Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#83 Mencari Informasi Tiara


__ADS_3

Malam penuh kehangatan itu pun berlalu begitu saja. Para murid kembali ke tenda mereka masing-masing dan mulai memasuki alam bawah sadar.


Keesokan harinya seiringan dengan matahari yang kembali meninggi memancarkan cahayanya, para murid di bangunkan dari dunia mimpi dan bergegas untuk kembali ke kota H.


Sama seperti halnya keberangkatan mereka, kepulangan mereka kali ini pun sama. Tiara dan Luka masih terlihat duduk bersama di bangku bus terbelakang. Sementara hal berbeda datang dari Alda dan Cassan.


Alda tidak lagi duduk berdampingan dengan Cassan mengingat saat itu ia sedang dalam misinya bersama Tiara. Dan kali ini karena keduanya sudah menjadi musuh, hal tersebut tidak akan terjadi lagi.


-----


Di kamar bernomor 111 Tiara, Lia dan Alda terbaring lemas diatas tempat tidur mereka masing-masing. Semuanya di sebabkan karena perjalanan mereka yang begitu jauh dan melelahkan.


"Aku rindu banget sama tempat tidurku." Ucap Alda sambil berguling-guling diatasnya.


"Aku juga. Rasanya badan aku sakit semua gara-gara tidur pakai sleeping bag." Sambung Lia mencurahkan isi hatinya.


Ketika mengingat tentang sleeping bag, Lia langsung terbangun dari tempat tidurnya. Ia kemudian beranjak dari sana dan mengeluarkan sleeping bag dari tas miliknya dan mengembalikannya ke Cassan.


Tidak hanya sleeping bag, barang-barang lainnya pun di kembalikan oleh Lia termasuk komik yang belum selesai ia baca.


Cassan tidak terlihat berada disana. Setelah menyimpan tas dan barang-barangnya di kamar, ia menghilang begitu saja entah kemana.


"Lia, mau kamu apakan barang-barang itu?" Tanya Alda penasaran setelah melihat Lia mengeluarkan banyak barang dari dalam lemari.


Pertanyaan Alda pada Lia pun langsung menarik perhatian Tiara tertuju pada keduanya.


"Mau aku kembalikan." Jawab Lia.


Alda maupun Tiara langsung memahami maksud perkataan Lia. Sahabat mereka itu ingin mengembalikan semua barang yang dibelikan oleh Cassan untuknya.


Bagaimanapun Lia merasa sudah kehilangan semua rasanya pada Cassan setelah apa yang dilakukan Cassan padanya. Meskipun sampai detik ini ia masih belum mempercayai kejadian itu sepenuhnya, Lia pikir ia harus membuka kedua matanya untuk melihat kebenaran yang ada.


Lia kemudian membawa barang-barang tersebut ke tempat tidur Cassan dan menaruhnya diatas sana. Ia tidak peduli lagi mau diapakan barang tersebut oleh Cassan setelahnya. Karena bagi Lia, ia tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengan seorang penghianat.


-----


Di halaman depan asrama, Cassan terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telfon. Ia memarahi orang tersebut dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan terkesan memerintah.


"Sudah saya bilang ini bukan urusan kamu." Teriaknya dengan kesal. "Lakukan saja apa yang saya katakan." Serunya lagi.


"Dengarkan ini baik-baik. Saya tidak akan pernah membiarkan kamu menggunakan nama Baskara dengan semena-mena." Pria di balik telfon berkata tegas pada Cassan.


"Haha memangnya kamu pikir kamu itu siapa, hah?" Cassan tertawa padanya. "Kamu itu hanya seorang anak panti asuhan yang kemudian diasuh dari kecil sama kakek Baskara." Ucap Cassan pada Leo, asisten sekaligus tangan kanan kakek Baskara.

__ADS_1


"Nasib kita berbeda. Kamu itu budaknya dan saya? Saya adalah cucunya. Anak dari pewaris Baskara Grup yang sudah meninggal itu. Jadi saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan dengan nama Baskara." Lanjut Cassan.


