
Tiara tersenyum kepada mereka setelah mendapat pujian. Namun kenyataannya semua ceritanya tersebut hanyalah kebohongan semata untuk menutupi kebenarannya.
Saat itu ketika Luka bertanya pada Tiara berapa lama waktu yang dibutuhkan olehnya untuk mengaktifkan alat pelacak di topi yang dikenakan Lia, Tiara menjawabnya 15-20 menit. Bukan tanpa sebab Tiara mengatakannya. Ia sudah memperkirakan semuanya dengan sangat baik.
Pada dasarnya tidak sulit bagi Tiara untuk menembus sistem pelacak milik Key karena sebelum-sebelumnya ia sudah mempelajari semua seluk-beluk tatanan dari sistem tersebut. Terkadang Tiara juga meminta Key untuk memperbaharui kembali sistem keamanan alat pelacaknya jika ia menemukan adanya kelemahan.
Kenyataan lamanya waktu yang diminta Tiara pada Luka digunakannya untuk mengubah sedikit cara kerja dari sistem milik Key.
Key tentunya tidak menciptakan alat pelacak yang sembarangan dan terkesan biasa-biasa saja untuk menjaga keamanan para anggota keluarganya, Alexander. Alat pelacak yang di ciptakan oleh Key memiliki banyak sekali kelebihan, salah satunya adalah terpasangnya sebuah kamera tersembunyi dibaliknya.
Kamera tersebut berukuran sangat kecil setara dengan butiran pasir. Kamera super mini ini bernama OmniVision OV948 dan biasanya digunakan di dunia medis namun tidak dirancang untuk ditempatkan dalam smartphone. Kamera ini akan dipasang di alat bedah dan dapat dimasukan ke dalam tubuh manusia untuk membantu proses operasi.
Key menggunakan kamera OmniVision OV948 tersebut untuk dipasangkan ke dalam alat pelacak milikinya. Meskipun kamera yang hanya berukuran kurang dari satu milimeter itu sangatlah kecil namun mampu memproduksi gambar berwarna dengar resolusi 40.000 piksel. Hal ini dimungkinkan karena OmniVision OV948 memiliki chip back-side illuminated RGB Bayer.
Kamera tersebut akan aktif dan mulai merekam apa saja sejak pengguna mengenakan barang yang sudah di pasangkan alat pelacak. Namun sayang data hasil rekaman tersebut tidak tersimpan ke sistem selama alat pelacak belum diaktifkan.
Hal ini kemudian memaksa Tiara harus membutuhkan waktu ekstra. Setelah ia meng-hack sistem Key dan masuk kedalamnya, ia membuat pemrograman tambahan baru pada sistem Key dan mengubah care kerja sistem untuk menyelamatkan terlebih dahulu data hasil dari rekaman kamera mini tersebut sebelum alat pelacak benar-benar di aktifkan.
Tiara harus melakukan semuanya itu agar mendapatkan alat bukti untuk mengungkapkan kebusukan Cassan. Karena hanya rekaman tersebutlah satu-satunya bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Alhasil usaha Tiara tersebut berhasil. Jika tidak, Tiara tidak mungkin bereaksi sesenang itu kalau hanya untuk menembus sistem milik kakaknya sendiri.
Setelah berhasil melakukan semuanya, Tiara mengimpor hasil rekaman kamera dalam bentuk video tersebut ke email miliknya. Tentu juga ia menggunakan sistem hack untuk mengirimkannya dan bukan menggunakan email dari sang pemilik laptop.
Saat membeberkan bukti ditangannya, Tiara sudah berpikir bahwa dirinya tidak mungkin menggunakan video tersebut untuk mengungkapkan kebusukan Cassan. Karena semua itu hanya akan menghebohkan orang-orang dan mereka juga akan mempertanyakan dari mana asal video tersebut.
Tiara kemudian memiliki ide untuk mengekstrak terlebih dahulu videonya ke dalam bentuk rekaman suara dan menjadikan rekaman suara tersebut sebagai alat bukti mereka dalam membela diri.
Tiara terpaksa harus membohongi para sahabatnya untuk menutupi kebenaran diatas. Ia tidak ingin mereka mengetahui jika rekaman tersebut adalah asli yang di dapatkannya dari alat pelacak di topi miliknya.
Oleh karena itu, Tiara membuat cerita tentang voice phishing. Namun tidak ada salahnya juga dirinya membuat cerita tersebut. Selain membuat para sahabatnya percaya padanya, cerita Tiara juga bisa memberi mereka suatu peringatan dini untuk berhati-hati agar tidak menjadi korban dari kejahatan melalui telepon tersebut.
__ADS_1
"Tiara apa aku boleh ketemu sama kenalan kamu itu?" Lia bertanya. "Bagaimanapun dia sudah sangat baik mau membantuku."
"Iya Tiara. Aku juga mau ketemu sama dia. Aku ingin dengar bagaimana dia menirukan suaraku hehe." Sambung Alda kemudian mendapat anggukan persetujuan dari Reno dan Saka.
Luka hanya terdiam saja mendengar cerita Tiara. Jika para sahabatnya langsung mempercayai seratus persen cerita Tiara tentang voice phishing tadi maka tidak dengan Luka. Luka yakin rekaman tersebut memiliki hubungannya dengan alat pelacak yang terpasang di topi Tiara.
Luka menatap tajam pada Cassan yang terlihat tertawa dan tersenyum riang besama para sahabatnya itu termasuk Reno dan Saka. Ia tidak bisa menebak segenius apa Tiara sehingga selalu saja membuat dirinya terkagum-kagum padanya.
