduanya, Dewi memutuskan untuk menunda keinginannya ke toilet. Ia kemudian memiliki ide untuk bersembunyi dibalik pohon kopi yang lain yang berjarak agak dekat dengan Cassan dan anggota OSIS tersebut agar memudahkannya untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


Awalnya Dewi sempat merasa apa yang di lakukan olehnya percuma saja. Akan tetapi perasaannya tersebut seketika menghilang setelah mendengar nama Tiara dan Luka keluar dari mulut Cassan.


Dewi memasang telinganya dengan baik agar tidak melewatkan sedikitpun pembicaraan mereka. Dan betapa terkejutnya ia mendengar Cassan ingin menggantikan Tiara yang sudah berada dalam satu kelompok bersama Luka dengan dirinya.


Dewi memang mencurigai teman sebangkunya tersebut memiliki perasaan pada Luka tapi ia tidak menyangka Cassan akan melakukan hal itu di belakang mereka.


"Kenapa Tiara harus diganti dengan kamu? Kan bisa sama orang lain." Tanya Varno. Ia sama sekali tidak tahu kenapa Cassan menginginkan Tiara di ganti dengan dirinya apa lagi mengenai perasaan yang dimiliki oleh Cassan pada Luka.


Pertanyaan Varno membuat Cassan sempat merasa gugup namun dengan cepat ia mengubah ekspresi di wajahnya. Ia tersenyum manis berharap Varno tergoda dan tidak banyak bertanya lagi. Alhasil ia berhasil.


Varno terbuai dengan manisnya senyum Cassan lalu melupakan pertanyaannya. "Okelah kalau kamu maunya begitu. Ganti saja Tiara dengan kamu."


Cassan tersenyum girang dalam hatinya. Akhirnya ia bisa berduaan dengan Luka tanpa ada Tiara yang selalu merebut semua perhatian orang-orang darinya.


'Kamu dengar kan Tiara. Selagi aku masih ada tidak ada yang boleh mendapatkan Luka.' Cassan membatin dan tersenyum licik.


"Enggak kak. Saya bukan tanpa alasan menggantikan Tiara dengan saya. Alasan saya karena di kelompok Luka ada nama teman saya, Dewi." Jawab Cassan mencoba meyakinkan Varno. Ia menjual nama Tiara dan mengatakan jika hubungan Tiara bersama Luka tidaklah baik.


"Kalau saya dengan Dewi satu kelompok saya rasa masih lebih baik karena kami adalah teman. Dari pada kakak memasukan nama orang yang saling tidak cocok satu sama lain." Lanjut Cassan.


Varno mengangguk setuju dengan perkataan Cassan. Menurutnya cukup masuk akal juga penjelasan Cassan. Setelah merasa yakin dengan keputusannya menggantikan Tiara, Varno dan Cassan lalu lanjut merolling nama-nama lainnya.


Cukup memakan waktu yang lama karena para murid yang begitu banyak. Cassan merasa membantu Varno tidaklah berguna lagi dan hanya akan membuang-buang waktunya saja.


"Kak, mm saya rasa saya udah cukup bantu pekerjaan kakak. Saya juga merasa tidak enak jika orang lain melihat saya ikut membantu mengelompokkan mereka. Dan juga kalau anggota OSIS lainnya mengetahui ini, mereka juga pasti akan menyalahkan kakak. Iya kan?"


Cassan membuat alasan agar dirinya terlepas dari pekerjaan membosankan tersebut.

__ADS_1


Niatnya untuk membantu karena ingin mengganti nama Tiara agar tidak berada di kelompok yang sama dengan Luka. Dan itu sudah dilakukan olehnya. Lalu untuk apa ia masih menghabiskan waktunya memikirkan dengan siapa orang lain akan bersama.


Mendengar bahwa Cassan tidak bisa lagi membantunya, Varno merasa kecewa. Hal itu terbaca jelas di wajah tampannya. Namun apa boleh buat, apa yang dikatakan oleh Cassan ada benarnya juga.


Akhirnya Varno menyetujui dan membiarkan Cassan pergi. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya merolling nama demi nama para murid.


Di satu sisi Dewi sudah pergi dari persembunyiannya setelah mengetahui niat Cassan untuk mengantikan Tiara. Ia juga tidak ingin mengetahui hal lainnya lagi.


Setelah semuanya berlalu dan masa istirahat mereka berakhir, suara Stacy kembali terdengar dari pengeras suara.


"Hallo adik-adik waktu istirahat kita sudah berakhir. Dalam hitungan ke sepuluh saya harap semuanya sudah berkumpul di tempat saya berada dengan mengenakan baju olahraga. Sore ini kita akan berolah raga."