"Lupakan semuanya itu. Bagaimanapun caranya saya ingin informasi tentang Tiara Queen A secepatnya dan sedetail mungkin." Cassan masih melanjutkan perkataannya. "Jika kamu tidak mau melakukannya, saya akan memberitahu kakek untuk memecat kamu dari perusahaan dan mengembalikan kamu tempat tidak berguna itu."


Tiara berkata tanpa tanggung-tanggung pada Leo, orang yang jauh lebih berumur darinya.


Tanpa menunggu Leo untuk menjawabnya, Cassan langsung mengakhiri panggilannya. Ia kemudian mengirim foto Tiara kepada Leo dan menulis, "Pastikan orangnya adalah dia."


Cassan kembali ke kamar setelah menyelesaikan semuanya. Wajahnya terlihat sumringah karena tinggal menunggu waktu saja ia sudah bisa membalaskan dendamnya pada Tiara.


Sebelum tangan Cassan membuka handle pintu kamar, sebuah suara berdering sampai ke telinga Cassan. Suara tersebut berasal dari ponsel miliknya.


Ketika matanya mendapati panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar ponselnya, Cassan mengernyitkan dahinya sesaat.


"Halo." Sapa Cassan setelah menerima panggilan tersebut.


"Hallo mbak Cassan. Saya kurir yang mengantar paketan anda dari Lavida."


Mendengar itu mata Cassan seketika berkilauan. Paket berupa baju season terbaru dari brand ternama Lavida yang ia minta pada kakeknya sebagai hadiah, kini sudah bisa ia kenakan dan pamerkan kepada semua orang.


"Apa anda sudah sampai di kota H?" Tanya Cassan dengan semangat.


"Saya sekarang sudah berada di gerbang asrama anda, mbak." Jawab sang kurir.


"Baiklah. Jangan titipkan paket saya kepada siapapun yang berada disitu tak terkecuali satpam. Tunggu sampai saya turun dan mengambilnya sendiri dari tanganmu." Ucap Cassan mematikan panggilan dan memutar balik badannya menuju lift.


Sang kurir berkerja di bawah perusahaan fashion Lavida. Ketika ia menerima perintah dari atasannya untuk mengirimkan pesanan, banyak hal yang dipantangkan oleh atasannya tersebut padanya.


Seperti memastikan paketannya tidak lecet, rusak, kotor, tertindas, bahkan sampai tidak boleh terkontaminasi dengan hal-hal lain yang mengakibatkan bau pada paketannya.


Pada akhirnya sang kurir hanya bisa menghela nafas panjang dan menurutinya saja karena semua itu merupakan permintaan langsung dari customer yang merupakan raja mereka.


"Hai, apa anda yang bernama mbak Cassan Putriani Baskara?" Tanya sang kurir setelah melihat Cassan berjalan menghampiri dirinya.


"Dimana paketan saya?" Tanya Cassan tanpa basa-basi membuat sang kurir mendumel kesal atas sikapnya.


"Ini mbak paketannya. Silahkan di pastikan sendiri apakah paketannya lecet, rusak, kotor, tertindas dan terkontaminasi dengan bau lain atau tidak." Jawab sang kurir dengan senyum menutupi rasa kesalnya.


Cassan menerima paketan tersebut lalu mengecek semua kondisi paket satu persatu membuat sang kurir melotot tidak percaya atas apa yang dilakukannya.


"Untuk sertifikat keaslian barang pesanan mbak, sudah kami kirimkan langsung ke Pak Leo sebagai orang yang memesan." Ucap sang kurir.


Cassan menganggukkan kepala seakan ia sudah mengetahui sang kurir akan berkata seperti itu.

__ADS_1


Setelah berurusan dengan sang kurir dan menandatangani beberapa lembar kertas yang disodorkan, Cassan kembali lagi ke kamarnya.


Ia berjalan sombong sambil menenteng sebuah paper bag bertuliskan Lavida. Moodnya sangat baik karena semua keinginannnya berjalan sesuai kemauannya hari itu.