Menyadari Luka terus menatap padanya, Tiara hanya bisa tersenyum manis. Ia kemudian menghela nafas panjang tak berdayanya karena merasa seperti seorang anak yang ketahuan oleh orangtuanya sedang melakukan kebohongan.
Tiara yakin Luka pasti sudah menyadari jika dirinya sedang berbohong dan membuat cerita palsu untuk menutupi kebenaran yang ada. Bagaimana pun Tiara tidak bisa membohongi Luka maupun merahasiakan segalanya dari Luka karena Luka sudah banyak mempelajari dan mengerti dirinya.
"Tiara gimana? Boleh gak kita ketemu sama kenalan kamu itu?" Alda membujuk Tiara lagi dengan bertingkah manja di depannya. Berharap Tiara terhipnotis dan mengiyakan permintaannya.
Langkah Alda sangat tepat. Tiara terhipnotis dengan tingkah sok imut dari Alda namun bukan hanya Tiara saja yang terhipnotis, Reno pun ikut terhipnotis oleh teman masa kecilnya itu.
"Mereka?" Tanya Alda penasaran. "Jadi bukan satu orang saja?"
Tiara mengangguk setuju. "Mereka berkelompok." Jawabnya lagi.
"Benarkah? Jadi yang tadi meniru suara aku sama Cassan berarti ada dua orang dong. Wah, hebat banget." Lia mengagumi keahlian kenalan Tiara tersebut.
"Iya mungkin, bisa jadi." Jawab Tiara kaku lalu tertawa dengan garing.
"Apakah mereka kelompok dari kejahatan voice phishing?" Reno bertanya penasaran setelah mendengar jawaban Tiara.
Pertanyaan dari Reno langsung membuat mereka terkejut satu sama lain. Mereka memalingkan pandangan mereka dari Reno kepada Tiara yang sepertinya mengetahui sesuatu namun memilih untuk merahasiakannya dari mereka.
"Mm mungkin bisa di kategorikan seperti itu." Tiara menjawab mereka dengan sedikit ber-antisipasi.
__ADS_1
"APAAAAA!?" Teriak mereka tidak menyangka.
"Tiara gimana bisa kamu kenalan sama orang jahat kayak gitu." Lia berkata pada Tiara.
"Iya Lia benar. Berbahaya sekali kalau kamu berkenalan dengan penjahat seperti mereka." Sambung Alda dan mendapat persetujuan dari Reno dan Saka.
Seperti dugaan Tiara, respon mereka tidak jauh dari perkiraannya. "Tapi tenang aja, kelompok mereka gak melakukan tindakan kejahatan kok. Justru mereka sering membantu para korban seperti kasus Lia tadi." Ucap Tiara mencoba meyakinkan para sahabatnya itu.
Lagi Tiara berbohong. Kenyataan yang sebenarnya adalah kelompok yang dimaksudkan oleh Tiara tersebut merupakan para korbannya. Awalnya mereka menargetkan Tiara untuk menjadikannya korban tindakan kejahatan mereka.
Mereka menirukan suara Viviane, ibu Tiara untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Sayangnya mereka salah target karena bertemu dengan Tiara.
Saat itu Tiara masih berada dibangku kelas satu SMP. Setelah mengetahui bahwa dirinya dijadikan target voice phishing, Tiara meng-hack ponsel yang mereka gunakan untuk menghubunginya lalu mengalihkan panggilan ke pihak kepolisian langsung dari ponsel mereka.
Satu kelompok tersebut terkaget-kaget ketika mendapati ponsel mereka menghubungi nomor 110 dengan sendirinya. Ketika mereka ingin mematikan panggilannya, ponsel mereka terlihat seperti 'hang' dan tidak merespon sama sekali saat layar atau tombol fisiknya disentuh.
Mengetahui bahwa yang melakukan semua kejanggalan tersebut adalah Tiara, para anggota kelompok sangat terkejut karena Tiara hanyalah seorang anak kecil. Selain itu Tiara juga dengan mudah mendapatkan informasi tentang mereka lalu mengancam mereka untuk mengatakan kebenarannya.
Pada akhirnya kelompok tersebut menyerah. Mereka mengakui kesalahan mereka dan menceritakan semua tindakan kejahatan yang sudah pernah mereka lakukan tanpa Tiara meminta. Dengan syarat Tiara tidak boleh melaporkan mereka kepada pihak kepolisian.
Sejak saat itu kelompok tersebut mengabdikan diri mereka kepada Tiara dan mengangkat Tiara sebagai bos mereka. Dan dibawah perintah langsung Tiara, kelompok tersebut memiliki misi rahasia tersendiri.
"Iya juga ya. Mereka sudah membantuku tadi berarti mereka bukan orang jahat. Mereka benar-benar membantu orang seperti diriku." Lia langsung melemah dan mempercayai perkataan Tiara begitu juga dengan yang lainnya.
Lagi-lagi Luka tidak habis pikir Tiara benar-benar memiliki kenalan seperti Itu. Ia mengira Tiara hanya membuat cerita palsu saja tanpa benar-benar mengenal maupun terlibat dalam pusaran tersebut.
Luka kini menjadi begitu penasaran dengan sisi lain Tiara. Ia ingin sekali mengetahui semua tentang Tiara sepenuhnya tanpa melewatkan satu kisah pun. Namun lagi, Luka harus menahan semua rasanya itu hanya untuk menghargai keputusan Tiara.
"Kenapa kalian masih berkumpul disitu? Cepat kembali ke tenda kalian masing-masing untuk sarapan." Teriak seorang anggota OSIS membubarkan kelompok Tiara setelah melihat mereka masih berkumpul dibawah rindangnya pohon.
__ADS_1