Suara indah Stacy mengiang di telinga semua murid. "Apa? Hitungan ke sepuluh dan kita udah harus pake baju olah raga?" Seorang siswi berteriak di dalam tenda.


Bagi beberapa murid yang pernah mengikuti kegiatan Pramuka, mereka langsung mengerti maksud perkataan Stacy. Sehingga dengan cepat mereka mengganti pakaian biasa mereka ke dalam baju olah raga sesaat setelah Stacy berbicara.


Mereka tahu meski Stacy tidak mengatakan akan ada hukuman bagi yang terlambat, namun mereka yakin Stacy dan semua anggota OSIS lainnya sudah menyiapkan hukuman tersebut.


"Saya akan mulai menghitung dari sekarang. 1 2 3...."


Ketika Stacy mulai menghitung, para murid beramai-ramai mengganti pakaian mereka. Tidak ada hal lain lagi dalam benak mereka selain memikirkan apakah mereka salah memakai baju atau tidak. Apakah mereka mereka memakai alas kaki atau tidak. Apakah wajah mereka kucel atau tidak bahkan apakah rambut mereka tertata rapih atau tidak bagi yang perempuan.


Karena yang terpenting saat ini adalah mereka bisa sampai ke tempat dimana Stacy berada sebelum hitungan ke sepuluh.


"7 8.." Stacy terus berhitung.


Di sekitar tempat Stacy berdiri sudah banyak murid yang berkumpul dengan setelan olah raga. Ada yang sudah lengkap mengenakan sepatu namun ada juga yang masih berupa sendal jepit.


Tiara yang saat itu benar-benar tertidur lelap terbangun karena keributan yang terjadi di dalam tenda. Matanya terbuka begitu lebar ketika mendapati keadaan tenda sudah seperti kapal pecah.


"Tiara cepat ganti baju kamu." Ucap Dewi.

__ADS_1


Tiara merasa ada yang sudah ia lewatkan. Namun tanpa berpikir dua kali ia segera mengganti bajunya seperti yang diperintahkan oleh Dewi.


Keenam orang tersebut langsung berlari keluar tenda tanpa beralaskan kaki dengan rambut yang terurai berantakan. Bahkan Billa, seorang murid dari kelas D masih memiliki sisa iler di pipinya.


"10." Stacy mengehentikan hitungannya. "Berhenti semuanya. Bagi yang terlambat silahkan berdiri di sebelah kiri saya." Perintah Stacy dengan suara tegas.


"Tolong para anggota OSIS untuk pastikan tidak ada murid yang datang terlambat berlari ke sisi kanan saya." Lanjutnya lagi.


Tiara dan kelima teman setendanya saling menatap satu sama lain karena mereka termasuk dalam rombongan yang terlambat mendatangi Stacy.


Meski tidak tahu kenapa mereka di pisahkan dengan yang lain, Tiara maupun yang kelimanya melempar tawa lucu setelah melihat bagaimana penampilan mereka masing-masing saat ini.


"Haha Tiara, celana kamu miring udah gitu sebelah kanannya lebih tinggi pula dari yang sebelah kiri." Fiona mengejek Tiara.


"Fiona kamu juga masih ada *** mata tuh." Giliran Billa mengejek.


"Billa jangan omongin yang lain kalau iler kamu masih nempel di pipi kamu."


Perkataan Teresia membuat Billa dengan cepat membersihkan pipinya menggunakan kedua tangannya kemudian mengundang tawa dari yang lain.


"Dengar semuanya, bagi yang datang terlambat kami sudah menyiapkan hukuman untuk kalian semua." Ucap Stacy mengakibatkan semua orang terkejut.


Ekspresi lega datang dari rombongan yang tepat waktu namun sangat berbanding terbalik dengan para rombongan yang terlambat. Mereka membelalakkan mata tidak percaya atas perkataan Stacy.


"Hukuman? Seriusan?" Seorang siswa berseru.


"Ya ampun tau gitu tadi gue gak usah pake kolor dulu." Sambung siswa lain dari belakang.


Tiara, Dewi maupun teman mereka yang lain pun terkejut mendapati bahwa diri mereka akan di hukum. Akan tetapi mereka sama sekali tidak berkutik dan hanya mengikuti alur saja.


"Hukuman bagi yang datang terlambat adalah masing-masing meminum segelas jus pare yang sudah disediakan oleh anggota OSIS." Lanjut Stacy lagi.

__ADS_1


Perkataan Stacy seketika menghancurkan semua imajinasi para murid yang merasa penasaran dengan hukuman yang akan di berikan. Tidak ada yang menyangka jika mereka akan diberikan jus pahit tersebut sebagai hukumannya.


__ADS_2