Banyak pasang mata para siswi yang berkeliaran di lobi tertuju pada Cassan dan paper bag di tangannya. Mereka merasa iri karena Cassan dengan mudah membeli barang dari brand ternama dunia.


Cassan tersenyum senang dan menikmati semua tatapan keirian yang ditujukan padanya. Karena hal itulah yang selama ini sangat ia inginkan. Namun sayang sejak awal kedatangannya, semua perhatian, tatapan keirian dan sebagainya sudah direbut oleh Tiara darinya.


'Tenang saja Cassan, sebentar lagi Tiara akan mengemis padamu dan semua yang sudah direbutnya darimu akan kembali menjadi milikmu. Termasuk perhatian Luka.' Cassan membatin senang.


Saat tiba di depan kamar dan hendak membuka handle pintu, Cassan terkejut karena Tiara sudah terlebih dahulu membukanya dari dalam.


Mata Cassan menangkap sosok ketiga sahabat tersebut sudah rapih dengan penampilan mereka dan siap untuk berpergian. Namun yang mengejutkan penglihatan Cassan adalah baju yang dikenakan oleh Tiara.


Baju tersebut terlihat sama persis dengan baju yang dipesannya dari Lavida brand dan saat ini sedang di tenteng olehnya.


Wajah Cassan seketika berubah jelek. Sambil mengepalkan erat tangannya, ia menatap wajah Tiara dengan penuh kebencian.


Melihat reaksi Cassan, Lia dan Alda saling melempar tatapan bingung. 'Apa yang terjadi?' Batin keduanya.


Berbeda dari kedua sahabatnya, Tiara langsung mengerti setelah melihat paper bag di tangan Cassan. "Haha.." Tiara tertawa kecil menyindir Cassan.


"Tiara kamu ketawain apa?" Tanya Alda penasaran.


"Enggak, bukan apa-apa kok. Yuk ke kantin, aku traktir." Ucap Tiara sambil tersenyum ke wajah Cassan.


"Yey, Tiara traktir." Teriak Lia dan Alda kegirangan.


Ketiga sahabat tersebut akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Cassan yang memaku di depan pintu.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Tiara punya baju yang sama denganku?" Cassan berteriak kesal di dalam kamar sambil mengobrak-abrik isi lemarinya ke lantai.


"Ini gak bisa di terima! Dia gak mungkin punya baju itu! Apalagi lebih dulu dari punyaku!? Lagian ini adalah season terbaru, bagaimana bisa dia sudah memilikinya sebelum aku?" Lanjut Cassan emosi.


Menurut Cassan sangatlah tidak mungkin bagi Tiara untuk memiliki baju tersebut. Selain hanya di keluarkan sepuluh buah saja di seluruh penjuru negeri ini, mereka juga harus memesannya dari jauh-jauh hari.


Cassan tidak pernah mendengar Tiara memesan baju tersebut sebelumnya. Sementara dirinya sendiri sudah memamerkannya langsung kepada mereka di kantin kala itu.


Cassan berpikir yang terpenting untuk mendapatkan baju tersebut adalah uang dan koneksi. Uang saja tidak cukup untuk mendapatkannya. Oleh karena itu Cassan meminta langsung pada kakeknya yang merupakan penguasa.


Jika kakeknya sudah memerintahkan Leo, apapun itu harus dilakukan dan didapatkannya meski dengan cara kotor Sekalipun.


"Dan apa? Tiara memakainya hanya untuk pergi ke kantin? Yang benar saja. Baju semahal itu,.."

__ADS_1


Cassan sudah kehilangan kata-katanya ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Rencananya ia akan mengenakan baju tersebut disaat-saat terpenting saja. Seperti berpergian keluar, ngemall dan lain sebagainya. Namun Tiara justru mengenakannya hanya untuk bersantai-santai di asrama dan ke kantin.


Hal ini kemudian memicu rasa benci Cassan terhadap Tiara semakin besar.


__ADS_2